Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Musim 3 Nagi dan Hilda


__ADS_3

     Mobil Naga memasuki halaman rumah Papa dan Mamanya. Zila turun lebih dulu sembari memangku baby Syakala yang kini sudah berusia empat tahun. Kedatangan mereka disambut gembira oleh seluruh penghuni rumah, terutama oleh Bu Hilsa.


     "Baby Cakaaaa." Bu Hilsa berteriak menyambut kedatangan mereka bertiga. Dengan cepat baby Syaka sudah berpindah tangan ke tangan Bu Hilsa. Bu Hilsa nampak sangat sayang banget pada baby Syaka, sebab baby Syaka merupakan cucu pertama bagi Bu Hilsa. Jadi wajar jika Bu Hilsa sangat antusias menyambut kehadiran baby Syaka.


     "Tambah cuby saja cucu Nene, emmhhhggg." Tidak henti-henti Bu Hilsa menciumi pipi tembem cucu pertamanya itu gemas, kadang dicubit kecil saking gemasnya. Lalu ringisan kecil terlihat di wajah tampan warisan Naga itu dengan lucunya. Bu Hilsa semakin gemas dan tidak kuasa nguyel-nguyel tubuh gemil dan pipi cuby cucu pertamanya itu.


     "Neneee, sakittt, pipi Caka yang cuby jadi merah," protesnya diiringi mengusap-usap pipinya yang tadi dicubit Bu Hilsa.


     "Oh yolo yolo, nene minta maaf sayang. Habis, Caka bikin nene pingin cubit terus. Caka ganteng mirip Papa Naga," ujarnya sembari mengecup kuat-kuat pipi Syaka sekali lagi. Meskipun Caka meringis dan meronta-ronta, akan tetapi Bu Hilsa tidak peduli.


     "Mamaaaa, Cakanya kesakitannn. Mama ini sayang atau apa, sih, sama Caka?" Tiba-tiba Hilda menghampiri dan langsung meraih Caka dari pelukan Mama Hilsa. Mereka berdua bagai kucing dan tikus jika baby Caka sudah datang ke rumah. Caka jadi rebutan dan aksi gemas Bu Hilsa tidak pernah terhindarkan.


Sementara itu Zila dan Naga santai saja melihat Syaka diperebutkan oleh kedua perempuan dua generasi di rumah ini.


"Pa, apa kabar? Lama kami tidak kesini." Naga menyalami Papa Hasri takzim seraya merangkulnya penuh suka cita. Mereka kini jarang bertemu karena Naga sibuk dan lebih banyak di rumah menghabiskan waktu bersama Syaka dan Zila.



"Kabar Papa baik." Pelukan mereka terurai lalu mereka kembali terlibat obrolan seputar perusahaan.



"Ada perusahaan baru yang namanya mulai ternama sejak dua tahun yang lalu, dan nama perusahaannya seperti familiar di telinga Naga. Apakah Papa juga merasakan hal yang sama?" tanya Naga membuka obrolan.



"Papa juga punya firasat bahwa perusahaan itu merupakan perusahaan Na ...."



"Papa, lihatlah hasil karya Mama, Mama menyakiti Caka dengan mencubit-cubit pipinya yang cuby." Hilda mendatangi Papa Hasri yang tengah ngobrol dengan Naga. Pak Hasri bukan kesal, dia justru senang melihat Hilda berubah seketika jika Syaka datang ke rumah.



"Sini, biar Papa pangku saja Cakanya. Papa juga sudah lama tidak memangkunya." Pak Hasri siap merebut Syaka dari Hilda. Namun Hilda tidak membiarkan Syaka direbut Papanya.



Pak Hasri sejujurnya sangat bahagia ketika kedatangan Naga yang membuat keadaan di rumah ini berubah hangat. Hilda yang dingin, ketika melihat Syaka, seketika bisa merubah suasana rumah kedua orang tuanya jadi seru.



"Sayang, ajaklah Caka ke dalam, biarkan dia bermain di tempat yang lebih luas," titah Pak Hasri. Hilda tidak segera mengikuti perintah Papanya, dia masih senang bermain di sana. Lalu Hilda kembali menuju Mamanya yang sejak tadi merajuk sebab Caka yang direbut oleh Hilda.


__ADS_1


"Pa, tadi saat Naga baru tiba di depan pintu gerbang, Naga berpapasan dengan sebuah mobil berwarna merah metalic, lalu kata Pak Wawan orang itu mengaku sebagai calon suami dari Hilda," ungkap Naga mengatakan apa yang dikatakan Pak Wawan tadi.



Hilda yang kini sedang bersama dengan Mama Hilsa, seketika tersentak dengan jantung yang bergerak cepat. Dia yakin orang yang mengatakan kalimat itu tidak lain tidak bukan adalah Nagi yang sengaja dia usir dahulu supaya dia datang saat yang tepat.



"Pasti yang tadi di depan itu adalah Kak Nagi, untung saja mereka tidak bertemu dulu," ujar Hilda lega.


