
Fatim tersenyum bahagia dan sedang mencari jalan untuk menukar gelas yang diberikan kepadanya. Sesaat wanita yang kini berstatus istri kedua David melirik gelas penghulu. Sesaat Fatim memutar otaknya bagaimana cara untuk bisa mengambil kesempatan itu dengan waktu yang sangat singkat. Sekilas senyumnya tergores di bibir tipisnya.
“Terima kasih mbak Novi, Kepada seluruh tamu undangan yang saya hormati dan saya sayangi. Semoga anda semua bersedia menjadi saksi, inilah minuman pertama yang mbak Novi berikan kepada saya, istri kedua dari mas David yang sangat kami cintai.” Ucap Novi dengan suara lantang dan berwibawa.
Prok!
Prok!
Prok!
Suiiiit … Suiiittt!
“Minum … minum … minum!” Tepunk tangan dan riuh suara para undangan langsung membuat suasana hening tadi menjadi meriah. Novi memutar badannya untuk menghadap ke arah tamu undangan. Disaat yang sama Novi langsung menukar gelasnya dengan gelas saksi yang berada di dekatnya. David saat itu tidak menyadari karena ikut bertepuk tangan dan pandangannya mengarah ke arah tamu.
Saksi yang ditukar gelasnya sontak membulatkan kedua matanya. Tetapi dengan cepat Novi mengedipkan mata dan memberi kode untuk diam. Fatim memilih sisi yang lain dari gelas saksi nikahnya agar tidak terkena yang bekas minumannya. Dengan percaya diri mantan janda itu menghabiskan isi gelas tersebut dan kembali suara riuh tepuk tangan menggema di ruangan.
Novi yang melihat minuman itu habis, tersenyum puas dan kembali memeluk Fatim. Acara berlanjut dengan syukuran dan makan bersama. Disaat yang tepat Fatim mendekati pria yang menjadi saksinya untuk meminta maaf.
“Maaf ya pak atas tindakan tidak sopan saya barusan, dan tolong di buang saja airnya.” Ucap Fatim setengah berbisik. Pria yang diajaknya bicara tertegun sesaat tapi sejurus kemudian dia pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Fatim.
“Selamat ya Fatim, semoga pernikahanmu langgeng dan membawa kebaikan untuk semua orang.” Ucap Yuni yang langsung memeluk erat tubuh Fatim.
__ADS_1
“Selamat ya Fatim, semoga sakinah, mawadah dan warohmah. Aku dan Yuni akan selalu ada untuk kamu. Jangan sungkan dan tolong kabari kami jika ada apa-apa denganmu. Kita sekarang menjadi keluarga Fat,” Ucap Ngarsinah dengan berbisik di telinga Fatim saat berpelukan.
“Makasih Arsi, Yuni. Sekarang aku nggak ngerasa sendiri lagi, ada kalian yang kini menjadi saudaraku.” Sahut fatim dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipinya. Rasa haru menyeruak di dalam dadanya. Rangga juga mengucapkan selamat kepada David dan menyempatkan memberikan kalimat baik untuk orang yang pernah menjadi masa lalu istrinya itu.
“Selamat pak David, semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan ridhonya kepada keluarga anda.” Ucap Rangga dan bersalaman dengan David.
“Terimakasih pak Rangga, saya banyak belajar dari apa yang dilakukan Arsi, dan saya sedang berusaha untuk menjadi lebih baik dari kemarin. Mohon dukungan dan doa nya pak Rangga.” Sahut David dengan mata yang berkaca-kaca.
“Sebaik-baiknya manusia adalah dia yang mengakui kesalahannya dan mau memperbaiki dirinya untuk menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Saya juga banyak kekurangan pak David, Ucap Rangga dengan kalimat yang membuat David merasa teduh.
Kini tiba giliran Bram yang menyalami David, sebagai mitra kerja Bram juga memberikan doa yang terbaik untuk mitra sekaligus teman baiknya itu. Tidak lupa sedikit nasehat untuk David yang dia selipkan sesaat ketika mereka berdua berpelukan.
