Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 32: Mungkin si Dedek Kesurupan?


__ADS_3

Arista masih saja meraung-raung membuat Rangga kebingungan. Bukannya semakin reda malah sekarang semakin histeris, entah sudah berapa jam gadis kecil itu menangis, matanya yang bulat kini mulai sembab. Rangga melangkah meninggalkan ruang keluarga itu, kaki panjangnya menuju ke ruang tamu, dimana Arsi masih duduk manis di sofa yang berukiran indah itu. 


“Arsi, bisakah aku minta tolong bujuk Arista, sedari tadi dia terus saja memanggil mamanya,” Ngarsinah hanya mengangguk dan tidak sempat mengeluarkan suara gadis itu sudah melangkah tergesa melintasi ruang tamu yang luas itu menuju ruang keluarga. 


Gadis itu mendekati sang bude yang kini hanya bisa duduk karena lelah berdiri untuk menenangkan gadis kecil itu. Dengan pelan tangan Ngarsinah membelai kepala Arista yang tersandar di dada bude Gita. 


“Dedek, kenapa nangis sayang?” suara lembut Ngarsinah membuat tangis itu mendadak berhenti, hanya isakannya yang terdengar. “Ibu maaf boleh saya gendong Arista?” tanya Ngarsinah kepada wanita yang tampak matang itu. 


“Silahkan mbak, maaf ya jadi merepotkan mbak nya,” jawab Gita kikuk, dia yang tadi belum sempat menyambut tamu merasa tidak enak karena sudah mengabaikan gadis cantik yang sederhana itu. 


“Nggak pa-pa bu, semoga Arista mau saya gendong. Oya panggil Arsi saja bu, saya lebih nyaman dipanggil nama,” sahut Ngarsinah menanggapi pembicaraan Gita. 


Arista yang sudah berhenti tangisannya menoleh pelan, matanya yang sembab dan wajah letih akibat menangis terlalu lama membuat tubuh kecil itu lemas tak bertenaga. ‘Mama …” panggilnya dan itu membuat Gita bingung. Rangga mmemberikan kode dengan jari telunjuk yang menempel di bibirnya. 


“Iya sayang ini mama, sini gendong sama mama,” jawab Ngarsinah dengan senyum menenangkan siapapun yang melihatnya. “Mama dedek mau ikut mama, huuuaaa … huuuuaaaa!” Rangga tampak bingung dengan ulah putrinya hari ini. Gita memanggil mbok Ris untuk membuatkan minuman dan cemilan untuk sepupunya dan tamunya yang dipanggil mama oleh sang keponakan. 


Gita dan Rangga besar bersama, jadi walaupun sepupuan tapi kedekatan mereka sudah seperti saudara kandung. Suami gita sering keluar kota, kedua anaknya sedang tidak dirumah, mereka menginap di rumah omanya. 


Arya dan Arista lah yang Gita boyong untuk meramaikan rumah besar itu. Sehabis mereka pulang sekolah kedua bocah itu ceria saja tidak ada terjadi apa-apa. Bermain dan berselisih paham biasa, tapi saat sore, tiba-tiba Arista rewel menanyakan mamanya. 


Gita yang dibantu oleh para asisten rumah tangga, sibuk membujuk dan menghibur gadis kecil itu. Sudah lebih dari satu jam Arista menangis tapi tak kunjung berhenti. Gadis kecil itu masih setia memanggil-manggil sang mama yang membuat Gita ikut merasakan kesedihan sang keponakan. Mereka mulai kewalahan karena tangis Arista yang tidak kunjung selesai sampai Rangga tiba pun belum juga berhenti. 

__ADS_1


Ajaib, pelukan Ngarsinahlah yang ternyata mampu membuat kegelisahaan Arista tenang, walau kadang kembali menangis.


“Cup … Cup, dedek mau ikut kerumah mama?” Ngarsinah berusaha untuk mengerti apa yang dirasakan gadis kecil itu. Arista hanya mengangguk kecil, kini tubuhnya sudah berpindah ke dalam gendongan ala koala milik Arsi.


"Dedek maunya mama Arsi! Huuuaaaa … huuuuaaaa!" tangisnya kembali meledak dan sekarang lebih menuntut, membuat para orang tua itu kebingungan.


