Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 54: Syarat Untuk Arsi


__ADS_3

Rangga terdiam dengan penjelasan Ngarsinah, Ningsih hanya bisa mengusap pundak gadis itu dengan harapan bisa membuatnya tegar dengan takdir Allah. 


"Arsi, apakah kamu bisa menerima anak-anakku seperti anakmu sendiri?" Tanya Rangga dengan hati-hati, walau dia tau anak-anaknya dengan Arsi sudah seperti sedarah sekandung. Tapi pria mapan itu tetap mempertanyakan untuk menetapkan keputusannya nanti. 


"Mereka adalah hadiah dari Allah untukku mas, walau kita tidak memiliki hubungan apa-apa, tapi kami sudah saling terkait satu sama lain. Aku mohon izin mas Rangga untuk menyayangi mereka sepenuh hatiku, dengan segala kekuranganku." Jawaban Ngarsinah terdengar tulus, wanita itu memang sangat menyayangi si kembar. Ningsih mendengarnya penuh haru, wanita paruh baya itu bisa merasakan bagaimana inginnya Ngarsinah memiliki buah hati dari rahimnya sendiri. 


"Jika kamu bisa menerima mereka dengan segenap hatiku, lalu apalah artinya istilah mandul yang selama ini para dokter katakan. Arsi aku menerima apapun itu keadaan mu, mari kita saling melengkapi." Ucap Rangga panjang lebar, ada rasa hangat yang menjalar di relung hati Ngarsinah. Sejak awal wanita dewasa itu tidak pernah menyesali takdirnya, trauma pernikahan tidak ada dalam kamusnya, karena dia percaya semua yang terjadi atas kehendak Allah dan kita sebagai hamba bisa mengambil hikmah dari semua peristiwa. 


"Apakah mas Rangga sudah yakin dengan apa yang mas ucapkan? Saya masih dalam masa iddah mas, apakah bisa kita memulai kisah ini?" Tanya Ngarsinah beruntun, keraguan dan kebimbangan menggelayuti hatinya yang butuh untuk dikuatkan. 


"Kita lewati masa iddah mu, dan pembicaraan yang disaksikan oleh ibu merupakan DP dari perjalanan cerita kita kelak," kelakar Rangga yang berusaha untuk bicara serius tapi santai. Ngarsinah mengerucutkan bibirnya lucu, wajah wanita cantik itu tampak bersemu merah jambu. Ningsih senang melihat apa yang sudah mereka sepakati. 


“Jadilah kelebihanku di antara banyaknya kekuranganku,” ucap Rangga dengan tulus, suasana meja makan berubah hening, hati kedua insan itu terus saja menata. Ningsih senang mendengar kesepakatan sepasang orang dewasa itu. 


“Rangga, nak Arsi, mama sangat mendukung hubungan kalian, dan mama yakin papamu juga mendukungnya. Perjalanan kalian baru saja dimulai, jangan pernah mundur ketika niat sudah terucap, halangan dan rintangan serta cobaan sudah menghadang di depan, hadapi semuanya dengan satu rasa yaitu kepercayaan satu sama lain.” Nasehat Ningsih kepada keduanya.


Tidak pernah terbayangkan oleh Ngarsinah sebelumnya atas keputusan besar yang dia buat saat ini. Bukan karena kesepian yang melanda hatinya, tapi karena kenyamanan yang sudah mulai dia rasakan. Rumah tangga bukanlah hal yang mudah untuk dijalani, tetapi dia pun tidak mau terjebak dengan rasa sakit di masa lalu sehingga membuat masa depannya menjadi beku. 


“Mas, aku bolehkan keluar dari perusahaan?” tanya Ngarsinah yang sejak saat ini mengganti panggilan formal untuk dirinya menjadi aku. Hal ini membuat senyum Rangga terkembang senang, pria itu tidak ingin membuat wanitanya merasa tidak nyaman, dia ingin memberikan apa yang Arsi suka dan bertekad untuk mendukungnya. 

__ADS_1


“Hmmm, ya boleh saja, tapi ada syaratnya,” jawab Rangga dengan mengangkat kedua alisnya dan menatap bergantian dengan sang mama. Ningsih mengerutkan keningnya, Tidak pernah selama ini dia melihat putranya tersenyum bahagia seperti saat ini, baru saja pulang dari rumah sakit, tapi Rangga tidak seperti orang sakit. 


