Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 57: Beli Telur Ya Mas


__ADS_3

"Maass, issh perusahaan mas itu udah gede, banget malahan, aku baru mau netes ini mas," rajuk Ngarsinah dengan bibir yang mengerucut. Rangga melihat hal itu langsung lepas tawanya. Pria itu merasa gemas dengan kebiasaan Arsi yang seperti itu, karena membuat wajahnya semakin cantik. 


"Ehem, duuhhh yang lagi mesra-mesraan, aku bakal jadi obat nyamuk nih. Arsi kamu dah pesen makan?" Tanya Yuni setelah menggoda dua sejoli dewasa itu. Arsi dan Rangga tersenyum saja mendengar protes dari sahabatnya. 


"Udah Yun, kamu pesen gih," jawab Ngarsinah dengan menyorongkan buku menu ke hadapan sahabatnya, Yuni sibuk memilih dan setelah itu dia pun menyelesaikan pesanannya.


Makan siang mereka terasa menyenangkan. Dan setelah itu mereka bubar, Rangga kembali ke kantor dan Arsi juga Yuni berencana kepasar untuk membeli semua kebutuhan pesanan perdana mereka.


"Sayang, kamu pake mobil aja ya, apa bisa belanja pake motor gitu?" Tanya Rangga dengan wajah khawatir kalau kekasihnya akan kesulitan saat belanja. 


"Hmm gak usah mas, biar aja kami pake motor, bisa kok … kan masih dikit belanjanya." Jawab Ngarsinah dengan tatapan meyakinkan kepada calon suaminya itu. 


"Bener ni? Ntar kalo kamu kerepotan jangan maksain ya, pake taxi aja bawanya. Oya sayang, ini bawa untuk kebutuhan kamu," Rangga tampak sangat mengkhawatirkan Ngarsinah. Yuni melihat sebuah kartu yang Rangga berikan kepada Arsi, matanya tiba-tiba saja berubah hijau. 


"Mas, aku masih bisa kok, kan aku baru aja terima gaji nih, terus tabungan kemaren juga masih ada. Jangan ya mas, aku nggak mau ngerepotin." Tolak wanita itu halus, itu bukan basa basi, karena Arsi memang sudah menyiapkan modal untuk usahanya itu. 


"Sayang, tolong jangan di tolak, aku nggak suka itu." Jawab Rangga dengan nada tegas tidak menerima penolakan sama sekali. 


Yuni merasa gemas dengan sikap Arsi. 'Duuhh sohib ku ini kok baik banget siih hati nya, ayolah Arsi ambil, ambil, ambil!" Omelan Yuni hanya sampai di tenggorokannya saja, gadis itu ngedumel di dalam hatinya dengan sikap sahabatnya itu. Baru kali ini dia melihat cewek nggak doyan duit. 


Ngarsinah yang menerima kartu, Yuni yang girang nggak kepalang. Wajah yuni sudah cerah ceria seperti mentari di musim kemarau, nalurinya sebagai cewek kalo ngeliat duit itu bisa mendadak hijau matanya ya gaes hahaha. 

__ADS_1


Mereka menyudahi pertemuan makan siang yang membuat kedua insan yang sedang di mabuk cinta itu bersemangat. Rangga merasa salut dengan Ngarsinah, biasanya wanita kalau di beri fasilitas tidak akan menolak, bahkan seringnya meminta. Tapi tidak dengan wanita yang kian hari makin cantik itu.


Kesederhanaan dan ketulusan Ngarsinah yang membuat Rangga yakin meminta wanita itu untuk menjadi kekasihnya. 


Waktu berjalan cepat. Kedua wanita yang tampak kesulitan membawa barang belanjaannya itu, tapi kebahagiaan, terlihat jelas di wajah mereka. 


Dengan susah payah Ngarsinah dan Yuni sampai juga di rumah mereka. Dengan gotong royong mereka menurunkan semua belanjaan yang tadi mereka beli, Ngarsinah yang membawa motor tampak kelelahan, sementara Yuni dengan keringat yang membasahi bajunya, itu sebagai bukti betapa lelah tubuhnya saat ini. 


