
Seketika suasana rumah menjadi riuh, Rangga dan Ngarsinah sudah tidak bisa mengendalikan kedua bocah itu yang kini sedang menelpon kakek dan neneknya agar mereka bersiap untuk berangkat liburan Boby dan Ningsih tidak bisa menghindar.
Kekuatan tangisan anak-anak sungguh ampuh, rencana yang sudah matang untuk bulan madu, kini bubar dan berganti jadi liburan keluarga. Rangga menyerah, setelah Ngarsinah mendapatkan keyakinan dari sang istri bahwa mereka akan tetap bisa bulan madu dan wanita itu pun akan merasa tenang karena anak-anak ada bersamanya.
Ngarsinah sudah seperti ibu kandung bagi si kembar, wanita itu akan kalang kabut ketika ada terjadi apa-apa dengan kedua bocah yang mampu membuatnya jatuh cinta. Rangga merasa beruntung mendapatkan wanita cantik, cerdas dan tulus menyayangi kedua anaknya, walaupun ada kekurangan yang membuat banyak wanita merasa rendah diri.
"Papa, kami sudah siap, ayo kita jemput nenek. Suster kacamata hitam dedek belum kebawa …" teriak bocah itu yang kini begitu bersemangat. Ngarsinah ikut di buat sibuk karena harus mengenas pakaian dan mainan kedua anaknya.
Rangga hanya terduduk lemas di sofa ruang tamu, moodnya tiba-tiba saja rusak dan merasa malas untuk berangkat. Arya yang tidak seribet sang adik mendekati papanya, kini dua pria tampan beda generasi itu hanya perlu bersabar menunggu Arista. Gadis kecil itu entah sudah berapa kali mengatakan siap, namun realisasinya tetap tidak sesuai karena dia akan kembali teriak kepada suster atau mamanya, ini dan itu yang ketinggalan.
Dirumah besar Ningsih dibuat kalang kabut juga karena acara liburan, hasil gagasan sang cucu membuat kedua orang yang berusia paruh baya itu pun sibuk berkemas. Mana bisa menolak, karena mereka berdua tidak akan menyerah untuk membuat semuanya mengikuti ide briliannya, aahh dasar bocah.
Iring-iringan mobil keluarga Rangga sudah membelah jalan raya, kedua bocah itu tidak berhenti berceloteh, Rangga yang fokus menyetir dan fokus memikirkan bagaimana bisa menikmati bulan madu itu dengan berkualitas tidak menghiraukan kedua anaknya.
Ngarsinah hanya geleng-geleng kepala melihat ulah manyun sang suami. Sebenarnya wanita cantik itu juga sedang berpikir bagaimana nanti caranya tetap bisa membahagiakan sang prianya itu.
"Mama, kita sampe hari rabu kan honeymoon nya?" Tanya Arista dengan mata berbinar, entah apa yang dipikirkan gadis kecil itu. Ngarsinah mengerutkan keningnya, dari mana putrinya itu mendapatkan kata-kata honeymoon, apakah Rangga keceplosan bicara?.
"Dedek kan senen harus sekolah jadi hari minggu sore kita semua pulaaang!" Seru Ngarsinah dengan mengambil keputusan sepihak, kali ini wanita cantik itu sudah kehabisan akal dan tidak akan mengorbankan waktu belajar anak-anaknya.
__ADS_1
"Uhuk … uhuk!" Rangga tiba-tiba saja tersedak dengan ludahnya sendiri, pria itu sekilas menatap tajam sang istri. Sementara Ngarsinah paham dengan tatapan maut sang suami hanya nyengir kuda memohon untuk Rangga bisa diajak kerjasama.
"Minum mas, hati-hati kok bisa keselek gitu?" Ucap Ngarsinah dengan menepuk punggung Rangga lembut. Ngarsinah teringat dengan perkataan putrinya, wanita itu tidak ingin putrinya salah persepsi dan akan mengganggu perkembangan psikis anak-anaknya.
"Eh iya, dedek sayang tadi ngomong apa? Eeemm … dedek tau kata honeymoon dari siapa?" Tanya Ngarsinah hati-hati, wanita itu sesekali melirik Rangga namun sang suami tidak memahami ada hal penting yang diketahui putrinya.
Arista tampak mengingat-ingat sambil terus memainkan bonekanya, Ngarsinah yang melihat itu rasanya tidak sabar, namun dia tidak bisa memaksa. Namanya anak-anak ingatan mereka bisa saja random.
