Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Musim 3 Nagi dan Hilda #Perjuangan Nagi


__ADS_3

     Nagi terkejut saat Naga kini berada di hadapannya dan memberi sebuah pertanyaan yang sejak tadi memang sedang dia susun. Sebetulnya ada apa dengan Naga, dia seperti tahu saja rencananya. Apakah Naga mempunyai mata batin untuk mengetahui isi hatinya?


     "Kenapa Bang Naga bertanya seperti itu?" Nagi balik bertanya dengan sangat heran.


     "Jangan balik bertanya, aku hanya ingin tahu kamu datang ke Bandung memiliki niat apa selain melebarkan usaha kapasmu di sini?"


     "Tentu saja, semua itu sudah aku persiapkan, Bang. Tapi masalahnya Hilda dan Papa maupun Mama, apakah sepakat dengan niatku? Hilda menyuruhku mengurungkan, aku menjadi bingung dengan sikapnya. Sedangkan aku datang ke Bandung memang untuk rencana yang satu itu. Lalu, dari mana Bang Naga tahu rencanaku? Dan apakah Bang Naga sudah merestui aku?"


     "Jangan banyak tanya, jika memang kamu punya niat yang tulus dan memang serius, kenapa harus bingung memikirkan sikap Hilda yang seakan plin-plan. Keberanian justru dituntut padamu, Nagi," tegas Naga seraya bangkit dan menepuk kuat bahu Nagi. Nagi terhenyak, tepukan itu sebuah peringatan keras untuknya.


     Naga segera berjingkat meninggalkan Nagi yang sedang berpikir. Tidak ada waktu lagi bagi Nagi, dia harus segera melaksanakan niatnya dan merealisasikannya. Tentang ditolak dan diterima, itu perihal belakangan.


     Setelah Naga pergi, Nagi juga segera pergi dari tempat itu, dia akan melakukan sesuatu yang kali ini benar-benar besar baginya sebab ini bisa jadi pertama dalam hidupnya. "Melamar sepupu sendiri."


     Mobil merah metalik miliknya melaju lumayan kencang membelah jalanan kota Bandung yang lumayan padat. Tidak ada waktu bagi Nagi untuk bersantai di jalan. Semua masa depannya kini di depan mata, dan kali ini Nagi tidak akan melepaskannya lagi. Yang perlu Nagi taklukan sekarang adalah restu dari Mama dan Papanya Hilda. Jika tidak direstui, Nagi tidak tahu lagi harus berbuat apa.


     Mobil Nagi tiba di depan gerbang rumah Papa dan Mama Hilsa. Nagi membunyikan klakson mobilnya kencang memanggil Satpam yang jaga siang ini. Pak Devan, Satpam tampan yang namanya tenar di kalangan novel-novel online baru-baru ini muncul dan menghampiri mobil Nagi.


     "Anda dengan siapa?" tanya Pak Devan, padahal baru kemarin Nagi ketemu dengan dia. Mungkin kemarin datangnya malam hari, jadi Pak Devan kurang ingat pada Nagi.


     "Masa lupa lagi dengan saya, sih, Pak? Saya yang kemarin malam datang ke rumah ini. Saya calon suami dari Nona Muda, apakah Pak Devan sudah lupa. Nama saja bagus menyaingi pemeran utama laki-laki novel online yang sedang hits, tapi pelupanya minta ampun," ledek Nagi. Memang benar Pak Devan ini menurut Nagi namanya keren, tampang juga tidak jelek, walau sudah berumur 40 tahun tapi banyak ceweknya, janda-janda komplek ini banyak yang kesengsem sama ketampanannya.


     "Pak Devan, saya peringatkan. Jangan kegenitan sama janda-janda komplek ini sampai semua namanya diingat satu persatu, lantas tugas jaga di pos terabaikan, dan mengingat saya saja lupa. Jika itu terjadi maka saya pastikan Pak Devan nganggur," ancam Nagi serius. Pak Devan nyengir, dia ketakutan jika mendapatkan ancaman pahit seperti itu.


     "Lho, sebentar, Den. Memangnya Aden tahu dari mana saya ingat semua nama janda-janda di komplek ini, bukankah saya baru melihat Anda kemarin malam?"


     "Pak Wawan yang cerita. Sudah, buka gerbangnya. Saya mau masuk," dengus Nagi sedikit dongkol dengan Satpam satu itu, tampan-tampan tapi pelupa, genit dan cengengesan.

