Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 121: Kepergian Si Bungsu


__ADS_3

Rangga berusaha tenang dan berpamitan kepada Ngarsinah, Wanita itu kembali menimang anak-anaknya yang berada di dalam box. Bayi laki-laki itu sepertinya sangat mudah lapar, begitu matanya terbuka langsung saja dia menggerakkan bibir mungil seperti sedang mencari sesuatu. Mereka yang berada di ruangan itu tersenyum bahagia dan gemas melihat si bocah yang masih berumur beberapa jam itu. 


Di ruangan tindakan, dokter anak yang sudah menunggu kehadiran Rangga tampak sedih dan hal ini bisa dibaca oleh pria tampan banyak anak itu.


Rangga melihat anaknya yang terpejam dan tergolek tak berdaya. Sang dokter mengangkat sang bayi mungil berwajah tampan itu. Raut kesedihan di wajah sang dokter membuat Rangga memiliki perasaan yang tidak nyaman. 


“Pak Rangga, kami sudah berusaha semampu yang kami bisa. Tapi Tuhan lebih menyayanginya dan ….” Ucap sang dokter menggantung. Rangga merasa berhenti bernafas, dadanya sesak dan kakinya bergetar. Pria itu tidak sanggup untuk menjawap ataupun bertanya. Dunianya seakan menggelap dan bagaimana dia akan menghadapi istrinya yang sedari melahirkan si bungsu belum sama sekali melihat atau sekedar menyentuhnya. 


“Dokter, apakah sudah melakukan tindakan lebih untuk anak saya?” Pertanyaan yang sangat bodoh dilontarkan Rangga sambil menerima tubuh dingin sang putra. 


“Kami sudah melakukan berbagai macam cara pak Rangga, maafkan saya ….” Ucap sang dokter yang tidak bisa lagi menahan air mata. Rangga menangis sesenggukan sambil mencium wajah pucat sang putra. Belum sempat dia meng-adzani kini sang putra sudah kembali kepada sang pemilik. 


 Untuk beberapa saat Rangga berusaha tenang dan kini sudah bersiap untuk keruangan dimana istri dan keluarganya sedang menunggu kabar berita si bungsu. 


Ceklek!


“Mas, berikan sini si bungsu, dia pasti haus. Tinggal dia yang belum aku susui,” Ucap Arsi dengan senyum terkembang. Rangga yang tadi sudah tegar, kini kembali berkabut kedua netranya. Pria itu sekuat tenaga melangkah mendekati brankar sang istri. 


Rangga memberikan putra bungsu mereka ke dalam gendongan sayang sang ibu. Wajah Arsi berubah tegang, kini matanya menatap ke arah sang suami. Semua yang ada di ruangan itu pun melihat ada sesuatu yang tidak biasa. Bayi itu diam dan tidak tampak nafasnya naik turun. 


“Sayang, putra kita kini sudah kembali pada sang pemilik kehidupan. Kita harus ikhlas dan kuat sayang,” Ucap Rangga dengan suara yang serak dan berat. Terlihat sekali pria itu berusaha untuk kuat, Arsi langsung mengerti apa yang rangga katakan. Dadanya mendadak sesak, anaknya lahir dengan sempurna dan tidak kurang satu apapun. Lalu apa yang salah dengannya?. 


“Ma-mas … apakah tidak bisa dia kembali walau sebentar saja?” Tanya Arsi yang kini menangis pilu sambil memeluk sang bayi yang sudah tidak bernyawa itu. Semua orang yang ada di ruangan itu tidak sanggup menerima kenyataan.

__ADS_1


“Sayang … kita harus mengikhlaskan si bungsu ya, lihatlah kakak-kakaknya, mereka juga membutuhkan mu sayang,” Bujuk Rangga. Pria itu berusaha membuat Ngarsinah tenang dalam kesedihannya. Tangisan Ngarsinah tidak bisa lagi dibendung. Bayi yang sudah tenang di alamnya itu terus saja dia peluk, Mereka yang ada di ruangan itu ikut larut dengan pemandangan pilu. 


“Nak, bangun lah sayang … Mama ada disini sayang, Bangunlah sebentar aja. Dedek nggak haus kah? Dari tadi mama belum nyusuin dedek, bangun sayang … hiks … hiks.” ucap Ngarsinah lirih. Semua yang melihat tidak sanggup melihat kondisi wanita beranak tiga dan kini ditinggal pergi untuk selamanya. Kedua bayi yang tadinya tidur dengan lelap, kini terbangun dan menangis, mungkin mereka ikut merasakan akan kepergian saudaranya. Ningsih dan Boby mengambil keduanya dan membiarkan Rangga memeluk Ngarsinah dan berusaha menenangkan sang istri. 


