
Ngarsinah membelah jalanan macet khas kota besar ini di jam pulang kerja, kedua bocah lucu itu dengan tenang berada diatas motor matic nya, sehingga tidak menyulitkan gadis itu dalam berkendara. Sekian waktu dilalui oleh mereka bertiga dan tentu saja hal ini menjadi pengalaman pertama bagi kedua bocah itu berada di atas motor dan tubuh mereka langsung bersentuhan dengan angin.
Motor matic itu akhirnya sampai di rumah Ngarsinah, rumah dengan desain minimalis tapi elegan itu selalu membuat Arya dan Arista betah berada disana, entah karena rumahnya atau karena tuan rumahnya. “Alhamdulillah kita sudah sampai, kakak dan dedek kita sholat ashar langsung atau kalian mau mandi dulu?” Tanya Ngarsinah setelah mematikan mesin motornya dan membuka ikatan seat belt dadakan yang dibuat Ngarsinah dari tas selempang.
Perlahan dia menurunkan Arista yang saking senangnya melompat-lompat kecil karena kembali menjejakkan kakinya di tanah. Setelah itu Arya pun turun dengan diangkat oleh Ngarsinah, mereka berdua kini tertawa bersama sambil melompat kecil khas anak-anak. Seperti itulah anak-anak yang dengan mudah berubah suasana hatinya jika ada sesuatu yang lebih menyenangkan.
“Mama, kaki dedek ada semutnya, tapi nggak ada semutnya,” ucap Arista yang merasakan kakinya kesemutan, karena mungkin kena getaran sepeda motor itu dan kakinya yang lama ketekuk. Ngarsinah tersenyum senang melihat keduanya sedang bingung mencari semut yang hanya bisa dirasakan tapi tidak terlihat wujudnya.
“Itu namanya kesemutan dek, kalo di kampung mama bilangnya geringgingan, nanti kalau peredaran darahnya sudah lancar kembali, kaki dedek akan seperti biasa lagi,” jelas Ngarsinah, agar kedua bocah itu mengerti. Mereka sudah memasuki rumah yang bersih dan sederhana versi Arya dan Arista, karena rumah mereka sangat besar dan luas dengan banyak perabotan yang tertata rapi juga mahal.
“Mama dedek mau mandi,” teriak si gadis kecil itu, Ngarsinah memang sudah berpikir sebaiknya mereka mandi dulu karena seharian sudah beraktifitas dan lengket karena debu.
“Siapa yang mau mandi di dalam ember?!” tanya Ngarsinah menirukan gaya guru TK saat sedang mengajar. Jelas saja kedua bocah itu antusias menyambutnya,
“Mau …Mau… Mau!” jawab mereka serentak, dengan cepat Ngarsinah mengisi dua ember yang untungnya kemarin dia beli dua biji. Setelah mengisi air di kedua ember, anak-anak lucu berusia lima tahun itu dengan semangat masuk ke dalam ember masing-masing, Ngarsinah dengan senang hati memandikan mereka berdua dan menggosok badan kedua bocah itu dengan telaten.
Keseruan terjadi saat mandi, sekali lagi ini adalah pengalaman baru bagi mereka, mandi di teras belakang yang biasanya di buat jemuran dan aktivitas dapur lainnya, sekarang mereka buat mandi, dan saling melempar air, jadilah halaman belakang itu basah semua.
__ADS_1
Ngarsinah menikmati kebersamaan yang membuat rasa perih karena merasa dipermainkan perasaannya oleh Rangga, kini rasa perih itu berangsur hilang dan berganti dengan keceriaan dan kehangatan bercengkrama dengan anak-anak.
‘Apakah aku sudah mulai ada rasa dengan mas Rangga? Kenapa juga aku merasa sakit? aahh tidak-tidak, aku dan dia hanya teman, ya hanya sebatas teman. Semoga anak-anak ini mendapatkan ibu sambung yang tulus mencintai dan menyayangi mereka, tidak hanya sayang sama papanya aja.’ gumam Ngarsinah dalam hatinya, beberapa pertanyaan menghampiri pikiran dan benak Ngarsinah. Tanpa terasa gadis itu melamun, lamunan itu berhenti saat mendengarkan tawa kedua bocah itu.
Perasaan itu dengan cepat dia tepis karena tidak ingin berharap lebih, urusan dia saja belum selesai, apa jadinya jika wanita itu mencoba menerima pria baru yang jelas-jelas banyak perempuan yang mendamba nya.
