
Naga masuk ke dalam kamar yang sudah dimasuki Zila. Dilihatnya Zila sedang terbaring sembari meringis. Naga duduk di samping Zila seraya meraba perut yang diusap Zila.
"Zi, sebenarnya kamu kenapa, apa perlu kita ke Dokter? Atau kita panggil saja Dokter langsung ke rumah, kami punya Dokter keluarga yang siap datang ke rumah." Naga menawarkan jasa Dokter yang langsung didatangkan ke rumah. Namun Zila dengan cepat menolaknya. Zila mendadak pucat pasi, sebab dia tahu sendiri jika mendatangkan Dokter ke rumah, sangat ditakutkan jika seisi rumah ini mengetahui kalau Zila hamil pura-pura.
"Jangan panggil Dokter ke sini, Kak Naga tahu sendiri aku ini pura-pura hamil, apakah Kakak ingin membongkar sendiri kebohongan aku di depan keluarga Kakak?" tolak Zila sedikit menyeringai.
"Aku hanya khawatir dengan keadaanmu. Kalau begitu, apakah sebaiknya kita datang langsung ke Dokter dan periksa keadaan kamu yang sebenarnya?" Naga meminta persetujuan Zila untuk mendatangi Dokter langsung, tapi Zila masih menolaknya.
"Kak Naga tidak perlu mengkhawatirkan keadaan aku sampai harus ke Dokter segala, aku cuma sakit biasa, karena efek kurang minum air putih jadinya begini. Kakak, kan tahu aku kadang sering lupa minum air putih jika habis makan." Zila memberi alasan kembali untuk berusaha menolak ajakan Naga ke Dokter.
"Kalau begitu terserah kamu saja. Tapi jika nanti sakitnya terasa lagi kamu bilang dan aku akan benar-benar membawamu ke Dokter," ucap Naga kukuh. Zila hanya mengangguk.
"Rafa sudah pulang, tapi saat dia pulang dia sempat berkata sama aku perihal kamu. Kalian dulu sepertinya punya hubungan sangat baik meskipun akhirnya harus berpisah. Rafa terlihat kecewa dan sedih saat mengatakan padaku bahwa aku beruntung bisa mendapatkan kamu yang tulus. Sepertinya Rafa punya kesan sangat baik terhadapmu. Yang aku takutkan, cinta lama kalian yang belum kelar akan bersemi kembali dan kalian kembali merajut kisah itu, dan sama seperti pengalamanku yang terdahulu, aku takut dikhianati saat aku sedang mencintai," ungkap Naga jujur, diiringi raut wajah yang tiba-tiba muram saat dia menceritakan kepahitan masa lalu saat dua kali dikhianati orang yang dia cinta.
Zila mengalihkan fokusnya, kini dia menatap Naga dengan rasa simpatik yang dalam, Zila merasa sedih dengan cerita masa lalu Naga yang jelas tergambar sangat menyakitkan ketika Naga mengungkitnya barusan.
"Kak Naga, kenapa Kakak bicara seperti itu? Aku tidak sama dan pantang menyakiti atau berkhianat saat aku sedang membina hubungan yang sudah sah di mata hukum agama dan negara. Meskipun awalnya hubungan ini dipaksakan, tapi aku tegaskan aku tidak akan pernah berkhianat disaat aku sudah menjalin hubungan yang tercatat secara hukum agama maupun negara," tegas Zila sungguh-sungguh. Saat Naga menatap Zila berbicara, ada kesungguhan di sana. Dan Naga yakin Zila memang dikirimkan Allah untuknya bukan untuk berkhianat.
__ADS_1
Zila meremas jemari Naga yang sejak tadi mengusap perutnya untuk meyakinkan bahwa dia sungguh-sungguh dan bukan tipe pengkhianat.
"Kamu janji, akan selalu setia dalam pernikahan ini?" yakin Naga seraya menyatukan kedua tangannya dengan dua tangan Zila.
"Aku janji Kak," ucapnya sungguh-sungguh. Naga mendekati kening Zila lalu mengecupnya .
