
Waktu berjalan dengan cepat, kini tibalah hari pernikahan Bram dan Yuni. Arsi tidak bisa membantu secara penuh karena dirinya tidak bisa jauh dari kedua anak kembarnya dan si kembar senior sudah berlarian kesana kemari, mereka berdua diawasi oleh pengasuh juga beberapa orang pengawal yang ditugaskan Rangga untuk menjaga anak-anaknya.
Ballroom hotel sudah dihias cantik, para tamu undangan juga sudah mulai berdatangan. Bram sudah bersiap di hadapan penghulu dan ayah pengantin wanita. Rangga yang duduk sebagai saksi dengan tenang duduk sambil sesekali menggoda si pengantin pria yang kini sudah berkeringat dingin.
“Santai Bro, itu keringet banyak amat … Grogi lo?” Tanya Rangga lirih. Pria berstatus empat orang anak itu tidak putus asa membuat Bram merasa kesal.
“Diem lo, siapa bilang gue grogi … mungkin ac nya kurang dingin nih ruangan.” Sahut Rangga. Pria itu mencari aman dengan mengkambing hitamkan pendingin ruangan yang menurut Rangga terasa nyaman.
“Ish … cemen lo, AC nggak salah malah lo salah-salahin. Liat no kebelakang calon bini dah dateng.” Ucap Rangga. Mendadak jantung Bram berdetak semakin cepat mendengar calon istrinya sedang mendekati dirinya. Bram menoleh ke belakang dan berdiri demi menyambut sang bidadari yang hari ini terlihat sangat cantik.
“Eheem, nak Bram sabar dulu ya, calon istrinya biar nunggu di kursi sana dulu. Di halalin dulu baru boleh duduk deket-deketan ….” Ucap penghulu dan langsung di sambut gelak tawa oleh para tamu yang mendengarnya.
Bram langsung berubah malu dan memerah wajahnya dengan ucapan sang penghulu. Bagaimana dia bisa lupa, padahal tadi sudah diberitahu oleh WO yang bertugas mengatur acara. Setelah akad, barulah pengantin wanita duduk di sebelah pengantin pria.
“Yun, calon suamimu sepertinya udah nggak sabar deh ….” Bisik Arsi di telinga Yuni. Gadis yang sudah siap melepas masa lajangnya itu pun bersemu merah pipinya. Walau tertutup oleh make up, tapi wanita itu tetap tidak bisa menutupi semburat di wajahnya.
“Tau tu, padahal kan sebelumnya udah di briefing Si. Bikin malu aja deh mas Bram,” sungut Yuni dengan senyum kecil tapi wajahnya menunjukkan rasa malu.
Acara berjalan dengan lancar, Bram mengucapkan akad dengan satu kali tarikan nafas. Semua dilakukan dengan sangat tenang dan tidak ada kesalahan. kata SAH menggema di ruangan besar dan mewah itu. Kini Yuni di antar oleh sang ibu tercinta untuk duduk di sebelah suaminya.
__ADS_1
Nasehat pernikahan sudah diberikan kepada sepasang suami istri yang baru saja menikah itu. Dan kini masuk pada acara makan untuk para tamu undangan. Bram dan Yuni sepakat untuk langsung menggelar resepsi setelah akad, karena dia tidak ingin membuang waktu. Setelah acara makan ringan, pengantin mulai menaiki pelaminan dan melakukan acara sungkeman kepada kedua orang tua masing-masing.
Suasana haru sangat terasa saat MC mengarahkan dengan untaian kalimat yang membuat hati siapapun tergetar mendengarnya. Arsi tidak banyak mengambil peran, dia sudah memberikan tim yang terbaik untuk membantu semuanya.
Karena merasa lelah Arsi berniat untuk beristirahat dan menyusui anak-anaknya karena ASI yang di simpan di botol sudah habis. Rangga yang tidak pernah jauh dari istrinya dan anak-anaknya ikut juga masuk ke dalam kamar yang sudah mereka pesan.
Arya dan Arista juga ikut karena kedua bocah itu sudah mandi keringat, dan pakaiannya juga sudah kotor karena kena noda makanan yang tumpah-tumpah saat mereka makan. santi yang menggendong Alina berjalan mengikuti majikannya, wanita itu tidak meletakkan bayi cantik itu di stroller dengan alasan Alina sedari tadi gelisah.
