
Sampai dirumah Yuni sudah menyambutnya dengan senyum terkemabang. Sepanjang jalan tadi Ngarsinah sudah berkirim pesan dengan sahabatnya itu tentang apa yang terjadi padanya barusan. Hal itu membuat sang sahabat tidak sabar menunggu dan memulai rencana usaha mereka. Kedua wanita beda status itu sepakat untuk memulai usaha dari modal kecil dan menggunakan apa yang sudah ada.
“Arsi, kamu sudah yakin dengan hubungan mu?” tanya Yuni disela waktu mereka yang sedang bersiap untuk menghitung modal dan menyiapkan peralatan.
“In shaa Allah sudah Yun, tolong doakan kami ya Yun. Besok aku ke kantor dulu, kita bareng aja terus langsung kita ke pasar untuk belanja,” jawab Ngarsinah santai.
Ting!
Notifikasi di ponsel Ngarsinah berbunyi, Yuni tidak sengaja melihat tampilan layar yang menunjukkan adanya sebuah pesan masuk yang bertajuk, orderan kue. Ngarsinah tadi memang sempat memasang status di aplikasi chat, promo dan mengatakan saat ini mereka siap menerima pesanan snack box dengan pilihan beberapa jenis kue yang dia tawarkan. Mereka tidak menyangka ternyata itu mendapatkan tanggapan baik.
“Arsi ada pesan tuh, kayaknya kita bakal dapet orderan nih,” ucap Yuni tidak sabar. Ngarsinah langsung mengambil ponselnya dan dengan senyum terkembang wanita itu ternganga lebar, sangking senangnya wanita itu tidak bisa berkata-kata dan menyerahkan ponselnya kepada Yuni.
"Arsi, kita dapat orderan pertama!" pekik Yuni girang, mereka tidak bisa lagi mengungkapkan kata-kata, hanya berpelukan dan melompat-lompat kecil. Tidak lupa berkali-kali bibir mereka berucap syukur atas pertolongnan Allah.
Mereka masih terus saja membahas tentang pesanan untuk hari senin depan dan tidak bisa sebentar mereka terus saja merencanakan untuk memulai usaha toko kue, tanpa terasa waktu telah beranjak malam hingga kedua wanita yang tampak bahagia itu pun memasuki kamar masing-masing dan berangkat ke alam mimpi.
Ditempat lain, David sedang berbincang dengan Novi, mereka baru saja melaksanakan pernikahan sederhana, karena David tidak ingin kolega-koleganya mengetahui statusnya. Semua rekan David hanya mengetahui Novi sebagai istrinya.
“Sayang, besok aku akan ke kota, ada pertemuan dengan pak Bram, salah satu hotelnya yang ada di kota B sedang membuka tender untuk supplier baru. Kamu nggak usah ikut ya?” tanya David yang masih santai menikmati cemilan sambil menonton televisi. Novi tidak pernah ditinggal, kemanapun David pergi untuk urusan pekerjaan dengan setia wanita itu akan menemani.
“Loh kok gitu sih? kenapa tiba-tiba kamu berubah yank?” tanya Novi dengan raut wajah kesal, alih-alih menjawab pertanyaan suaminya, wanita itu malah bertanya dengan nada curiga.
__ADS_1
“Kita kan lagi program hamil, kata dokter kemaren kamu nggak boleh banyak gerak, harus istirahat. aku usahakan tidak lama disana dan setelah itu langsung pulang,” jawab David dengan senyum pengertian. Pria tampan dengan paras bule itu mengambil pinggang ramping Novi dan mengarahkannya untuk duduk di pangkuannya yang kokoh.
Novi menurut, wanita itu memang sangat senang dengan perlakuan manja sang suami yang dulunya milik sahabatnya sendiri. Dengan merajuk Novi tidak suka dengan aturan yang di buat oleh David kepada dirinya.
“Aku maunya ikut, lagian kan aku nggak capek, dirumah terus aku bosen yank!” rajuk Novi dengan nada yang sedikit tinggi menandakan dirinya sedang protes atas keputusan sang suami.
“Sayang, aku sudah sangat ingin memiliki anak, jadi tolong jangan kecewakan aku. Menurutlah dan jangan membuatku jadi tidak sabaran,” ucap David dengan nada yang dingin, raut wajahnya yang tadi ramah mendadak berubah tegas dan sorot mata itu seakan menolak untuk di bantah.
