Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 78: Si Kembar


__ADS_3

“Maaaass!” teriak Ngarsinah kaget melihat ulah sang suami yang tidak sedikitpun ada rasa malu, Rangga tertawa terbahak-bahak melihat aksi malu-malu sang istri.


Selesai menunaikan sholat, Rangga yang masih ingin bermanja-manja dengan istri barunya langsung menggendong Ngarsinah ala bridal style, mukena yang di gunakan wanita itu belum selesai terlipat rapi, dan kini teronggok begitu saja diatas sajadah. 


"Sayang, pagi-pagi gini sehat loh kalo olah raga," ucap Rangga yang kini sudah mulai memanaskan mesin, Ngarsinah yang merasa lelah kini dibuat kembali bersuara. 


"Mas, sebentar lagi anak-anak bangun, hmmpf …" sahut Ngarsinah dengan suara yang tertahan karena menahan desakan mesin yang mulai menghangat. Tidak bisa di pungkiri wanita itu menyukai apa yang suaminya lakukan, Ngarsinah yang tadinya menghindar kini mulai mengikuti arahan sang pemimpin ritual. 


Ting tong!


Ting tong!


"Pagi loh ini? Kok ada yang bunyiin bell sih!" Kesal Rangga yang mau tidak mau menghentikan aksinya, Ngarsinah berdiri dan bersiap untuk membuka pintu. Rangga hanya bisa menggerutu karena dia sangat ingin sarapan istrinya pagi ini, tanpa pria itu sadari ada sesuatu yang dia lupakan.


"Mamaaaa …!" Teriak si kembar yang langsung berhamburan memeluk Ngarsinah di kanan kirinya, suster yang mengantar mereka mohon pamit untuk kembali ke kamarnya. 


Kedua bocah kecil yang masih menggunakan piyama tidur itu sudah gelisah sejak sholat subuh, karena tadi malam mereka tidak menemukan mama dan papanya, beruntung tubuhnya sudah sangat lelah jadi sebentar saja Ningsih menemani si kembar pun sudah pindah ke alam mimpi. 


"Anak mama, kenapa pada belum mandi?" Tanya Ngarsinah bingung, biasanya kedua bocah itu sudah selesai mandi jam segini. 


"Mau mandi sama mama aja, papa mana ma?" Tanya Arista yang mulai celingukan mencari sang papa, ruangan yang besar itu dilengkapi ruang tamu dan ruang makan. Rangga yang masih dirundung rasa kesal, tidak menghiraukan kedua anaknya yang sudah ribut, Pria itu sedang sibuk menidurkan si kecil yang sudah terlanjur bangun. 


“Papaaaa …! ayo bangun, kita hari ini mau jalan-jalan kan pa?” tanya Arista, gadis kecil yang super cerewet dan manja, hingga kembarannya sering dibuatnya mengalah dan akhirnya menuruti kemauannya. Arya memang sangat menyayangi adik kembarannya itu, terkadang ia harus menahan kekesalannya hanya demi membuat sang kembarannya tersenyum dan kembali caria. 


“Ehh anak papa, sini-sini! kalian jalan-jalan sama nenek ya, papa sama mama mau ada urusan keluar kota.” 

__ADS_1


Rangga belum bisa berpikir jernih untuk menjawab pertanyaan anak-anaknya. Rangga dan Arsi akan berangkat untuk berbulan madu, tadinya pria tampan itu ingin mengajak sang istri keluar negeri, tapi Ngarsinah tidak mau kalau hanya berdua, dan dengan alasan pemborosan wanita itu memilih tempat yang tidak jauh dari kota mereka. 


Rangga terkadang heran dengan istrinya itu, hampir semua wanita senang jika diajak bepergian jauh dan hanya berdua saja, tapi beda dengan Ngarsinah, dia selalu kepikiran kedua anak sambungnya. Rangga merasa sangat bahagia mendapatkan jodoh seperti Ngarsinah, wanita sederhana walaupun memiliki suami kaya raya. 


‘Nggak seru pa, mana enak jalan sama nenek, kita sama-sama aja ya pa. Memangnya ada urusan apa papa keluar kota sama mama?” tanya si gadis imut itu kepo, hatinya tidak rela kalau harus berjauhan dengan sang mama. 


“Urusan pekerjaan sayang, kan semuanya harus di kerjakan dengan baik,” jawab Rangga sambil menatap sang istri yang sudah membulatkan kedua matanya, dia merasa Rangga sedang membuat boomereang yang akan siap untuk menyerangnya balik. 