Sampai di kamar Arsi segera membersihkan diri dan mengganti dengan gamis longgar, wanita cantik itu segera memeriksa anak-anaknya dan betapa kagetnya Arsi saat melihat Alina tidak baik-baik saja. Wajah bayi itu pucat dan hanya diam saja.
“Maaass! Alina mas ….” Teriak Arsi yang panik melihat kondisi anaknya. Rangga yang baru saja selesai mandi, kini dengan cepat menghampiri sang anak.
“Sekarang kita ke rumah sakit dulu mas, Suruh Tomi cari dan yang lainnya nyari Santi.” Pinta Ngarsinah dan langsung meminta para suster untuk membawa anak-anak untuk ikut serta dengannya. Arsi menggendong Alina dengan wajah yang sudah tidak karuan, sang anak tidak terusik sama sekali dengan guncangan, karena sang mama yang sedang berlari kecil.
Pikiran Rangga sudah kacau, dengan cepat dia meminta supir untuk untuk menyiapkan mobil. Ningsih yang melihat Rangga dan Arsi yang melintas dengan setengah berlari dan anak-anak serta suster yang ikut mengekor di belakangnya merasa heran.
“Pa, itu kenapa Rangga dan Arsi lari ke arah luar … bukannya mereka tadi pamit untuk istirahat ya?” Tanya Ningsih dengan suaminya. Boby melihat ke arah yang dikatakan oleh istrinya.
“Iya ada apa ya ma? Coba papa telepon aja.” Sahut Boby dan langsung mengambil benda pipih itu dari dalam saku celananya. Setelah beberapa kali Boby melakukan panggilan barulah Rangga menerima panggilannya.
__ADS_1
“Pa, kami ke rumah sakit. Alina pa … Al–” Kalimat Rangga terputus dan hal itu membuat Boby langsung panik. Dengan cepat Pria itu membawa istrinya untuk segera menyusul sang putra untuk ke rumah sakit. Setelah berpamitan dengan kedua orang tua Yuni, Boby segera melesat menuju rumah sakit.
Di rumah sakit Alina langsung ditangani oleh dokter dan Ngarsinah tidak mau meninggalkan putrinya seorang diri dengan para dokter, wanita itu ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana keadaan sang putri dan apa yang sedang terjadi dengannya.
Dengan cepat dokter melakukan tindakan penyelamatan dan tampak sekali wajah tegang dari dokter yang sekarang sedang memeriksa Alina. Walaupun di dalam Arsi tidak berani bersuara atau bertanya, dia tidak ingin memecah konsentrasi para dokter dan yang nantinya akan berakibat fatal dengan putrinya.
Doa terus dia panjatkan untuk memberikan kesehatan kembali sang putri, air mata terus saja menetes di pipi mulusnya. Sementara itu di luar Rangga yang di temani Ningsih dan Boby sibuk menghubungi Tomi dan beberapa orang yang dia sebar untuk mencari Santi.
“Erna, kamu kan sedari tadi bersama Santi. Tidak mungkin kamu nggak tau kan kemana dia?” Tanya Rangga tajam, si kembar senior kini sudah bersama kakek dan neneknya. Rangga berusaha mengorek informasi dari Erna. Gadis lugu itu memang tidak melihat Santi setelah dia meletakkan Alina di box nya. Di dalam kamar yang luar itu memang sedang riuh dengan kegiatan mereka masing-masing, sehingga para suster sibuk dengan tanggung jawabnya sehingga tidak ada yang tau kemana perginya Santi.
Bruk!
“Uupss … maaf pak, saya tidak sengaja,” Ucap seorang wanita yang berpenampilan elegan dan tampak cantik yang tiba-tiba menabrak punggung Rangga.
❤️❤️❤️
Ya Allah, semoga Alina nggak kenapa2 ya pemirsaahh, itu siapa ya yang iseng nubruk orang 🤔🤔🤔
Yuukk marii jempolnya di banyakin. komennya di ramein, vote nya juga dan hadiah. subscribe ya pemirsaaahh ku tercintaaahh.
__ADS_1
❤️❤️❤️🤔🤔🤔🌹🌹🌹