Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 142: Misi Dimulai


__ADS_3

Hari ini Arsi sedang menyiapkan diri untuk bertemu dengan Sarah, sesuai rencananya bersama sang mitra baru yang sangat aneh tapi menyeramkan itu. Yuni sudah di briefing oleh Arsi tentang misi yang akan dia jalankan, sebenarnya pengantin baru itu merasa lucu juga mendengarnya. Tapi karena yang meminta ini bukan orang biasa, salah-salah kata bisa bolong ini kepala. 


Tidak lama tamu yang ditunggu akhirnya datang juga, Arsi berusaha senatural mungkin saat berhadapan dengan Sarah. Saat melihat gadis yang berjalan anggun dengan aura kecerdasan yang begitu kuat membuat Arsi tersenyum penuh Arti. Hijab dan pakaian yang longgar sehingga menyamarkan tubuh ramping sang dokter muda itu membuat Arsi memiliki doa yang langsung dia langitkan.  


‘Ya Allah, jadikanlah gadis ini sebagai jalan hidayah untuk teman baru kami Jack. Tidak ada yang tidak mungkin jika engkau berkehendak, Aamiin.’ Gumam Arsi lirih dan hanya dia saja yang mendengarnya. 


Setelah mengucapkan salam, Sarah pun menyapa Arsi yang sengaja berdiri di meja order. Yuni sudah majang manis di meja kasir, sungguh dua orang wanita yang siap menjalankan misi. 


“Mbak … saya pesan agak banyak, tapi bisakah saya tunggu?” Tanya Sarah kepada Arsi. Wanita itu menyurungkan catatan yang diberikan Jack, lumayan banyak dan untuk menunggunya bisa memakan waktu, sampai 2 jam bahkan lebih. 


“Pesanan atas nama siapa mbak?” Tanya Arsi yang sudah membaca semua pesanannya. Sarah sedikit bingung, sebaiknya menggunakan nama dia sendiri atau nama Jack. Sarah memang tidak pernah belanja kue di kedai level menengah keatas, dia biasa beli kue di warung atau di pasar yang di sekitar Villa. 


“Ini yang pesan namanya tuan Jack, kalau nama saya Sarah, mbak. Bisakah saya tunggu mbak?” Tanya Sarah dengan senyum manisnya.Arsi menuliskan di nota order dengan senyum tipis penuh arti, ‘JACK-SARAH’. 


“Mbak semuanya bisa di tunggu tapi agak sedikit lama, sekitar 2 jam atau lebih. Gimana mbak?” Tanya Arsi. Wanita itu sudah sudah mengirimkan pesan ke suaminya kalau Sarah sudah datang, pria tampan yang ada di seberang sana pun senang lalu melaporkannya kepada Jack. 


“Nggak papa mbak, karena saya disuruh untuk membawa pesanannya langsung kepada beliau. Saya tunggu di sana saja ya mbak dan sekalian pesan juga untuk makan disini,” jawab Sarah dan langsung memesan cemilan untuk temannya menunggu. 


“Silahkan menunggu di dalam mbak, karena pesanannya lama. Mari ikut saya,” ajak Arsi ramah. Sarah mengangguk dan mengekor di belakang Arsi. Sampai di ruang keluarga Arsi mengajak tamu nya untuk duduk di sofa, orderan Sarah pun sampai dan langsung dihidangkan oleh waitress yang bertugas. 


“Makasih loh mbak Sarah sudah pesan banyak banget, oya … tuan Jack itu pelanggan lama kami loh.” Ucap Arsi membuka pembicaraan. 

__ADS_1


“Sama-sama mbak, eemm … mending panggil Sarah aja deh mbak, biar lebih enak,” Sahut Sarah ramah. Arsi tersenyum lebar dan memberikan tanda ok dengan menyatukan jari telunjuk dan jempol nya membentuk huruf O. 


“Waah pantesan … kapan hari ada plastik dengan brand Why A, ternyata disini ya tempatnya. Mbak yang punya?” Tanya Sarah kagum.


“Iya, aku merintisnya bersama Yuni, itu yang duduk di meja kasir tadi. Sarah kerja dimana?” Tanya Arsi pura-pura tidak tahu. 


“Aku dokter di klinik perusahaan tuan Jack, mbak.” Jawab Sarah. 


