
Ada hembusan nafas lega yang masih bisa didengar oleh orang-orang yang berada di ruangan rawat VVIP, dimana Sarah dirawat. Perbincangan yang tadi tegang kini sudah mencair, sesekali canda tawa pun menghiasi perkenalan antara calon menantu dan calon mertua.
Pembicaraan pun diakhiri, dengan kata setuju dan orang tua Sarah menerima lamaran Jack saat nanti rombongan itu datang. Sarah merasa lega walaupun tadinya merasa cemas, semua sudah beres sekarang. Sesaat Sarah berpikir bagaimana dengan lukanya, sementara Jack sudah tidak sabar dan menentukan besok harus pulang kampung.
Jack meminta tim dokter untuk memberikan obat yang paling baik untuk kesembuhan Sarah, jika nanti setelah menikah Sarah harus melanjutkan pengobatannya itu tidak menjadi masalah. Keputusan Jack ini tentunya membuat Rangga dan Arsi serta dua pasangan lainnya geleng-geleng kepala.
“Tuan Jack untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, ijinkan kami menugaskan seorang dokter dan perawat untuk menjaga kesehatan nona Sarah. Saya harap anda mengerti tuan,” Ucap dokter Sam ramah.
“Baiklah, lakukan yang terbaik, tapi mereka harus dalam penyamaran. Aku tidak ingin keluarga di kampung nanti panik dan akan menyulitkan urusanku. Rangga, Arsi, bagaimana menurut kalian?” Tanya Jack meminta pertimbangan.
“Itu pilihan yang terbaik Bang, walau bagaimanapun kita akan membawa kabur pasien Dokter Sam kan? Hahaha,” Ucap Rangga. Mereka yang ada disana pun tertawa, Sekali lagi Jack merasakan kehangatan keluarga yang selama ini tidak pernah dia rasakan.
Matanya mengedar menatap orang-orang yang kini diklaim sebagai keluarganya, mereka semua terlihat tulus dan hal ini sungguh membuat pria kaku dan dingin itu bahagia. Jack menatap Sarah yang sepertinya mulai mengantuk karena efek obat yang diberikan.
Semua orang yang berada di ruangan itu pun akhirnya pamit, Jack dengan setia menunggu Sarah, dia memberikan beberapa perintah kepada anak buahnya untuk menyiapkan semua keperluannya besok. Ini perjalanan nekat, membawa Sarah yang masih sakit dan bisa dibilang Jack memaksa untuk segera menikah.
Di desa Rorocobek, tepatnya di rumah Sarah, Sumiati dan Mijo di buat gelisah. Karena baru saja dia menerima telepon dari Wedding Organizer, mengatakan kalau mereka akan bersiap untuk mendekor rumah Sarah. Mijo buru-buru datang ke rumah pak RT, karena hubungan mereka baik. Akhirnya pak RT pun dengan sigap membantu Mijo.
__ADS_1
"Jo, ini kenapa to … kok Sarah tiba-tiba nikah. Bukannya kemaren si Farid yang mau ngelamar Sarah?" Tanya pak RT.
"Mas Karno ini kayak gak tau anak muda jaman sekarang aja, Sarah itu gak mau sama Farid mas. Laah ini calon suaminya malah lebih gercep, ngomong mau ngelamar terus langsung mau nikah. Asli … rasanya kayak sulapan mas loh mas Karno. Wes aku ngikut aja mas, yang penting Sarah bahagia." Jawab Mijo. Disela-sela kesibukan mereka menerima dan mengarahkan tim dekorasi yang mulai berdatangan.
"Permisi pak, maaf pak … bisakah saya bertemu dengan pak Mijo?" Ucap seseorang yang datang dengan menggunakan jas lengkap. Mijo yang melihat sosok pria berpenampilan perlente dan mobil mewah itu pun langsung menyambut dengan tergopoh-gopoh.
"Iya pak, saya pak Mijo. Maaf bapak ini siapa ya?" Tanya Mijo setelah menjawab pertanyaan pria itu.
"Kenalkan saya Rian pak, utusan dari Tuan Jack. Saya kesini untuk mengurus dokumen pernikahan tuan Jack dengan nona Sarah. Bisakah bapak tolong bantu saya melengkapi dokumennya?" Tanya Rian sopan.
