Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 51: Rangga Pulang


__ADS_3

Waktu berjalan sebagaimana mestinya, sudah satu minggu Rangga dirawat dan Ngarsinah dengan setia menemani, wanita cantik itu sudah memutuskan untuk keluar dari perusahaan Rangga dan akan memulai usahanya sendiri bersama Yuni. 


Sungguh ajaib, selama Ngarsinah menjaga Rangga tidak sedikitpun dia merasakan sakit, tapi disaat Ngarsinah berjauhan sebentar saja dengannya, kembali sakit itu mendera dadanya walau tidak sampai muntah, karena wanita itu sejatinya tidak pernah lama meninggalkannya.


“Mas, hari ini sudah bisa pulang, semoga tidak ada lagi rasa sakit setelah ini,” ucap Ngarsinah lembut, wanita itu tampak sibuk mengemas barang-barang yang akan dibawa pulang oleh Rangga. Walau Ngarsinah bukan istri Rangga, tapi entah kenapa wanita itu merasa tidak tega meninggalkan papanya si kembar itu di rumah sakit. Ningsih tidak bisa menemani putra nya dirumah sakit karena dia juga harus merawat si kembar. Mereka tidak pernah mempercayakan penuh Arya dan Arista kepada pengasuh atau asisten rumah tangga mereka, Boby menjadi sibuk karena harus menggantikan posisi Rangga selama putranya itu sakit. 


Tomy yang menjadi asisten pribadi Rangga berubah menjadi asisten Boby, dan yang paling nyaman bagi Rangga menunggunya di rumah sakit adalah Ngarsinah. Rangga juga merasa aneh ketika Ngarsinah jauh darinya entah dari mana asalnya rasa sakit itu membuatnya sering meringis menahan rasa. 


Jika malam hari Ngarsinah meminta Yuni menemaninya tidur di rumah sakit, tidak sekalipun gadis itu meninggalkan sholat malam 


Kepulangan Rangga disambut tawa bahagia si kembar, selama sang papa dirawat, mereka tidak diijinkan untuk datang menjenguk, Ningsih tidak ingin cucu-cucu nya berada di tempat yang banyak orang sakit. Seperti itulah Ningsih menjaga si kembar. 


"Papa, dedek kangen …!" Teriakan si gadis kecil yang langsung lari berhamburan ke pelukan sang papa. Rangga jongkok mensejajarkan tubuhnya dengan sang putri. 


"Haayy princess nya papa, iya papa juga kangen," sahut Rangga yang dengan cepat menenggelamkan putrinya kedalam pelukan hangat duda keren iti. Arya berdiri di belakang sang adik, tangan dilipat depan deda. Pria kecil itu seakan kurang senang dengan perlakuan papanya yang hanya menyambut kembarannya. 


“Heey boy, ayo kesini, jangan marah gitu dong.” Rangga dengan cepat meraih tubuh mungil milik putranya dan merangkul kedua bocah kembar itu dalam pelukan hangatnya. 

__ADS_1


Kedua bocah itu ramai bercerita dengan berbagai peristiwa yang mereka alami selama papanya dirawat dirumah sakit. ayah dan anak itu menuju ruang keluarga, kehangatan kembali menghiasi rumah besar itu. Ngarsinah membawakan air untuk Rangga, wanita itu hanya bisa tersenyum mendengar celotehan bocah kembar yang pelan tapi pasti sudah menguasai ruang hatinya. Saras kembali ke dapur membantu Ningsih dan bibik untuk menyiapkan hidangan makan siang, Ningsih bersikeras menahan Saras untuk tetap berada di rumah itu setidaknya sampai sore. 


Saat dia melewati kamar yang berdekatan dengan ruang makan, wanita cantik itu sempat berhenti dan mencium aroma aneh seperti bau kemenyan, dan itu sangat menusuk hidungnya. Sesaat Ngarsinah terdiam dan menduga-duga. 


‘Apa ini? apa yang sebenarnya sudah terjadi di rumah ini? apakah ibu mengambil jalan yang salah? Astaghfirullah, apa yang harus aku lakukan?’ monolog Ngarsinah dalam kebingungannya, berbagai pertanyaan memenuhi kepala dan benaknya. Ingin dia bertanya tapi takut hal itu akan menyinggung Ningsih dan Rangga. 


“Arsi, kamu kenapa kok ngelamun di depan pintu?” tanya Ningsih lembut, wanita itu selalu memiliki pandangan dan senyuman yang membuat siapapun akan sejuk saat melihatnya. 


