
David
Pembicaraan dari kelompok Pawang uang semakin ngalor ngidul, tapi topik yang mereka angkat tetap saja tentang Ngarsinah.
kejadulan wanita cantik yang sederhana itu menjadi hal menarik untuk mereka bahas di siang hari ini.
Waktu berlalu begitu cepat, lembayung senja mulai menunjukkan keindahannya di ufuk barat.
Sang mentari siap tenggelam di peraduan dan akan digantikan oleh rembulan. Di kedua gedung perkantoran yang terpisah, kesibukan menjelang pulang kerja mulai tampak.
Di gedung pusat, Rangga dan Ngarsinah sudah berada di dalam mobil yang di kendalikan oleh Tomy, asisten pribadi sekaligus sahabat sang CEO.
Kendaraan itu berjalan dengan kecepatan lambat karena jalanan mulai ramai. Ngarsinah mengalihkan pandangannya ke arah jalanan yang ada disisinya, bingung harus bicara apa untuk melepaskan kecanggungan yang terjadi, itulah yang ada dalam pikiran gadis cantik yang selalu berpenampilan old fashion itu.
"Terimakasih pak atas kesempatan yang bapak berikan kepada saya, hari ini banyak sekali pelajaran dan ilmu yang saya dapatkan," Ngarsinah mulai membuka pembicaraan.
"Kamu pantas mendapatkan kesempatan itu Arsi, saya melihat potensi besar yang ada dalam dirimu, hanya sedikit polesan dan kesempatan maka kamu bisa menjadi seorang pebisnis handal," jawab Rangga santai, dan sebentar saja menoleh untuk menatap kedua netra gadis yang berada di sebelahnya.
"Anda terlalu berlebihan pak, saya selama ini tidak punya pengalaman apa-apa," sahut Ngarsinah hati-hati, dia tidak ingin membuat dirinya lupa diri karena sanjungan yang barusan diucapkan Rangga.
"Saya sudah lama berkecimpung dalam dunia bisnis Arsi, jadi melihat kemampuan dan potensi seseorang itu salah satu syarat untuk bisa berada dalam dunia bisnis yang kejam ini." Jawaban Rangga dirasa benar oleh Ngarsinah, gadis itu mengangguk.
"Pak, maaf bolehkah saya tolong di turunkan di kantor, saya mau ambil motor," pinta Ngarsinah masih dengan hati-hati saat menyampaikannya.
"Biarkan saja motor mu menginap, toh aman saja kan?" Ucapan Rangga adalah perintah yang tidak bisa di bantah, dan hal itu yang membuatku gemas dengan bos satu ini. Jangan sampai dia berpikir untuk menjeratku dalam keinginannya yang ingin selalu kami bersama.
__ADS_1
Kriiing!
Kriing!
Dengan cepat Ngarsinah mengambil ponselnya yang ada di dalam tas, panggilan dari nomor yang tidak di kenal, tapi Ngarsinah tidak ingin berprasangka apapun itu.
“Hallo selamat so–” belum selesai gadis itu menyapa orang yang ada di seberang sana sudah langsung memotong kalimat dari gadis itu.
[Arsi, aku akan membatalkan pernikahan kita, aku akan kembali padamu,] suara orang yang sangat ku kenal, David calon mantan suamiku itu entah kenapa dia ingin membatalkan perceraian kami.
“Mana bisa begitu, kamu sudah menjatiuhkan talak tiga, bahkan pernyataan tertulismu juga sudah di serahkan semua ke pengadilan agama. Secara hukum aga–” kembali suara keras itu memekakkan telingaku, dan seperti biasa dia selalu memotong kalimatku.
[Aku akan membuat pengadilan mengabulkan keinginanku, kamu tidak akan bisa lepas dari ku Arsi, ingat ka–” aku terkejut saat Rangga yang duduk disebelahku mengambil benda pipih itu dan memindahkannya ke telinganya.
“Arsi akan aku rebut dari mu, jangan pernah remehkan aku! dan kamu jangan pernah mengganggu wanitaku!” ucapan Rangga membuatku membulatkan mata tak percaya dengan apa yang baru saja dia ucapkan.
(Siapa kamu! Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku!) Suara David menggelegar di ruang pendengaran milik Rangga, pria itu sedikit menjauhkan benda pipih itu dari telinganya.
"Tidak perlu kamu tau, aku hanya ingin mengatakan Arsi milikku, dan aku paling tidak suka orang mengambil apa yang menjadi milikku, jika kau berkeras, aku akan membuatmu menyesal karena sudah berani memikirkan wanitaku,"
Klik!
