
Betty merasakan perutnya mual tiba-tiba setelah Ngarsinah sempat mencicipi sedikit makanan yang dia bawa, wajahnya berubah pucat, dengan sekali gerakan kasar dia merampas box spageti itu dari tangan Ngarsinah dan langsung berlari keluar dari rumah Rangga. Ningsih yang baru saja mau bergabung dengan mereka menjadi bingung melihat Betty yang berlalu melewati dirinya tanpa pamit.
Si kembar hanya melihat tante mereka yang dengan cepat berlalu, sesaat saling berpandangan setelah itu mereka kembali bermain di temani pengasuhnya.
Ningsih menghampiri Rangga dan Ngarsinah yang masih di meja makan, Ngarsinah tersenyum ramah dengan wanita paruh baya yang masih cantik itu.
“Ga, Betty kenapa? kok pulang nggak pamit mama,” tanya Ningsih dengan raut wajah keheranan. Rangga menceritakan kejadian yang baru saja terjadi, Ningsih memperhatikannya dengan serius. Ningsih setuju dengan Ngarsinah, walau Monic saudara sepupunya, tapi wanita itu tidak mau memberikan toleransi lebih karena itu menyangkut keselamatan putra semata wayangnya.
“Nak Arsi, apakah ada solusi untuk permasalahan yang tidak kasat mata ini?” tanya Ningsih dengan raut wajah khawatir. Ningsih sebenarnya sudah sempat bertanya kepada kyai yang selama ini sangat dekat dengan orang tuanya, beberapa nasehat dia berikan kepada Ngarsinah dalam mengatasi sihir.
“Bu, Sebenarnya kemaren Arsi ada konsultasi dengan kyai di kampung, beliau dekat dengan orang tua Arsi sewaktu masih hidup, beliau menyarankan untuk mas Rangga melakukan ruqyah mandiri, dan ibu memiliki peran penting dalam hal ini. Mendekatkan diri kepada Allah adalah benteng paling kuat untuk menghalau gangguan sihir.” Ngarsinah menjelaskan tahapan-tahapan yang kyai ajarkan kepadanya. Ningsih dan Rangga berniat untuk melaksanakan apa yang Ngarsinah utarakan.
‘Selama ini aku jauh dari Allah, kesuksesan ini membuatku buta dan sekarang Allah menegurku dengan cara seperti ini, Betul kata Arsi benteng paling kuat itu adalah Allah, karena Dialah pemilik semuanya tanpa terkecuali, Astaghfirullah, ampuni hamba ya Allah,’ gumam Rangga dalam hati menyadari kesalahannya selama ini.
Setelah perbincangan serius itu mereka bertiga sepakat untuk mulai melakukan apa yang tadi diberitahukan Ngarsinah. Untuk sesaat Ngarsinah terdiam sambil menata hati untuk mengutarakan maksudnya.
__ADS_1
“Mas rangga, Arsi mohon ijin untuk mengundurkan diri dari perusahaan mas ya,” ucap Ngarsinah setelah lama memilih kata yang tepat. Rangga terkejut mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Ngarsinah, pria itu belum mendapatkan jawaban atas permintaanya tadi terhadap diri Ngarsinah, sekarang gadis itu malah mau mengundurkan diri.
“Kenapa kamu mau mengundurkan diri? lalu bagaimana dengan permintaanku tadi Arsi?” Tanya Rangga bertubi-tubi, Ningsih yang mendengarkan itupun kaget.
“Nak Arsi ibu harap jangan keluar dari perusahaan Rangga, kemaren papanya rangga cerita ke ibu, kalau nak Arsi akan di tempatkan di perusahaan distributor. Ibu harap nak Arsi mau mempertimbangkan lagi, apakah karena nak Arsi mau menjaga jarak dengan anak-anak?” Tanya Ningsih tak kalah bertubi-tubi dengan Rangga.
“Arsi bukan mau menghindar atau yang lainnya mas, bu. Arsi udah mikir-mikir dari kemaren, pengen buka usaha sendiri yang bergerak di bidang kuliner, sudah lama punya cita-cita buka toko roti dengan hasil karya sendiri, Yuni juga kan mau pindah kesini, jadi Arsi pikir akan baik jika kami merintis usaha bareng. Pastinya Arsi akan membutuhkan bantuan mas dan ibu untuk memasarkannya,” penjelasan Ngarsinah panjang lebar. Wanita cantik itu memang tidak punya maksud untuk berjauhan dari Rangga, tapi dia pun ingin mewujudkan mimpi yang selama ini tidak pernah mendapatkan dukungan dari David.