__ADS_1


     Pak Devan segera melakukan tugasnya membuka pintu gerbang lebar-lebar dan mempersilahkan Nagi masuk.


     "Nah beli rokok dan kopi binatang pemakan kopi, saya jamin pelupa Pak Devan sembuh sesaat," ujar Nagi seraya ketawa diiringi menyodorkan uang merah satu lembar.


     "Wahhhh, terimakasih, Den," teriak Pak Devan senang, setelah menerima uang merah dari Nagi lalu disimpan ke saku bajunya. "Rezeki Satpam tampan. Tumben, tamunya Non Hilda baik. Tahu rasa Pak Wawan giliran malam, lagi pula bibirnya itu comel, banyak omong, pakai bilangin gue kenal semua nama-nama janda komplek ini segala," rutuknya sembari tersenyum penuh kemenangan.


     Mobil Nagi berhenti dengan sempurna di halaman rumah milik Papa Hasri. Nagi sudah tidak canggung lagi sejak Pak Hasri dan Bu Hilsa menyambutnya dengan baik setelah empat tahun tidak bertemu. Nagi turun dari mobil seraya membawa sebuket uang yang dibentuk mirip buket bunga. Tentu saja tidak lupa cincin untuk dijadikan pengikat di jari Hilda sudah dia persiapkan sejak tadi di dalam saku jasnya. Nagi benar-benar tampan siang ini.


     "Assalamualaikum." Ucapan salam itu lantang diperdengarkan. Nagi berdiri dengan doa-doa yang terucap di dalam hatinya. Pintu rumah utama pun terbuka lebar-lebar. Kini giliran Bi Rana yang membukakan pintu. Bi Rana histeris dan menyambut Nagi dengan suka cita.


     "Wa'alaikumsalam. Den Nagiiii, masuk, Den," sambut Bi Rana seraya mempersilahkan Nagi masuk. Nagi mengikuti Bi Rana menuju ruang tamu rumah itu.


     "Silahkan, Den Nagi, duduklah dulu. Saya panggilkan Tuan dan Nyonya besar," ujar Bi Rana seraya berjingkat menuju dapur. Nagi duduk dengan gelisah dengan buket uang merah dan biru di tangannya. Entah berapa jumlah uang itu, yang jelas ini hanya pemanis saja sebagai usaha pertamanya melamar pujaan hati jika diterima. Sebuah pabrik untuk mahar saja bagi Nagi kini mampu dia berikan jika dia memang niat memberi mahar sebuah pabrik pun.


     Nagi tahu Hilda belum pulang ke rumah. Terlihat dari mobilnya yang belum nampak di garasi rumah. Hati Nagi tiba-tiba berdebar sangat kencang saat suara Mama Hilsa dan Papa Hasri mulai terdengar.


     "Ada apa, Gi? Kenapa tampilan kamu seformal ini dan sangat tampan? Apakah Papa tidak salah lihat? Setelah empat ahun berpisah, kamu benar-benar menjelma menjadi Nagi yang sangat luar biasa dan sukses. Perusahaan mampu kamu dirikan dengan sukses. Kamu sangat gigih dan pekerja keras, Papa salut sama kamu. Padahal, perusahaan Papa yang di daerah merupakan perusahaan yang akan Papa serahkan menjadi milikmu." Pak Hasri bicara panjang lebar, memuji kegigihan Nagi yang kini sukses tanpa embel-embel namanya lagi.


     "Nagi, ada hal yang ingin disampaikan sama Papa dan Mama. Apakah Papa dan Mama tidak keberatan?" ujar Nagi menegarkan diri dan hati memulai niatnya dengan kalimat intro yang lumrah diucapkan.


     Pak Hasri dan Bu Hilsa saling tatap sejenak, lalu tatapan mereka kembali ke Nagi. "Apa yang mau kamu bicarakan, seriuskah?"


     "Nagi ingin melamar Hilda. Apakah Mama dan Papa tidak keberatan?" ungkap Nagi langsung pada pokok pembicaraan dan niatnya.


     Sejenak kedua orang tua Hilda itu terlihat terkejut, meskipun hal ini sudah diduga sebelumnya. Pak Hasri dan Bu Hilsa kembali duduk tenang.


