Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 26: Ditraktir Pak Gunawan


__ADS_3

Ngarsinah dan Candra memesan nasi campur, ini hari pertama dia menginjakkan kakinya di kantin perusahaan. Sesekali matanya mengedar untuk mengetahui seluk beluk kantin. 'Sepertinya hanya aku yang berpakaian kurang bagus, semuanya yang kerja disini cantik-cantik dan tampan-tampan.'


"Arsi kamu ngelamunin apa?" Tanya Nia yang ternyata ikut bergabung di meja kami. "Nia, kaget aku, nggak papa aku hanya sedang memperhatikan sekitar. Biar besok nggak asing lagi kalo kesini sendirian.” jawab Arsi asal, tidak mungkin dia menceritakan apa yang dia pikirkan. Ngarsinah merasa senang Nia ikut bergabung dengannya dan Candra. 


“Kalo besok pas makan siang Nia nggak mau bareng kamu, masih ada aku Arsi yang nemenin kamu,” Candra tersenyum lebar sambil menaik turunkan alisnya yang disambut tatapan membunuh dari Nia. 


“Nggak usah modus, ingat anak istri di rumah, jangan sampe mereka datang kesini nyeret kamu karena godain Arsi ya,” Nia membuat wajah pria tampan itu merengut, sementara Arsi jadi sedikit takut karena Candra yang sudah beristri dan bisa-bisa dia yang dilabrak di kira pelakor, Arsi mengedikkan bahunya dan langsung duduk di sebelah Nia. 


“Waahh Nia parah ni, menjatuhkan pasaranku, iya yang di rumah itu kucingku si Candy dan dua ekor anaknya yang baru aja lahir seminggu yang lalu, puas!” Akhirnya mereka bertiga tertawa dan memulai makan siang dengan obrolan santai. 


“Wahahaha, langsung pucet kan, baru aja dibilangin gitu udah pucet aja,” Nia yang memang berniat jahil dengan Candra merasa puas melihat sahabatnya itu sewot. 


Ngarsinah yang tadinya merasa bingung, kini bisa ikutan tertawa melihat dua orang yang sedang melepas lelah dengan candaan yang menyerempet bahaya itu. ‘Amit-amit jangan sampai aku dilabrak sama istri orang karena dituduh godain lakinya,’ Gumam gadis itu dalam hatinya dan menggelengkan kepala saat mengingat hal yang memalukan saat di labrak.  


"Arsi, boleh saya ikut bergabung?" mereka bertiga menoleh dengan tatapan yang beraneka ragam. “Pak Gunawan?” Nia yang memecah keterkejutan mereka bertiga. ‘Waduh ada angin apa nih si duda senior mau ikutan makan bareng rakyat jelata?’ Candra hanya berani bergumam dalam hati. 


Arsi yang melihat kedua teman barunya menatap ke pria tampan itu dengan tatapan bingung. “Eh anu, silahkan pak, tapi kok tumben bapak makan disini?” Candra menggeser duduknya dan mempersilahkan Gunawan untuk duduk. Gunawan dengan senyum ramah dan berwibawa ikut duduk di sebelah Candra dan berhadapan dengan Nia. Acara makan siang kembali berlangsung, tapi canda tawa yang tadi sempat menghangatkan mereka bertiga sekarang berubah menjadi senyap, keempat orang itu sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Gunawan lebih dulu menyelesaikan makannya, pria itu langsung berdiri dan menuju meja kasir. Gunawan yang terkenal pelit, hari ini mendadak royal, mereka bertiga di traktir makan siang oleh si mister medit. 


Sontak saja karyawan yang melihat Gunawan makan bareng mereka menjadi bahan gosip segar. Suara dengungan seperti tawon yang siap mengeluarkan madu pun terjadi. Ngarsinah tampak bingung dengan suasana baru itu. 

__ADS_1


'Ternyata begini ya kalo jadi karyawan di perusahaan besar, apa aja bisa jadi gosip, dan aku harus hati-hati nih,' gumam Ngarsinah yang sedari tadi terus mempelajari keadaan di tempatnya bekerja.


“Baru hari ini loh, manager makan di kantin staf, ada angin apa ya pak Gunawan sampe mau kesini?” salah satu wanita yang duduk nya tidak jauh dari meja Ngarsinah dan teman-teman mulai menggosip. “Tau nggak sih kalo kita ada karyawan baru di lantai delapan,” Ngarsinah mulai merasa menjadi bahan gosip,gadis itu menyenggol lengan Nia yang masih asyik menghabiskan es teh manisnya. 


“Nia, kita buruan balik ke ruangan yuk, sepertinya aku sudah mulai jadi bahan gosip mereka,” ajak Ngarsinah kepada Nia. 