"Theo bilang kemarin kalo mama dan papanya pergi honeymoon, makanya mereka pergi berdua ma. Ehh … kalau kita berarti familymoon ya ma, karena kan mama nggak jadi pergi berdua papa tapi rame-rame, hahaha …" jawab Arista dengan ekspresi wajah yang sungguh menggemaskan, bocah umur lima tahun itu sudah bisa berfikir tentang perbedaan hal satu dengan yang lainnya.
'Kenapa bocah laki-laki itu mencuci otak putriku, mereka terlalu dekat untuk ukuran anak-anak. Eeh … tunggu, Theo itu kan keponakan David, ini bahaya! Aku harus menjauhkan putriku dari bocah sok pintar itu,' gumam Rangga dalam hati kecilnya, rasa jengkel merayap di seluruh ruang hatinya.
Ngarsinah menarik nafasnya dalam, wanita itu menganggukkan kepalanya, dia sepakat dengan putrinya. Sekarang saatnya mereka familymoon, Rangga yang sedari tadi fokus pada jalan, namun bisa dilihat oleh Ngarsinah ada rasa kesal yang mewanai wajah sang suami.
Ngarsinah berusaha memberikan pengertian kepada kedua anaknya yang kini tampak gaduh dengan protes mereka, otak kecil kedua bocah itu berpikir akan bersenang-senang selama lima hari karena hari ini sabtu dan liburannya akan berakhir hari rabu, sesuai dengan tanggal merah yang sudah di tandai oleh Arista. Gadis itu merasa kesal karena usahanya yang sudah merubah tanggal hitam menjadi merah, menjadi sia-sia dan entah kenapa sang mama tidak mau diajak kompromi.
Sesampainya di villa, Rangga sudah mengatur menyewa dua villa. Kedua orang tua dan kedua anaknya juga suster akan menempati Villa yang paling besar sementara Ngarsinah dan Rangga menempati Villa yang lebih kecil. Awalnya mereka tidak protes karena kegiatan bermain dilakukan oleh semua orang di halaman dan makan pun di villa besar, semua menikmati liburan dadakan ala Arista.
"Ayo sayangnya mama, sekarang kita bobok yuk, besok pagi kita bangun dan lari pagi, maauuu?!" Tanya Ngarsinah seperti layaknya ibu guru di sekolah mereka. Kedua bocah itu berlonjak riang.
__ADS_1
"Maaauuuu …" teriak Arista.
"Maaauu … maauuu …" teriak Arya. Kedua anak itu pun segera masuk ke kamar mandi dan menggosok gigi juga pipis agar nanti tidak ngompol. Dengan telaten Ngarsinah membereskan anak-anaknya sementara Rangga menyiapkan tempat tidur, berharap kedua anaknya cepat tidur dan Rangga bisa membawa Ngarsinah ke villa mereka.
Beberapa waktu berlalu, kedua anak itu pun sudah berpindah ke alam mimpi, Rangga mengajak Ngarsinah untuk pindah. Pengantin baru itu tidak ingin membuang waktu mereka, acara honeymoon yang mereka rencanakan kini tidak seindah kenyataan, namun mereka sangat bersyukur karena malam ini tidak ada gangguan.
*****
Ditempat lain David dan Novi terlibat perselisihan karena beberapa hari ini pria bule itu tidak ada makan dirumah, walaupun bukan Novi yang memasak, namun wanita itu tetap menunggu sang suami dimeja makan.
"Sayang, kamu mau kemana lagi? Aku sudah siapkan makan malam, ayo makan dulu," ajak Novi, wanita itu tidak tahan untuk memendam pertanyaan didalam hatinya, mau kemana suaminya itu malam-malam begini.
"Aku ada janji untuk makan diluar, kamu makanlah dulu dan jangan tunggu aku pulang," jawab David datar. Pria itu sudah kehilangan kelembutannya, Novi yang menerima penolakan itu terasa sesak dibuatnya.
"Ya, kamu tampaknya sedang mabok janda, iyakan sayang?!"
❤️❤️❤️
Honeymoonnya di ganti Familymoon ya dek 🤣🤣🤣
__ADS_1
Haayuuukk jempol mana jempol.. komen, vote dan hadiah ya pemirsaaah, tengkyuuuhh
❤️❤️❤️🤣🤣🌹🌹🌹