
"Pengawal? Dia bukan pengawal, tapi ...." ucapan Hilda terpotong.
"Tapi, pacar gimick kamu untuk membuat aku cemburu, kan?" potong Nagi menuding. Hilda dan Hadi terbelalak, rencana Hilda yang sudah disusun serapi mungkin dan diharapkan bisa berhasil membuat Nagi percaya dan patah hati itu, gagal sudah, sebab Nagi tidak mempercayainya.
Nagi tersenyum melihat Hilda tertunduk karena rencananya yang gagal.
"Dia bukan Pengawal atau pacar gimick aku, tapi dia memang benar pacar aku. Kami juga sempat ...."
"Kalian sempat dijodohkan, dan Hilda menolaknya?" Hilda melongo saat lagi-lagi Nagi mampu menebak apa yang akan dikatakannya.
"Hmmm, apa tujuan Kak Nagi memintaku ke sini? Setelah sekian lama menggantung harapanku, lalu kini dengan seenaknya datang di saat hati aku sudah terlanjur kecewa pada Kak Nagi?" Hilda meminta jawaban, kini dia berani menatap Nagi dengan lekat.
"Kita bereskan urusan kita tanpa dia, aku sudah tahu segalanya, kamu membawa dia kemari hanya untuk sebuah rencana, yaitu membuat aku cemburu dan mundur untuk mengejar kamu. Jujur saja aku tidak mungkin mundur mengejarmu setelah perjuangan dan pengorbanan yang aku lakukan selama ini," terang Nagi menggebu.
"Pengorbanan? Pengorbanan apa yang Kak Nagi maksud? Kak Nagi mengada-ngada, tidak ada satupun pengorbanan Kak Nagi untuk memperjuangkan aku. Jadi, tolong jangan mengakui merasa telah berjuang dan berkorban untuk mendapatkan aku," sungut Hilda tidak terima, karena selama ini dia merasa Nagi tidak berjuang untuk mendapatkannya.
"Aku tidak bisa mengatakan pengorbanan aku di sini, di depan orang lain. Sebab apa yang menjadi pengorbananku hanya kamu yang boleh mendengar, tidak orang lain," tegas Nagi menatap tajam ke arah Hilda.
Hadi menatap perdebatan antara Hilda dan Nagi, Hadi merasa sangat tidak berarti apa-apa di mata Hilda. Dari perdebatan ini, Hadi menilai Hilda nampak sangat mencintai Nagi. Namun, dari perdebatan ini Hadi berharap ada percikan yang lebih hebat supaya dia bisa jadi pemadam disaat apinya membesar.
"Ayo, ikut aku. Aku akan menceritakan banyak hal sama kamu. Butuh beberapa hari untuk menceritakan segalanya sama kamu sampai kamu mengerti. Tapi tidak di sini, sebab di sini ada dia," tunjuk Nagi pada Hadi yang semakin intens mengawasi perdebatan antara Nagi dan Hilda.
"Bung, maaf, lepaskan tangan Hilda. Anda jangan main bawa dan paksa, jika Anda tidak mau melepaskan maka saya akan bawa kasus ini ke jalur hukum atas perbuatan pemaksaan dan tindakan tidak menyenangkan," sergah Hadi membuat Nagi juga Hilda terbelalak.
"Pemaksaan? Saya maksanya di mana? Anda jangan ikut campur dengan masalah kami. Hilda datang kesini atas pemintaan saya dan dia datang dengan kesadaran dirinya, yang salah dari dia adalah ketika Hilda harus membawa Anda. Dan herannya, kenapa Anda mau diajak terlibat dalam rencananya? Saya sangat mencintai Hilda, Hilda juga. Jadi, tidak ada pemaksaan di sini. Saya mengajak dia karena ini adalah urusan pribadi, urusan kita berdua bukan urusan publik," tandas Nagi tegas membuat Hadi terpojok dan sedikit malu.
__ADS_1
Hadi malu kenapa dengan gampangnya kemarin dia menyetujui permintaan Hilda untuk bekerjasama dalam rencananya membuat Nagi cemburu. Sudah jelas-jelas Hilda butuh dia karena ingin membuat Nagi cemburu.
Hadi hanya bisa terpaku, terlebih saat ini Hilda pun tidak memberikan pembelaan apa-apa terhadapnya. Hadi yang merasa tidak dibutuhkan lagi, akhirnya mundur teratur, dan berniat pergi.
"Aku pergi, selesaikan urusan kalian dari hati ke hati," ujarnya melemah lalu pergi dengan segudang kekecewaan. Hilda menatap kepergian Hadi, dia nampak sedih.