Kedua wanita beda status itu dengan cepat membersihkan diri dan setelah rapi, dengan daster sebagai pakaian kebesaran emak-emak saat berjibaku di dalam rumah melengkapi dandanan mereka berdua. 


Satu bersatu mereka pilih apa saja yang tadi sudah dibeli, sebagian diletakkan pada rak bahan kue, dan sebagian masuk kulkas. 


"Haduuh gimana ini? Toko jauh pula ya? Mana kita udah capek Si," sahut Yuni yang memang sudah lelah dan malas sekali untuk keluar lagi. Jumlah telur yang dibutuhkan lumayan banyak, jadi harus beli di toko grosis agar dapat harga lebih murah. 


"Mas Rangga, aku telpon dia ya Yun, minta tolong," ucap Ngarsinah tampak senang wajahnya mendapatkan ide brilian. 


Dengan cepat Ngarsinah mengambil ponselnya, setelah mendapatkan persetujuan dari sahabatnya. Tidak butuh waktu lama, panggilanpun terhubung. Rangga ynag sudah bersiap untuk pulang dengan sigap menggeser tanda hijau di ponselnya. 


(Hallo sayang, kamu sudah sampai rumah?) Tanya Rangga setelah menyapa wanitanya. Rangga sedari tadi memang menunggu kabar dari wanita itu. 


"Alhamdulillah sudah mas, udah lumayan lama juga ini. Mas udah mau pulang?" Tanya Ngarsinah memastikan jadwal Rangga, wanita itu tidak ingin mengganggu urusan pekerjaan Rangga. 

__ADS_1


(Ini sudah mau pulang kok, kenapa sayang?) Tanya Rangga setelah menjawab pertanyaan Arsi. 


"Mas tolong beliin telor ya!" Pinta Arsi semangat, wanita itu merasa tepat waktunya untuk meminta bantuan kepada CEO perusahaan yang menggurita itu. 


Rangga yang mendengar permintaan wanitanya langsung menepuk jidat nya pelan, seumur-umur baru kali ini dia disuruh belanja sembako. 


(Sa-sayang, gimana kalo pesen online aja? Kamu perlu berapa kilo?) Tanya Rangga setelah terbata-bata berusaha bernegosiasi dengan sang calon istri. 


"Aku butuh tiga puluh kilogram mas, dan mas harus beli di toko grosiran, biar dapet harga miring mas. ntar mas bilang aja ini mau di jual lagi, pasti dikasih diskon sama pemilik tokonya," sahut Ngarsinah bersemangat, wanita cantik itu lupa saat ini sedang bicara dengan siapa. 


Rangga di seberang sana langsung terduduk kembali di kursi kebesarannya. Pusing tujuh keliling mendengarkan celotehan Ngarsinah yang sangat ringan mengarahkan dia untuk belanja telur. 


"Mas … mas? Kamu kok diem aja? Mas kenapa?" Pertanyaan Ngarsinah bertubi-tubi setelah wanita itu menyadari, bahwa sedari tadi dia bicara sendiri dan Rangga tidak menjawab atau sekedar menanggapi. 


Rangga tersentak kaget karena panggilan Arsi dan mendapatkan serangan pertanyaan bertubi-tubi. Harus menjawab apa dan harus belanja kemana. Pria itu hanya tau belanja di supermarket, nggak ribet dan bersih. 


(I-iya sayang, aku akan belikan, tenang aja aku sudah paham apa yang tadi kamu katakan. Cuma belanja gitu aja mah, keciiil!) Ucap Rangga jumawa, dia akan belanja ke supermarket bukan seperti yang tadi dijelaskan oleh Ngarsinah. 


"Alhamdulillah, semangaat ya mas, oya aku pinjem uangnya dulu ya," ucap Ngarsinah menyemangati pria tampan itu, dia sangat senang karena Rangga bisa melakukan apa yang dia minta.


"Maaass, kok mahal bangeet!"

__ADS_1


__ADS_2