Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 145: Sebuah Ide


__ADS_3

Tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka sudah sampai di rumah sakit, Supir segera turun dan meminta para medis untuk menangani Sarah. Brankar dorong pun dengan cepat di bawa dan tubuh mungil yang bersimbah darah itu pun kini berada di atasnya. 


“Dokter selamatkan calon istri saya, lakukan yang terbaik dan aku tidak menerima kegagalan!” Ucap Jack penuh penekanan. 


Glek!


Sang dokter menelan salivanya kasar, dia hanya mengangguk dan langsung masuk ke ruang operasi. Pria berjas putih itu tidak ingin mengeluarkan suara di hadapan pria menyeramkan itu, Jangan di tanya lagi keringat dingin yang tanpa permisi langsung melewati pori-porinya dengan lancar. Supir memberikan barang pribadi milik Sarah kepada Jack. Pria itu menerimanya lalu berjalan mondar mandir di depan ruang operasi. 


Sarah langsung menjalani operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di punggungnya. Ponsel Sarah berdering beberapa kali, setelah beberapa kali berdering Jack baru sadar kalau benda yang ada di dalam tas kecil itu berdering. Dengan cepat dia mengangkatnya karena yang tertera di layar nama Arsi. 


“Hallo, Sarah kamu dimana? Siapa yang menyerang kamu? Aku dari tadi hubungi kamu tapi gak diangkat? Tolong berikan alamatmu, kami akan melaporkan pada polisi, Sa-” Pertanyaan Arsi memberondong seperti peluru yang keluar dari pistol. 


“Ini Jack, bu Arsi. Sarah ada di rumah sakit Harapan,” ucap jack dengan dengan suara berat. 


“Baik, kami kesana.” Sahut Arsi dan langsung memutus sambungan teleponnya. Pria itu menarik nafasnya dalam, ponsel Jack berdering dan itu dari anak buahnya. 


“Semua sudah kami selesaikan bos, ada dua orang yang kami bawa ke markas. Nyawa mereka masih melekat di badan, akan saya korek info darinya.” Ucap Pria bersuara berat yang ada di seberang sana. 


“Good, cari info sampai dapat Din, saya tidak ingin ada kegagalan. Untuk selanjutnya tunggu saya,” Titah Jack. Tidak lama mereka bicara, sambungan telepon sudah diputus.


Tidak lama Rangga dan Arsi sampai di rumah sakit. Dengan wajah khawatir dan nafas yang ngos-ngosan sepasang suami istri itu tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.


“Tuan Jack, apa yang terjadi dengan sarah? tadi dia baik-baik saja,” Tanya Arsi tidak sabar. Dia baru saja bahagia bisa bertemu saudara sekampung dan kini sang gadis sedang berada di ruang operasi untuk berjuang dari maut. 

__ADS_1


“Ada sekelompok orang yang sedang bermain-main dengan ku, dia menjadikan Sarah sebagai targetnya. Entah siapa yang menjadi pengkhianat dan memberikan informasi mengenai Sarah. Maafkan aku bu Arsi saya tidak bisa menjaga Sarah dengan baik, tapi tenang saja saya tidak akan melepaskan orang yang sudah mencari gara-gara itu.” Jawab Jack. 


“Kita doakan saja Sarah bisa melewati masa kritisnya tuan, eemmm … bagaimana Sarah bisa bertahan dari serangan itu?” Tanya Arsi yang tiba-tiba berpikir sesuatu. 


“Dia bukan wanita biasa bu Arsi, dia singa betina yang menyamar sebagai domba manis. Aku tidak menyangka kalau wanitaku itu luar biasa,” Jawab Jack dengan kagum. 


Arsi yang mendengar itu sedikit berpikir, maksud Jack apa? Jack terus bercerita apa yang terjadi dengan Sarah. Arsi dan Rangga sesekali menimpali ucapan Jack yang terlihat sangat suka dan bersemangat menceritakan tentang wanita tangguh bertubuh mungil itu. 


“Keluarga nona Sarah!” Teriak perawat dari arah ruang operasi. Dengan cepat Jack berlari mendekati sumber suara, Pria itu kembali khawatir dengan wanita yang berada di dalam ruangan itu. 


“Ya Suster, bagaimana calon istri saya?” Tanya Jack. 