“Eh, nggak papa bu, anu itu hmmm …” Ngarsinah bukan orang yang bisa menahan perasaan keingin tahuannya, apalagi menurutnya kemaren Rangga sakit yang tidak wajar, sehingga dokter pun tidak bisa menemmukan penyakitnya. 


“Arsi, bilang aja ada apa?” tanya Ningsih lagi sedikit mendesak wanita yang sudah dipanggil mama oleh kedua cucunya itu. 


“Ah masa iya? ibu kok nggak tau ya, apa Arsi merasakan sesuatu yang aneh?” tanya Ningsih serius, wanita itu menggandeng tangan Ngarsinah untuk duduk di salah satu sofa yang ada di bawah tangga. 


Ngarsinah berpikir cepat, dia tidak ingin mempertaruhkan nyawa atau kesehatan Rangga untuk hal yang di luar nalar itu. Pelan-pelan gadis itu menceritakan kejadian-kejadian aneh yang menimpa Rangga sehingga dokter pun tidak bisa menemukan apa penyakit pria tamban berstatus duda itu.


Ningsih menyimak semua yang dikatakan oleh Ngarsinah, Tiba-tiba Ningsih teringat dengan kedatangan Monic dan seringnya Betty mampir kerumahnya walaupun Rangga sedang tidak dirumah. Sejauh ini keluarga menyembunyikan informasi tentang Rangga yang masuk rumah sakit, Ningsih selalu mengatakan Rangga sedang di luar kota. 

__ADS_1


Kecurigaan Ningsih jatuh kepada Monic dan Betty, beberapa saat yang lalu, hati Ningish selalu teringat akan Monic dan Betty, bahkan wanita paruh baya itu sering memimpikan mereka berdua. 


“Ibu, saya pernah dinasehati oleh ustadz yang mengajarkan kami mengaji di kampung, ketika ada sihir yang sedang menguasai kita, jangan pernah meminta bantuan orang yang juga melawan sihir dengan sihir, tapi penawar itu sesungguhnya ada pada diri sendiri dan ibu kita jika masih ada. Membacakan doa, sholat tahajud, membacakan ayat-ayat ruqyah. Ridho ibu, itu Ridho nya Allah, maka obat mas Rangga itu sebenarnya ada pada ibu,” jelas Ngarsinah panjang lebar, bukan bermaksud untuk mengajari, tapi gadis itu bermaksud membagi ilmu dari apa yang sudah dia dapatkan. 


Setelah puas bercakap-cakap, mereka berdua menuju meja makan, kedua bocah itu sudah heboh memanggil nenek dan mamanya untuk segera bergabung makan bersama mereka. 


Rangga memperhatikan Ngarsinah yang mengambilkan makan di piring putra dan putrinya, setelahnya pria tampan pemilik perusahaan besar itu dengan sengaja memberikan piring kosongnya kepada Ngarsinah, gadis itu dengan paham mengambil dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauknya. 


Selesai makan, Rangga masih betah berada di meja mekan, kedua bocahnya sudah berhamburan untuk kembali bermain di ruang keluarga, Rangga tiba-tiba saja menahan tangan Ngarsinah yang bersiap untuk berdiri. Dengan tatapan yang entah, Rangga membuat Ngarsinah salah tingkah. 


 “Menikahlah denganku, dan jadilah masa depan untuk ku,” ucap Pria itu dengan tatapan yang penuh makna, Ngarsinah terkesiap mendengar permintaan atau pernyataan dari Rangga. Ningsih yang mendengar hal itupun kaget dibuatnya, apakah putranya sedang bercanda? itulah yang ada di dalam benak ibundanya Rangga itu. 


“Ma-maksud mas apa?” tanya Ngarsinah kebingungan, dia baru saja selesai dengan urusan masa lalunya, dan belum lagi masa iddah selesai dia lewati, kini sudah ada yang mengatakan atau lebih tepatnya mengajak dia untuk menjadi masa depan seseorang.


“Dia milikku, bukan milikmu!”


❤️❤️❤️

__ADS_1


Naah Rangga mulai gercep nih, itu siapa sih yang mengganggu orang aja 🤔.


Pemirsaahh maaf ya, othor malem baru bisa up, seharian tadi rempong nyari sekolah anak, semoga tetap setia ngikutin si jandul ya, yuuuk bom Like nya, komen, vote dan hadiahnya ya, tengkyuuuhh pemirsa ❤️❤️🌹😘😘


__ADS_2