Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 33: Mungkin Dia Pake Pelet


__ADS_3

"Rangga, kamu itu jangan meremehkan hal kayak gitu, coba kamu perhatikan, si dedek itu aneh tingkahnya.” Gita berusaha meyakinkan Rangga dengan apa yang dia pikirkan saat ini. Wanita dewasa yang masih cantik itu memang sangat takut dengan mahluk dari alam sebelah, dan sekarang dia meyakini Arista sedang di ganggu. 


“Mbak tenang dulu, jangan terburu-buru begitu, Mbak Gita kok mikirnya begitu sih, padahal aku tadi nebaknya gak gitu loh mbak, hahaha." Rangga berusaha mencairkan ketegangan yang ada. Gita menoleh ke arah ruang keluarga, dia dapat melihat Ngarsinah yang menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, sementara Arista masih dengan posisi koala yang digendong induknya. 


“Trus, itu siapa yang kamu bawa tadi?" Gita mulai mengalihkan topik pembicaraan, dengan suara berbisik agar Ngarsinah tidak mendengar suaranya. 


Ingatannya kembali kepada Ngarsinah yang ternyata bisa membuat keponakannya terdiam dan tidur nyenyak dalam pelukan wanita yang baru saja dikenal oleh Gita. Prasangka buruk mulai menggerayangi relung hatinya.


“Oh itu, teman mbak, aku bersyukur dengan adanya dia, orangnya baik dan si kembar nyaman berada di dekatnya. Mbak tau nggak–" Rangga terpaksa menghentikan kalimatnya karena dipotong oleh Gita, sepupunya itu merasa tidak sabar karena Rangga yang bercerita dengan mode slow motion. 


"Nggak! Kamu cerita kok lama banget sih, aku nggak sabar dengernya," sungut Gita kesal karena ulah saudaranya itu. 


"Sabaar mbak, orang sabar badannya lebar hahaha, aku mau bilang si dedek udah manggil mama ke Arsi sejak awal mereka bertemu, Arya yang masih memanggil tante." Gita ternganga mendapati kenyataan yang membuatnya tidak percaya tapi ternyata itu semua nyata adanya. 


"Ga, kamu nggak curiga sama tu perempuan? Jangan-jangan dia pake pelet loh ga," Rangga mengusap wajahnya kasar. 'Mbak Gita sedari tadi kok pembahasannya tentang dunia sebelah aja sih, tadi dedek yang di bilang kesurupan, sekarang Arsi yang di bilang make pelet, huuff aku harus apa?' Rangga bergumam dalam hati, ingin rasanya pria itu memarahi kakak sepupunya itu, tapi tidak tega karena sedari tadi dia pun lelah karena mengurus Arista yang sangat rewel. 


"Hari gini Ga, orang kan macem-macem, secara kamu gantengnya gak ketulungan, tajirnya gak kaleng-kaleng. Mana ada perempuan yang nggak tekuk lutut dan gunain berbagai macam cara buat deketin kamu," pendapat Gita diakui oleh Rangga, bahwa hal itu bisa saja terjadi 


"Aku nggak menolak pendapat itu sih mbak, karena dalam agama kita pun mengajarkan tentang makhluk ciptaan Allah dari bangsa jin dan syaitan. Untuk si dedek kita lihat saja sampai besok, apa yang terjadi, jika kita lihat tidak normal, aku akan minta bantuan mbak Gita mencari jalan keluarnya, tapi dengan satu syarat dia seorang ahli agama, bukan ahli yang lain ya," Rangga tidak ingin salah dalam hal ini, walau bagaimanapun anak adalah prioritas utama baginya. 

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan gadis itu?" Gita kembali menanyakan tentang Ngarsinah yang tadi belum dijawab oleh Rangga. Rangga tersenyum manis dan ada sorot bahagia di matanya yang tajam. 


"Arsi tidak mungkin melakukan hal itu, aku percaya dia, dan dia pun bukan tipe wanita atau karyawan gatel yang suka menggoda atasannya. Mbak Gita nggak usah khawatir ya," jelas Rangga dan berusaha meyakinkan sang kakak sepupu. 


Waktu terus merangkak malam, kedua bocah itu tidur dengan pulasnya. Arya masih nyaman tidur di sofa, sementara Arista nyaman tidur dalam pelukan Ngarsinah. Tubuh dan pikiran yang lelah membuat gadis itupun terlelap sambil tidur dan memeluk Ngarsinah. 