Pelukan hangat yang Ngarsinah berikan mampu membuat tangis gadis itu berhenti seketika. Tangannya melingkar di tubuh Ngarsinah seakan tidak ingin dilepaskan lagi. Rangga memberikan air putih untuk putrinya, dengan lahap minuman itu di teguk hingga tak bersisa. 


Tangisan Arista berhenti total, hanya sesekali gadis itu misek-misek karena sisa tangis yang entah sudah berapa jam dia lakukan. 


Arya tampak sudah ketiduran di sofa, sehabis makan tadi, pria kecil yang masih betah di sofa panjang ruang keluarga itu kembali menghempaskan tubuh kecilnya. Akibat lelah seharian hingga tanpa dia sadari kini dia sudah pindah ke alam mimpi. 


Ngarsinah dengan pelan dan hati-hati merebahkan tubuh yang sudah lemas itu, tapi belum lagi tubuh itu mendarat dengan sempurna, kembali kedua tangan kecil itu melingkar erat di tubuh Ngarsinah.


“Nggak mau dia mas, ya sudah biar saya gendong saja,” ucap Ngarsinah berbisik.


Hidangan makan malam sudah tersedia, Gita memanggil Ngarsinahndan Rangga untuk makan malam. Ngarsinah yang masih menggendong Arista merasa kesulitan, karen setiap gadis itu duduk, Arista seperti terbangun dan merengek. 


Gita pun semakin bingung dibuatnya. Jika membiarkan Arista terbangun dan kembali menangis, kasihan dengan gadis kecil itu, pastinya dia semakin lelah dan pusing. 


Rangga tau Ngarsinah pasti sudah sangat lapar, karena ini sudah mulai lewat jam makan malam. Dengan cekatan pria tampan idola banyak kaum hawa itu pun menyiapkan sepiring nasi berikut lauknya. 

__ADS_1


Ngarsinah yang melihat hal itu merasa bingung, dia masih belum bisa makan karena Arista yang tidak bisa diajak kompromi saat ini. 


Rangga menyuapkan Nasi untuk Arsi. Lauk pauk yang menggugah selera membuat perut Ngarsinah semakin lapar dibuatnya.


"Aaakk, ayo kamu duluan habiskan ini, setelah itu baru aku yang makan," ucap pria itu dengan senyum yang menawan. Gita melihat itu tersenyum penuh arti, sejak kapan sepulunya itu bisa dekat dengan wanita, dan sekarang dia menjadi obat nyamuk diantara dua sejoli itu. 


"Mas sudah, saya sudah kenyang," ucap Ngarsinah malu, wanita cantik itu sadar sedari tadi Gita curi-curi pandang kepada dirinya dan Rangga. 


Ngarsinah yang kembali memanggil Rangga saat di luar jam kerja, membuat Rangga terkadang tidak suka. Tapi dia tetap mengikuti keinginan Ngarsinah agar gadis itu tetap nyaman. 


Rangga menghentikan suapannya. "Kurang sedikit lagi ini, sayang kalo nggak dihabiskan. Ayo dua suapan lagi," bujuk Rangga, kembali pria itu selalu berhasil membuat Ngarsinah menuruti keinginannya. 


Ngarsinah tampak lelah, dia mendekati sofa dan pelan-pelan duduk, dengan sabar gadis itu menepuk pelan punggung Arista agar tetap merasa tenang. Gita merasa kondisi sudah aman untuk interogasi sepupunya itu, Rangga yang baru saja selesai makan, kaget tangannya ditarik begitu saja, siapa lagi pelakunya kalau bukan Gita. Wanita itu menyeretnya ke ruang tamu. Mata wanita cantik itu seakan menyala dan siap melahap Rangga, sementara pria tampan duda dua anak itu sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. 


"Ga mbak kok khawatir ya, jangan-jangan si dedek kesambet mahluk halus, kamu gak curiga?" Tanya Gita dengan raut wajah khawatir.


Sementara Rangga santuy aja, dengan kaki yang ditumpangkan pada kaki satunya, Rangga dengan santai membuka kancing lengan kemeja kerjanya dan melonggarkan dasi yang seharian tadi mencekik lehernya. 


"Mbak Gita kok mikirnya begitu sih, padahal aku tadi nebaknya gak gitu loh mbak, hahaha."


"Bisa jadi dia pake pelet, kan nggak ada yang nggak mungkin to?"

__ADS_1


__ADS_2