
Arya menghadang langkah sang papa yang nampak sangat bahagia sedang menuju ke tempat duduk sang mama.
"Waduuh pengantennya udah nggak sabar tu …" celetuk salah satu tamu, dan akhirnya menjadi ramai karena saling bersahutan. Langkah Rangga terhenti karena sang putra yang merentangkan tangan di depan Ngarsinah.
"Kenapa kak? Papa mau jemput mama untuk duduk disana," tanya Rangga dengan pandangan kesal kepada sang putra, jari tangannya menunjuk kursi yang sudah tersedia di tempat dia mengucap akad tadi.
"Papa mau ngapain bawa mama ke depan? Awas ya papa pegang-pegang mama," tanya Arya dengan tatapan tajam, dia tidak ingin sang papa memegang mamanya.
"Loh … loh, papa sekarang sudah boleh megang mama kak, kan tadi sudah akad. Ayolah kak, nanti pak penghulunya keburu ngantuk kalo nungguin papa dan mama."
Rangga sungguh merasa tidak nyaman dengan penghulu, tapi di ujung sana, sang penghulu justru sedang menikmati drama lucu antara anak dan bapak itu. Dengan susah payah Rangga memberikan penjelasan dan akhirnya Arsi boleh di bawa ke depan oleh Arya dengan syarat dia dan adik kembarannya harus ikut duduk juga di depan.
Sontak saja aksi itu membuat semua yang hadir tergelak bebas, mereka tidak menyangka si kembar akan melakukan perlindungan penuh kepada sang mama. Sesampainya di depan, akhirnya kursi pun di tambah oleh WO, agar kedua bocah lucu itu bisa duduk dengan nyaman dan tidak mengganggu jalannya proses penandatanganan dokumen pernikahan suami istri itu.
"Papa, kalau papa boleh mencium mama karena Papa salaman dengan opa penghulu, dedek akan ajak Theo untuk bersalaman dengan opa penghulu. Jadi nanti Theo bisa cium pipi dedek juga," ucapan polos Arista membuat wajah Arsi memerah malu, karena tadi dia melakukan kewajiban pertamanya kepada suami dengan mencium punggung tangan pria itu, lalu Rangga membalasnya dengan mencium kening Ngarsinah.
Geeerrrrr!
Seisi ruangan langsung ramai karena celotehan gadis kecil itu ternyata tertangkap oleh microphone yang sedang mode on, dan tergeletak di dekat Arista. Jadilah semua orang pun tertawa dengan kelucuan bocah kecil yang imut itu, Rangga menggaruk alisnya yang tiba-tiba saja gatal.
__ADS_1
Entah siapa yang diturun. Oleh putri kecilnya itu, kenapa dia sangat genit sekali. Rangga tidak habis pikir dengan apa yang baru saja terjadi, harus bangga atau malu dengan kepintaran berpikir sang putri, dia bingung dan tidak mampu mengeluarkan kalimat apapun demmi menanggapi apa yang diutarakan oleh sang putri tercinta.
"Dedek, nanti kalau sudah dewasa juga akan melakukan seperti yang mama dan papa lakukan, tapi bukan sekarang ya sayang."
Ngarsinah mengusap lembut kepala gadis kecil yang polos itu, Arista masih belum menyadari semua orang mendadak ribut karena ucapannya barusan. Penjelasan Ngarsinah mendapatkan jawaban berupa anggukan kepala gadis kecil itu. Arsi tersenyum lembut, wanita cantik yang cerdas itu ternyata lebih mampu menghadapi pertanyaan polos si kecil dibandingkan papanya sendiri yang kini mati gaya. Sampailah pada sesi foto, tidak ketinggalan si kembarlah yang memegang buku nikah kedua orang tuanya itu, sungguh foto pernikahan yang tidak biasa.
Prosesi pernikahan sudah selesai, saatnya para tamu memberikan selamat kepada sepasang suami istri itu. Hidangan dengan aneka macam masakan kini sudah terhidang, para tamu undangan dipersilahkan untuk makan.
