Janda Mandul

Janda Mandul
S2 Bab 2: Samira


__ADS_3

“Samira ….”


Tatapan David tertuju pada seorang wanita yang masih diingat dalam pikirannya, ada sedikit ragu tapi wanita itu sangat mirip dengan orang yang pernah dia kenal.


“Kenapa dia ada disini? bukannya dia di Belanda? Apa yang terjadi padanya?” Gumam David lirih dan hanya dia yang bisa mendengarnya. Samira adalah sepupu jauh David yang dulu pernah menjadi cinta monyet pria itu.


Samira hanya menganggap David kakak dan saudara tidak lebih dari itu, tapi David tidak bisa mengendalikan hatinyanya yang sudah tumbuh rasa cinta. Rasa penasaran membuat dirinya tidak bisa menghentikan kaki jenjang itu untuk melangkah mendekati wanita yang sibuk menenangkan bayinya.


“Samira,” sapa David ragu. Wanita itu mengangkat wajahnya, mata merah berair dan bengkak itu kini beradu pandang dengan sepasang netra kebiruan milik David. Benar, ternyata wanita yang ada di hadapannya adalah wanita yang pernah menjadi cinta monyetnya di saat mereka masih tinggal di Belanda.


“Ka-kak David? benarkah ini?” Tanya Samira tidak percaya, wajah David memang tidak banyak mengalami perubahan, sehingga membuat Samira mudah mengenali pria tampan di usaianya yang semakin matang. David mendudukkan dirinya di sebelah Samira, pria itu tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memeluk wanita yang tampak rapuh itu.


“Samira … apa yang terjadi? sejak kapan kamu disini? dimana suamimu?” Tanya David beruntun. Samira mengusap sisa air mata yang masih menggenang di kedua pipinya. Wanita itu masih berusaha menenangkan bayinya yang masih terus menangis dan merasa risih dengan rangkulan David, Samira pun melepas pelukan itu.


“Kak, satu-satu kalau bertanya. Aku menikah dengan orang sini kak, suamiku bernama Toni, dia orang yang baik walaupun keluarganya kurang bisa menerima aku. Mas Toni baru saja meninggal kemarin dan putri ku masih harus dirawat disini karena sakit. Hari ini aku membawanya keluar karena diijinkan oleh dokter, untuk menjemurnya. Aku tidak tau akan kemana kak, aku rasa lebih baik aku kembali pulang ke Belanda.”

__ADS_1


Penjelasan Samira membuat David merasakan sesak di dadanya, saat dia mengalami hal yang berat dan tidak dia harapkan  dan kini Allah memberikan sebuah kenyataan bahwa ada orang yang kehilangan suaminya. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, seperti itulah pikiran David.


“Apakah kalian sudah punya rumah sendiri?” Tanya David. Pria itu tidak akan membiarkan Samira hidup susah, karena mereka masih terikat sebuah tali persaudaraan.


“Kami belum sempat membeli rumah kak, selama menikah ini kami tinggal dengan mertuaku. Maka dari itu lebih baik aku pulang ke rumah mama, disana mungkin aku bisa bekerja sambil membesarkan anakku. Kak David sedang apa disini?” Tanya Samira yang sudah mulai tenang. Bayi cantik itu pun kini sudah tidak menangis lagi, tatapan bayi itu terus saja mengarah kepada David dan sesekali David juga mengajak bayi itu berinteraksi.


“Jika kamu mau, tinggalah di rumahku, aku akan mengatakannya pada Fatim istriku untuk menerima kamu di rumah kami. Istri ku sedang sakit dan aku tadi berniat untuk mencari udara segar. Allah mempertemukan kita lagi disini,” Jawab David enteng. Pria itu tidak berpikir panjang, apakah benar istrinya akan bisa menerima Samira?


Obrolan kedua saudara jauh itu terus berlangsung, sementara di kamar pasien Fatim sudah merasa lebih tenang sekarang. Dia siap untuk menghadapi hari esok, tidak sedikitpun dia menggantungkan harapan kepada David sang suami yang hanya sebagai manusia biasa. Harapan Fatim secara penuh digantungkan pada sang pencipta yang maha membolak balikkan hati.


“Mas David kemana? iisshhh sakitnya … dia mungkin kecewa dengan keadaanku, tapi sebenarnya aku pun ingin dia disini menguatkan ku.”


fatim hanya bisa bertanya dan menjawab sendiri, karena di ruangan ini dia hanya sendiri. Tangannya meraih benda pipih yang tergeletak diatas nakas, orang yang ada dalam pikirannya saat ini adalah Arsi. Tangannya dengan cepat memilih nama yang ada di list panggilan, kini panggilanun terhubung.


“Hallo Arsi, aku sekarang di rumah sakit,”

__ADS_1


“......”


“Aku tunggu ya Arsi, nanti saja ceritanya kalau kamu sudah disini.”


“.....”


Panggilan singkat itupun terputus, ada rasa lega dan senang di hati Fatim saat mendengar jawaban dari sang sahabat kalau sebentar lagi wanita itu akan datang. Fatim sangat butuh dihibur dan dikuatkan saat ini, tapi dia pun harus mengerti dengan David yang mungkin sedang kecewa sekaligus sedih.


Beberapa puluh menit berlalu, di koridor rumah sakit nampak Arsi jalan tergesa dengan paper bag berada di tangannya, setelah bertanya dengan suster dimana kamar Fatim, wanita cantik itu pun kembali melangkah dengan tergesa.


“Ehh … bukannya itu David? kenapa malah bersama wanita lain?”


\~\~\~\~\~


Haaiisshhh David ini bisa-bisa cinta monyet bersemi kembali nih. semoga aja nggak begitu ya pemirsa, ikuti terus kisahnya yaaa…

__ADS_1


Yuuk like, komen, vote, subscribe dan hadiah yaaa. tengkyuuh pemirsahh.


__ADS_2