
"Bos, seminggu yang lalu kata penjaga tanah yang baru Bos beli, ada seorang lelaki paruh baya menanyakan pemilik tanah baru. Dan dia bilang, sesungguhnya yang memiliki tanah itu adalah bukan Pak Haidar. Pemilik aslinya sudah almarhum dan bernama Haga Barata. Saya jadi ingat akan Bapaknya Non Zila, bukankah namanya sama persis dengan Bapaknya Non Zila?" Hasya datang memberikan informasi yang tentunya mencengangkan. Sebetulnya Naga tidak terlalu kaget. Justru laporan Hasya perlahan mengurai benang kusut yang selama ini ingin dia uraikan, yakni siapakah pemilik asli tanah tersebut yang sudah beralih kepemilikan kepadanya?
"Sya, bukankah aku memerintahkan padamu untuk mempelajari sertifikat ayahnya Zila yang aku berikan waktu itu? Lantas apa penemuanmu?" Naga balik bertanya pada Hasya tentang tugas yang diberikan pada Hasya terkait sertifikat milik almarhum ayahnya Zila.
"Itu dia Bos, saya sebetulnya sudah menyelidiki maupun mempelajari sertifikat itu. Namun pihak Pak Haidar maupun Pak Hardi sebagai Kepala Desa, kukuh mengatakan bahwa tanah itu kepemilikan Pak Haidar. Tadinya sebelum saya meminta penjelasan dan keyakinan pada pihak desa, saya sudah yakin bahwa tanah itu milik Pak Haga Barata, Bapaknya Non Zila. Tapi, berhubung pihak desa memberikan keterangan seperti itu, saya menjadi ragu dan bingung sebenarnya tanah itu milik siapa?" Hasya memberikan keterangan lagi yang membuat Naga sedikit pening kepala.
"Sepertinya ini ada yang janggal Sya, aku menjadi tidak yakin bahwa tanah itu sebetulnya milik Pak Haidar. Bisa jadi Pak Haidar dan Kepala Desa yang sekarang, terkait mafia tanah. Dan sepertinya kasus ini banyak pihak yang terlibat yang sengaja keberpihakkannya ditujukan pada Pak Haidar. Pak Haidar merupakan orang yang lumayan terpandang di kampung ini, bisa jadi dengan uang dia memberi sogokan pada orang-orang berpengaruh supaya tutup mulut dan berpihak padanya," duga Naga seakan menemukan titik terang.
"Betul, Bos. Terlebih setelah kita mengetahui bahwa Pak Haidar yang dimaksud di sini ternyata Pak Haidar Omnya Non Zila. Sepertinya hubungan persaudaraan antara almarhum Pak Haga dan Pak Haidar saat itu tidak baik sehingga terjadi perebutan kepemilikan tanah. Lantas apa yang akan kita lakukan sekarang Bos? Saya kasihan sama Non Zila yang tidak mendapatkan keadilan. Dan kita harus menegakkan ketidakadilan ini. Siapa yang salah dan siapa yang benar harus terungakap," ujar Hasya bertekad.
Naga melihat keseriusan Asisten sekaligus tangan kanannya ini, dia begitu bersemangat dalam kasus siapa sebenarnya kepemilikan tanah yang sudah dibelinya ini. Sehingga Naga tidak ragu lagi mempercayakan Hasya sebagai tangan kanan, karena ia sosok yang jujur dan *fighter*.
"Kamu betul Sya, kita harus ungkap sebenarnya tanah itu milik siapa? Kita harus hadirkan Paman Kobar, dari Paman Kobar kita akan cari tahu pada siapa Pak Haga mengurus sertifikat tanah, dan siapa BPN yang dimintai bantuannya. Dan tentunya kepala desa yang saat itu menjabat, kita akan cari tahu," ujar Naga akhirnya memberi keputusan untuk menyelidiki kepemilikan tanah itu mulai dari Kobar, setelah itu siapa saja yang terkait pembuatan tanah kala itu akan Naga cari sampai terbuka jelas siapa sebenarnya pemilik tanah tersebut.
