Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 53 Penjarakan Dia!


__ADS_3

Hilda menyambut tamu yang tadi dibukakan pintu olehnya. Wajahnya seketika berseri dan sangat bahagia. Lengannya bergelayut manja pada lengan lelaki muda yang diperkirakan masih berusia 26 tahun itu.


"Nagi, benarkah kamu Nagi? Panjang umur rupanya," ujar Bu Hilsa menyambut Nagi yang baru datang.


Pak Hasri pun sama terkejutnya seperti Bu Hilsa, baru saja diomongkan oleh Hilda, Nagi tiba-tiba sudah ada di depan pintu.



"Ya ampun, Nagi. Keponakanku!" seru Pak Hasri seraya menyambut Nagi dan memeluknya.



"Papa, aku kangen banget," ucapnya seraya membalas pelukan Pak Hasri. Nagi biasa meyebut Pak Hasri dan Bu Hilsa dengan panggilan Papa dan Mama. Sebab sejak kecil orang tua Nagi sudah bercerai, kemudian Nagi lebih dekat dengan Pak Hasri dan Bu Hilsa, akhirnya Nagi besar bersama Naga di rumah Papa dan Mamanya Naga. Hingga kebiasaan memanggil Papa dan Mama terbawa sampai sekarang.



"Kok panjang umur, kalian pasti sedang membicarakan aku?" tebaknya seraya menuju ruang makan, sebab Hilda langsung membawanya ke sana. Bu Hilsa dan Pak Hasri pun kompak menggiring Nagi ke ruang makan.



"Iya, Kak, aku tadi sedang membicarakan Kak Nagi. Aku sudah lama tidak dibelikan es krim oleh Kak Nagi sebab Kak Nagi jarang ke sini." Hilda berceloteh seraya mengarahkan Nagi duduk di kursi makan.



"Makan sianglah dulu, kebetulan kami baru saja makan siang," ujar Pak Hasri seraya menatap kedekatan Nagi dan anaknya.



"Ya sudah kamu ditemani makan sama Hilda ya, Papa sama Mama menunggu di ruang keluarga," ujar Pak Hasri sambil mengajak Bu Hilsa untuk menuju ruang keluarga.



"Bi Ranaaaa, ambilkan piring buat Kak Nagi," teriak Hilda. Tidak berapa lama Bi Rana datang membawa piring kosong.



"Wahh, Aden. Benar ini Den Nagi?" Bi Rana heran seraya menatap kangen sama Nagi. Nagi langsung nyelonong mencium tangan Asisten kembar itu. Sejak perceraian kedua orang tuanya Nagi, Nagi besar di rumah Papa dan Mamanya Naga. Juga kenyang diasuh oleh Asisten kembar itu sehingga Nagi sudah tidak sungkan lagi menganggap keduanya ibu kedua setelah Bu Hilsa.



"Mana Bi Rani?" tanyanya sambil melirik kanan dan kiri ke semua ruangan dapur.

__ADS_1


"Bi Rani sedang menyetrika baju di belakang. Aden makanlah dulu. Aden sepertinya lelah dan lapar." Bi Rana dengan sigap menyiapkan makanan untuk Nagi. Lelaki muda itu tidak luput dari tatapan Hilda sejak tadi. Sejak remaja Hilda hanya mengagumi sepupunya itu. Entah kenapa rasa kagum itu berubah menjadi rasa cinta.



Sementara di ruang keluarga Bu Hilsa dan Pak Hasri tengah duduk santai sembari menikmati camilan asinan yang dibuat Bi Rana tadi lagi. Sambil menikmati asinan, mereka berdua terlibat pembicaraan yang serius.



"Panjang umur keponakan Papa ini, datang saat Hilda membicarakannya. Tapi, Mama sedikit takut, Pa," ujar Bu Hilsa terlihat gusar.


"Takut karena Hilda jatuh cinta sama Nagi?"


"Iya, Pa. Mama takut," ujar Bu Hilsa dengan wajah yang berubah gusar.



"Biarkan saja mereka akrab, Papa yakin ini cuma rasa sayang biasa pada seorang saudara atau Kakak. Kita lihat saja sampai di mana," ujar Pak Hasri meredakan ketakutan istrinya.



"Ayo Kak, kita ke ruang keluarga. Aku akan menunjukkan aquarium besar di sana dan taman bunga yang indah di depannya," ajak Hilda seraya menarik lengan Nagi menuju ruang keluarga.




