Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 48: Rangga Sakit Yang Tak Biasa


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Ngarsinah mulai bergerak pelan. Rangga yang sedari tadi bengong tiba-tiba tersadar dan berlari kecil berusaha menggapai mobilnya yang mulai berlalu. 


Bruk!


Bruk!


"Arsi behenti!" Teriak Rangga dengan nafas yang ngos-ngosan. 


Ciiitt!


Mobil sedan hitam itu berhenti, dan Rangga menyusulnya. Dengan cepat pria itu membuka pintu depan di samping kemudi, Arsi yang mengetahui pergerakan itu, langsung membuka kunci agar Rangga mudah masuk kedalam. 


Brak!


Rangga menutup pintu dengan sedikit keras, lalu menghempaskan pantatnya ke bangku penumpang samping kemudi. Duda tampan yang akhir-akhir ini kehilangan senyumnya itu, menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya dengan kasar. 


Tidak ada pembicaraan antara Rangga dan Ngarsinah yang sedang fokus nyetir, jalan raya yang padat membuat gadis itu memilih tetap fokus pada kuda besi yang harganya mahal itu, agar tidak terjadi apa-apa. 


"Nenek, papa kenapa sih kok sekarang sering bengong gitu?" Bisik Arista kepada neneknya. Arya yang tidak begitu mendengar ucapan adiknya hanya menoleh dan menyenggol sang adik dan menggerakkan kepalanya ke atas seakan menanyakan apa yang dikatakan sang adik kepada nenek mereka. 


"Nenek juga nggak ngerti sayang, kenapa dan ada apa dengan papa kamu, doakan ya papa kalian baik-baik saja." Jawab sang nenek dengan suara berbisik. Rangga menatap nanar kearah jalan raya, pandangannya terlihat lurus namun kosong. Ngarsinah sesekali melihat ke arah pria tampan yang sempat membuat hatinya menaruh harapan itu. 


“Aku tidak menyangka ternyata kamu bisa nyetir mobil, Arsi.” ucap Rangga tiba-tiba memecah keheningan. Ngarsinah menoleh sesaat kearah Rangga, gadis itu mengulas senyum sesaat, dan kembali melempar pandangannya ke arah jalan raya. 


"Ya lumayan mas, walau tidak se lihai mas Rangga," jawabnya merendah. Ngarsinah mengulas senyum tipis di bibirnya. Tiba-tiba bulu-bulu halus wanita itu berdiri, sepertinya sedang memberikan tanda bahwa ada mahluk astral yang mendekatinya. 


"Tidak berhenti Ngarsinah membaca ayat kursi di dalam hati, sesekali melirik ke arah Rangga, entah kenapa Ngarsinah melihat Rangga seperti orang lain. Hari yang mulai gelap dan terdengar adzan magrib berkumandang membuat suasana semakin horor, Ngarsinah tidak sabar untuk segera sampai ke rumahnya. 

__ADS_1


'Ada apa dengan kamu mas? Kenapa kamu seperti yang nggak aku kenal?' gumam Ngarsinah dalam hatinya.


Mobil sudah di parkir rapih dan kedua bocah itu pun berhamburan masuk kedalam rumah Ngarsinah yang sudah seperti rumahnya sendiri. 


Bram dan yuni sudah siap menyambut kedatangan mereka. Yuni yang sudah mulai akrab dengan si kembar menyambutnya dengan pelukan dan ciuman gemas ke pipi bocah-bocah lucu itu. Bram mencium punggung tangan Ningsih dengan sopan, Ningsih menepuk pelan pundak pria tampan yang bertubuh kekar itu. 


"Kamu sudah lupa sama tante ya Bram? Makin sibuk makin nggak ingat mengunjungi orang tua," Ningsih bersungut-sungut dengan pertanyaannya yang menyindir Bram. Yuni menyalami Ningsih dan mencium punggung tangannya dengan takzim. 


"Maafkaan Bram tante, iya beberapa bulan terakhir ini sibuk banget, ntar kalo udah longgar Bram akan main kerumah tante, kangen sama sayur asem dan sambel goreng buatan tante." Jawab Bram berkelakar dan tidak lupa pria itu memuji masakan Ningsih yang memang sangat di sukai oleh Bram, Rangga dan Pras. 


"Kutuk aja jadi kodok ma, keponakan tidak tau asal usul ini," sahut Rangga yang entah kenapa bisa langsung berubah ceria kembali saat memasuki halaman rumah Ngarsinah. Para pria itu sibuk mengeluarkan barang dari bagasi sambil melempar canda pelepas rindu antara dua sahabat. 


Ngarsinah, Ningsih, Arya dan Arista saling melempar pandang dengan kebingungan yang sama, tadi mereka melihat Rangga cukup membuat bulu kuduk merinding, tapi sekarang seakan Rangga tidak pernah mengalami hal menyeramkan seperti tadi. 