“Beruntung lo kamu bisa kerja di tempat Jack, dia itu orangnya baik banget walau kadang serem karena terlalu berwibawa kali ya,” ucap Arsi mulai promo. 


“Waah mbak kayaknya dah kenal lama ya sama beliau? aku jarang sih mbak bicara sama beliau, kemaren aja saat beliau datang ke klinik dan agak sakit. Beliau tiba-tiba minta aku belanja kue kesini, agak aneh memang tapi ya … aku kan cuma karyawan jadi ya nurut aja mbak selama itu masih wajar.” Sahut Sarah polos. Arsi yang melihat kepolosan gadis itu jadi gemas sendiri, sesaat Arsi berpikir bagaimana bisa langsung masuk ke pokok permasalahan. 


Arsi terkejut mendengar apa yang di ceritakan dokter muda itu, ada sedikit keraguan di hati Arsi untuk menjalankan misi itu. Dia takut Jack akan melukai gadis lembut yang sekarang menjadi target sang mafia, Arsi tidak mengetahui hal itu sebelumnya dan hal itu membuat wanita cantik itu pusing 7 keliling. 


Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan hanya dengan satu kali pertemuan, Arsi harus menanyakan langsung cerita mengerikan itu kepada Jack. Dia tidak ingin salah langkah, ini menyangkut nyawa dan masa depan Sarah. 


Arsi bercerita, kalau Jack sangat sayang pada kedua anaknya yang kemarin sempat mengganggu perjalanannya. Tapi Jack malah merasa senang dan kini dia pun berencana ingin memiliki sebuah keluarga dan anak-anak. 


“Mbak, aku harus gimana ya menurut mbak?” Tanya Sarah yang kini sudah semakin nyaman dengan Arsi. Entahlah apa yang saat ini Sarah rasakan, tapi dia merasa seperti sedang bicara dengan kakak sendiri saat bicara dengan Arsi. 


“Sarah, kalo aku liat Jack itu orang yang baik kok. Cuma emang kerjaan dia kan keras ya jadi dia seperti itu, siapa tau kamu bisa menjinakkan singa buas itu.” Tutur Arsi mencoba membuka pikiran si dokter muda. 

__ADS_1


“Ajakannya itu yang bikin serem Mbak, tapi jika aku menolak pun takut karena bisa aja nanti dia bikin aku berangkat ke akherat.” Ucap Sarah dengan raut wajah yang lucu di mata Arsi. Mereka berdua tertawa bersama, Perbincangan meng-ghibah Jack terus berlangsung. 


Arsi sudah tau poin penting yang membuat gadis itu ragu dengan jack, perlakuan sadis Jack berhubungan dengan wanita. Ya iya lah … siapa yang nggak serem kalo begitu, boro-boro hamil, yang ada depresi perempuannya. 


Karena merasa dekat, akhirnya mereka berdua pun saling bertukar nomor ponsel dan Arsi pun sangat senang karena melalui jalur Jack dia kembali mendapatkan saudara angkat yang baik. Pesanan yang di pesan oleh Sarah pun selesai dan hari semakin siang, Arsi menawari Sarah untuk makan siang bareng di kedai itu dengan menu masakan rumahan. 


Sarah tidak menolak dan dengan cepat dia mengirim pesan kepada sang bos kalau dia agak terlambat karena di ajak makan siang bersama Arsi. Supir yang bertugas mengantarkan Sarah pun ikut juga makan bersama, Arsi tidak membedakan siapapun itu, dan kini mereka pun berada di satu meja makan yang sama. 


Yuni ikut bergabung karena sudah ada karyawan yang lain menggantikan mereka untuk melayani pelanggan. Sedari tadi sebenarnya Yuni sedang mengamati Sarah, sepertinya dia pernah bertemu dengan gadis itu, tapi dimana dia lupa. 


“Mbak Sarah, aslinya mana? Tanya Yuni dengan senyum ramahnya. 


“Dari desa Rorocobek mbak Yuni,” 


❤️❤️❤️


Naaahh jangan-jangan kenal niihh 🤔.


Hayuuukkk ramaikan jempolnya pemirsaahh, komen, vote, hadiah dan subscribe ya. tengkyuuhh pemirsaahh.


❤️❤️❤️🤔🤔🤔🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2