“Jalankan pernikahan dengan hati yang ikhlas dan tidak memiliki ambisi apapun di dalamnya, kita hanya manusia yang tidak memiliki hak atau kekuatan untuk membuat sebuah keputusan untuk apa yang terjadi di hari depan nanti, pak David.” Ucap Bram dengan tulus. David merasakan hatinya menghangat mendapatkan nasehat-nasehat yang baik dan mengingatkan dia akan kekeliruannya di awal saat ingin menikahi Fatim.
Ajay sudah masuk ke dalam kamarnya bersama mbak yang biasa merawatnya sejak kecil. Kini pengantin baru itu sudah berada di kamar mereka yang berseberangan dengan kamar Novi yang biasanya ditempati nya bersama David.
Percakapan sepasang pengantin baru di dalam kamar.
“Mau aku bantu membuka gaunmu Fat?” Tanya David yang kini sudah selesai membersihkan diri di kamar mandi. Pria tampan bermanik mata biru itu melihat sang istri yang kesulitan membuka kancing-kancing yang ada di bagian belakang gaunnya.
“Eemm … Boleh mas, terimakasih ya,” Jawab Fatim yang mulai menyerah dengan usahanya. Dalam hatinya wanita itu menggerutu kenapa gaun yang dia pakai ini sangat ribet sekali desain nya. Dengan cepat David melaksanakan tugasnya hingga selesai semua kancing baju itu terlepas. Untuk sesaat David menahan nafasnya melihat pemandangan indah di depan mata, namun Fatim yang menyadari akan tatapan mendamba dari sang suami langsung ngacir menuju kamar mandi dan buru-buru mengunci pintu dan bersandar di pintu kamar mandi.
__ADS_1
“Huuff hampir saja, tatapan mas David bikin jantungku nggak stabil. Tapi bagaimana kalau malam ini dia minta haknya? Aku harus gimana?” Gumam Fatim lirih dan mulai melepaskan pakaiannya satu persatu lalu segera membersihkan diri.
Ceklek!
pintu kamar mandi terbuka dan dilihatnya David masih duduk ddi sofa sambil memainkan ponselnya. Fatim yang masih menggunakan hijabnya tampak canggung sekamar dengan seorang pria. David yang melihat itu tersenyum manis tanpa pemanis buatan.
“Sudah seger Fat? sini duduk,” Ucap David sambil menepuk sofa sebagai tanda kalau Fatim di suruh duduk di dekatnya. Pertanyaan David hanya di sahuti anggukan dan perlahan dia pun duduk di dekat suaminya.
“Fatim, kamu cantik sekali, bolehkan aku melihat rambutmu? Sekarang kita sudah muhrim kan?” Tanya david dengan menaik turunkan alisnya menggoda sang istri. Hal ini sukses membuat Fatim tersipu malu dan gugup.
“Bo-boleh mas, silahkan.” Jawab Fatim dengan gugup dan terbata. Perlahan David membuka hijab sang istri dan memberikan kecupan dalam di keningnya. Hal ini membuat jantung Fatimah ingin melompat keluar, karena senang dan gugup bercampur menjadi satu.
“Maasya Allah kamu cantik sekali Fatim, jadilah bidadari surga ku Fat. Aku akan banyak belajar darimu. tolong tegur aku jika aku keliru, tapi tolong jangan tinggalkan aku dan membenciku.” Ucap David lirih. Ucapan David yang tulus mampu meruntuhkan pertahanan Novi, matanya kini berembun dan sesaat kemudian cairan bening itu pun luruh menganak sungai di kedua pipinya yang mulus.
“Jangan berlebihan mas, aku juga banyak kekurangan dan tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti aku melakukan sebuah kesalahan. Ehmm Mas, andai suatu hari nanti aku melakukan sebuah kesalahan fatal, apakah mas akan memaafkan ku?”
❤️❤️❤️
Naahh haayooo apa jawabannya 🤔🤔🤔
Yuukk like yang banyak, komen, vote dan hadiah ya pemirsaaahh. tengkuuhh pemirsaahh...
__ADS_1
❤️❤️❤️🤔🤔🤔🌹🌹🌹