"Ayo bu, kita masuk, mau sholat berjamaah atau sendiri-sendiri bu?" Tanya Ngarsinah kepada Ningsih yang tampak sedang menikmati suasana rumah gadis itu. 


Sholat magrib berjamaah berlangsung khusyuk, setelah berdoa Rangga tiba-tiba memegang dadanya yang terasa sakit, dan dengan cepat pria itu berdiri dan berlari ke arah wastafel.


"Hhuueekk!"


Rangga memuntahkan darah segar dari mulutnya dan beberapa darah yang menggumpal. Ngarsinah yang tadi mengikuti Rangga dari belakang kaget melihat darah yang tercecer di wastafel, dengan sigap dia memberikan air hangat. 


"Mas Bram, Yuni, tolongin aku!" Teriak Ngarsinah ke arah ruang keluarga, tampat mereka melaksanakan shalat berjamaah tadi. 


Bram melesat ke arah dapur dan langsung menangkap tubuh Rangga yang mulai lemas karena beberapa kali muntah mengeluarkan darah. 


"Ibu, tolong bawa anak-anak ke kamar ya!" Teriak Ngarsinah lagi agar anak-anak tidak melihat apa yang terjadi saat ini. Ngarsinah tidak ingin mereka ketakutan dan akhirnya membuat semuanya semakin kacau.

__ADS_1


"Arsi apa sedari tadi pak Rangga memang sudah sakit?" Tanya Yuni dengan memelankan suaranya. Bram memapah Rangga ke arah kursi makan. Ngarsinah membersihkan darah yang masih berhamburan. Yuni memasak air jahe dan kunyit. 


"Ga, kita kerumah sakit sekarang ya," bujuk Bram yang khawatir dengan kondisi sahabatnya. Rangga mengusap keringat dingin yang sudah membasahi dahinya. 


"Kenapa gue bisa tiba-tiba gini Bram, sakiit, hhhssss …" rintih Rangga yang kebingungan dan berdesis menahan rasa sakit yang tiba-tiba kembali menghujam dadanya.


"Aaakkkhhh! Sssaakiiittt!" Teriak Rangga lagi, dan sontak membuat Ngarsinah berlari menghampiri Rangga. Wajah pria tampan itu kini pucat dan keringat terus saja keluar dari dahinya sebesar- besar jagung. 


“Mas Bram, kita bawa kerumah sakit aja sekarang ya, biar Yuni, ibu dan anak-anak disini.” usul Ngarsinah kepada Bram yang langsung disetujui pria itu dengan anggukan kepala. 


“Yun, kamu tolong di rumah ya, aku antar mas Rangga dulu. Tolong sampaikan ke ibu, nanti kalo aku ikut masuk ke kamar untuk pamitan malah bikin anak-anak rewel.” pinta Ngarsinah kepada sahabatnya. Wanita cantik itu sangat mengerti dengan si kembar yang selalu merengek bahkan menangis kalau tau Arsi pergi. 


“Oya Yun tolong buatin makan malam ya dan kalian makan aja duluan, kami gampang nanti di rumah sakit bisa aja makan, kamu nggak usah khawatir.” ucap Arsi melanjutkan kalimatnya sebelum dia berangkat.


“Ok, kamu nggak usa khawatir aku akan ngurus yang dirumah, tolong kabari aku ya Arsi, dan kamu juga haru jaga kesehatanmu,” jawab Yuni singkat, Bram sudah membawa Rangga ke mobilnya. Arsi memilih untuk tidak mengganti pakaian, dengan gamis rumahan dan kerudung bergo dia menyambar tasnya yang masih berada di nakas dekat ruang keluarga. 


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Rangga mulai tenang dan tampak mulai terlelap tidur. Arsi yang duduk di bangku belakang, sementara Rangga duduk di bangku sebelah Bram. Mereka berangkat menggunakan mobil milik bram. 


“Apa tadi Rangga ada mengeluh sakit, Arsi?” tanya Bram memecah keheningan yang ada. Ngarsinah yang sedari tadi sibuk berdzikir, menghentikan kegiatannya. Wanita itu terdiam sejenak untuk mengingat apa yang tadi terjadi. 


“Sepertinya mas Rangga bukan sakit biasa, apakah mas Bram percaya sihir?” tanya Ngarsinah dengan sedikit ragu, karena pembahasan ini tidak semua orang bisa menerimanya. 


“Sihir itu sejak zaman para nabi sudah ada, itulah janjinya iblis yang akan menggoda anak cucu adam, dan salah satunya godaan seperti ini.” 


❤️❤️❤️


Ya Allah, apakah ini yang menyebabkan Rangga nggak bisa tegas sama Betty? 🤔

__ADS_1


Haayuuukkk like nyaaa dong pemirsa, vote, komen dan hadiahnya ya, biar semangat author nulisnya. Bagi pemirsa yang baru aja bergabung jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaahh, happy reading. ❤️❤️😘😘🌹🌹


__ADS_2