“Silahkan ke ruangan dokter Rio, Tuan.” Ucap Suster datar. 


Mereka bertiga akhirnya masuk ke ruangan sang dokter. Kali ini jadi tidak biasa, sang dokter tidak melarang karena melihat wajah ketiga orang keluarga korban penembakan sangat khawatir. 


“Bagaimana keadaan calon istri saya?” Tanya Jack. Rangga sempat bingung dengan pengakuan Jack, sempat dia berfikir apakah mereka sudah sepakat untuk menjalin hubungan? Tapi Rangga hanya menyimpan pertanyaan itu di dalam hatinya. 


“Alhamdulillah pasien sudah melewati masa kritisnya, untuk saat ini kondisinya masih lemah dan belum sadar. Kehilangan banyak darah membuat pasien harus banyak istirahat, sejauh ini kondisi calon istri anda baik-baik saja.” Ucap sang dokter. 


Jack menghembuskan nafas lega, dia berjanji akan mengusut ini sampai dapat dan tidak akan membiarkan siapapun itu lolos dari tangannya. Setelah berbincang sebentar, kini mereka bertiga keluar dari ruang dokter Rio. 


Sebuah brankar keluar dari ruang operasi dan menuju ruang perawatan VVIP yang sudah di pesan oleh Jack. Sarah masih belum sadarkan diri, wajahnya tertidur dengan tenang, walau pucat tidak membuat kecantikan alami gadis itu pudar. 

__ADS_1


Mereka kini sudah berkumpul di ruangan luas itu, Rangga dan Arsi memilih duduk di sofa, sementara Jack duduk di kursi yang ada di samping brankar. Pria itu menatap wanita yang dia inginkan dengan tatapan sendu, Tangan kekarnya mengusap lembut punggung tangan Sarah yang terbebas dari selang infus.


“Sarah, kuatkan dirimu, aku tidak akan melepaskan orang yang sudah membuatmu seperti ini. Aku berjanji, setelah ini aku akan melakukan apapun untuk kau bisa menerimaku. Jangan menolakku Sarah, aku tidak tau tentang cinta, tapi aku tidak ingin punya anak dari wanita lain kecuali dirimu.” Ucap Jack lirih. Pria itu ternyata belum melupakan tentang tujuan hidupnya, kepada wanita yang sedang tidak sadarkan diri itu.


Pria yang selama ini tidak pernah mengenal cinta, walaupun dia sudah berkali-kali bersama wanita, tapi itu hanya untuk melepaskan kebutuhan biologisnya semata. Tidak ada bicara hati dan tidak ada tujuan masa depan, hal ini sangat berbeda saat dia berhadapan dengan Sarah.


Setelah puas dengan monolognya, pria itu duduk di sofa. Sepasang suami istri itu sedari tadi sibuk memperhatikan apa yang Jack lakukan, Arsi merasa senang karena Jack memperlakukan Sarah dengan baik. Rasa khawatir yang sempat bersarang dari benaknya, mengingat latar belakang Jack yang seorang pebisnis dan mafia.


“Bu Arsi, maafkan saya. Saya tidak bisa menjaga Sarah dengan baik,” Ucap Jack. Sekali lagi dia mengatakan itu dengan wajah penuh sesal, melihat hal itu Rangga dan Arsi saling bertatap mata untuk sekilas. 


“Semua sudah menjadi takdir Allah tuan, kami hanya bisa mendoakan Sarah bisa segera sadar dan cepat sembuh.” Sahut Arsi. Wanita itu berusaha menenangkan perasaan pria matang tersebut. 


Untuk sesaat suasana menjadi hening, Jack nampak sedang berpikir keras. Sebuah ide langsung saja merasuki pikirannya dan ini lah saat yang tepat untuk mengutarakan. 


“Pak Rangga, bu Arsi, saya rasa ini adalah waktu yang tepat. Bisakah saat Saras sadar kami langsung menikah?”


❤️❤️❤️


Asliii tepok jidad deh liat si Jack 🤦🤦🤦


Haayuuukk gaass jempolnya pemirsaaah, komen, vote dan hadiahnya. subscribe yaa pemirsaaahh, tengkyuuuhh


❤️❤️❤️🤦🤦🤦🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2