“Kamu ini Ga, orang mau berkarya dengan usaha sendiri kok kamu bebani dengan syarat,” gerutu Ningsih memberengut. Rangga tertawa melihat sikap posesif mamanya kepada sang calon menantu. 


“Kamu boleh buka usaha sendiri, tapi tidak boleh tampil di depan publik, cukup Yuni saja yang melayani pelanggan atau yang berurusan dengan pelanggan. Kamu cukup di belakang layar,” jawab Rangga yang disambut dengan mata bulat Ngarsinah yang membelalak heran, Ningsih pun tak kalah heran dengan apa yang barusan di ucapkan oleh putranya. 


“Mas kamu ini apa-apan sih, mana bisa kayak gitu, namanya juga usaha baru merintis ya  aku dan Yuni akan menjadi pembuat sekaligus memasarkannya.” Jawab Ngarsinah dengan bibir yang sudah mengerucut. 


“Mama mau bikin apa?” suara cempreng milik Arista menginterupsi pembicaraan ketiga orang dewasa tersebut.


"Mama mau bikin kue, trus jualan deh, dedek mau bantu mama nggak?" Tanya Ngarsinah lembut sambil mengangkat gadis kecil itu duduk di pangkuannya. 


"Yeeeyyy mama jualan kue, nanti dedek yang beli terus dedek ajak temen-temen disekolah beli kue nya mama," ucap Arista girang, matanya berbinar cemerlang. Arya ikut mendekati meja makan, Rangga dengan sigap mengangkat tubuh pria kecil itu ke pangkuannya, sehingga tidak ada perbedaan dirinya dengan sang adik. 


"Kakak suka muffin?" Tanya Ngarsinah ingin memastikan. Arya mengangguk girang, pria kecil itu tersenyum memperlihatkan giginya yang ompong. 


"Okaay nanti mama akan bikin muffin dan kita jual, kakak sama dedek bantuin mama jualan ya." Ucap Ngarsinah melanjutkan ucapannya. 


"Kalo gitu papa nanti cari yang gratisan aja aaahh!" Sahut Rangga memancing emosi kedua bocah kecil itu, benar saja dugaannya. Arista dan Arya langsung menatap sang papa dengan tatapan tidak suka. 

__ADS_1


"Nggak boleh!"


"Nggak boleh!" Teriak kedua bocah itu bersamaan. Ngarsinah, Rangga dan Ningsih Pun tertawa bersama. Riuh ramai suasana rumah besar milik Rangga, hilang rasa sakit yang dia rasakan beberapa hari terakhir ini. 


Tanpa terasa hari sudah mulai sore, Yuni sudah menanyakan jam berapa Ngarsinah pulang. Dengan cepat wanita itu membalasnya dan mengatakan dirinya akan pulang sekarang. 


"Mas, aku naik taxi online saja ya, mas istirahat, jangan lupa ibadah dan beberapa hal yang tadi kita bahas, harus mas lakukan. Semoga Allah berikan kesehatan untuk mas, aku ikut sedih ketika mas sakit seperti kemarin." Ucap Ngarsinah dengan tulus dan raut wajah yang sendu.   


"Iya deh, tolong telepon aku kalau sudah sampai, dan jangan lupa besok ke kantor dan serahkan surat pengunduran diri ke HRD ya." Ucap Rangga sambil menggandeng kedua buah hatinya di kanan kirinya. Ngarsinah mencium punggung tangan Ningsih dengan takzim, lalu Ningsih meraup wajah cantik gadis itu dan mencium pipi kiri dan kanannya. 


"Arsi, mulai sekarang, panggil mama ya," ucap Ningsih lembut. Ngarsinah sedikit tertunduk malu karena merasa asing dan canggung dengan panggilan itu. 


"Ba-baik ma, Arsi pulang dulu, mama yang sehat ya." Jawab Ngarsinah dengan pipi yang merona. Taxi online pun memasuki halaman rumah besar itu. Ngarsinah melangkah masuk kedalam mobil diiringi linangan air mata gadis kecilnya dan lambaian tangan pemuda tampan yang imut dengan mata tajam yang indah. 


"Arsi, kita dapat orderan pertama!" 


❤️❤️❤️


Seneeengnya Rangga di terima Arsi, pepet terus ya Ga, jangan sampai lengah.

__ADS_1


Yuukk pemirsa diseluruh dunia like nya ya, komen, vote dan hadiah. tengkyuuhh pemirsa


❤️❤️🥰🌹🌹


__ADS_2