Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 123: Kekuatan Keluarga


__ADS_3

Semua orang yang berada di kamar kembar junior tertawa melihat apa yang dilakukan oleh Arya. Dan tanpa disadari Ngarsinah, wanita itu kini sudah bisa tersenyum dan tidak bersedih lagi. Kekuatan kasih sayang keluarga memang obat paling luar biasa manjur untuk menyembuhkan duka lara. 


Waktu berjalan, semua para tamu dan tetangga yang tadinya memenuhi rumah Rangga dan Arsi sudah pulang ke alamnya masing-masing. Kini tinggallah suami istri itu berdua dalam kamarnya. Untuk sementara kembar junior tidur bersama mereka karena masih sering bangun untuk menyusu, Ngarisnah tampak lelah karena memang seharusnya dia masih belum boleh pulang, tapi memaksa untuk bisa pulang dan mengikuti acara pemakaman anaknya. 


Rangga ikut terbangun setiap Arsi bangun, Pria itu sungguh suami idaman para wanita, karena selalu siaga setiap saat. Alino bangun dari tidur lelapnya sepertinya popoknya sudah penuh, dan karena suara tangisan si jagoan sangat berisik dan akhirnya Alina pun terbangundan ikut menangis. 


“Sepertinya mereka ini kompak sekali mas, kakaknya nangis si adik gak lama pasti ikutan.” Ucap Ngarsinah yang masih berat matanya tapi harus bangun untuk memeriksa keadaan bayinya. 


“Alina Bangun karena berisik sayang, Alino suaranya kenceng banget. Aku aja sampai berdenging telinga ini pas dia nangis.” Sahut Rangga yang kini sudah mengangkat bayi laki-laki berparas menggemaskan itu. Tangisannya berhenti saat Rangga mengangkatnya dan meletakkannya pada meja untuk berganti pakaian.


“O … kamu lagi poop ya Al, bentar ya sayang.” Ucap Rangga dengan telatennya membersihkan si bayi, sementara Ngarsinah mengganti popok si gadis mungil yang kini senyum-senyum dengan lidah yang melet-melet seakan sedang mencari sesuatu yang dia sukai. 


Setelah mengganti popok, Ngarsinah pindah duduk di kursi untuk menyusui. Dengan semangat Alina menghisap air yang membuat perutnya kenyang. Tidak lama gadis mungil itu pun tertidur pulas, Kini gantian si tampan yang akan menyusu. Dengan sabar Ngarsinah memberikannya kepada sang putra, Rangga membereskan semua yang tadi sudah kotor dan membuatkan susu untuk ibu menyusui dan memberikannya kepada sang istri. Sungguh pemandangan yang membahagiakan hati, melihat pasangan yang kini semakin bahagia itu.


“Sayang, kamu lelah banget. Tidur yuk, mereka sudah pules lagi tuh,” ajak Rangga. Ngarsinah mengangguk dan tersenyum tipis, wajahnya yang pucat membuat dirinya sedikit merasa lelah. 


“Mas, kita belum memberikan nama untuk anak kita yang sudah di surga. Apakah mas sudah nyiapin namanya? Tanya Arsi yang kini sudah berada di dalam selimut. 


“Astaghfirullah, iya sayang mas sampe lupa. Sebenarnya sudah mas siapkan, apa kamu akan setuju?” Tanya Rangga dengan tatapan penuh cinta kepada sang istri. Kini mereka tidur berhadapan dan tangan Rangga mengusap lembut pipi sang istri. 


“Setuju aja mas, siapa namanya mas? Besok aku akan pesan nisan yang bagus untuknya.” Jawab Ngarsinah lembut. 


“Alif.” Jawab Rangga singkat dan membuat senyum Ngarsinah terkembang sempurna.


“Maasya Allah aku suka mas, dan besok kita pesan nisan dengan nama dia ya mas?” Tanya Arsi. 

__ADS_1


“Iya sayang, aku berharap kamu tidak lagi bersedih dan mengikhlaskan Alif berada di dalam surga. Kita akan merawat kakak-kakaknya dan akan mengajarkan mereka untuk selalu mendoakan adiknya.” Ucap Rangga dan mendaratkan kecupan hangat di kening sang istri. 


Malam merangkak semakin larut dan membuat semua orang yang menikmati tidurnya terlelap dalam mimpi masing-masing. Arsi dan Rangga pun semakin hanyut dalam keindahan tidur malam mereka. 


