Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 52 Terungkap Siapa Pemilik Sertifikat yang Sebenarnya


__ADS_3

Melihat Zila dalam keadaan sedikit berseri, Naga menjadi lega. Kepindahan yang direncanakan ditunda dulu sampai besok. Zila nampak tertidur siang ini setelah tadi makan bubur ketan merah buatan Bu Hilsa mertuanya.



Naga bergegas ke bawah untuk makan siang, sengaja tidak membangunkan Zila yang sedang tidur siang. Kalaupun dibangunkan, itu tidak mungkin sebab Zila tidak bisa mencium baunya nasi.



"Kak Naga, mana istri kesayangan Kak Naga, masih belum bisa bangun?" Hilda yang baru pulang dari kuliah pagi mendadak menanyakan Zila, tapi Naga tahu sendiri pertanyaaan itu cuma basa-basi saja. Naga tidak menghiraukan pertanyaan adiknya itu.



Naga menduduki salah satu kursi makan berdekatan dengan sang Papa. Pak Hasri tersenyum seraya meraih pundak Naga.



"Bagaimana, Ga, rasanya menghadapi istri yang mualnya mabok berat, apakah menyenangkan?" Pak hasri bertanya sembari tersenyum.



"Nikmat banget, Pah. Aku kan baru kali ini mengalami hal ini. Jadi antara panik dan khawatir itu menyatu. Apakah Papa tidak mengalami hal seperti ini saat dulu hamil Naga atau Hilda?"



"Papa mengalami terutama saat Mamamu hamil kamu, dia juga sama mengalami morning sickness berat seperti yang menimpa Zila. Tapi keadaan itu berlangsung lama. Saat usia kehamilan menginjak usia empat bulan, Mamamu sudah menunjukkan perubahan yang baik. Makannya mulai bagus tidak mual muntah lagi."



"Aduuhhh, Papa sama Kak Naga kenapa membahas mual muntah ibu hamil sih, kita ini mau makan siang nih, aku kebetulan sudah sangat lapar. Tapi kenapa kalian membahas itu? Kalau mau bahas ibu hamil, tuh di sana posyandu. Papa dan Kak Naga sekali-kali datang ke Posyandu," sergah Hilda tidak suka mendengar pembahasan Papa dan Kakaknya yang membahas ibu hamil.



"Kenapa ini, ada apa anak perempuan Mama, datang-datang kok ngomel?" timpal Bu Hilsa datang dari arah dapur membawa sepiring buah potong untuk pencuci mulut.



"Itu Ma, Papa sama Kak Naga sejak Hilda pulang, mereka membahas tentang ibu hamil. Hilda kan jadi kesal. Sudah lapar, mau makan siang mereka malah membahas ibu hamil yang mual muntah."



"Sudah, kamu tidak perlu ngomel lagi. Sekarang makan siang akan dimulai. Duduk yang rapi," titah Bu HIlsa. Hilda patuh, kini dia fokus dengan makanan yang ada di atas meja yang sudah dihidangkan dua Asistennya.


__ADS_1


Mereka makan kadang diselingi obrolan tentang bisnis antara Pak Hasri dan Naga.



"Kak Naga, kenapa Kak Nagi sekarang sudah tidak datang lagi ke Bandung, apakah dia sangat sibuk?" Hilda bertanya tentang Nagi yang kini sudah sangat jarang datang ke Bandung.



"Nagi sedang banyak pekerjaan. Dan sekarang dia begitu sangat sibuk. Kenapa? Kamu kangen dengan Nagi?"



"Iya, dong aku kangen sama Kak Nagi. Kak Nagi, kan baik. Dia selalu mentraktir aku es krim jika datang ke Bandung. Tidak seperti Kak Naga, tidak pernah membelikan lagi sejak bercerai dengan istrinya terdahulu, apalagi sekarang sudah ada yang baru, Kak Naga makin lupa sama aku," protes Hilda sembari manyun.



"Kakak saat ini sudah tidak ada waktu untuk membelikan langsung es krim, kamu saja dong yang beli sendiri. Kan bisa ke toko depan itu."



"Baiklah, apakah aku perlu pacari saja Kak Nagi supaya dia selalu belikan aku es krim tiap datang ke sini," tukas Hilda membuat semua yang berada di meja makan terbelalak kaget.