     "Melamar saudara sepupumu, apakah tidak ada perempuan lain lagi yang lebih menarik dari anak Papa sehingga kamu ingin melamarnya?"

__ADS_1


     "Tidak ada, Pa. Nagi sangat mencintai Hilda. Dan Nagi janji akan mencintai Hilda setulus hati," ungkap Nagi serius dan keluar dari dalam hatinya paling dalam.


     "Apakah kamu serius, Gi. Kamu tidak akan menyia-nyiakan anak perempuan Mama? Kalian tumbuh bersama sejak kecil dan saling menyayangi. Tapi, kenapa kamu bisa mencintai Hilda melebihi dari persaudaraan kalian?" tanya Bu Hilsa meyakinkan.


     "Nagi serius, Ma. Nagi mencintai Hilda. Nagi bukan bermaksud lancang sama Papa dan Mama yang sudah membesarkan Nagi sejak kecil, tapi rasa cinta ini mengalahkan rasa persaudaraan Nagi terhadap Hilda. Nagi mohon ijinkan Nagi meminang Hilda," mohon Nagi menunduk.


     "Papa dan Mama tidak bisa mengatakan iya tanpa persetujuan Hilda. Jika Hilda setuju, maka kami mempersilahkan. Silahkan jalani kisah yang ingin kalian rajut. Yang jelas kami hanya mengingatkan bahwa kalian pernah tumbuh bersama, tentu saja kamu tahu bagaimana sifat dan tingkah laku Hilda. Jika Hilda menerima kamu, kamu harus siap dengan semua yang ada pada dirinya, termasuk segala kekurangannya," tegas Pak Hasri berharap Nagi yakin dengan niat hatinya.


     "Sebelumnya terimakasih, Pa, Ma, atas ijin Mama dan Papa. Nagi janji menerima segala kekurangan Hilda."


     "Ingat, Gi. Jika pernikahan diantara kalian terjadi, jangan pernah kecewakan Hilda. Jika sekali saja kamu kecewakan Hilda, maka hubungan kekeluargaan kita Papa jamin akan hancur. Papa tegaskan itu supaya kamu berpikir dengan lebih jernih dan dalam lagi sebelum melangkah lebih jauh," tandas Pak Hasri penuh penekanan.


     Nagi mengangguk dalam, dia akan terima konsekuensinya jika dia menyakiti atau mengecewakan Hilda. Tentu saja resikonya sangat besar, yakni hubungan kekeluargaannya dengan kedua orang tua di hadapannya akan hancur jika itu sampai terjadi.


     "Papa dan Mama jangan khawatir, datang dari niat Nagi yang tulus, maka hal itu Nagi pastikan tidak akan terjadi. Nagi yakin, sebab Nagi tidak main-main dengan niat Nagi," tandas Nagi lebih menekan lagi.


     Pak Hasri dan Bu Hilsa melihat keseriusan dalam mata Nagi, keduanya kini yakin bahwa Nagi tidak akan menyakiti Hilda.


     "Tapi, Gi. Sebelum kamu menikahi anak Papa, kamu harus lebih dulu mengungkap seluk beluk perpisahan kedua orang tuamu langsung dari mulut Papamu Harsya. Semua rahasia dan bukti ada padanya. Jika kamu sudah mengetahuinya, baik ataupun buruk, kamu juga harus meminta ijin darinya untuk menikahi Hilda sebab Hilda merupakan keponakan kesayangannya. Yakinkan dia bahwa kamu bisa membahagiakan Hilda," ujar Pak Hasri penuh teka-teki. Ini menjadi PR baru buat Nagi. Sepertinya niat menikahi Hilda, masih banyak lika-liku yang mesti Nagi lalui.


     "Baiklah, Pa. Akan Nagi cari tahu latar belakang Papa dan Ibu berpisah. Nagi juga akan berusaha meyakinkan Papa Harsya supaya beliau memberi restunya." Nagi memberikan keyakinan pada Pak Hasri dan Bu Hilsa, sehingga mereka berdua sama-sama yakin.


     Niat tulus Nagi ingin melamar Hilda rupanya masih perlu perjuangan yang lebih keras lagi, yaitu restu dari Papa Harsya yang notebene tidak pernah sekalipun menganggap Nagi ada. Ini akan menjadi sandungan terbesar bagi Nagi kalau restu dari Papa Harsya tidak diberikan.


***


     

__ADS_1


__ADS_2