
Ngarsinah meminta Rangga untuk menurunkannya di halte yang tidak jauh dari gedung pencakar langit tempat dia bekerja meniti karir. Rangga tidak membantah karena alasan gadis itu tidak mau menimbulkan gosip di lingkungan tempatnya bekerja.
Dengan cepat Ngarsinah turun dari kuda besi seharga milyaran rupiah itu. Pandangan matanya mengedar ke sekeliling memastikan bahwa tidak ada yang memperhatikannya. Dengan langkah cepat wanita itu menuju kantornya. Sampai di lobi, sekilas dia melihat Rangga yang baru saja turun dari mobil hitam itu.
Pagi ini adalah hari kedua Ngarsinah menjadi karyawan di perusahaan milik Rangga. Untuk kesekian kalinya dia menjadi pusat perhatian karyawan yang bekerja di gedung itu, hampir semua orang yang melihatnya mencibir gaya berpakaiannya yang menurut mereka sangat ketinggalan zaman.
“Sepertinya ada yang salah tahun kostumnya masuk ke kantor kita,” salah satu karyawan yang berlalu di hadapan Ngarsinah berbicara dengan temannya mengomentari pakaian gadis itu.
“Hehehe iya, tampil beda biar dapat perhatian kali,” jawab teman yang berjalan di sebelah gadis yang berbicara tadi. Ngarsinah yang mendengarkan hal itu hanya diam saja dan memilih untuk tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan.
Sampai di lantai delapan dan dengan langkah tergesa Ngarsinah melangkahkan kakinya menuju ruangan bagian keuangan.
“Bebeb Arsi, tunggu, bareng dong!” Candra berteriak memanggil gadis cantik itu dengan sedikit berlari agar bisa mensejajarkan langkahnya. “Candra, kamu semangat banget deh pagi ini,” sapaku dengan membuka obrolan ringan dengan rekan seruangan yang memang suka sekali bercanda.
“Kemaren kamu diapain sama pak Tomy, beb?” tanya Candra tanpa peduli banyak orang yang berlalu lalang dan bisa saja mendengarkan pembicaraan kami.
“Huss, pelan dong Can ngomongnya, aku di ajak meeting direksi dadakan sama pak Rangga.” jawab Ngarsinah polos. “Haahh! ciyuss beb? kamu kamu masih baru, kok udah diajakin meeting para bos-bos?” tanya Candra penasaran.
Plak!
Ngarsinah memukul pundak Candra karena kesal, pria itu tidak kunjung memelankan suaranya.
“Candra! Nyebelin deh, tu mulut kalo ngomong jangan pake toa napa,” kesal Ngarsinah yang tanpa bisa dicegah lagi memanyunkan bibirnya beberapa centi kedepan. Apa yang dilakukan Ngarsinah itu mampu membuat Candra tertawa ngakak.
__ADS_1
Pembicaraan mereka akhirnya berhenti karena sudah memasuki ruangan. Setelah melakukan absen ruangan yang sudah berpenghuni itu pun mulai senyap karena penduduknya mulai menghadapi kenyataan berupa pekerjaan yang siap untuk di garap.
Jam 9.30 panggilan dari Tomy melalui telepon internal yang ada di meja Ngarsinah berbunyi. Hanya menjawab singkat gadis itu langsung berkemas, Nia yang melihat hal itu tidak tahan untuk berdiam diri saja. “Arsi mau kemana?” tanya Nia dengan rasa ingin tahu yang tinggi. “Di panggil pak Tomy Ni, aku berangkat dulu ya, yuk semuanya aku jalan dulu,” Ngarsinah tidak bisa menjelaskan pertanyaan Nia saat ini, karena dia sudah ditunggu oleh Rangga di parkiran.
Nia dan Candra, saling melempar pandang dan menaikkan bahu mereka, ruang keuangan itu memang lebih sering sepi di saat jam kerja, kecuali saat mereka sedang beristirahat, maka penghuni nya akan dengan senang hati berkicau. Sementara Sasa, Roni dan Pia hanya mengangguk dan kembali fokus pada layar komputer mereka masing.
Sesampainya di parkiran, Tomy langsung membukakan pintu untuk Ngarsinah dan ternyata sudah ada Rangga di bangku penumpang belakang, awalnya gadis itu ragu untuk duduk di sebelah Rangga, tapi Tomy tidak membukakan pintu bagian depan untuknya.
“Pak saya duduk di depan saja,” ucapnya sungkan, dan siap untuk melangkah melewati Tomy yang masih setia menunggu. “Duduklah disini, saya akan jelaskan apa yang akan dibahas nanti disana, Jangan membuang waktu, ini hanya tersisa sekitar lima belas menit lagi,” titah Rangga tanpa ingin dibantah, dan Ngarsinah pun memilih untuk mengikuti apa yang diinginkan oleh bosnya.
