
Surabaya
Hari kedua di Surabaya, Naga masih harus menghadiri penandatanganan kerjasama dengan klien dari beberapa perusahaan lokal. Semua kerjasama ini diharapkan sama-sama saling menguntungkan.
Siangnya Naga harus menghadiri rapat dengan tim Manager Marketing, sampai di mana jangkauan pasaran produk terbaru perusahaannya yang seminggu lalu launching? Hari ini Naga benar-benar sangat sibuk, semua agenda di Surabaya tidak bisa diwakilkan pada orang lain, sehingga waktu untuk sekedar ngopi saja tidak sempat.
Hari ketiga dan keempat sama saja, kali ini Naga ada pertemuan langsung dengan para direksi perusahaannya maupun perusahaan Kappa Food, mengenai produk unggulan yang akan launching. Kehadiran Naga sebagai pemilik Naga Group jelas dinantikan para mitra yang bekerjasama dengan perusahaannya.
Sebagai pemilik Naga Group, Naga dituntut mempresentasikan, mengesahkan lalu launching produk yang akan segera diedarkan di pasaran dalam negeri maupun luar negeri. Agenda hari ini yang cukup menyita waktu sungguh sangat melelahkan.
Setelah agenda selesai, Naga bisa sedikit bernafas lega. Tubuhnya yang lelah dan pikiran yang tadi sempat mumet, kini bisa sejenak cooling down. Naga bermaksud ke ruangannya untuk mengistirahatkan badannya yang lelah.
Sebelum masuk ruangan CEO, Naga memanggil Fina, Sekretarisnya untuk memanggil OB supaya membuatkan kopi latte ke ruangannya.
Tidak berapa lama, Fina masuk bersama seorang OB yang mengantarkan kopi latte pesanannya. "Terimakasih," ucap Naga ramah pada sang OB. Sementara Fina meminta ijin untuk duduk di hadapan Naga.
"Silahkan, apa yang ingin kamu sampaikan Fina?"
"Emmm, begini Pak Naga. Sebelumnya saya minta maaf jika laporan saya ini mengganggu ketenangan Bapak. Tapi, ini harus saya sampiakan," ujar Fina ragu.
"Katakanlah!" perintah Naga.
"Bu Dila dalam beberapa minggu yang lalu selalu datang ke pabrik dan memantau ruang produksi. Saya merasa heran apakah memang beliau punya wewenang atau Pak Naga memberi wewenang? Saya rasa Bu Dilla tidak pantas mengawasi proses produksi perusahaan kita, toh dia bukan bagian dari perusahaan ini. Saya hanya takut Bu Dila mencuri resep produk yang kita keluarkan. Bukankah mengawasi bagian produksi sudah ada Supervisor kita, tapi sepertinya mereka segan pada Bu Dila," lapor Fani serius.
__ADS_1
Naga berpikir keras atas laporan Fina barusan perihal Dila yang berani muncul di ruang produksi dan mengawasi proses produksi.
"Aneh, ini benar-benar aneh. Saya harus menegur Supervisor yang tidak bisa bekerja, kenapa membiarkan orang lain berada dalam ruang produksi? Dila hanya pemegang setengah saham perusahaan Kappa Food yang kebetulan bekerjasama dengan perusahaan kita, apa kepentingan dia di sana? Saya harus mengadakan rapat dengan para Supervisor. Fina, tolong panggil semua Supervisor seluruh departemen, saya akan mengadakan rapat dadakan di ruangan saya, sekarang!" titah Naga tegas. Fina tidak membantah dia segera keluar ruangan CEO, lalu memberitahukan semua depertemen supaya Supervisornya menghadiri radak alias rapat dadakan di ruangan CEO.
Semua Supervisor mendadak ciut melangkahkan kaki ke ruangan CEO, mereka merasa tidak membuat sebuah kesalahan, tapi seolah mereka dipanggil karena sebuah kesalahan.
"Siang Pak." Semua kompak menyapa ramah pada Naga setelah para Supervisor itu berada di depan pintu CEO. Muka tegang hampir dihadirkan di sana. Semua masuk dengan ragu, ada enam orang Supervisor yang hadir. Mereka mengelilingi meja CEO yang kini mukanya terlihat sangat kesal.
"Saya memanggil kalian secara mendadak, pasti kalian sudah bisa menebak apa kesalahan kalian." Naga menatap satu per satu Supervisornya dengan tatapan marah.
"Kenapa kalian terutama Supervisor bagian produksi membiarkan orang asing seenaknya masuk dan mengawasi proses di mana produksi di laksanakan? Apakah kalian tidak punya mulut untuk mencegahnya. Dila itu bukan siapa-siapa di perusahaan ini, tim audit juga bukan. Kenapa kalian satu orangpun tidak ada yang berani mengusirnya?" cecar Naga memberi pernyataan sekaligus pertanyaan pada peserta radak kali ini.