Rangga dan Ningsih saling memandang, mereka memang tidak bisa mencegah keinginan gadis itu, dan Rangga sendiri merasa senang wanita yang dia cintai memiliki kepribadian yang mandiri.
“Baiklah kalau itu yang menjadi keinginanmu, aku mendukung mu Arsi, apapun yang kamu butuhkan tolong bicarakan kepadaku, agar aku bisa melakukannya untukmu. Satu lagi apa jawabanmu atas permintaan ku? Rangga memberikan tanggapan atas permintaan gadis itu, sudah jelas Arsi merasa senang, matanya berbinar cemerlang mendapati dukungan dari orang yang dia sayangi. Tapi dalam sekejap senyumnya surut, mendengar pertanyaan dari Rangga, dia terdiam nampak menimbang.
"Ma, bawa Arsi untuk bisa menjadi ratu," pinta Rangga tanpa tedeng aling-aling. Duda beranak dua itu merasa sudah cukup lama menunggu jawaban dari Ngarsinah, tapi wanita itu lambat sekali menjawab, mumpung sang mama menanyakan hal itu, ini adalah kesempatan untuk meminta sang mama yang menjadikan Arsi sebagai ratunya.
Ningsih membelalakkan matanya, senyumnya terkembang, sudah lama dia menginginkan Ngarsinah menjadi menantunya. Walau belum kenal lama dengan wanita cantik itu, tapi Ningsih sudah cukup menilai Ngarsinah sebagai wanita yang baik dan penyayang anak-anak.
__ADS_1
“Ibu setuju, ibu juga sudah menganggap nak Arsi seperti anak ibu sendiri, apakah nak Arsi bersedia menerima putra ibu yang sudah tidak sendiri ini lagi?” pinta Ningsih menggebu, wanita paruh baya yang berhati tulus itu dengan berharap meminta kesediaan Ngarsinah menjadi menantunya.
Ngarsinah yang mendapatkan permintaan dari ibu dan anak itu merasa hatinya menghangat, hal yang paling membuat kita bahagia adalah disaat kita diminta dengan tulus, disayangi sepenuh hati, di cintai dengan segenap jiwa dan Raga. Apa lagi yang diharapkan oleh Ngarsinah selain kasih sayang yang tulus. Tapi dari semua kebahagiaan yang dia rasakan ada secuil kegelisahaan yang dia takutkan, kondisi Ngarsinah yang tidak baik-baik saja.
“Mas Rangga, ibu, sungguh Arsi senang sekali sudah di terima dengan senang hati di keluarga ini. Tapi ada satu hal yang ingin Arsi sampaikan, jika setelah ini mas dan ibu menolak Arsi, itu tidak akan membuat Arsi sedih.” ucap Arsi dengan tanpa keraguan, dia sudah memutuskan untuk berterus terang.
“Apa yang mau arsi sampaikan? katakanlah,” ucap Rangga tidak sabar, Ningsih pun mengangguk setuju. Ngarsinah menatap kedua orang yang ada di hadapannya secara bergantian, ada sedikit ragu, malu dan semua itu silih berganti menghantui hatinya.
“Ekhem, mas Rangga, ibu, pernikahan Arsi kemaren gagal karena David tidak bisa menerima Arsi yang tidak sempurna sebagai wanita. Kami sudah memeriksakan keadaan Arsi kemana-mana, dan hasilnya sama, Arsi dinyatakan mandul.” Dengan berani dan tanpa keraguan setelah berdehem sebentar demi menenangkan hatinya, Ngarsinah mengungkapkan apa yang menjadi keresahan hatinya.
Ningsih menggenggam tangan Ngarsinah dengan hangat, menyalurkan kekuatan sesama wanita. Ngarsinah sudah tidak bisa menahan buliran bening yang sejak tadi meronta ingin keluar dari kelopaknya. Rangga menarik nafasnya dalam-dalam, pria dewasa itupun menata hatinya agar tidak salah mengambil keputusan. Apakah dia siap menerima kekurangan yang ada
“Jadilah kelebihanku di antara banyaknya kekuranganku,”
❤️❤️❤️
__ADS_1
Ciee ciee Rangga gak mau buang waktu lagi gaess, gaaspoll Ga,!
yuuukk bom like, vote, komen dan hadiah ya pemirsaaahh, semoga sehat selalu pemirsakuuhh, tengkyuuhh ❤️❤️😘🌹🌹