
"Hilda," sapa Bu Hilsa mengulang sapaannya karena Hilda kelihatan melamun dan tidak fokus. Bu Hilsa menyadari, sejak anaknya pergi ke acara perayaan ulang tahun cucu pertamanya Syaka, dia nampak murung dan tidak bersemangat.
"Mama, ada apa, Ma?" kaget Hilda seraya menoleh ke arah Mamanya.
"Ayo, duduk di sana, tempat duduk untuk kita sebagai keluarga ada di sebelah kanan, dan yang sebelah kiri adalah tamu dari sahabat Kak Naga dan rekan bisnis." Bu Hilsa menarik tangan Hilda menuju kursi yang telah disediakan. Gemuruh suara tamu yang hadir semakin riuh, sepertinya acara ulang tahun anak pertama pasangan Zila dan Naga spontan menjadi ajang reuni dadakan.
Tamu yang kebetulan di undang, banyak yang saling kenal satu sama lain, ada yang sahabat lama tidak berjumpa, sahabat masa kecil yang baru bertemu di sini, mereka tak sengaja dipertemukan di acara ulang tahun baby Syaka kali ini. Boleh dikatakan ulang tahun baby Syaka sebagai ajang silaturahmi, sambil menyelam sambil minum air dan dua kali dayung dua pulau terlampaui, begitu pepatah yang bisa diungkapkan dalam acara ulang tahun baby Syaka kali ini.
"Grrrrrr." Suara tawa terdengar bergelegar di antara tetamu saat mereka menyaksikan acara pertama yang dibuka dengan sebuah guyonan dari artis lokal yang guyonan khasnya sangat menghibur. Sebuah guyonan mencakup semua umur termasuk anak bocah, tapi membuat perut keram karena guyonannya begitu menghibur.
Lalu diselingi kembali oleh suara pembawa acara yang menyampaikan acara selanjutnya sebuah pembacaan doa dari seorang tokoh ulama besar kota setempat, disusul acara selanjutnya sebuah sambutan oleh Naga sang empunya acara. Naga terlihat sangat tampan dan berkharisma, semua dua kelebihan di dalam fisiknya tidak pernah luntur, terlebih kini di telah dikaruniai seorang putra yang tampan mewarisi wajahnya baby Syakala Regana.
Kebahagiaan Naga semakin bertambah, setelah di samping kirinya berdiri tersenyum bahagia sembari menggendong baby Syaka. Zila, merupakan sebuah kekuatan dan pondasi utama Naga dalam mengarungi kehidupan berumah tangga. Bersamanya, satu persatu kebahagiaan diraihnya, terlebih perusahaannya semakin hari semakin melesat bak roket yang meluncur. Semua itu berkat doa kedua orang tua, juga Zila sebagai istrinya.
Setelah kata sambutan, acara kemudian dilanjutkan dengan potong kue dan tiup lilin. Setelah tiup lilin acara yang paling dinantikan lainnya adalah sebuah permainan yang sengaja dirancang pembawa acara untuk mengikutsertakan para tamu undangan. Yakni joget bersama dengan balon di kening, sambung lagu sambil memutar mic di antara para tamu, jika musik berhenti maka d yang harus melanjutkan bernyanyi.
__ADS_1
Ada juga door prize bagi tamu undangan yang berhasil mengambil kupon beruntung yang di dalamnya ada tulisan hadiah, yang harus diambil dan menjadi miliknya. Yang jelas acara ulang tahun baby Syaka sangat meriah dan seru dengan berbagai kejutan.
Namun bagi Hilda, kemeriahan dan keseruan ulang tahun baby Syaka tidak menyurutkan rasa gundah di hatinya. Hilda menyelinap di antara tetamu dan mengasingkan diri ke tempat yang agak sepi, dia duduk di sebuah kafe hotel yang kini sedang menggelar acara ulang tahun keponakan tersayangnya. Hilda bukan tidak antusias dengan ulang tahun keponakannya, tapi hatinya kini sedang dilanda rindu yang membara.
Hilda memesan segelas minuman bersoda dan meminumnya di sana dalam kesendirian. Bayangan bersama Nagi lagi-lagi membayangi setiap relung jiwanya, bagaimana dia bisa melupakan Nagi jika setiap ingin melupakan, maka bayangan Nagi semakin jelas menjelma.