"De, lepasin tangan Kak Naginya. Dia gerah digelayuti tanganmu. Dari sejak Kak Nagi datang, kamu tidak henti-hentinya bergelayut. Berat Kak Naginya," peringat Bu Hilsa supaya Hilda melepaskan tangan Nagi.



"Ya ampun, Mama ini. Tidak apa-apa dong. Kak Naginya juga tidak apa-apa. Lagipula aku kangen, sebab sekarang kita jarang ketemu. Apa sebaiknya aku ikut Kak Nagi ke Jakarta saja, supaya bisa dekat terus dengannya," kilah Hilda malah menjadi, membuat Bu Hilsa risih. Terlebih sikap dan perilaku Hilda yang memperlihatkan rasa suka pada Nagi, membuat Bu Hilsa was-was.



"Biarkan dulu Kak Nagimu lepas, dia mau merokok atau melihat taman di luar sana," ujar Pak Hasri ikut memprotes sikap Hilda. Akhirnya tangan Nagi dilepaskan Hilda.



"Duduklah yang rapi, Hilda. Jangan pecicilan seperti itu. Kak Nagimu cape baru datang!" cetus Pak Hasri terlihat kurang suka.


__ADS_1


"Ihh, Papa sama Mama kenapa sih larang-larang terus, lagipula aku ini kangen sama Kak Nagi," sergah Hilda kesal.



"Duduk yang benar," peringat Pak Hasri sekali lagi. Hilda kali ini patuh dan duduk diam.



"Aku bawa oleh-oleh buat kalian. Sebentar, ya, aku ambil." Nagi bergegas ke luar rumah untuk menghampiri mobilnya dan mengambil beberapa kantong yang isinya oleh-oleh.


**


Sementara itu di kamar Naga, Zila yang sudah sangat cantik dan sudah mempersiapkan segalanya untuk pindah rumah nampak bahagia. Dia memeriksa kembali tasnya, takut ada yang tertinggal sepertinya.



"Ayo, Kak, sepertinya aku sudah persiapkan segalanya." Zila dengan senang hati memperlihatkan apa yang sejak tadi dia siapkan. Naga sampai heran kapan Zila mempersiapkan ini semua? Apakah saat mereka makan, Zila terbangun dan mempersiapkan semua ini.



"Sayang, kamu sejak tadi mempersiapkan ini?" Zila mengangguk, lalu duduk di ranjang diikuti Naga yang memeluk erat pinggang Zila. Sudah beberapa hari Naga tidak menyalurkan hasratnya, sehingga berdekatan seperti ini membangkitkan kembali hasratnya.



"Zi, kamu terlihat sangat cantik dan ceria. Ada apa ini?" heran Naga sembari membalik tubuh Zila.



"Entahlah, tadi saat tidur aku tiba-tiba bermimpi akan mendapatkan durian runtuh, terlebih dalam mimpi itu paman Kobar dan Tante Zuli sedang menikah. Lalu Om Haidar memohon padaku supaya jangan dipenjarakan. Semua itu membuat aku bingung, lalu terbangun. Dan tubuhku saat bangun sudah tidak lemas lagi," ceritanya, seakan berita tentang terbongkarnya Haidar sebagai tersangka pemalsuan sertifikat tanah datang langsung dalam mimpi Zila.



"Lantas dalam mimpi itu aku berkata, penjarakan dia beserta orang-orang yang terlibat. Penjarakan dia, karena dia bertahun-tahun hidupku dalam hinaan orang. Penjarakan dia, sebab dialah paman Kobar menduda selama 20 tahun," cetusnya dengan muka yang benar-benar berang.



"Sayang, jika aku berhasil membongkar siapa sebenarnya Om Haidar dan ternyata dia terbukti sebagai pemalsu sertifikat ayahmu, apa yang akan kamu lakukan?" Zila diam seribu kata, dia berdiri dan menatap taman dari jendela kamarnya. Perubahan di wajahnya kentara. Rasa sakit dan benci menyatu di sana.



"Penjarakan dia sampai ke akar-akar. Siapapun itu, penjarakan dia. Karena dia telah membuat hidupku hancur!" ucap Zila tegas dan penuh ambisi. Naga berdiri dan memeluk tubuh istrinya dari belakang yang kini berubah dengan sebuah guncangan. Zila menangis mengingat kembali hidupnya yang menderita selama ini.

__ADS_1


__ADS_2