“Ekhem!” Gunawan sudah kembali dari kasir dan bergabung lagi dengan tiga sekawan itu. Pria tampan nan matang itu sengaja berdehem untuk menghentikan nyinyiran para wanita yang mulai membuka acara gosip di siang hari.


“Arsi gimana hari ini pekerjaanmu?” tanya Gunawan dengan senyum terbaiknya. “Alhamdulillah baik pak, Nia ngajarin saya dengan baik, jadi saya cepet bisanya,” jawab Ngarsinah panjang pendek. “kok kamu nggak nyebut nama ku sih Arsi, aku juga punya andil lo untuk ngajarin kamu,” rajuk Candra dengan bibirnya yang maju beberapa centi. 


“Iya maaf, Candra juga ikut ngajarin saya pak,” Ngarsinah menambahkan nama Candra pada kalimatnya dan hal itu berhasil membuat wajah pria dengan kadar ketampanan biasa saja tapi ramahnya membuat wajahnya tidak membosankan. 


“Terimakasih pak, tapi maaf saya mau balik keruangan dulu pak,” ujar gadis cantik itu undur diri. Nia ikut bangkit dan mengekor di belakang Ngarsinah. “Iya silahkan, oh ya makan siang kalian sudah saya bayar,” penjelasan Gunawan mengenai traktiran itu membuat langkah Ngarsinah dan Nia berhenti. 


“Waaahh ternyata hari ini adalah hari keberuntungan kita bertiga gaes, bisa ngirit nih mayan kan, eh iya tau gitu tadi aku nambah yak, hehehe piss pak,” Candra yang mulutnya memang ditakdirkan tidak memiliki rem itu langsung saja berkomentar yang membuat malu kedua gadis itu. 


“Muluut … Mulut!, di kasih hati minta jantung emang kamu itu Can,” tegur Nia sewot sekaligus malu karena ulah temannya yang somplak.


Terimakasih pak Gunawan,” ucap Ngarsinah tulus. “Terimakasih pak, semoga rejeki bapak berlimpah ruah dan selama sebulan kita ditraktir, hehehe” Nia tetaplah Nia, yang juga kurang lebih dengan Candra, padahal barusan tadi dia menegur Candra untuk tidak ngelunjak. “Lah sekarang dia yang ngelunjak, dasar wanita, selalu saja merasa benar,” sungut Candra merasa kesal dengan kelakuan Nia. Ngarsinah yang melihat perangai kedua teman barunya itu hanya geleng-geleng kepala. Ini pengalaman pertama dia memiliki teman orang kota yang ternyata seru dan membuat hatinya senang.  


“Boleh saya traktir selama sebulan asalkan kamu mau jadi istri saya,” tatapan penuh arti tampak jelas di mata Gunawan yang langsung menjawab kalimat bercanda nya Nia. 

__ADS_1


Bluuussshh


Pipi gadis cuek itu berhasil merona merah seperti tomat masak. “Ih bapak, ternyata jago ngegombal ya,” balas Nia malu-malu meong dan berusaha mendorong tubuh Ngarsinah untuk segera berlalu dari tempat itu.  


Gunawan hanya tersenyum tipis, akhirnya sang manager itu pun mengikuti kedua gadis cantik yang meninggalkan kantin. Candra ikut mengekor di belakang Gunawan. ‘Hawa-hawanya ni duda senior mulai mencari mangsa nih. Bisa gawat kalo salah satu dari mereka ada yang jadi targetnya,’ Candra bergumam dalam hati sambil terus berjalan meuju lift untuk kembali ke ruangannya. 


*****


“Arsi kamu pulang naik apa?” tanya Nia yang sudah mulai merapikan mejanya. Jam pulang kerja sebentar lagi akan tiba dan semua orang yang pekerjaannya sudah selesai akan segera pulang kerumah mereka masing-masing. Ngarsinah yang baru saja selesai dengan pekerjaannya, ikutan segera berkemas dan menyiapkan tas yang biasa menyimpan segala kebutuhannya. 


“Aku bawa motor Nia, kamu naik apa?” jawab Ngarsinah yang juga dibalas tanya oleh gadis itu. “Aku juga naik motor, bareng yuk,” jawabnya sumringah dan bersemangat. “Isssh yang punya temen baru, aku kau campakkan begitu saja, habis manis sepah di buang,” Candra kembali berkomentar dengan mendrama. 


“Kamu sudah nggak bermanfaat lagi Can,” ledek Maya yang sudah tidak tahan menahan tawa melihat gaya Candra yang bicara seperti sedang membaca puisi. 


“Jangan pulang dulu, kamu ikut saya ke ruang meeting,”


❤️❤️❤️


Waduuhh baru kerja sehari udah di panggil, siapa ya yang manggil 🤔.


Mari ramaikan jempol dan komennya sodaraaahh, subscribe, vote dan hadiah nya jgn lupa ya, kasih semangat doong buat mak author, ❤️ selautan buat pemirsaah tercinta😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2