
Selesai memeriksakan diri, sepasang suami istri itu pun keluar dari ruang pemeriksaan. Ningsih sudah menunggu dengan gelisah, wanita paruh baya itu langsung berdiri dan menghampiri kedua manusia beda gender itu.
Rangga memberikan kode dengan menempelkan jari telunjuknya di depan bibir kepada sang mama, agar tidak bertanya dulu sampai mereka masuk ke dalam mobil. Tetapi sepertinya Ningsih salah paham dengan kode yang Rangga berikan, sementara Ngarsinah masih dengan wajah yang dilanda kebingungan dan kebahagiaan.
‘Ya Allah berikanlah kesabaran dan ketabahan serta kekuatan hati untuk menantuku, dia anak yang baik ya Allah. Berikan kebahagiaan untuk dirinya ya Allah,’ gumam Ningsih dalam hati, ada rasa sedih yang melanda hati wanita paruh baya itu. Tidak bisa di bayangkan olehnya betapa kecewanya Ngarsinah mendapati kenyataan bahwa dirinya tidak hamil.
Sesampainya mereka di dalam mobil, Ningsih duduk dengan gelisah di bangku penumpang sebelah belakang. Ngarsinah masih terdiam dan bingung dengan kenyataan ada tiga orang bayi dalam perutnya. Bahagia dan rasa masih belum percaya membuat dirinya tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“Nak Arsi, yang sabar ya sayang ….” Ucap Ningsih dengan wajah sendu. Ngarsinah yang merasa pundaknya disentuh menoleh kebelakang, matanya berkaca-kaca dan bibirnya bergetar. Sontak membuat Rangga menjadi panik dan Ningsih pun dibuatnya jadi serba salah. Apakah dia sudah salah bicara, wanita itu menyesal karena sudah membuat menantunya semakin tenggelam dalam kesedihan.
“Sayang, jangan nangis dong. Sudah cup-cup ….” ucap Rangga yang berusah membujuk dengan sebelah tangannya menggenggam tangan sang istri. Ningsih pun di landa rasa bersalah dan akhirnya hanya bisa diam mendengarkan suara isakan tangis sang menantu di bangku depan.
Mobil Rangga akhirnya sampai juga di rumah, dengan cepat dia membukakan pintu untuk bu dan istrinya lalu menggandeng tangan sang istri untuk masuk. Tangisan Ngarisnah sudah mulai reda, wanita itu sendiri bingung kenapa dia menjadi cengeng dan dirinya sedikit menyesal kenapa harus menangis saat sang mertua bicara dengannya.
Sekarang mereka berkumpul di ruang keluarga. Rangga mengampilan air putih yang di bawakan oleh bibik untuk Arsi. Ningsih masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana dengan kondisi sang menantu, kenapa dia harus menangis sepanjang jalan.
“Sayang, sudah enakan sekarang?” Tanya Rangga dengan hati-hati, dia khawatir sang istri akan berubah moodnya. Ningsih bertanya kepada Rangga dengan bahasa tatapan mata, namun Rangga menjawabnya hanya dengan senyum yang di mata seorang Ningsih senyum getir penuh duka lara.
“Udah mas, Alhamdulillah enakan. Mama, Arsi minta maaf karena sudah membuat mama bingung ….” ucap Ngarsinah dengan cara yang sangat pelan dan lambat.
“Ssstt … Jangan paksain untuk cerita nak, mama paham kok dengan keadaan kamu.” Sambar Ningsih dengan senyum menguatkan, dan jelas salah paham ini semakin dalam.
“Mama, kayaknya mama udah salah paham deh,” ucap Ngarsinah dengan tatapan yang bingung dengan ucapan sang mama mertua.
__ADS_1
“Mama nggak salah paham nak, mama sangat mengerti kamu ….” Kembali Ningsih menguatkan keyakinannya kepada Arsi.
“Mama, alhamdulillah Arsi hamil dan … dan ini kembar tiga ma,” ucap Arsi memutuskan kesalahpahaman sang mama mertua.
“A-apa? beneran Ga? Arsi kamu beneran hamil?” Tanya Ningsih bertubi-tubi. Wanita itu seakan tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Wanita paruh baya itu langsung bertakbir dan melakukan sujud syukur yang membuat Ngarsinah terharu.
“Iya ma, cucu mama ada tiga orang disini,” Jawab Ngarsinah mengusap perutnya yang terlihat sudah mulai berisi. Karena Ngarsinah kembar tiga, jadi perutnya lebih cepat terlihat membuncit dari usia kandungannya.
