Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 131 Musim 2 Rasa Terima Kasih


__ADS_3

     Diara sedikit takut, tapi dia berusaha tenang, firasatnya Hilda tidak akan melakukan sebuah kekerasan padanya hanya karena Diara merupakan teman satu kantor dengan Nagi. Kenapa Nagi? Diara rupanya sudah bisa menebak dan mengaitkan sikap Hilda seperti ini ada kaitannya dengan Nagi.


     Diara mulai mengingat gadis yang berada di hadapannya merupakan gadis yang bersama Nagi di Gunung Tangkuban Perahu kala itu. Dengan jelas Diara sempat mendengar ucapan Hilda ke Nagi yang bisa disimpulkan bahwa mereka merupakan sepasang kekasih yang saling mencintai, bahkan saat itu Diara sedikit terselip cemburu dan rasa sesal karena telah menolak Nagi. Dan secara kebetulannya lagi ternyata Hilda merupakan anak perempuan dari Bos Besar Hasri Group.


     Tapi, kini perasaan itu sudah tiada, sebab sejak bertemu dengan Hasya di rumah kobar waktu itu, Diara langsung jatuh hati pada Hasya dipandangan pertama.


     "Gue mau ngomong sama elu, pliss dengar gue dan jawab apa yang elu tahu dan yang elu rasakan saja, jujur dan tidak berbelit-belit," tekan Hilda dengan judes.


     Diara nampak menghela nafasnya sejenak, dia berusaha kuat dan tidak berpikir negatif tentang Hilda yang kini seolah menahannya di toilet.


     "Apa yang mau Nona katakan terhadap saya?"


     Sejenak Hilda mengerutkan keningnya dengan sebutan Nona yang disematkan oleh Diara. Namun Hilda tidak ingin banyak basa-basi, yang dia ingin tahu dari Diara adalah tentang hubungan Diara dengan Nagi.


     "Ada hubungan apa kamu sebelum ini dengan Kak Nagi, apakah kalian berpacaran?"


     Dengan cepat Diara menggeleng.


     "Apakah elu tidak sedang berbohong?" selidik Hilda lagi.

__ADS_1


     "Tidak, Non. Dengar sedikit penjelasan saya yang sebenar-benarnya tentang hubungan kami." Diara meminta untuk sedikit menjelaskan hubungan antara dirinya dan Nagi saat itu dan sekarang.


     "Katakan yang sejujurnya dan jangan ada yang elu tutupi," tekan Zila memperlihatkan kegarangannya.


     "Hubungan saya dengan Pak Nagi adalah sebatas anak buah dan atasan. Antara saya dan Pak Nagi tidak pernah terjalin hubungan pacaran , meskipun Pak Nagi pernah menyatakan suka dan mengajak serius terhadap saya," terang Diara berharap Hilda paham. Hilda diam sejenak setelah mendengar penjelasan Diara barusan.


     Penjelasan Diara barusan jika dikaitkan dengan jawaban Nagi saat itu memang ada hubungannya, yaitu saat Nagi di tanya tentang perempuan yang dia sukai yang seperti apa? Nagi menjawabnya dengan jelas dan lugas, yakni perempuan yang sederhana, lembut, pekerja keras dan tidak manja. Sementara Hilda, keras dan sedikit bar-bar, mana mungkin Nagi suka dengannya. Apakah dia mampu berubah seperti tipe perempuan yang diinginkan Nagi kala itu? Akan tetapi Hilda tidak bisa berubah jadi orang lain.


    "Apakah elu tahu kemana Kak Nagi pergi?"


     "Saya tidak tahu, Non. Yang jelas saat itu di kantor sedikit ada bocoran bahwa Pak Nagi dioper alih tugas ke daerah Sulawesi. Tapi sekarang Pak Nagi justru tidak ada lagi kabar di mana-mananya." jelas Diara sembari menunduk.


     "Kesannya jelas baik, Non. Pak Nagi juga orangnya perhatian dan disiplin. Dan dia tipe laki-laki setia dan penuh komitmen."


     "Komitmen, maksudnya komitmen seperti apa?" Hilda tidak paham Nagi komitmen dalam hal apa.