“Kok kamu jadi galak gini sih, mana bisa aku hamil kalau tekanan batin!” bentak Novi kesal dan pergi meninggalkan David sendirian di ruang keluarga itu. Wanita itu memasuki kamarnya yang luas, dan langsung merebahkan dirinya di atas kasur yang empuk. David yang mengetahui istrinya sedang tidak senang hati mengusap wajahnya kasar.
Pria berbadan tinggi besar itu mematikan televisi dan menyusul sang istri kedalam kamar mereka. Melihat Novi yang sudah berada di dalam selimut, David ikut merangkak menaiki ranjang king size itu.
“Sayang, sudah jangan marah-marah gitu,” bujuk David dengan mengusap lembut wajah Novi yang terpejam rapat. Tidak mendapatkan respon dari wanitanya, David mulai merayunya dengan tindakan. kecupan hangat mendarat di kening mulus istrinya dan terus menjelajahi wajah cantik yang sudah membuatnya berpaling dari gadis sederhana.
“Jangan merayu, aku lagi marah!” bentak Novi dengan membalik badannya dan merubah posisi jadi membelakangi David. Pria berdarah bule itu tidak hilang akal, menggoda sang istri dengan mengusap lembut punggung yang terekspos itu membuatnya tidak berhenti untuk terus bertindak.
Novi yang berusaha untuk menolak, kini malah merasa senang dengan sentuhan tangan besar milik suaminya. Kekesalan Nya mulai luntur seiring dengan rajinnya David bergerilya dan mengabsen inci demi inci tubuh indah sang istri.
“Yank … jangan nakal ya,” racau Novi dengan suara yang mulai parau, mulut berkata lain sementara tubuhnya sudah mengatakan hal yang lain juga.
“Sayang … aku tidak suka kamu marah-marah, bahagialah terus bersamaku,” ucap David dengan suara yang tak kalah parau, mereka sudah mulai bergulat dengan berbagai gaya.
__ADS_1
Ruangan luas itu terkesan berisik dengan suara-suara erotis mereka. Entah berapa kali Novi berhasil mencapai puncak kenikmatan itu dan David terus saja membuatnya terbang ke angkasa menggapai rasa.
Pencapaian bersama sudah mereka dapatkan, kini sepasang insan yang saling menginginkan itu terkulai dengan segala lelah yang mendera. Novi terus saja berharap usaha mereka kali ini akan membuahkan hasil buah cinta mereka.
Waktu terus berjalan maju, pagi menggantikan malam, hujan gerimis masih membuat siapapun menjadi malas untuk kemana-mana. David sudah selesai berpakaian, pria itu sudah siap untuk berangkat, melihat Novi yang masih terlelap dengan lembut pria itu mengusap tubuh wanitanya agar segera terjaga.
“Sayang aku berangkat ya, tidak sempat sarapan, aku akan sarapan di jalan.” Pamit David dan ternyata itu mampu membuat Novi terjaga. Wanita cantik itu mengerjap-ngerjapkan matanya. Seulas senyum dia berikan untuk suaminya, wanita itu sudah lupa dengan rasa kesal dan marahnya. Seakan tidak pernah terjadi apa-apa, wanita itu pun bangun dan segera bersiap untuk mengantarkan sang suami hingga ke teras rumah.
Tidak membutuhkan waktu lama, semua sudah siap, Novi mengantarkan sang suami dan melambaikan tangannya seiring mobil mewah David meninggalkan halaman rumah mereka. David tidak membawa sopir, dia ingin menikmati perjalanannya sendiri, ada beberapa hal yang sedang direncanakan dan itu masih dalam tahap rancangan, oleh karena itu dia menyembunyikan dari sang istri.
Sesampainya di kota B, David segera menuju hotel dimana dia akan bertemu dengan Bram. Selama ini mereka hanya saling bertegur sapa tanpa pernah bercakap panjang, oleh karena itu David berusaha untuk mendekati Bram agar bisa lolos saat tender nanti.
“Kedekatan kita bukan berarti akan berpengaruh pada hubungan bisnis ini!”
❤️❤️❤️
Wooww apaan tuuhh? 🤔
Yuk pemirsa Like, komen, vote dan hadiaah nya yaaa, tengkyuuh pemirsa
❤️❤️🌹😘😘
__ADS_1