“Maasya Allah, ini kabar yang luar biasa, Ga kamu cepat hubungi papa. Kita harus bikin syukuran Ga, mama pengen berita baik ini banyak mendapatkan doa dari banyak orang.
“Ma, menurut arsi jangan bikin syukuran sekarang deh, nanti aja kalo dah bulan ketujuh gitu, kita harus berhemat ma. Sekarang mama syukuran, trus ntar tujuh bulan syukuran lagi dan pas lahiran syukuran lagi. Mama, mas Rangga kita harus berhemat. Ini keputusannya,” ucap Ngarisnah dengan tegas, entah sejak kapan wanita ini menjadi sangat perhitungan.
Rangga dan Ningsih saling menatap satu sama lain, mereka berdua saling mengangguk seakan paham dengan situasi yang dihadapi. Ngarsinah tidak pernah membahas atau mempermasalahkan tentang pengeluaran, tapi sekarang wanita itu akan sangat marah ketika melihat pengeluaran yang berlebihan. Sepertinya Arsi ngidam duit, itulah yang ada dalam pikiran Rangga.
Setelah Ngarsinah terlelap, Rangga turun untuk menemui sang mama, Pria itu ingin berbincang untuk menghadapi masa kehamilan Ngarisnah yang pastinya akan membutuhkan perhatian khusus.
*****
Di tempat Fatim, tampak David yang sedang bermain dengan Jay, bocah kecil itu nampah bahagia bisa bermain dan David juga selalu sabar mengajarkan bocah kecil itu membaca dan menulis. Fatim yang masih sibuk di warung membiarkan saja mereka berdua bermain di rumah yang berada di belakang warung soto miliknya.
“Om, Jay capek. Gimana kalo sekarang kita membaca aja?” tanya Jay dengan mengajukan ide nya. David dengan senang hati mengikuti keinginan jay. Bocah itu tidak menyiakan waktu lagi, sebelum David pulang maka dia akan meminta David mengajarkannya membaca.
“Ok bos kecil, sekarang ambil mukumu dan kita akan membaca. Buku apa yang ingin kau baca hari ini Jay?” Tanya David dengan riang. Pria itu merasakan kehangatan ketika berada di dekat bocah kecil yang polos namun cerdas itu. Keluarga seperti inilah yang dia inginkan, walau kehidupan Fatim dan Jay sederhana, namun kebahagiaan yang tercipta sungguh tidak ternilai dengan sebanyak apapun harta yang dimiliki.
__ADS_1
“Jay mau baca tentang Cinderella, om mau dengerin kan? belum mau pulang kan?” Tanya Jay bertubi-tubi. Sebuah kebiasaan ketika jay membaca maka bocah kecil itu akan mengantuk dan ketiduran ketika dia sedang membaca.
“Iya dong, om akan mendengarkan sampai kamu selesai baca, ayo sekarang baca boy,” jawab David dengan senyum terkembang dan hal itu menjadikannya lebih tampan berkali-kali lipat.
jay mulai membacakan kisah klasik itu, dan David dengan setia mendengarkan dengan menyandarkan tubuh kecil bocah itu bersandar pada tubuhnya.
“Om … kenapa om tidak memiliki anak? tanya Jay spontan, bocah kecil itu menatap kedua netra milik pria berdarah Belanda itu. David yang tidak siap dengan pertanyaan Jay sedikit gelagapan dan hati-hati saat menjawab.
“Tuhan sudah memberikannya, siapa bilang om belum memiliki anak, apakah Jay mau tau siapa anak om?” Tanya David yang tidak merasa tersinggung sama sekali. Jay tampak berfikir, di kepala kecilnya, bocah itu berpikir kenapa dia tidak pernah bertemu dengan anak dari pria yang menyayanginya saat ini.
“Mau-mau, dimana anaknya om?” tanya Jay antusias. Bocah itu tersenyum cerah dan dengan cepat menutup buku yang sudah dibaca beberapa halaman.
“Namanya Jay, ini anak om yang Tuhan berikan sebagai hadiah terindah.” Jawab David membuat Jay terdiam dan terpaku, bocah itu merasakan hatinya seperti di banyak bunga yang bermekaran.
“Papa …”
❤️❤️❤️
Waaahhh Jay emang keren ya, gercep juga nih bocah hehehe...
Yuuukk jempolnya yang buaanyak ya gaes, komen, vote dan hadiahnya ya pemirsaaahh. Tengkyuuuhh pemirsaku
❤️❤️❤️🥰🥰🤩🌹🌹🌹
__ADS_1