‘Padahal dia menjelaskan dari belakang juga bisa, kan kita masih satu mobil. Walaupun aku duduk di depan aku rasa tidak akan membuatnya kesulitan dalam menjelaskan. Dasar laki-laki sukanya memaksakan kehendak,’ gumam gadis itu dalam hatinya, mana berani dia menyuarakan itu, bisa-bisa besok dia sudah tidak bisa lagi bekerja disitu.
Mobil bergerak cepat karena mereka harus sampai tepat waktu, Tomy yang mengendalikan si kuda besi berwarna hitam itu. Rangga mulai menjelaskan apa saja yang nanti akan dibahas oleh papanya di kantor pusat, Ngarsinah memperhatikan dengan fokus dan tidak ingin membuat bosnya itu malu atau merasa sia-sia membawanya di acara yang tidak semua karyawan memiliki kesempatan yang sama.
“Pak, maaf boleh saya tanya satu hal?” tanyaku penuh harap dia akan memberikan jawaban yang membuatku puas.
“Ya silahkan, selama saya bisa jawab, maka akan saya jawab.” jawabnya dengan yakin dan langsung menatapku lurus menunggu.
“Pak, apa tujuan anda membawa saya ke rapat direksi? dan hari ini ke kantor besar, saya karyawan baru bahkan ini adalah hari kedua saya bekerja,” tanya Ngarsinah dengan memaparkan kondisinya sebagai karyawan baru.
“Saya ingin kamu menempati satu posisi yang sangat saya butuhkan, karena Tomy sebentar lagi akan memegang posisi dengan tanggung jawab lebih besar lagi.” jawabnya dengan senyum terkembang dan tatapan penuh harap aku bersedia dan mampu untuk mengemban tugas itu.
“Saya mau dipindah kemana pak?” tanya Tomy yang ikut menelinga pembicaraan dua orang manusia di belakangnya.
__ADS_1
“Bulan depan kamu pegang proyek di kota B ya Tom, papa sudah menyetujui, makanya saya mempersiapkan Arsi untuk menggantikan posisi mu,” jawabnya mudah dan tidak tanpa beban.
“Pak maaf, saya orang baru, dan tidak punya pengalaman sama sekali dalam pekerjaan ini, saya takut nanti anda kecewa dengan kinerja saya.” Jawab Ngarsinah yang didukung anggukan oleh Tomy.
‘Masih banyak orang yang seharusnya lebih pantas menempati posisiku, masih ada pak Sam, pak Ridwan. Tapi kenapa si bos malah memilih orang baru yang dia belum ngerti apa-apa, huff jadi bos mah bebas yak milih siapa yang dia suka.’ gerutu Tomy dalam hati.
“Tom, jangan ngomel di dalam hati kamu, saya tau apa yang saya putuskan. Dan kamu Arsi, tajamkan apa yang nanti terjadi, saya minta kamu untuk bersungguh-sungguh dalam belajar yang hanya kurang lebih dua minggu ini.” Rangga bisa menebak apa yang Tomy rasakan dengan hatinya. Sementara Ngarsinah menjadi dingin seluruh tubuhnya, ingin sekali dia menolak, tapi apakah bisa?.
“Pak, saya mohon pilih orang lain saja yang lebih senior dari saya, baru saja kemarin saya menjadi karyawan kurang dari sepuluh orang yang baru saya kenal, saya yakin keputusan anda memilih saya bukanlah hal yang baik nanti kedepannya.” tolakku halus, rasa takut menjalar ke seluruh relung hatiku. Rangga menatapku dengan senyum hangat meyakinkan keraguanku.
“Temani saya sampai selesai, dan saya tidak menyukai penolakan,” jawabnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan dan kalimat ambigu yang membuat ku bisa saja salah paham.
“Maksud bapak apa?” tanyaku yang diikuti oleh tatapan sekilas Tomy dari kaca spion tengah.
“Ya, saya mau kamu menemani saya menggantikan Tomy sampai proyeknya di kota B selesai. Percayalah Arsi, saya tidak akan salah memilih orang.” jawabnya dengan keyakinan yang tak terbantahkan, sebagai seorang pebisnis yang sepak terjangnya sudah terbukti, Ngarsinah tidak bisa lagi membantah perkataan dan menolak perintah Rangga.
“Menarik, kepintaran yang dibalut oleh kesederhanaan, hal ini tidak akan mudah dibaca oleh musuh kita,”
❤️❤️❤️
Hmmm bener juga ya, orang yang sederhana sering tak terbaca. Emang musuhnya siapa? 🤔
Haayuuukk angkat jempolnya pemirsaahh, jangan lupa komen yang bisa bikin otor zemangattt yah, vote dan hadiah otor tunggu juga. ❤️ selautan buat pemirsaku tercintaahh 😘😘🌹
__ADS_1