"Kalau tanah itu sebetulnya milik Pak Haga, itu artinya aku telah membeli tanah istriku sendiri. Dan itu juga artinya, Pak Haidar sudah menipuku dan menipu banyak orang. Kita harus jebloskan dia jika dia benar bersalah memalsukan semua data sehingga kepemilikan sertifikat itu bisa diklaim miliknya. Dan tentunya pihak terkait yang ikut terlibat kasus ini, aku pastikan mendekam dalam penjara karena telah membuat hak seseorang menjadi hilang begitu saja karena pencurian kepemilikan tanah itu," lanjut Naga penuh ambisi. Dia bertekad akan membongkar siapa saja yang terlibat dalam mafia tanah ini sampai ke akar-akarnya.
"Betul, Bos." Hasya menyetujui keputusan Naga yang akan mengungkap dalang di balik pencurian kepemilikan tanah dan siapa saja pihak terkait yang terlibat.
***
Seminggu berlalu, Zila sepertinya bahagia tinggal di kampung halamannya ini. Sudah seminggu Naga belum mengajaknya ke Bandung. Zila sengaja tidak mengingatkan Naga untuk kembali ke kota. Lagipula dengan adanya dia di kampung ini, Zila jadi sering mengunjungi Kobar. Keadaan Kobar juga sekarang semakin membaik. Tangannya sudah normal kembali. Dibalik kesembuhan Kobar, ada tangan terampil dan cantik yang mengulurkan tangannya membantu Kobar dengan tulus. Yaitu Tante Zuli, janda muda yang masih cantik diusia yang mendekati 40 tahun.
Zuli memang tulus selalu membantu Kobar dan Zila, selain memang ada hati pada Pamannya itu. Namun Zuli memang tidak pernah mengungkapkan perasaannya langsung pada Kobar, terlebih Kobar pun tidak pernah memperlihatkan rasa suka padanya. Tapi kali ini Zila harus berusaha mendekatkan kedekatan Pamannya dengan Zuli. Zila menduga Pamannya juga ada hati pada si janda cantik itu. Namun Kobar tidak percaya diri dengan pekerjaan yang digelutinya. Kobar hanya penjual minuman di kafe, yang sudah mendapat stigma buruk dari masyarakat. Padahal kafe Kobar jauh dari perihal negatif.
__ADS_1
"Tante, apa yang Tante masak? Aku pengen makan. Rasanya aku ingin makan yang segar-segar," pinta Zila pada Zuli.
"Tante masak yang super lezat, Zi. Lihatlah, seblak sayuran buatan Tante. Isinya brokoli, tahu, udang, ayam, telur didadar, rasanya campur-campur dan tentunya segar," ujar Zuli sembari menyodorkan seporsi seblak sayuran yang diceritakan Zuli tadi. Wangi bumbunya dan cabenya sampai menyengat hidung Zila, apalagi kencur dan bawang putihnya bikin Zila selera makan.
"Ayo, makanlah, Zi. Pamanmu biarkan saja nanti sepulang dari kafe," suruh Zuli menyodorkan seblak ke hadapan Zila. Zila langsung meraihnya dan menyantap seblak buatan Zuli yang baginya nikmat tiada tara. Dulu sebelum seblak buming, Zila memang penikmat bakso. Namun lama kelamaan Zila kadang enek setelah makan bakso. Mungkin rasa enek didapat dari baksonya. Jadi sampai sekarang Zila sudah tidak favorit lagi makan bakso, kecuali kalau sedang ingin.
"Suamimu sedang sibuk, Zi?" Obrolan mengalir disela-sela makan sore antara Zila dan Zuli.
"Iya, Tan. Kak Naga sedang memantau pembangunan di tanah yang baru dibelinya itu."
"Wahhhh, suamimu benar-benar orang kaya, ya. Dan sebentar lagi akan bertetangga dengan kita yang sudah lama tinggal di sini. Ya, ampun, Zi. Tidak sangka, rupanya Allah mengangkat derajatmu. Setelah berpuluh tahun nasibmu disia-siakan Om kandungmu dan mencuri tanah kedua orang tuamu, tapi kini hidupmu benar-benar terangkat oleh orang kota yang menikahimu. Allah memang tidak tidur, Zi. Seandainya anak Tante juga di Jakarta memiliki jodoh orang kaya, alangkah senangnya Tante," ujar Zuli diimbuhi matanya yang tiba-tiba menerawang jauh ke kota Jakarta di mana tempat anaknya merantau.