Acara mandi pun selesai, karena kemarin anak-anak itu sempat menginap di rumah Ngarsinah jadi rangga pun membawakan pakaian ganti mereka yang kini tersimpan manis di dalam lemari Ngarsinah. tidak lupa mengolesinya dengan minyak kayu putih dan bedak bayi, kini kedua bocah itu sudah rapi dan wangi khas bayi.
Susu sudah dibuatkan Ngarsinah saat tadi mengisi air di ember, kini mereka berdua minum susu sambil nonton film kartun kesukaan mereka dengan duduk anteng. “Tante nggak mandi? ihh bau kecut,” tanya Arya yang tiba-tiba menutup hidungnya, Ngarsinah melihatnya dengan tawa terkembang, tidak lupa wanita itu mengendus ketiak bajunya.
“Eemmm, sedaaaapp kecutnya, hahaha!” Ngarsinah menyahuti gurauan yang dibuat Arya, dan akhirnya mereka bertiga pun tertawa. Dengan cepat gadis itu mandi, karena takut meninggalkan kedua bocah itu tanpa pengawasan orang dewasa, jadilah Ngarsinah mandi bebek.
Selesai mandi, mereka pun melaksanakan sholat berjamaah. Dengan sholat khas anak-anak yang sangat sulit untuk tenang, jadilah ketawa cekikikan mereka meramaikan sholat Ngarsinah, setelah selesai sholat gadis itu meminta kedua anak itu untuk bersalaman dan mencium tangannya, sebagai balasan Arsi mencium kedua pipi dan dahi mereka dengan sayang dan tidak lupa mengucapkan shalawat dan ditiupkan di kepala mereka berdua.
“Kalian menonton televisi dulu ya, sambil main, mama mau bikin makan malam untuk kita, setuju?” tanya Ngarsinah masih dengan gaya guru TK, dan tentu saja disambut gembira oleh kedua bocah itu.
“Setujuuu!” teriakan mereka membuat rumah yang biasa sepi itu kini ramai dan hangat. Ngarsinah meninggalkan mereka di ruang keluarga yang masih terlihat dari dapur. Dengan lincah wanita itu meracik bumbu dan membuat olahan ayam menjadi masakan yang lezat, tidak lupa sayur yang dia olah dalam bentuk nugget.
__ADS_1
Anak-anak tidak suka makan sayur, jadilah Ngarsinah mengolahnya dalam bentuk lain. selesai masakan yang diolah oleh Ngarsinah kini mereka bertiga sudah berkumpul di meja makan. Arya memimpin doa makan dan makan malam pun mereka nikmati dengan tenang. Melihat wajah ceria dari kedua anak itu, hati Ngarsinah merasa senang dan mereka sepertinya bisa melupakan kejadian tadi yang membuat ketiganya marah.
Ngarsinah mencuci piring bekas mereka makan, Arya kembali menonton televisi dan Arista yang ikutan heboh di dapur. Kedua tangan mungilnya mengambil susu untuk membuatnya lagi, padahal tadi sore Ngarsinah sudah membuatkannya susu.
Ngarsinah tidak begitu memperhatikan apa yang dilakukan oleh gadis kecil itu, sementara Arista menuangkan minyak goreng ke dalam gelas, dan tanpa dia sadari minyak pun tumpah ke lantai.
Dengan Santainya gadis kecil itu mengaduk-aduk bubuk susu yang sudah bercampur minyak goreng, karena bentuknya tidak sesuai dengan yang biasa dia lihat, dia pun mulai frustasi.
“Mama, ini susu dedek kok jadi kuning!” teriaknya dari arah meja makan. Ngarsinah menoleh sebentar dan mematikan kran air yang sudah selesai membilas piring terakhir yang dia bikin. Arya mendekati sang adik untuk melihat hasil karya susu buatan Arista. “Iya seben–Aaaakkhhhh!” jawaban Ngarsinah yang tidak selesai di susul dengan teriakan Ngarsinah dari arah dapur dibarengi dengan suara yang keras.
Brruuaakkk!
“Papa tolong mama pa, mama berdarah!”
❤️❤️❤️
Kenapa? Arsi kenapa gaes? 😱
__ADS_1
Yuukk jempol di goyang, mana jempolnya pemirsa, komen yang rame ya, hadiah dan vote juga di tunggu🥰😘, tengkyuuhh pemirsa. ❤️🌹😘😘