"Jangan gegabah kalau bicara, Nagi itu sepupu kamu. Jangan sampai kalian pacaran. Papa tidak setuju," sergah Pak Hasri tidak suka.




"Sudah, jangan bahas Nagi. Kasihan dia sedang sibuk bekerja, dia harus fokus." Pak Hasri menyudahi khayalan anak perempuan satu-satunya itu yang punya keinginan yang aneh menurut Pak Hasri.



Makan siang yang diselingi obrolan yang menegangkan bagi Pak hasri, Bu Hilsa, juga Naga ini menemui titik akhir. Satu persatu menyudahi makannya, tinggal menikmati dessert yang disajikan Bi Rana.



Tiba-tiba HP Naga berbunyi, sejenak Naga melihat siapa yang menghubunginya. Rupanya orang yang dinantikannya menghubunginya juga. Hasya, dia Hasya, yang selalu Naga nantikan kabar baiknya.



Naga berdiri dan sejenak menjauh dari meja makan. "Halo Sya, ada berita bagus apa?" sejenak Naga mmmmmendengarkan dengan seksama Hasya berbicara di ujung telpon sana.

__ADS_1



"Apa, yang benar Sya? Jadi, pemilik sertifikat tanah yang sebenarnya adalah Pak Haga Barata, ayahnya Zila?" pertanyaan itu muncul saat Pak Hasri, Bu Hilsa dan Hilda sejurus menatap ke arah Naga.



"Kak Naga, kapan kita mau pindah ke apartemen Kakak itu?" Tiba-tiba Zila sudah berada di ruang tengah dan menatap ke arah Naga yang sedang menerima telpon dari Hasya di ruang tamu. Naga segera mengakhiri sambungan telponnya setelah Hasya menjanjikan akan menghubunginya lagi.



Naga segera menghampiri Zila yang menatapnya menunggu jawaban. Sepertinya Zila sejak tadi sudah terbangun mandi, terlihat dari dandanannya yang cantik dan rambutnya yang basah. Sejenak Naga merasa heran, di saat Mamany mulai bersikap baik, Zila nampak antusias ingin pindah rumah.



"Aku sudah siap Kak, sudah mandi dan cantik." Zila memamerkan dirinya di depan Naga. Ah benar saja perempuan hamil muda ini semakin cantik saja. Wajah pucat pasi yang tadi pagi berhasil dipolesnya dengan bedak yang menyembunyikan segala lekukan mata pandanya.



Zila sengaja mendongak ke arah Bu Hilsa dan Pak Hasri, memberikan senyum ramah dan menyapa bahwa dia akan beranjak ke atas lagi.



Pak Hasri dan Bu Hilsa sejenak saling tatap setelah membalas senyum dan sapa menantunya itu. "Pah, jadi tanah yang dibeli Naga itu merupakan tanah milik bapaknya Zila? Kenapa Naga tidak ngecek dulu ke BPN atau ke desa kalau tanah yang dibelinya itu sengketa?"



"Naga bukan tidak mengecek keabsahan tanah itu milik siapa-siapanya. Pihak desa dan BPN setempat menguatkan bahwa tanah itu milik Pak Haidar yang menjadi pihak kesatu sebagai penjual tanah. Tindakan mereka terkait mafia tanah, jadi saat itu sangat sulit membantah atau mencari tahu kebenaran sesungguhnya tanah itu milik siapa."



"Terus bagaimana dengan Zila, apakah dia sudah tahu dan mendengar tadi pembicaraan Naga dengan Hasya?" Bu Hilsa menyelidik lewat suaminya.



"Papa tidak tahu apakah tadi Zila mendengar atau tidak pembicaraan Naga dengan Hasya di telpon, yang jelas Naga harus mengembalikan tanah itu pada pemilik sebelumnya, lalu Naga harus menuntut Haidar. Sebab dia telah menipu Naga, selain mencuri tanah milik orang tuanya Zila, dia juga terlibat banyak kasus suap dalam masalah ini."



Pembicaraan Bu Hilsa dan Pak Hasri berakhir setelah di luar sana ada seseorang yang bertamu. Bunyi bell pun diperdengarkan.



"Ting tun ting tung." Hilda berlari menuju pintu dan membuka siapa tamu yang datang. Saat pintu dibuka ternyata orang yang selama ini dinantinya.

__ADS_1



"Kakakkkkkk," teriaknya sembari memeluk erat tamunya. Siapakah dia?


__ADS_2