Naga mencoba mendengarkan apa yang akan disampaikan Supervisornya.
"Sudah dua minggu terakhir ini Bu Dila datang ke kantor dan langsung mendatangi ruang produksi. Beliau mengawasi setiap kinerja operator maupun mesin kami. Sudah saya dan teman-teman yang lain tegur, tapi Bu Dila berdalih atas ijin Pak Naga. Bahkan dia berkata bahwa beliau sebentar lagi akan menjadi istri pemilik Naga Group, kami awalnya terkejut dan merasa tidak enak setelah mendengar pengakuan Bu Dila. Sejak Bu Dila mengaku seperti itu, kami segan untuk menegur atau melarang," jelas Rangga salah satu Supervisor di bagian produksi.
Naga diam berusaha mencerna cerita Rangga. "Kenapa diantara kalian tidak ada yang berani bertanya atau menyampaikan pada orang-orang kepercayaan saya bahwa ada perempuan ular di dalam ruang produksi selama dua minggu ini?"
"Justru itu, Pak. Bu Dila mengancam kami. Jika kami berani melaporkan pada orang-orang kuat di perusahaan ini, maka Bu Dila tidak segan-segan menyingkirkan kami, sebab beliau bilang berulang-ulang bahwa beliau dapat titah langsung dari Anda selaku CEO," jelas Rangga lagi diangguki yang lain.
"Cuihhh, kurang ajar Dila. Dia sudah menjual nama saya pada kalian untuk mengintimidasi kalian. Sekarang kalian kembali ke ruangan kalian masing-masing, saya hanya minta sama kalian, tetap waspada di dalam ruangan produksi, jangan sampai ada hal yang membahayakan disebar di dalam produk kita. Tahan dulu produk kita yang diproduksi satu minggu yang lalu, cepat! Saya akan segera memangil Badan POM untuk meneliti semuanya. Sebelum produk itu terlanjur keluar," perintahnya tidak sabar.
__ADS_1
Naga takut kedatangan Dila ke Naga Group terutama ke ruangan produksi, selain mencuri resep produk, ada hal lain yang paling ditakutkan yaitu Dila menyebar sesuatu yang membahayakan di dalam kemasan produk yang diproduksi perusahaannya.
Ternyata setelah rapat dadakan diadakan, Naga dan tim khusus orang-orang kepercayaannya serta para karyawan bergerak cepat melaksanakan sidak pada produk yang diproduksi satu minggu yang lalu. Nasib baik produk yang khusus dikirim ke negara se Asia Tenggara ini belum dikeluarkan dari gudang dan belum melalui proses uji klinis.
Bersyukur di dalam produk yang ditakutkan ada hal yang berbahaya tersebut, semua dinyatakan aman dan tidak ditemukan hal ganjil yang mencurigakan. Naga bersyukur, kecurigaannya tidak terbukti. Lantas apa yang dilakukan Dila selama di ruang produksi? Mungkinkah Dila mencuri resep?
Satu masalah terselesaikan, untuk sementara Naga bisa bernafas lega. Naga kembali ke hotel Syailendra. Di lobi hotel Naga bertemu pemilik hotel yaitu Syailendra yang merupakan sahabat kental masa SMA dan kuliah.
"Bagaimana, Ga, kerasan di sini?" Syailendra bertanya sembari menyodorkan segelas minuman pada Naga.
"Sebetah-betahnya di sini lebih betah di dekat istri," ujar Naga sembari meneguk minumannya.
"Asikkk, yang pengantin baru, masih hangat-hangatnya, bawaannya kangen terus. Kenapa tidak kamu bawa saja sekalian ke Surabaya, Ga?"
"Tidak bisa, dia sedang hamil muda. Terpaksa aku tinggalkan," ujarnya seraya meletakan gelas yang sudah tandas.
"Akhirnya yang ini langsung hamil, tidak menunda lagi seperti mantan-mantan kamu yang dulu, aku doakan yang sekarang ini langgeng dan awet sampai kakek nenek, kalau bisa sampai akhirat kalian bersama," ucap Syailendra mendoakan yang langsung diaminkan Naga.
"Ok, Sya, aku ke kamar dulu. Sepertinya aku harus istirahat, kepalaku sedikit pusing." Naga berpamitan pada Syailendra karena ingin segera beristirahat.
"Apakah perlu aku antar, Ga?" Naga langsung menggeleng seraya mengucapkan terimakasih.
"Tidak perlu Sya, aku sendiri saja. Terimakasih untuk jamuannya dan penginapan istimewanya, aku sungguh menikmatinya," pungkas Naga sembari berlalu menaiki lift menuju kamarnya di lantai 6.
__ADS_1