Hilda menopang kedua tangannya di atas meja, sesekali jemari kanannya kembali mempermainkan cincin berlian di jari tengah sebelah kirinya. Hilda ingin melepasnya, tapi dia sangat menyukai cincin itu, entah kenapa. Lalu dia mendekatkan jari tengah kirinya dan di tatapnya lekat-lekat setiap detail dari komponen cincin itu. Cincin bermata yang bentuknya mirip hati itu melambangkan cinta, kenapa juga si pengirim itu mengirimkan cincin berlian yang mahal kepadanya dan bermatakan lambang hati?
"Apa maksud si pengirim mengirimkan cincin berlian ini, mahal dan ada lambang hati? Apakah orang itu sedang mengungkapkan isi hatinya padaku? Siapa kira-kira pengirim ini, jika dia Kak Nagi, kenapa dia belum juga memberi tanda supaya aku tidak dilanda penasaran?"
"Kak Nagi, apakah ini cincin pemberian Kak Nagi?" Hilda masih menatap lekat cincin itu di depan matanya.
"Aku bahagia bisa melihat dengan jarak dekat binaran mata indahmu itu. Apa yang kamu rasakan sehingga kamu memisahkan diri dari acara ulang tahun baby Syaka? Apakah acara itu tidak cukup membawamu bahagia?"
Namun beberapa detik kemudian suasana itu berubah, seorang lelaki lebih muda dua tahun darinya menghampiri dengan tiba-tiba sehingga gadisnya terkejut.
__ADS_1
"Lelaki cepak? Siapakah dia berani-beraninya mengagetkan gadisku?" Apakah dia seorang anggota? Dia cukup tampan dan menarik. Apakah gadisku kini telah berpaling dan lebih tertarik dengan lelaki aparat itu?" tanyanya masih terdengar gumanannya dengan wajah yang berubah frustasi.
"Giii, sejak pulang dari pabrik kamu belum membersihkan diri, apakah badan kamu tidak lengket dengan udara kota ini yang mulai panas? Lagi pula Ibu perhatikan sudah dua hari ini kamu sangat serius memperhatikan layar HPmu. Apakah kamu sedang berkomunikasi dengan kekasihmu? Coba kenalkan dengan ibu siapa sebenarnya kekasihmu?" Nagi terkejut ketika Ibu Harumi menyapanya dari belakangnya.
Nagi gelagapan, sejenak dia nampak gugup dan bingung. "Tidak, Bu, belum jadi kekasih. Dia hanyalah impian dalam hidup Nagi. Suatu saat jika perusahaan ini benar-benar sudah matang, Nagi akan memantapkan hati dan membawa dia di hadapan Ibu, memperkenalkan dia sebagai calon istri."
"Sudah matang? Memangnya perusahaan Kapassindo NagiMedani ini masih mentah? Kamu terlalu merendah. Setelah dua tahun kamu turun tangan langsung ke dalam perusahaan, kemajuan pesat terjadi di perusahaan ini. Dan ini berkat kegigihanmu. Ibu tahu kamu akan sukses, meskipun hanya diawali dengan sebuah perusahaan berskala kecil. Jika ada waktu kenalkanlah calon istrimu itu, Ibu ingin mengenalnya," tukas Bu Harumi membuat Nagi sedikit tersentak dengan keinginan Ibunya itu.
Dia bukan tidak senang mendengarnya, tapi apakah Ibunya ini akan merestui hubungan dia dengan gadisnya itu yang tidak asing lagi bagi Bu Harumi, meskipun dia selama ini hanya mengenalnya lewat foto dan media sosial miliknya.
"Aku akan melamarnya, Bu, sebentar lagi. Doakan saja yang terbaik untukku dan hubunganku dengannya," ungkap Nagi memberi keyakinan pada sang Ibu.
"Ngomong-ngomong, adiknya Abangmu itu sepertinya dia sudah semakin besar dan cantik, ya? Ibu lupa lagi dengan wajahnya, terakhir kamu memperlihatkan foto dia saat sedang sekolah dan pergi sekolah. Betapa dia manja dan sangat lengket padamu, itu katamu saat itu, kan?" ujar Bu Harumi.
"Hilda masih sama cantiknya, Bu, seperti foto dia saat SMP, tidak jauh beda. Sekarang dia sudah kuliah semester empat, dua tahun lagi dia lulus kuliah," ungkap Nagi dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Sungguh beruntung mereka, mereka terlahir dari keluarga yang sempurna." Bu Harumi tersenyum penuh kekaguman ketika mengingat keluarga mantan iparnya itu.
"Ibu tidak tahu saja bahwa Hildalah perempuan yang menjadi impianku siang dan malam. Nanti pada saatnya tiba, Nagi akan kasih tahu semua, jika sekarang aku takut Ibu shock dan menentangnya."