Ceklek!


Seorang dokter dan dua orang perawat masuk ke dalam ruangan itu, Semua orang sesaat melihat kedatangan ketiga paramedis itu tapi tidak dengan Ngarsinah. Sang dokter berusaha memberikan penjelasan kepada Rangga kalau bayi mereka akan segera dibersihkan dan siap untuk kafani.


“Pak Rangga, Bagaimana kami bisa membersihkan bayi anda agar bisa segera disiapkan kain kafannya,” Ucap Dokter hati-hati. Rangga menoleh sesaat dan mengangguk, hatinya sudah pasrah karena tidak mungkin membiarkan anaknya berlama-lama karena kini bumi pun sedang menantikan kehadirannya. 


“Apa anda bilang? siapa yang mau di kafani?!” Ucap Ngarsinah dengan tatapan tajamnya, bibirnya bergetar dan raut wajahnya menggelap karena marah. Rangga dengan siaga berada di sisi istrinya takut Ngarsinah histeris. 


“Maaf ibu Ar–”


“Dokter bisa kita bicara di luar sebentar?” Ucap Bram lirih, seorang perawat maju untuk meminta Yuni membuat susu formula. Si Kembar harus diberi susu sementara Ngarsinah sedang tidak mungkin untuk menyusui saat ini.


Sepasang kekasih itu pun mengambil perannya masing-masing. Kini Bram berada di luar ruangan kamar rawat Ngarsinah. Sang dokter sudah paham dengan apa yang sedang dialami oleh pasiennya, oleh karena itu dia tidak ingin juga memaksakan sampai nanti sang ibu siap untuk menerima kenyataan yang mereka hadapi saat ini. 


“Pak Bram, semoga bu Arsi bisa segera mengikhlaskan sang putra, karena kami berkewajiban untuk segera membersihkannya pak.” Ucap sang dokter dengan sangat hati-hati. Bram sangat memahami tugas sang dokter


“Saya paham dokter, nanti jika keadaan sudah tenang kami akan menghubungi anda dan pihak rumah sakit.” Ucap Bram sopan. Pria itu berbincang sejenak dan dokter juga memberikan informasi kepada Bram bahwa kondisi fisik Ngarisnah sudah sangat baik. 


Kini Bram kembali ke dalam ruangan dan melihat Ngarsinah yang masih saja berusaha bicara dengan sang putra, sampai pada satu titik kesadaran Ngarsinah semakin melayang, Rangga berusaha untuk menyadarkan istrinya.

__ADS_1


“Mas … Ke-kenapa dedek nggak mau bangun juga?” Tanya Arsi dengan wajahnya yang makin kaca dan tatapannya yang kebingungan dan ketakutan. 


“Sayang … Kamu percaya pada Allah kan?” Tanya Rangga. 


“Iya, percaya.” Jawab Arsi. 


“Dedek sudah meninggal dan kini dia sudah bahagia di syurga. Apakah kamu bisa memahaminya sayang?” Tanya Rangga lagi. 


Kali ini Ngarsinah terdiam dan berusaha mencerna apa yang sedang dia dengar. Pandangan matanya kali ini mengedar seakan meminta jawaban dari semua orang yang ada di ruangannya. Pandangan wanita cantik itu kini berganti pada dua sosok bayi yang digendong oleh kedua mertuanya. 


Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Ngarsinah dan kini pandangannya beralih pada bayi yang ada di pelukannya. Wajah pucat sang bayi dengan mata terpejam itu membuat Ngarsinah tersadar, Semua orang yang ada di ruangan itu merasakan ketegangan yang sama. Ngarsinah seakan mulai menyadari akan sesuatu yang pasti yaitu kematian, Allah sang maha penentu semuanya akan memanggil kita tepat pada waktunya.. 


“Maafin mama ya sayang, baik-baik dedek di surga dan tunggu mama dan papa ya ….” 


❤️❤️❤️


Dear pemirsaah tercintaku, hari ini aku hadirkan kembali novel ke 3 ku dengan judul PASHMINA UNTUK KUPU-KUPU, Kisahnya lebih seru dan menawarkan berbagai macam rasa dalam hidup dan kehidupan. Pahit, manis, asam, pedes dan sejuta rasa yang ada. Yuuukk mari mampir pemirsaahh. Tengkyuuuhh … jangan lupa Like, komen, vote dan hadiahnya ya…  


❤️❤️❤️😢😢💪🌹🌹🌹



 

__ADS_1


      


__ADS_2