"*Huh, lebay. Paling si Zila hanya memanfaatkan Kak Naga saja. Aku tahu dia pura-pura hamil untuk menghindari aturan Mama. Tenang saja, aku akan buat surprise untukmu Zila, kamu akan tahu akibatnya jika kamu mempermainkan Kakakku tersayang*," tekad seseorang yang ternyata Hilda di balik pintu kamar Naga yang tidak tertutup rapat.
Seperti biasa setiap pagi Naga kini efektif kembali datang ke perusahaannya, sebab kerjasama dengan para klien dari perusahaan lain sudah mulai dijalankan. Sudah dipastikan Naga akan sangat sibuk dua bulan ke depan.
"Kamu tangani saja sampai benar-benar terang benderang siapa sebenarnya pemilik tanah tersebut. Aku tidak mau kamu terburu-buru dalam mengungkap kasus ini. Biarlah pelan asal hasilnya memuaskan," tekan Naga di sambungan telpon satu waktu.
Setelah Naga terlihat sudah siap dan rapi, Zila mengikuti Naga dan mengajaknya langsung ke meja makan. Di sana hanya ada Hilda, sementara Bu Hilsa dan Pak Hasri belum terlihat keluar kamar. Zila hanya mendengar kabar bahwa kedua mertuanya ini akan segera bertolak ke Singapura untuk menghadiri sebuah penghargaan bergengsi di bidang pengolahan rempah-rempah sesuai dengan perusahaan yang dimilikinya yang bergerak di bidang pengolahan rempah-rempah terbesar di Indonesia.
Hilda berjingkat dari meja makan setelah melihat Zila menuju meja makan yang sama. Dia tidak suka dengan Zila karena masih menganggap Zila perempuan yang hanya gila harta dan mau memanfaatkan Naga saja.
__ADS_1
"Aku pergi, perutku jadi enek karena tidak bisa semeja dengan dia," tunjuknya langsung ke muka Zila. Naga hanya melotot dengan sikap adiknya ini. Dia tidak bisa apa-apa selama Zila masih bisa melawan.
"Huh, dasar adik ipar tidak tahu adab," Zila balik menyerang tanpa rasa takut. Naga yang melihat ketidakakuran antara adiknya dengan Zila hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Hati-hati, Hil," peringat Naga pada Hilda adik semata wayangnya. Hilda pergi, bersamaan dengan itu kedua orang tua Naga muncul dengan keadaan yang sudah wangi dan tentunya tampan dan cantik sesuai usianya.
"Naga, Mama dan Papa akan berangkat ke Singapura hari ini untuk beberapa hari ke depan, untuk itu Mama dan Papa titip Hilda. Kalian yang akur dan baik-baik saja, ya. Dan doakan kami supaya kami selamat sampai tujuan dan kembali lagi dengan keadaan selamat," ujar Bu Hilsa memberitahu.
"Ok, Ma, Pa. Semoga kalian sukses dan pulang kembali ke tanah air dalam keadaan selamat dan membawa sebuah penghargaan," balas Naga sembari memeluk dan menyalami tangan keduanya. Zila pun sama menyalami kedua mertuanya meskipun sikap Bu Hilsa masih terlihat belum bisa menerimanya.
Kedua orang tua Naga akhirnya berpamitan dan meninggalkan kediamannya yang megah itu. Disusul Naga lima belas menit kemudian untuk pergi ke kantornya.
"Aku pergi, ya. Kamu baik-baik di rumah." Naga mencium pipi Zila sebelum benar-benar pergi.
***
Seminggu berlalu sejak kepergian kedua mertuanya ke Singapura, di rumah ini Zila benar-benar merasa bagaikan ratu, sebab Naga selalu memanjakannya. Pekerjaan rumah yang biasanya sengaja dibebankan untuknya kini tidak lagi membebaninya. Kalau hanya perang mulut dengan Hilda adik iparnya, Zila sudah sangat kebal dan dia selalu ada jalan untuk melawannya.
__ADS_1
Hari ini setelah Hilda pergi kuliah dan Naga pergi ke kantor, suasana rumah terasa sepi. Zila kadang bosan, sebab beberapa bulan ke depan ini Naga juga sangat sibuk dengan perusahaannya, sehingga waktunya sangat jarang dihabiskan berdua dengan Zila. Hanya malam hari saja mereka intens bertemu, itupun kadang sudah sangat lelah.