Mijo sedari tadi bengong sendiri, sebegitu cepatkah pergerakan calon menantunya. Padahal barusan mereka bertelepon dan setuju, dalam waktu singkat satu persatu persiapan acara putrinya kini nyata di depan mata. Biasanya orang mau menikah akan butuh waktu untuk mengurus surat-suratnya. Tapi beda dengan pernikahan Sarah dengan orang yang sama sekali belum pernah Mijo kenal.
Rian dengan cepat mengerjakan apa saja yang dibutuhkan tuannya, Sumi yang sibuk di dapur pun dipanggil oleh Mijo untuk berkenalan dengan orang utusan sang menantu. Kini mereka berempat beserta pak Karno sebagai RT pun berbincang di tengah kesibukan Rian dan beberapa orang staf nya.
“Maaf pak Rian, saya mau tanya. Calon menantu saya ini siapa ya? kok itu, anu … ini loh pak, kayak orang sulapan aja. Semuanya serba cepat, biasanya kalau di kampung persiapan nikahan itu bisa sampe 1 bulan.” Ucap Sumi yang sudah tidak sabar ingin bertanya.
“Hem … maaf pak bu, panggil saya Rian saja. Tuan Jack bukan orang sembarangan, beliau seorang pengusaha yang sangat disegani. Bapak dan ibu jangan khawatir, ini sudah hal biasa bagi kami sebagai karyawannya. Semua akan terasa serba cepat bu, mohon ibu dan bapak jangan khawatir. Besok jam 5 pagi akan ada rombongan catering dan make up artis juga kostum untuk mengurus keperluan bapak dan ibu. Jadi semuanya sudah beres, ibu dan bapak bisa istirahat saja. Masalah undangan saya mohon bantuan pak RT ya untuk mengumumkannya, apakah bisa pak?” Taya Rian setelah menjawab panjang lebar apa yang ditanyakan oleh ibu dari calon nyonya besarnya.
__ADS_1
“Siap nak Rian, sebagai perangkat desa saya akan melakukan hal yang terbaik untuk warga. Apalagi Mijo ini sudah seperti saudara dengan saya. Beres lah pokoknya, in shaa Allah nanti saya yang akan kondisikan semuanya.” Ucap pak Karno semangat. Ada rasa bangga di hati pria paruh baya itu, karena dia akan menjadi bagian penting dalam acara ini.
Sumiati, Mijo dan pak Karno hanya mengangguk-angguk mengerti, walaupun beberapa hal mereka sendiri masih belum bisa paham. Tapi melihat cara Rian menjelaskan begitu formal, membuat mereka merasa minder untuk bertanya lebih banyak.
Tanpa diundang pun kini tetangga mulai ramai berkunjung ke rumah Sumi, terutama para ibu-ibu. Mulai dari yang suka sampai tetangga yang tidak dengan keluarga Sumi. Banyak yang iri memang dengan keluarga ini, karena Sarah yang berhasil menjadi dokter dan langsung bekerja dengan gaji yang wow besarnya.
Setelah Rian dan para staf nya selesai dengan urusan dokumen, Rian pun mohon pamit. Sony salah satu staf Rian tinggal untuk mengawasi semua persiapan sampai besok. Sony tidak boleh meninggalkan lokasi, saat ini dia lah orang yang akan bertanggung jawab untuk persiapan di rumah Mijo.
“Nak Rian, kami sekeluarga mengucapkan terima kasih. Maaf ya nak, karena semuanya serba mendadak, jadi tidak sempat menyiapkan hidangan yang pantas.” Ucap Sumi sungkan karena hanya bisa menghidangkan kopi dan bakwan. Rian tersenyum ramah, pria itu mengangguk.
“Sumi, Sarah hamil duluan yo?”
❤️❤️❤️
Hadoohh siaapa ini yg tiba2 julid ya. 🤔😱
haayuukk ramaikan like, komen, vote dan subscribe. tengkyuuuhh pemirsaahh.
__ADS_1
❤️❤️❤️🤔😱🤔🌹🌹🌹