Sambungan telepon diputus sepihak oleh Rangga. Pria itu memberikannya kepada ku dan memberikan kode untuk memasukkannya kedalam tas ku.
Tidak ada obrolan setelah itu, kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Masih seperti mimpi, gadis itu merasa di lindungi oleh Rangga dengan cara yang tidak biasa. Ngarsinah ingin segera sadar dari rasa yang membuatnya melayang ke udara, gadis itu tidak ingin berandai-andai. Antara dirinya dan Rangga hanya berteman dan hubungan antara karyawan dan bos saja.
__ADS_1
Mobil pun mulai memasuki halaman luas dengan bangunan bergaya eropa. Ngarsinah tidak ingin dibukakan pintunya oleh Rangga sehingga dia buru-buru membuka pintu dan menunggu Rangga mengajakknya masuk.
“Huuuaaaaa…. Huuaaaaa!” suara tangis Arista menggema memenuhi ruangan dengan tatanan perabotan yang begitu memanjakan mata. Tomy akhirnya memilih pulang dan membawa mobil Rangga. Jelas saja hal ini membuat Ngarsinah panik, Jangan bilang ini salah satu jebakan Rangga untuk dia tidak bisa pulang.
Setelah mengucapkan salam, Rangga mengajak Ngarsinah untuk masuk, tampak wanita paruh baya yang sibuk menggendong gadis kecil yang sedang histeris menangis di ruang tengah. Rangga menyuruh Ngarsinah untuk duduk dulu di sofa yang ada di ruang tamu, sementara pria tampan itu masuk kedalam yang diperkirakan Ngarsinah, duda beranak dua itu ke ruang keluarga.
Tangis Arista semakin parah, entah apa yang diinginkannya, Arya seperti biasa, tidak terdengar suaranya, mungkin dia sedang asik bermain.
Di dalam sana Rangga melihat Arista yang sudah tidak karuan bentuknya, hanya menggunakan singlet dan rambutnya acak-acakan sementara sang bude sudah kewalahan mengatasi gadis kecil yang terus saja memberontak.
“Syukurlah kamu segera datang Ga, mbak sudah kewalahan membujuk anak mu, semua serba salah,” keluh Gita kepada Rangga. “Mbak gita, maaf ya aku jadi ngerepotin, tadi sudah aku bilang dijemput sopir tapi mereka nggak mau, katanya mau main di rumah bude, naah sekarang malah begini.” Rangga berusaha menjelaskan usahanya untuk tidak merepotkan kakak sepupunya itu, tapi ya namanya anak-anak mereka tidak akan bisa konsisten.
“Huuuuaaaaa, Huuaaaaa! dedek gak mau sama papa!” teriakan gadis kecil yang menolak untuk digendong papanya, membuat Rangga kebingungan sendiri, sesaat matanya melihat Arya yang asik sendiri dengan mainannya tanpa mau peduli dengan apa yang sedang di tangisi adiknya. Selalu seperti itu, Arya memang sangat pendiam Sepanjang sejarah kehidupan Arya, sejak mamanya meninggal, pria kecil itu baru merasa dekat dengan Ngarsinah. Wanita dewasa yang kini diam-diam menjadi idolanya.
“Ok … Ok, sekarang dedek berenti dulu, dedek kenapa?” tanya rangga yang mulai kebingungan dan tidak tau harus berbuat apa lagi demi sang anak cengeng itu berhenti menangis.
“Dedek mau mama hiks … hiks.” Arista berusaha mengatakan apa yang dia inginkan, dan itu membuat Rangga mengusap wajahnya kasar.
"Sayang, kan mama sudah di syurga, nanti mama sedih kalo liat dedek nangis, ayo sini papa gendong, kita pulang ya?" Bujuk Rangga kepada gadis kecil yang masih dalam gendongan sang bude.
"Dedek maunya mama Arsi! Huuuaaaa … huuuuaaaa"
❤️❤️❤️
Cocok ini si dedek jadi mak comblang antara Rangga dan Ngarsinah, cuuss buruan dek ikut terus sama mama Arsi 😆😆
__ADS_1
Mana jempoooll nya pemirsaahh, komen juga ya, biar rame, hadiah dan vote otor tunggu ya, ❤️ selautan untuk pemirsaku tercintaahh, tengkyuuuhh 🥰❤️🎉🌹