*****


Sebulan sudah berlalu, dan kini kehebohan Yuni dan Bram membuat Arsi akhirnya turun gunung untuk datang ke kedai dengan membawa 4 orang anaknya. Rangga sudah kembali beraktifitas seperti biasa, setelah 2 minggu cuti demi mendampingi istri dan anak-anaknya. 


“Maasya Allah rombongan datang ya, ini ponakan-ponakan tante juga ikut semua.” Sambut Yuni heboh dan mengabsen pipi mereka satu persatu. Arya dan Arista yang sudah merasa rindu dengan rumah sang mama, langsung berlarian masuk ke dalam rumah yang sepi. 


“Mama, kemana mbak-mbaknya yang biasa bikin kue?” Tanya Arista dengan wajah bingungnya. 


“Mereka ada di pantry khusus tempat produksi kak Ita, jadi disini sekarang khusus buat kedai dan rumah tante Yuni. Jawab Arsi. Wanita itu dengan sabar memberikan penjelasan kepada anak-anaknya, kalau pantry mereka yang sangat besar itu sudah jadi. 


“Tante mau pulang kampung?” Tanya Arya heran. 


“Nggak dooong, tante mau pindah ke rumah tante dan om Bram. Masih di komplek sini kok kak,” Sahut Yuni ceria. 


“Looh tidak … tidak! Tante tidak boleh tinggal satu rumah dengan om Bram. Itu dosa namanya,” Sambar Arista dengan wajah serius. 


“Loh dosa kenapa dek?” Tanya Yuni bingung. 


“Tante, jangan panggil dedek lagi. Sekarang Arista sudah naik pangkat jadi kakak, jadi tante manggilnya kakak Ita.” Jawab Arista sok dewasa. Hal itu membuat Yuni garuk-garuk kepala dan tak lama tangan wanita itu mencubit pipi gembul sang gadis kecil yang baru naik pangkat itu. 


“Waahhh tante Yuni ketinggalan berita nih, orang kalo naik pangkat itu biasanya traktir makan kakak Ita. Ayo sekarang kalian berdua traktir tante makan bakso,” Ucap Yuni senang dan entah mengapa liurnya seakan menetes mengingat kuah bakso yang segar.

__ADS_1


“Heeemmm boleehh, tapi kakak Ita lagi gak bawa uang tante. O … kita pinjam sama kak Boy aja,” ucap Arista senang dengan ide cemerlangnya. Yuni bingung dengan nama Boy, siapa lagi itu? Apakah supir baru mereka? Seperti itulah yang ada di dalam kepala sang tante. 


“Siapa kakak Boy?” Tanya Yuni bingung menghadapi kedua ponakan yang lama mereka tidak saling bertemu. 


“Kakak Arya dong tante, Sekarang tante panggilnya kakak Boy.” Sahut Arista yang menjawab, sementara yang ditanya hanya tersenyum cool saja. Arsi yang sedang menyusui anak-anaknya hanya tersenyum bahagia melihat ulah kocak sang anak dengan tantenya.


“Waaahh kalian bener-bener makin keren ya. Menang banyak hari ini tante bakal di traktir sama kakak-kakak nya si kembar junior,” seru Yuni sambil bertepuk tangan dan kembali mencium pipi keponakannya. Tapi Arya segera menghapus pipinya dengan kesal. 


“Kak Boy udah besar te, jangan cium-cium pipi gini. Nanti harga diri kakak jadi lemah,” ujar Arya dengan bahasa yang lucu. 


“Harga dirinya turun kali kak, bukan lemah.” Ucap Yuni dengan tangan jahilnya yang menoel pipi tembem sang cowok kecil yang tampan itu. 


“Tante … kakak Ita sampe lupa tadi kan kita bahas soal dosa. Tante sama om Bram kan belum menikah, jadi nggak boleh ya tinggal sama om Bram.” Nasehat Arista dengan gaya sok dewasa. Yuni tertawa ngakak melihat gaya sang keponakan yang sangat menggemaskan. 


“Iya ustadzah ku tercinta. Kan tante tanggal 2 bulan depan akan menikah dengan om Bram,” Jawab Yuni. Gadis itu tidak lupa menggoda Arista dengan panggilan ustadzah, karena memang gadis itu sedang meniru gaya orang yang sedang berceramah.


“Horeeeeyyy … Berarti di perut tante juga sudah tumbuh bayi?”


❤️❤️❤️


Bayi kok tumbuh ya kakak ita? 🤔🤔😆


Yuukkk like, komen, vote dan hadiaahhh, subscribe juga ya pemirsaahh.. tengkyuuuhh


❤️❤️❤️🤔🤔😆🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2