
Sarah yang mendapatkan kalimat vulgar itu sontak memerah wajahnya, bagaimana calon suaminya ini bicara tanpa memikirkan siapa lawan bicaranya. Sarah memalingkan wajahnya, tapi Jack malah salah paham, dia mengira Sarah menolaknya untuk melayaninya nanti malam.
“Sarah, kenapa kau berpaling? Apakah kau tidak mau melayani ku nanti malam?” Tanya Jack dengan ketus. Sarah yang mendengar suara datar dan penuh tekanan dari Jack mendadak panik, dia tidak ingin membuat semuanya jadi berantakan dan berakibat buruk.
“Bu-bukan begitu tuan, tapi saya masih sakit. saya mohon anda mengerti tuan,” sahut Sarah dan menatap kedua netra Jack sekilas lalu menundukkan pandangannya. Rasa takut tiba-tiba menguasai hatinya. Jack menarik nafas dalam, sesaat dia teringat dengan nasehat Rangga.
“Abang, jangan kasar terhadap wanita. Mereka menyukai kelembutan, dapatkan hatinya maka dia akan membuat dirimu menjadi dunianya. Jangan jadikan dia pekerjamu, tapi jadikan dia ratumu.” Seperti itulah nasehat Rangga.
“Maafkan saya Sarah, jangan takut begitu. Bisakah kamu bersikap manis kepadaku? jangan sampai nanti orang tuamu mengira aku memaksamu.” Ucap Jack pelan namun masih saja kaku.
‘Dia ini aneh, kenyataannya memang dia memaksaku. Aku tidak menerima penolakan, bukannya memang dia memaksa’ Gumam Sarah dalam hati, gadis itu bersungut-sungut melihat calon suaminya yang super aneh itu.
“Bagaimana maksudnya tuan?” Tanya Sarah. Bukannya tidak tau apa yang dimaksud oleh calon suaminya, tapi Sarah tidak ingin salah dalam bertindak.
“Hemm … Jangan panggil saya tuan, tapi panggil yang lain. Kata Rang–” Jack menghentikan kalimatnya. Jack baru sadar kalau dia harus menyembunyikan rahasia besarnya, yang berguru dengan Rangga. Mau ditaruh mana harga dirinya.
Sesaat mereka berdua diam, sampai suara supir mengatakan kalau sebentar lagi mereka akan sampai. Sarah sudah memikirkan dia akan memanggil apa kepada Rangga, ada rasa malu dan segan. Semua terlalu cepat baginya, hanya hitungan hari semuanya berubah.
__ADS_1
Sarah melihat ke jendela, desanya tampak berbeda. Seperti sedang kedatangan seorang selebriti, banyak warga yang menonton kedatangan mereka. Iring-iringan panjang seperti sedang pameran mobil mewah membuat semua warga desa takjub. Bisik-bisik tetangga pun terjadi, siapa pria yang akan menikahi Sarah. Itulah pertanyaan yang lebih banyak keluar dari mulut para warga, mobil pengawal yang berada paling depan kini sudah memasuki area parkir.
Rian dan seluruh anak buahnya sudah menyiapkan semua kebutuhan, lahan parkir dadakan. Lapangan olahraga yang biasanya digunakan warga untuk melakukan lomba 17an atau sekedar main voli atau olahraga lainnya. Pak RT juga sudah menggerakkan warga, untuk bahu membahu membantu hajatan mendadak ini.
Mobil Jack sudah terparkir di halaman rumah Sarah, disusul dengan rombongan lainnya. Setelah semuanya turun mobil-mobil mewah itu pun bergerak menuju parkiran. Sarah berusaha menutupi rasa sakit yang masih terasa di bagian punggungnya, gadis itu memang tangguh. Jack benar-benar merasa kagum dengan calon istrinya, berusaha tetap baik-baik saja walau rasa sakit yang mendera.
“Selamat datang tuan, silahkan masuk.” Sapa Sumi dan Mijo saling bersahutan.
“Hem, terima kasih sambutannya pak, bu.” Sahut Jack datar.
“Maaf bu, punggung Sarah lagi sakit. Kemaren nggak sengaja kena pinggiran meja, jadi ada luka sedikit.” Ucap Sarah berusaha memberikan pengertian. Jack melirik sesaat, senyum tipis membuat wajah datarnya menjadi tampan.
“Oalaah ibu pikir kamu udah gak sayang sama ibu nak,” Sahut Sumi dengan senyum terkembang dan mencium kedua belah pipi putri kesayangannya. Hal yang sama pun dilakukan oleh Mijo, melihat hal itu Jack sedikit maju dan menegur sang calon ayah mertua.
“Cukup pak, jangan mencium calon istri saya.” Ucap Jack pedas. Pak Mijo yang mendapati kalimat tidak enak dari sang calon menantu ingin sekali protes namun segera Rangga maju untuk menenangkan keadaan yang tiba-tiba saja horor.
“Bang, beliau ayahnya Sarah, jadi tidak masalah kalau menciumnya. tenang saja dia tidak akan merebut calon istri abang, hehehe.” ucap Rangga pelan namun masih bisa didengar oleh jack.
__ADS_1
“Baiklah, tapi cukup begitu saja pak,” Sahut Jack. Rangga menarik nafasnya lega. Pria dengan status empat anak itu merasa perlu memberikan ilmu lagi kepada Jack, jangan sampai nanti semua orang jadi ketakutan dengan sosok pria dingin berhati kejam itu.
Arsi juga mengambil bagian dalam memberikan penjelasan kepada Sumi, setelah rombongan mereka masuk kedalam untuk bersiap. Tim Make up mendapatkan perintah untuk tidak terlalu lama merias Saras, karena pria itu sudah tidak sabar untuk menikahi wanita yang dia inginkan.
Kini semua orang sudah siap, Jack tidak butuh waktu yang lama untuk bersiap. Tapi pria itu cukup gelisah menunggu pengantin wanitanya, semua tamu undangan pun sibuk berdecak kagum dengan calon suami Sarah. Gadis sederhana dan menjadi dokter, hal itu saja sudah cukup membuat warga tidak berani memandang remeh keluarga Sarah.
Saat Sarah keluar dari kamar, dan berjalan menuju kursi yang sudah disiapkan di belakang suaminya. Jack menatap Sarah dengan intens, mata pria itu tidak berkedip atau lebih tepatnya lupa untuk berkedip. Rangga menggoyang tangan Jack untuk menyadarkan dang abang angkat.
“Rangga, cepat suruh penghulu nya menikahkan kami. Aku mau sekarang juga,”
❤️❤️❤️
Sabaaarr bang Jack... 🤭🤭
hayuuukk like, komen, vote dan hadiahnya ya pemirsaah, jangan lupa subscribe ya. tengkyuuhh pemirsaahh.
❤️❤️❤️🤭🤭🤭🌹🌹🌹
__ADS_1