“Papa abis berantem sama siapa? kok badannya merah-merah, lehernya juga?” tanya Arya yang sedari tadi diam dan pandangannya yang tidak lepas dari tubuh sang papa yang tidak tertutup baju. 


“Ngarsinha yang menyadari hal itu langsung mengambilkan piyama milik suaminya. Wanita itu sangat kesal kenapa mantan duda itu bisa melupakan hal penting yang akan membahayakan dirinya sendiri. Belum lagi Ngarsinah menyelesaikan gerutunya, dia sadar akan dirinya sendiri dan buru-buru mengambil kerudung. 


“Heemm ini nak, kemaren banyak nyamuk yang gigit papa, jadi beginilah keadaanya. Kamu mandi sana kita segera turun untuk sarapan,” titah Rangga yang gugup dan menjawab asal akan pertanyaan putranya yang sudah mengerutkan dahi. 


“Mama, mau kemana?” tanya Arya yang memicingkan mata dan langsung bergerak menghampiri mama sambungnya, Ngarsinah sedikit gugup harus menjawab apa, sebenarnya dia hanya ingin menutupi jika ada jejak cinta suaminya yang bisa dilihat oleh kedua anaknya. 


“Mama, mau keluar sebentar kak, mau ngambil pakaian kalian,” jawab Ngarsinah gugup, wanita itu sudah seperti orang yang ketahuan mencuri sesuatu saja. 


“Ayo kakak temani ma,” jawab Arya si bocah posesif itu, Sebenarnya bisa saja Ngarsinah menghubungi suster untuk mengantar keperluan anak-anaknya tapi dia juga bingung alasan apa yang harus dia katakan kepada anaknya itu. 


“Hemmm, gak usah kak, mama bisa sendiri kok,” sahut Ngarsinah kepada Arya, tetapi bocah tampan itu tetap dengan keinginannya untuk menemani sang mama. 


“Sama kakak aja ma, biar nggak ada yang gangguin mama,” jawabnya santai. Arista yang sedari tadi melihat mama dan kakaknya mau keluar kamar, tiba-tiba gadis itu teringat akan satu hal.


“Mama, telpon suster aja minta tolong anterin kesini baju dedek sama kakak,” ucap gadis itu dan membuat langkah Ngarsinah terhenti, inilah yang dia khawatirkan.

__ADS_1


Deg!


“Eh, anu emm, mama sekalian mau liat nenek dan kakek dek. Ya udah mama jalan ya, ntar keburu siang,” jawab Ngarsinah yang makin kelimpungan menghadapi putrinya itu.


“Dadah dedek, sama papa sebentar ya sayang,” ucap Arsi lagi sambil mencium kedua pipi montok putrinya. 


Cup!


Arista hanya menyun karena harus di tinggal mamanya untuk sebentar saja, Arya sudah menggandeng sang mama, bocah tampan itu mengeratkan genggamannya saat melewati lorong-lorong yang ada di hotel itu. 


“Arsi …” Novi yang melihat Arsi bersama Arya sontak memanggil wanita yang pernah dia rebut suaminya. Arsi spontan menoleh kearah belakang mencari sumber suara, mantan janda itu sangat mengenal suara yang memanggilnya. 


“Novi?” gumam Arsi bingung, kenapa orang yang meresahkan ini seperti dedemit saja, dimana-mana ada. Arsi hanya tersenyum, dia sudah menekan lift untuk mengantarkan mereka ke tujuan. Lantai kamar Arsi dan Rangga sengaja diatur berbeda agar kedua bocah itu tidak mengganggu ritual sang pengantin.


“Kamu mau kemana Si? kok pagi-pagi udah keluyuran begini?” tanya Novi julid, wanita itu memang tidak akan pernah puas untuk menyakiti hati Ngarsinah. Namun wanita itu tetap tidak terpengaruh, dia hanya tersenyum saja. 


“Mau ke kamar anak-anak Nov, kamu disini juga?” tanya Arsi basa basi setelah dia menjawab pertanyaan Novi. Mantan pelakor itu tersenyum mengejek. 


“Aku selalu menginap di hotel ini kalau suamiku ada urusan ke kota, kamu itu pengantin baru atau baby sitter? katanya orang kaya kok nggak bisa bayar suster, “ 


❤️❤️❤️


Ampuuunn deh kalo ketemu si Novi ini, 😤😤😆


Yuukkk Like nya pemirsaahh, komen, vote dan hadiah nya ya, bintangnya juga aku mauuu, tengkyuuuhh ❤️❤️❤️🥰🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2