
“Iya seben–Aaaakkhhhh!” teriakan Ngarsinah dari arah dapur di barengi dengan suara yang keras.
Brruuaakkk!
Ngarsinah terpeleset oleh minyak yang tanpa sengaja tadi jatuh saat Arista menuang ke dalam gelas yang berisi bubuk susu. Wanita itu jatuh terlentang dengan kepala yang membentur lantai. Kedua bocah itu terkejut dan melangkah buru-buru ke arah suara.
Melihat wanita yang mereka sayangi tergeletak dengan darah yang mulai mengalir dari kepala membuat keduanya panik dan yang duluan menangis sudah tentu Arista.
“Mama … Tante … banguun huuuuhuuu!” teriakan mereka berdua bersahutan memanggil Ngarsinah dengan panggilan mereka masing-masing. Kedua bocah kecil itu bingung harus melakukan apa.
"Kakak kita harus gimana? Hiks …" tanya Arista kepada sang kakak. Arya pun sudah mulai meneteskan air matanya, pria kecil itu tampak sedang berpikir apa yang harus mereka lakukan.
"Telpon papa dek," itulah yang pertama kali diingatnya. Arista mengangguk dan berlari ke arah kamar Ngarsinah yang sudah sangat dia hafal tata letak barang-barang sang tuan rumah.
Tangan kecilnya mencari benda pipih itu di dalam tas milik Arsi yang ada di nakas. "Maafin dedek ya ma, sudah lancang bongkar tas mama," monolog gadis kecil itu, dan dengan mata berbinar akhirnya dia mendapatkan apa yang dicari. Dengan cepat gadis mungil berwajah imut yang kini pipi gembulnya sudah basah karena air mata, melesat keluar kamar untuk memberikan ponsel Ngarsinah kepada sang kakak.
"Kakak, ini ponselnya mama, kakak aja yang buka ya, buruan kak telpon papa!" Seru gadis itu setelah nyerocos seperti biasa. Arya tak banyak bicara, pria kecil yang cerdas itu dengan cepat membuka layar. bersyukur ponsel itu tidak di kunci, dengan mudah mereka berdua bisa menggunakannya.
Arya dan Arista memang sudah dibiasakan menghafal nomor telepon papanya, jadi kapanpun mereka bisa menghubungi sang papa jika terjadi hal darurat, seperti saat ini
Setelah menekan nomor telepon sang papa, Arya melakukan panggilan, tapi sayang tidak juga diangkat. Berkali-kali kedua bocah itu melakukan panggilan tapi hasilnya tetap sama, sampai mereka mendengar suara mobil yang berhenti di luar rumah, lalu suara pagar yang di buka.
"Kakak, itu papa!" Pekik Arista dengan wajah penuh harap dan meminta persetujuan sang kakak untuk mereka menuju ruang tamu.
__ADS_1
Arya sepakat dengan adiknya, mereka berdua berlari menuju ruang tamu dan mengintip dari jendela. Benar saja, papa mereka sedang memasukkan mobil ke halaman rumah. Dengan semangat kedua bocah itu memukul-mukul jendela karena kunci nya tidak ada di daun pintu. Tapi mereka melupakan satu hal, sang papa belum keluar dari mobilnya.
Kedua bocah kembar sepasang itu saling tatap dan tiba-tiba mata mereka membulat penuh kekhawatiran. Mereka berdua menyadari satu hal, Ngarsinah sendirian dengan kondisi berdarah di dapur dan tidak satupun dari mereka yang menemaninya..
"Mama!"
"Tante!" Pekik kedua bocah kecil itu bersamaan dan kembali ke arah dapur. Sementara sang papa dirasa mereka sangat lama sekali, hal ini membuat Arya panik.
Mereka yang kini sudah ada di sisi kiri dan kanan tubuh Ngarisnah, tubuh itu masih sama seperti saat mereka tinggalkan kedepan tadi, tidak bergerak. Arya menggoyang tubuh wanita yang dia sayangi itu.
“Tante bangun … kakak takut te,” kini bocah laki-laki itu pun ikut menangis.
"Mama bangun ma, jangan tinggalin kami," teriak Arista mulai histeris. Tapi tidak mampu membangunkan Ngarsinah yang masih terbujur lemah tak sadarkan diri.