Waktu beranjak siang, acara akan dilanjutkan saat malam hari nanti, resepsi yang sengaja dilaksanakan di hari yang sama dengan akad nikahnya, agar mereka berdua tidak membuang waktu. Rangga dan Ngarsinah sudah diarahkan oleh WO untuk beristirahat sampai nanti akan ada MUA yang akan merias kembali untuk acara Resepsi.
Kedua pengantin baru itu kini sedang berada di kamar pengantin mereka yang sudah dihias dengan sangat cantik, Saras tidak lagi menempati kamar yang tadi dia tempati bersama Yuni, dan sekarang di kamar itu entah sudah ada siapa saja, Ngarsinah tidak mau mengurusi hal itu, biarlah Yuni dan WO yang mengaturnya.
Ningsih dan Boby, segera mengamankan kedua bocah lucu itu agar tidak kembali cerewet dan rewel ingin bertemu dengan mamanya. Mereka sangat paham saat ini Rangga dan Ngarsinah butuh waktu untuk adaptasi, agar mengikis kecanggungan mereka berdua.
Rangga mengikuti langkah sang istri yang sangat pelan dan nampak ragu-ragu, Pria itu rasanya tidak sabar dan ingin sekali dia menyambar tubuh ramping itu dalam gendongannya dan meletakkan dimana tempat semestinya.
“Sayang, kenapa kamu jalannya lambat sekali?” tanya Rangga merasa tidak sabar melihat cara jalan sang istri, Ngarsinah yang sedari tadi disibukkan dengan pikirannya, terkejut dengan suara Rangga yang tiba-tiba.
“Eh, anu mas, nggak papa. Aku sedang mengagumi kamarnya. Indah sekali mas, ini pasti mahalkan mas?” tanya Ngarsinah yang berusaha keras menutupi kecanggungannya. Disisi lain ini adalah pertama kali dia melihat dan bahkan akan menempati kamar yang semewah ini.
__ADS_1
“Nggak mahal kok, kita nikmati saja, ini hari kita. Nggak usah mikir harga, kamu itu terlalu perhitungan untuk kebahagiaan diri sendiri sayang,” jawab Rangga yang sudah sampai di ranjang dan dengan santainya dia menghempaskan tubuhnya di kasur king size itu.
Dug!
Dug!
Dug!
Jantung Ngarsinah seakan melompat keluar melihat Rangga seperti itu, padahal pria tampan itu tidak melakukan apapun kecuali merebahkan diri, namun pikiran Ngarsinah mendadak random.
“Ekhem, maaf mas, aku bukan perhitungan. Mungkin karena selama ini aku nggak pernah ya menikmati uangku untuk membahagiakan diri, hehehe,” Ngarsinah tampak sekali salah tingkah, hingga ucapannya pun terasa asal saja. Rangga yang melihat istrinya seperti itu, merasa lucu.
‘Sayang kamu itu bener-bener polos ya, gadis kampung berhati bidadari. Polos dan menggemaskan, aku akan membuatmu mengetahui banyak hal Arsi,’ gumam Rangga dalam hatinya, pria itu menatap Ngarsinah yang berbalik badan dan menuju ke toilet. Senyum Rangga tersenyum bahagia, entah kenapa dia merasa ingin membuat Ngarsinah bahagia, pria itu tidak lagi memikirkan kekurangan Ngarsinah yang tidak bisa memberikannya keturunan.
Ketulusan hati wanita itu saja sudah cukup bagi pria yang sekarang sudah berubah status menjadi suami dari Ngarsinah. Rangga berniat untuk membersihkan diri, diapun mulai melepaskan sepatu, dasi dan semuanya hingga menyisakan boxernya saja. Pria tampan itu pun segera bersiap untuk masuk ke toilet. Enth lupa atau sengaja Rangga tidak bertanya apapun dan langsung saja memutar handle pintu kamar mandi, sementara Rangga tidak mendengar suara apapun dari dalam.
“Aaaaaaaakhh!”
❤️❤️❤️
__ADS_1
Haaduuhh kenapaa itu? 🤫🥸
Haayuukk mana ini jempoolnya pemirsa, komen yang rame ya, siap-siap malemnya ke resepsi Rangga dan Arsi, vote dan hadiah jangan lupa ya, tengkyuuuh pemirsa ❤️❤️❤️🥰🌹🌹🌹