
Sesampainya di rumah sakit, Bram langsung meminta paramedis untuk menangani Rangga. Bram dan Ngarsinah menunggu di depan ruang pemeriksaan dengan gelisah. Bram berusaha menghubungi Pras untuk membantu Yuni di rumah Ngarsinah, di rumah itu tidak ada yang bisa membawa mobil, jika ada apa-apa harus ada yang bisa membantu mereka.
Bram juga mencoba menghubungi pak Boby tapi sepertinya papa sahabatnya itu masih sibuk dengan pekerjaan di kota B. Bram tidak mengatakan apa yang terjadi, agar Boby tidak panik dan akan berakibat fatal dengan kesehatannya.
Ngarsinah juga menghubungi Yuni, untuk meminta gadis itu mengatakan ke Ningsih agar tidak menghubungi suaminya, dengan alasan yang sama dengan Bram tadi.
Setelah selesai dengan sambungan telepon ke beberapa orang Bram dan Ngarsinah kembali hening. Mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing.
“Arsi, tadi waktu di mobil kamu nanya tentang sihir?” tanya Bram memecah kesunyian diantara mereka. Ngarsinah mengangguk pelan, dahinya berkerut nampak sedang memikirkan sesuatu.
“Iya mas, ini memang tidak bisa dilihat dengan mata, tapi hal ini ada. Bahkan sekarang makin marak, orang-orang yang memiliki kemampuan itu dengan bebas mempromosikan diri di berbagai media. Sepertinya banyak juga orang yang menempuh jalan pintas menggunakan jalur ini, Apakah mas Bram tidak melihat hal tersebut?” ujar Ngarsinah dengan memberikan sedikit ulasan perkembangan perihal sihir di zaman sekarang.
Bram menatap mata Ngarsinah tajam, Pria itu kembali mengarahkan pandangannya ke depan, dia sadar tidak boleh memandang wanita yang bukan muhrimnya terlalu lama, maka harus menjatuhkan pandangannya. Itulah yang dia lakukan
“Iya kamu benar Arsi, dan semua sekarang dilakukan secara terang-terangan. Jika rangga selama ini sehat, berarti muntah darah tadi hal yang di luar pandangan kita manusia biasa. Kita tunggu hasil pemeriksaan dokter ya,” Bram menyetujui dengan apa yang tadi Ngarsinah bahas, dan kemungkinan itu bisa saja terjadi.
“Sihir itu sejak zaman para nabi sudah ada, itulah janjinya iblis yang akan menggoda anak cucu adam, dan salah satunya godaan seperti ini.” ucap Ngarsinah dengan pandangan yang menerawang, dia berfikir siapa yang tega menggunakan cara keji itu kepada bos tampannya itu.
Ceklek!
Pintu ruangan pemeriksaan terbuka, seorang perawat menoleh ke arah sepasang manusia yang masih asik mengobrol.
“Keluarga pasien!” teriak perawat tersebut, dan membuat Ngarsinah juga Bram berdiri dan melangkah mendekati perawat tersebut.
__ADS_1
“Iya kami keluarganya suster,” jawab Bram, wajah letih mereka tampak menegang menunggu apa yang akan disampaikan oleh perawat tersebut.
“Silahkan temui dokter Dewa di ruangannya,” jawab suster itu dengan sopan sambil mengarahkan tangannya ke sebuah ruangan yang di pintunya tertera nama sang dokter.
Dengan cepat mereka berdua melangkahkan kakinya ke ruangan dokter Dewa. Dokter senior itu tersenyum ramah dan mempersilahkan sepasang manusia itu untuk duduk di kursi yang tersedia di depan mejanya.
Setelah berbasa basi sang dokter mulai menjelaskan apa yang terjadi pada Rangga.
“Saya sudah memeriksanya dan tidak ada apa-apa. Saudara Rangga sehat, luka dalam pun tidak ada.” Ucap sang dokter dengan wajah serius, dan hal ini sanggup membuat Bram dan Ngarsinah saling menatap satu sama lain.
“Apakah pasien harus menginap disini atau bisa dirawat di rumah dok?” tanya Bram antusias. Pria itu merasa apa yang dipikirkan Ngarsinah barusan ada benarnya, tidak ada yang tidak mungkin dilakukan orang untuk menjatuhkan lawan bisnis atau sekedar ingin menguasai diri seseorang dengan cara yang licik. Seperti itulah yang Bram pikirkan terhadap sahabatnya itu.
“Saya rasa bisa dirawat dirumah pak, dan silahkan berikan obat ini untuk tiga hari kedepan, hal ini untuk meredakan rasa mual yang dialami oleh bapak Rangga.” Jelas dokter Dewa dengan senyum Ramahnya. Ngarsinah menyimak dengan seksama penjelasan dokter yang berada di seberang tempat duduknya. Ada rasa lega ketika rangga dinyatakan tidak sakit, sekarang yang perlu dia cari tau apa yang menyebabkan pria tampan itu muntah darah begitu banyaknya.