     "Pak Nagi komitmen dalam hal apa saja, Non. Contohnya kalau dia sudah mengatakan itu, ya, harus itu. Lalu jika dia sudah pernah tersakiti, maka Pak Nagi orangnya konsisten tidak mau lagi berurusan atau dan berhubungan dengan orang itu lagi terlebih jika orang itu merugikannya," terang Diara serius.


     "Ok, keluarlah dan selamat bergabung kembali dengan jamuan makan syukuran empat bulan kehamilan Kakak iparku," usir Hilda halus. Kini Hilda tertegun di depan cermin mengingat kembali apa yang barusan dikatakan Diara tentang Nagi.

__ADS_1


     "Kak Nagi apakah Kakak tidak merasakan betapa aku mencintaimu Kak? Kenapa Kakak tidak mau bicara padaku dan menghubungiku langsung? Datanglah Kak, aku rindu ingin memeluk Kak Nagi," harap Hilda sedih. Hilda seperti gadis yang terpuruk saat ini, dia benar-benar seperti kehilangan pegangan hidup.


     "Baiklah Kak, supaya Kak Nagi nanti bisa mencintaiku, maka aku akan merubah diriku menjadi apa yang Kak Nagi mau. Tapi, itu berat sebenarnya bagiku, aku ini sering meledak-ledak jadi tidak mungkin Kak Nagi mencintaiku," bisiknya dalam hati putus asa.


     Hilda keluar kamar mandi dengan wajah sudah kembali normal. Dia sudah menutup mata sembabnya dengan sebuah alat make up yang bisa menutupi kekurangan wajah.


     "Waktu empat tahun begitu lama, apakah Kak Nagi sanggup setia?" Hilda berbicara lagi di dalam hati. Hilda keluar toilet lalu melanjutkan keluar rumah, dia tidak menghadiri lagi acara di rumahnya karena hatinya sedan benar-benar sedih karena moodnya rusak gara-gara tidak ada kabar dari Nagi. Hilda keluar menyelinap melalui pintu samping dan pergi dari rumah itu untuk menenangkan diri.


    Sementara itu masih di acara syukuran empat bulan Zila. Para tamu sudah dipersilahkan untuk mencicipi makanan yang tersedia sepuasnya. Semua tamu benar-benar pulang kenyang dan bahagia.


     Hari mulai siang, para tamu mulai surut satu persatu. Mereka kembali ke rumahnya masing-masing. Hanya saudara dekat dan inti saja yang masih tersisa di rumah itu. Acara di rumah Bu Hilsa pun akhirnya ditutup dengan doa dari seorang Ustadz.


     "Kami pulang juga, ya. Insya Allah kami nanti sengaja menengok ke Bandung," ujar Kobar berpamitan dengan semua, sementara Diara sengaja ditahan oleh Hasya, Hasya bermaksud mengantar Diara ke rumah dan sudah mendapat ijin dari Kobar dan Tante Zuli.


     Suasana di rumah Papa dam Mamanya Naga kembali lengang setelah para tamu undangan pulang ke rumahnya masing-masing. Bu Hilsa dan Pak Hasri menggiring anak dan menantunya ke ruang keluarga. Di sana mereka bercengkrama dan masih membicarakan acara yang baru saja mereka lewati.


     "Ma, Pa, Naga ucapkan terimakasih atas surprise ini. Naga dan Zila sungguh sangat bahagia kalian sangat peduli dan sayang sama kami bertiga," ucap Naga mengawali dengan sebuah sebuah ucapan terima kasih. Pak Hasri dan Bu Hilsa tersenyum bahagia mendengar ucapan terimakasih dari Naga barusan. Mereka merasa Naga terlalu berlebihan menanggapi surprise ini.


     "Kami hanya memberikan kejutan kecil buat cucu jagoan kami yang pertama. Kami juga sekaligus ingin berterimakasih pada klian berdua sebab kalian sudah memberikan kami cucu meskipun cucunya masin tertahan lima bulan di perut Ibunya," ucap Pak Hasri berterima kasih yang disambut dengan tawa oleh semua yang berada di sana.

__ADS_1


     "Papa dan Mama sudah memberikan kami kebahagiaan dan suka cita pada kami khususnya, dan pada tamu semua umumnya. Selain kita senang, mereka pun senang. Sekali lagi terima kasih Pa, Ma, atas kejutan istimewa ini," ujar Naga terharu.


__ADS_2