"Sudah, Zi. Satu tahun yang lalu. Setelah lulus D3, Yara magang di sebuah perusahaan ternama. Dan Alhamdulillah sekarang sudah diangkat karyawan di perusahaan itu. Katanya sih jadi Sekretaris kerjanya," ungkap Zuli terselip senyum bangga menceritakan anak gadis semata wayangnya.
"Wahhh, enak dong, Tan. Sekretaris gede lho gajinya," respon Zila ikut senang.
"Tante sudah kangen berat sama Yara, ingin bertemu. Kalau saja Yara punya jodoh orang kaya seperti Neng Zila, alangkah senangnya tante dan tenang jika pun harus meninggalkan dia."
"Apaan sih Tante, kok ngomongnya begitu, meninggalkan dia gimana, mati maksudnya? Jangan berandai-andai dulu dong, Tan. Memangnya Tante Zuli tidak ingin melihat Yara hidup sukses dan bahagia dengan pasangannya kemudian punya anak dan Tante punya cucu?" sergah Zila tidak setuju dengan omongan Zuli yang seperti putus asa.
__ADS_1
"Tante ngomong pahitnya dulu, Zi. Jikalau tante sudah tidak ada dan Yara sudah punya pasangan yang mapan dan kaya, tante Insya Allah tenang jika Allah mengambil nyawa sekarang juga. Tante pengen dia bahagia setelah disia-siakan Bapaknya yang pergi entah kemana. Tante tidak ingin Yara kecewa seperti tante, tante pengen Yara bahagia," ungkapnya sedih sembari berkaca-kaca. Zila dengan sigap merangkul Zuli yang tanpa diduga menceritakan masa lalunya pada Zila.
"Iya, tapi Tante jangan bicara seperti itu. Tante bicara seolah akan meninggalkan aku dan kita semua dengan cepat. Aku tahu taqdir mati manusia tidak ada yang tahu. Tapi, janganlah kita berandai-andai dulu kalau kita masih punya cita-cita. Memangnya Tante Zuli ingin meninggalkan aku dan Yara secepat itu, gitu?" Zila ikut meneteskan air mata membayangkan jika ditinggalkan Zuli, tetangga yang sangat baik dan perhatian padanya dan Kobar.
"Ihhh, nggak dong, Zi. Tante hanya sedang kangen dan sedih jika memikirkan nasibnya yang kurang kasih sayang seorang Ayah," Zuli meralat ucapannya tadi yang sempat diprotes Zila.
"Iya, makanya bicaranya yang indah-indah dong, Tan. Doakan saja Yara di Jakarta sehat dan mendapatkan jodoh yang kaya. Selain kaya kan harus baik juga."
"Baiklah, tante sekarang tidak akan berandai-andai tentang pahitnya kehidupan. Tapi, Zi, jika tante menyukai seseorang untuk dijadikan menantu apakah tidak salah?" tanya Zuli bertanya seraya wajahnya kembali ke settingan awal yaitu ceria.
"Memangnya siapa yang Tante sukai untuk dijadikan menantu?" Zila penasaran sekaligus kepo.
Zuli mendekat ke arah telinga Zila lalu membisikkan sesuatu yang membuat Zila ternganga sekaligus mengaminkan.
"Benarkah, Tante? Jadi, sejak kapan Tante Zuli menyukai Kak Hasya?"
"Hussss, bukan tante yang menyukai Mas Hasya, tapi tante menyukai Mas Hasya untuk dijadikan menantu. Tante membayangkan apabila Diara jadian dan berjodoh dengan Mas Hasya, tante bahagia," ralat Zuli sambil tersenyum bahagia.
"Ohhh, jadi selama ini Tante Zuli menyukai Kak Hasya untuk dijadikan menanatu? Wahhh, itu sih keren, Tan. Kak Hasya setahu aku orangnya baik, bertanggungjawab, loyal dan tidak nakal. Terus pertanyaan aku tadi belum dijawab lho. Sejak kapan Tante menyukai Kak Hasya untuk dijadikan menantu?" tanya Zila penasaran.
"Tante menyukainya sejak Mas Hasya datang menghampiri tante di warung. Saat itu Mas Hasya beserta kedua temannya yang ternyata salah satunya adalah Mas Naga, menanyakan alamat kamu, Zi," terang Zuli diiringi senyum di wajahnya yang sumringah.
__ADS_1