Darah semakin banyak keluar dan sudah pasti membuat kedua bocah itu semakin takut. Dengan langkah kecilnya Arya kembali menuju pintu, dan ternyata Rangga sudah berada disana. Arya menyibakkan gorden penutup jendela dan memukul-mukul jendela kaca berteralis itu.
"Dek tau kunci pintu nya dimana?" Tanya Arya berteriak.
"Nggak tau kak! Hiks …" Jawab Arista tak kalah berteriak, gadis itu itu masih belum berhenti menangisi Ngarsinah yang masih setia dengan tidurnya.
Rangga memasuki halaman rumah Ngarsinah, lelah rasanya dia menahan kesal karena macet yang membuatnya lama sampai. melihat sepatu anak-anaknya ada di teras membuat pria itu tenang, ‘Pasti mereka sedang bersenang-senang di dalam’ gumam Rangga dalam hati. Dia tekan bell yang ada di dekat daun pintu dan berusaha mengintip kedalam, tidak ada sahutan tapi sayup-sayup dia mendengar anak-anaknya menangis.
Merasa tidak sabar pria tampan itu pun menggedor daun pintu, tidak lama muncul wajah anak-anaknya yang sudah dalam keadaan menangis dari balik jendela. “Kakak buka pintunya!” perintah Rangga tapi tidak dimengerti oleh kedua anak nya.
__ADS_1
‘Mungkin jendela ini terlalu tebal kacanya,’ gumam Rangga dalam hati. Pikiran Rangga mulai panik, ‘Apa Arsi menyiksa kedua anaknya sampai mereka menangis? awas kamu Arsi aku tidak akan melepaskanmu!’ geram Rangga dalam hati.
Kedua anak itu tidak berhenti menangis, tapi yang Rangga bingung kenapa Arsi tidak kunjung keluar dan membuka pintunya, apakah wanita itu mengurung kedua bocah itu di dalam rumah. Rangga masih terus berprasangka buruk terhadap Ngarsinah. Tidak ada pilihan, dengan cepat dia mendobrak pintu dengan membenturkan tubuh kekarnya.
Entah sudah berapa kali pria itu mendobrak pintu, dan akhirnya usahanya membuahkan hasil.
Braaaakkkk!
Pintu itu terbuka dan membuat bocah kecil yang tadi menjauh dari pintu saat mereka mengerti papanya sedang mendobraknya. Begitu Rangga masuk, mereka berdua langsung berhamburan memeluk kaki ppanjang milik sang papa.
“Papa tolong mama pa, mama berdarah!” pinta Arista yang bicara sambil menangis kejer. Arya yang selama ini jarang menangis, kini dengan pilu menangisi sang tante yang tidak sadarkan diri.
“Ayo pa, tante di dapur, kepalanya berdarah.” teriak Arya yang membuat pria itu tersadar dari keterkejutannya dengan apa yang barusan di sampaikan oleh putri kecilnya.Mereka bertiga dengan terburu-buru masuk kedalam rumah yang sedikit berantakan, dan sudah di pastikan itu adalah ulah dari kedua bocah usia lima tahun itu.
“Arsi! ya Allah kamu kenapa!” Rangga berteriak panik melihat darah yang menggenang di sekitaran kepala gadis cantik yang tidak menggunakan hijab itu. Dengan cepat Rangga mengangkat tubuh ramping yang berbalut gamis rumahan berwarna biru muda dan sudah mulai basah bagian pundaknya oleh darah.
"Dedek, ambil tas kerja mama, cepat! Kita harus kerumah sakit." Arista dan Arya masuk ke dalam kamar Ngarsinah dan dengan mudah kedua bocah itu mengambil tas milik wanita yang sangat mereka cintai.
Mobil Rangga melaju dengan kecepatan tinggi, beruntung rumah sakit tidak terlalu jauh. Tadi saat dia berangkat pintu hanya di tutup begitu saja, pagar yang dia gembok dan tidak tau dimana kuncinya dimana.
“Kami nggak mau papa dekat sama tante sihir itu!”
❤️❤️❤️
__ADS_1
Mohon doa nya ya gengs untuk kesehatan Arsi, dan naahh looo Rangga, si kembar sudah bersikap.
Yuukk kasih jempolnya gaaess, komen, vote dan hadiah nya yaahh. tengkyuuhh pemirsa ❤️❤️🌹