***


Sementara di sebuah apartemen, Nagi yang kini sudah berada di dalam unitnya sedikit kecewa, sebab dia harus bersabar dahulu untuk menahan rindu pada Naga.



"Bang Naga, padahal aku tadi sudah sangat dekat dengannya dan ingin menghampirinya," gerutu Nagi menyesalkan. Nagi mendesah lelah atas kekecewaannya hari ini yang masih harus sabar untuk tidak menemuinya.



Nagi bangkit, lalu dia menuju tasnya meraih kotak perhiasan. Sejenak Nagi menimbang-nimbang kotak perhiasan itu lalu berdiri menuju kamarnya dan menyimpan kotak perhiasan itu di dalam lemarinya.



"Aku harus temui Papa dan Mama Hilsa nanti malam. Dan aku akan memulai rencana itu lagi nanti malam. Aku tidak bisa menunda lama-lama perasaan rinduku pada mereka, terlepas diterima atau ditolaknya.




Kini Nagi sudah berada di dalam mobilnya. Menyalakan mesin mobil yan suara derunya sangat lembut. Tidak berapa lama mobil Nagi menjauh dari halaman parkir apartemen itu dengan hati yang dilanda berbagai dugaan.



Malam hari kota Bandung yang dilewatinya begitu ramai, itu tidak asing lagi bagi Nagi. Sejenak Nagi mengenang kembali masa kecil bersama Naga dan Hilda yang sangat indah. Mereka selalu diperlakukan sama oleh Papa dan Mama Hilsa meskipun dia hanya anak angkat.



Nagi tersentak ketika mobilnya hampir saja menabrak seseorang, orang itu sepertinya mau nyebrang. Namun Nagi yang tidak fokus tiba-tiba dikejutkan dengan jeritan seseorang yang kaget.



"Awwwww." Orang itu menjerit dan bangkit lalu mendongak menatap ke arah Nagi kesal.


__ADS_1


"Kalau menjalankan mobil itu jangan sambil melamun dong, Mas. Gimana kalau tadi saya benar-benar tertabrak, maka saya batal nikah deh gara-gara ditabrak Anda," ujarnya seraya beranjak dengan kesal. Nagi sejenak meraba dadanya karena saking terkejutnya, meminta maaf saja lupa.



"Ya ampun, aku hampir saja membunuh seseorang. Nasib baik masih diberi keselamatan," ucapnya bersyukur.



Atas kejadian tadi yang sempat menegangkan, Nagi kini sangat hati-hati menjalankan mobil menuju rumah Papa dan Mama Hilsa.



Akhirnya satu jam kemudian, mobil Nagi tiba di depan gerbang rumah Papa dan Mama Hilsa. Nagi membunyikan klakson memanggil Satpam. Tidak berapa lama Satpam datang dan menghampiri mobil Nagi. Ternyata Satpamnya bukan Pak Wawan melainkan Satpam baru ang bertugas di shift malam. Tertera nama Satpam itu Pak Devan, sejenak Nagi tersenyum dengan nama Satpam yang satu itu, namanya unik dan menurutnya familiar di dunia halu.



Satpam itu mendekat seraya membungkuk melihat ke arah Nagi. "Pak, saya mau masuk. Buka gerbangnya, ya!" titah Nagi tidak segan. Namun Pak Devan pria yang lumayan manis berusia sekitar 40 tahun itu enggan membuka gerbang, sepertinya dia ragu dengan tamu keluarga majikannya ini.



"Apakah Mas sudah ada janji dengan salah stu penghuni?" tanya Pak Devan penasaran. Nagi sempat kesal, tapi dia harus sabar sebab dia harus bisa masuk ke dalam rumah itu.



"Saya calon suami anak perempuannya, yaitu Nona Hilda. Bagaimana, apakah Pak Devan masih belum yakin?" ujar Nagi meyakinkan. Mendengar alasan yang meyakinkan, Pak Devan akhirnya membukakan pintu gerbang lebar-lebar.



Akhirnya mobil Nagi bisa masuk dengan leluasa, kemudian dia parkirkan di samping mobil Naga yang ternyata masih di rumah Papa dan Mama Hilsa.



Nagi masuk dengan leluasa menuju pintu depan kemudian dengan perlahan dia menekan bel di atas pintu. Saat pintu terbuka, Bi Rani yang membuka pintu heran dengan tamu yang tidak dikenalnya, sebab tamu majikannya menggunakan hoodie dan kaca mata hitam.



"Assalamualaikum," salamnya yang seperti Bi Rani kenal. Bi Rani sepertinya mengenali suara itu, tapi ragu.



"Waalaikumsalam," jawab Bi Rani.



"Siapa, Bi?" tanya Pak Hasri seraya melihat ke arah orang yang bertamu ke rumahnya.

__ADS_1


Maaf guys, bab ini ketinggalan beberapa paragraf. Ini baru Author post ulang ya.


__ADS_2