"Kak Hadi." Hilda mengejar Hadi dan mencegatnya. "Kak Hadi, maafkan aku," mohon Hilda seraya bermaksud memegang lengan Hadi. Namun Hadi menjauhkan tangannya dari Hilda.
"Benar kata dia, bereskan urusan kamu sama dia. Lagipula niat aku tadi hanya membantu kamu walaupun tidak sesuai harapan. Aku juga minta maaf sudah coba ikut campur urusan kamu dan dia tadi. Aku pergi, ya. Semoga semua urusan kalian lancar dan baik-baik saja," ujar Hadi sembari melangkahkan kaki menjauh dari Hilda.
Hadi pergi seakan baru saja disadarkan oleh perdebatan antara Nagi dan Hilda. Hadi melihat hilda memang begitu sangat mencintai laki-laki yang baru dilihatnya itu. Namun, Hadi pernah beberapa kali mendengar Hilda keceplosan menyebutkan nama Nagi di beberapa kesempatan.
"Ayolah, kita selesaikan urusan kita. Aku akan jelaskan kesalahpahaman kamu terhadap aku selama ini," Nagi menghampiri dan meraih lengan Hilda. Namun Hilda menepisnya. Dia tidak mau Nagi seenaknya main pegang setelah sekian lama membiarkannya menanggung rindu sehingga Hilda berprasangka burk pada Nagi.
"Apa lagi yang mau Kak Nagi katakan? Aku sudah tidak mood duduk di sini," ketusnya tidak suka. Nagi menatap lekat ke arah Hilda yang kini banyak berubah. Semakin cantik dan sikapnya berubah, tidak manja dan agresif lagi seperti dulu, padahal Nagi sangat merindukan sikap itu, terutama manjanya Hilda.
"Kamu, berubah banyak, De," ujar Nagi seraya menatap wajah Hilda dalam. Hilda menyembunyikan wajahnya ke samping, dia tidak mau menampakkan sedikit saja kebahagiaan di hadapan Nagi yang terlanjur membuat dia kesal. Wajah Nagi yang tampan saja kini terasa menyebalkan, sebab Nagi telah membuatnya menunggu tanpa kabar sama sekali.
"Kalau tidak ada yang mau Kak Nagi bicarakan, lebih baik aku pergi. Tidak ada gunanya di sini hanya menunggu orang yang senyum-senyum tidak jelas," ketusnya kesal seraya berjingkat membuat Nagi gemas sekaligus heran. Nagi berdiri, secepat kilat dia meraih tangan Hilda dan menarik dengan lembut keluar cafe.
__ADS_1
Hilda berontak, tapi Nagi tidak menyerah membawa Hilda menuju mobilnya yang terparkir di depan Syaidar Cafe. "Jangan menolak, jika kamu terus berontak, maka aku akan cium kamu di sini, biar orang-orang melihat kita sedang berciuman," ancam Nagi membuat Hilda takut. Tenaga Nagi yang jauh lebih kuat darinya mampu membawa tubuh Hilda menuju mobil dan diseret masuk ke dalam.
"Kak Nagi, jangan paksa aku, aku mau keluar," ancam Hilda sembari berontak. Namun sayang, pintu mobil Nagi sudah terkunci otomatis sehingga Hilda tidak bisa berontak dan keluar.
"Sayang, pasang sabuk pengamannya," titah Nagi. Tapi Hilda tidak menuruti apa yang Nagi katakan. "Baiklah, biar aku pasangkan." Tanpa ba bi bu, Nagi segera memasangkan sabuk pengaman di tubuh Hilda dengan benar, lalu tanpa Hilda sadari Nagi sudah mencium pipinya dengan gemas dan penuh kerinduan. Hilda terkejut dan menjauhkan pipinya dari Nagi. Melihat Hilda yang menolaknya, ini bagi Nagi sebuah tantangan baru, Nagi menyukainya.
"Tantangan baru, nih. Aku harus bisa menaklukannya. Dulu dia sangat agresif, tapi sekarang jual mahal." Nagi tersenyum seraya melajukan mobilnya ke arah Soekarno Hatta menuju apartemennya.
Hilda merasa heran saat dia tersadar bahwa Nagi telah berhasil membawanya ke sebuah apartemen mewah di daerah Soekarno Hatta.
"Masuklah." Nagi mendorong sangat lembut tubuh Hilda masuk ke dalam apartemennya. Hilda heran dan takut, buat apa Nagi membawanya ke sebuah apartemen?
"Apa yang akan Kak Nagi lakukan, kenapa Kak Nagi membawa aku ke sebuah apartemen?" tanyanya dipenuhi berbagai dugaan dan pertanyaan di dalam kepalanya.
__ADS_1