Gita dan Rangga berniat untuk mengajak Arsi ke kamar yang tersedia untuk menidurkan Arista dan Rangga menggendong Arya. Tapi melihat pemandangan yang ada di hadapan mereka, sungguh membuat Gita yang seorang ibu tak kuasa menahan haru. 


"Ga kamu benar, dia wanita yang tulus, anakmu juga nyaman berada dalam pelukannya. Mereka tidur semua, gimana ini?" Gita menyadari kekeliruannya yang sudah berprasangka buruk kepada wanita cantik itu. 


"Mbak mana kunci mobilku?" Gita yang heran melihat sepupunya itu jadi kesal dibuatnya, sudah jelas mereka bertiga ketiduran, Rangga malah mau ngeluarin mobil. “Kenapa tidak tidur di rumahku aja sih Ga” tanya Gita yang mulai kesal dengan kekonyolan Rangga. 


Mobil Rangga memang diletakkan satu di rumah sepupunya itu, karena si kembar sebelumnya sering main kesini dan Rangga tidak ingin merepotkan saudaranya jadi dia menyiapkan kendaraan di rumah itu. 


Bukannya Ngarsinah yang bangun, tapi Arista yang langsung membuka mata. Tubuh kecil itu menggeliat dan mengusapkan wajah bantal nya di dada Arsi, hal itu membuat wanita cantik itu terbangun dan kembali mengusap punggung si gadis kecil itu dengan lembut. 


Mereka berdua tidak menyadari ada empat pasang mata yang melihatnya dengan tatapan hangat dan senyum bahagia. 


"Jadikan dia sepupu ipar ku Ga," cicit Gita yang langsung membuat Rangga menoleh. 

__ADS_1


"Tadi aja bilang yang nggak-nggak sekarang malah nyuruh nikahin, hehehe dasar emak-emak," Rangga menggelengkan kepalanya dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.


Ngarsinah akhirnya tersadar setelah sekian lama Rangga membangunkannya. 


"Maaf mas, saya ketiduran," ucapnya serak, suara khas bangun tidur. "Ayo aku antar pulang, kasian kamu dari tadi sampe belum sempat bersih-bersih." Ajak Rangga yang sudah menggendong Arya. 


Ngarsinah merasa lemas dan pegal-pegal seluruh tubuhnya karena tidur sambil duduk. Saat wanita itu berdiri, Arista kembali bangun dan mengangkat wajahnya.


"Mama Arsi, dedek pulang ke rumah mama ya," pinta gadis kecil itu dengan mata yang masih bengkak. Gadis itu tidak tega untuk menolaknya, mengangguk dan tersenyum itulah yang dilakukan Ngarsinah.


"Iya sayang, kita pulang kerumah mama ya." Jawabku dan akhirnya membuat gadis itu tersenyum. Gita mencium pipi gembul keponakannya itu dan mengusap lembut kepala bocah yang masih betah bersandar pada dada Ngarsinah. Setelah menyalurkan rasa sayangnya kepada keponakan tercinta, Gita pun cipika cipiki dengan Ngarsinah, terlihat beda sekali sikap yang Gita tunjukkan, tadi sempat waspada tapi sekarang malah gembira. 


“Hati-hati di jalan Ga, salam ya buat papa dan mama mu, aku belum sempat main kesana.” Gita melambaikan tangan dari teras saat mobil Rangga mulai bergerak pelan meninggalkan rumah besar itu. 


“Mas, Arista biar menginap di rumah saya aja ya, kasian nanti kalo dia bangun dan nggak lihat saya,” suara Ngarsinah memecah keheningan malam, Rangga menoleh sebentar dan kembali fokus pada ramainya jalan. Beda dengan di kampung Rorocobek yang jam segini sudah sepi dan semua orang sudah dibuai oleh mimpi indah, kehidupan di kota hampir dua puluh empat jam ramai terus. 


“Apa aku juga boleh ikut menginap di rumahmu?”


❤️❤️❤️

__ADS_1


Naah kan ngelunjak deehh,🤭🤪


Mari lambaikan jempolnya pemirsa, komennya di ramaikan yuk, jangan lupa hadiah dan vote nya ya, tengkyuuh pemirsa 🥰🥰🌹❤️


__ADS_2