
Hari ini putusan cerai antara David dan Fatim sudah di terima oleh pria berwajah bule itu, senyum tipis mengambang di bibirnya. Pria itu sudah merancang masa depan bersama wanita yang kini bersamanya, beberapa hari terakhir ini David sudah mengutarakan niatnya untuk menjadikan Samira sebagai istrinya.
Flashback on.
"Samira aku mau bicara serius, bisakah kau tidurkan Viona di box nya?" Tanya David yang kini sudah duduk di sofa single ruang keluarga.
"Iya kak, sebentar ya," sahut Samira lembut. Wanita itu masuk kedalam kamar tamu yang beberapa lama ini menjadi kamarnya, dengan cepat dia meletakkan Viona di box bayi.
Bayi cantik itu tidak terusik sama sekali, dengan wajah imut yang menggemaskan dia tidur telentang. Samira meninggalkan Viona sendirian dengan keadaan pintu kamar tetap terbuka, hal ini agar memudahkan dirinya untuk mendatangi Viona ketika tebangun dan menangis.
"Ada apa kak?" Tanya Samira lembut. Dengan anggun wanita itu duduk di sofa panjang berdekatan dengan David.
"Samira, hubungan ku dengan Fatim sudah kami sepakati untuk selesai. Aku menginginkan seorang keturunan, tapi keadaan dia tidak memnungkinkan untuk itu. Samira … aku ingin menikahimu," ucap David tanpa bertele-tele seperti kebanyakan orang. Pria itu memang sudah sangat fokus dengan kehadiran seorang anak kandung, yang benar-benar asli dari benihnya.
Samira tertunduk, tapi tanpa David sadari ada seulas senyum sangat samar menghiasi bibir mungil wanita cantik itu.
"Aku tidak ingin menjadi orang ketiga diantara kalian kak, apa kata orang nantinya?" Tanya Samira dengan wajah sendu. Nampak kekhawatiran menghiasi wajah nya, hal ini membuat David mengambil tangan kiri wanita itu untuk di genggam.
"Jangan pedulikan orang lain yang tidak ada andil apa-apa terhadap kehidupanmu. Kamu sendirian disini, untuk kembali ke Belanda pun, bukan hal yang mudah menjalani hidup sendiri. Samira … aku ingin memiliki keturunan untuk mewarisi apa yang aku miliki saat ini, jadilah ibu untuk anak-anakku Samira," pinta David dengan tatapan lembut yang menghanyutkan jiwa seorang Samira.
__ADS_1
"Apa yang membuat kakak yakin kepadaku?" Tanya Samira yang membuat kening David berkerut. Pria itu sedang berpikir untuk memahami apa yang Samira ucapkan.
"Maksudmu apa Samira?" Tanya David.
"Begini kak, aku bukan siapa-siapa. Hanya wanita miskin, aku merasa tidak pantas bersanding dengan kakak. Aku harap kak Dave bisa mengerti," sahut Samira berusaha untuk tarik ulur. Wanita itu ingin tahu sejauh mana keseriusan David terhadapnya.
"Samira apapun dirimu, aku sudah memilihmu. Mungkin belum ada cinta diantara kita, tapi aku akan berusaha untuk menjadi suami dan ayah yang mencintai keluarganya sebaik yang aku bisa. Samira, jangan melihat kebelakang … karena semuanya hanya masa lalu. Kita harus menatap masa depan dengan rencana dan optimis," jawaban pasti David berusaha meyakinkan Samira.
'Kak Dave, kamu manis sekali. Jika sudah seperti ini, aku tidak akan pernah melepasmu.' Gumam Samira dalam hatinya.
"Kak Dave, Viona masih belum berusia 1 tahun. Jika kak Dave menginginkan anak dariku, siapa yang akan merawat Viona?" Tanya Samira. Kali ini wanita itu memberanikan diri untuk maju selangkah dalam diskusi mereka.
David tersenyum senang, dia menangkap sinyal bersedia dari wanita yang malam ini di pinangnya. Sedikit merubah posisi duduk agar lebih nyaman, David sudah menyiapkan jawaban untuk keraguan Samira.
"Aku percaya padamu kak, tapi … berikan aku waktu untuk mengambil keputusan ini kak," ucap Smaira lirih. Wanita itu memberanikan diri melihat ke arah netra biru David, pria bule itu hanya menggeleng pelan.
"Jawablah sekarang Samira, aku memaksanya. Aku rasa tidak ada hal yang membuatmu berat untuk menerima permintaanku," sahut David. Pria itu sungguh tidak ingin memberikan waktu kepada Samira, jauh di dalam hati wanita itu sebenarnya sedang bersorak gembira.
"Aku bersedia kak, dengan persyaratan yang aku harap kak Dave menyetujuinya."
__ADS_1
Flashback off:
David membuka map yang berisikan tulisan tangan Samira, dia membaca poin-poin yang diminta oleh wanita itu. Salah satunya, David tidak boleh menceraikannya, jika sampai itu terjadi maka hak asuh anak dan semua harta milik Dave akan jatuh pada dirinya dan sang anak.
Seperti itulah kira-kira persyaratan yang Samira ajukan. Poin lain, bagi David tidakkah berat, karena semua bisa disanggupi oleh pria itu. Kesombongan benar-benar sudah merasuki jiwa seorang David Van Houten.
Ting!
David membuka ponsel pintarnya, dan tertera sebuah nama dalam aplikasi pesan.
Jack: David aku memintamu untuk datang ke kantorku sore ini.
Deg!
Hayoooo Jack manggil tuuh Dave.
__ADS_1
Hayuukk pemirsaahh likenya, komen, vote dan subscribe yaahh. Hadiah jangan lupa sayaang, tengkyuuhh pemirsaaah.