“Mas Rangga tidur, mas,” bisik Ngarsinah ke arah Bram yang berada disisinya. Bram melihat kalau Rangga tengah nyaman dengan istirahatnya.
“Sebentar kamu tunggu disini dulu ya, aku akan membereskan administrasinya, jika memang dia masih tidur aku akan minta izin kepada dokter untuk membiarkan Rangga tidur sampai terbangun nanti.” Ucap Bram yang meminta Ngarsinah berada di ruangan itu sementara dia akan meminta izin kepada dokter dan mengurus administrasinya.
“Baik mas, saya akan tunggu disini,” jawab Ngarsinah dengan anggukan kecil dan senyum tipis. Sebenarnya dia lapar sekali, tapi melihat Rangga yang seperti ini hatinya iba, kekesalannya terhadap pria duda beranak dua itu pun mulai menguap entah kemana.
Bram sudah meninggalkan mereka berdua, ngarsinah duduk di tepi ranjang yang sekarang di tempati oleh Rangga. Wanita cantik dan berparas lembut itu terus saja memandangi wajah tampan yang sedang pulas dalam tidurnya.
“Mas Rangga, apa yang terjadi denganmu, mas? Sikapmu yang berubah dan jujur saja membuatku kesal, aahh apakah hati ini sudah mulai menempatkan mu? Bangunlah mas, jangan membuatku cemas dan ingat satu hal, kamu harus sehat karena anak-anak sangat membutuhkanmu.” Gumam Ngarsinah lirih, wanita itu bicara sendiri dan tanpa dia sadari saat itu Rangga bisa mendengarkan semuanya dengan sangat jelas.
__ADS_1
Hati sang duda tampan itu menghangat dan ada rasa Syukur yang dia ucapkan, perasaan yang kini berkembang untuk Ngarsinah tidak berepuk sebelah tangan, tapi pria itu tidak mengerti entah kenapa setiap berdekatan dengan Betty, dia seperti sapi yang dicocok hidungnya, menuruti semua kehendak wanita licik itu.
Rangga berusaha mengingat apa yang terjadi pada dirinya tadi di rumah Ngarsinah, Rangga memang sering sekali melupakan atau lebih tepatnya mengabaikan kewajibannya untuk beribadah kepada yang maha kuasa. Dan setelah sekian banyak purnama dia meninggalkan ibadah wajib itu, hari ini tepat di saat waktu magrib dia melaksanakannya kembali.
Rasa panas menjalari sekujur tubuhnya, dadanya terus di tusuk oleh benda yang tidak dapat dia pegang atau dia lihat, Bacaan sholat pun sering terbata dia baca karena menahan rasa sakit yang luar biasa, dan finalnya saat selesai sholat dia memuntahkan darah segar. Hanya sampai disitu yang Rangga ingat tentang kejadian tadi.
Ngarsinah yang merasa Bram terlalu lama, mulai merasa bosan, gadis itu mengambil Al-Quran kecil yang selalu dia bawa kemanapun gadis itu pergi, untuk mengisi waktu wanita itu mulai melantunkan ayat-ayat suci itu dengan suara yang lirih namun masih terdengar merdu di telinga Rangga.
“Huuuueeekk …”
Rangga yang tadinya tenang menikmati, tiba-tiba tersentak bangun dan kembali memuntahkan darah segar. Lantai rumah sakit yang berwarna putih pun ternoda dengan warna merah yang berasal dari darah Rangga.
Ngarsinah dengan gerakan cepat bangkit dari duduknya dan sedikit bergeser agar tidak terkena cipratan darah yang Rangga keluarkan. Gadis itu menyelesaikan bacaannya dan menutup kitab suci itu lalu menyimpannya kembali ke dalam tas. Tangan nya dengan cepat meraih bell darurat, perawat yang berjaga di ruangan itu langsung berhamburan mendekati Rangga. Dokter Dewa pun dengan cepat mendekati Rangga untuk memeriksa keadaan pasiennya.
‘Untung tadi belum pulang, dengan kejadian ini semoga dokter bisa memeriksa mas Rangga dengan lebih teliti,’ gumam Ngarsinah dalam hatinya.
“Secara medis penyakit anda tidak terdeteksi pak Rangga, bisa jadi ini sakit non medis.
❤️❤️❤️
Author disini ingin menceritakan kejadian nyata yang Author pernah alami, ketika lawan bisnis ingin menjatuhkan dengan menggunakan sihir. jadi episode ini author ambil dari kisah nyata ya pemirsa, semoga dari cerita ini bisa diambil hikmahnya. Happy reading. 🥰
Yuukkk bom like nya, komen yang buaanyak, hadiah dan vote ya pemirsaaahh, tengkyyyuhh ❤️❤️🌹😘😘
__ADS_1