Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 94: Chubby Atau Gembrot?


__ADS_3

Rangga merasa kesabarannya benar-benar diuji, sang istri pagi ini kembali membuat ulah, beberapa ART berteriak memanggil namanya hingga membuat Rangga bingung apa yang sedang terjadi. Matahari baru saja akan terbit, sehabis sholat subuh sang Ngarsinah langsung keluar dari kamar. Dalam pikiran Rangga, istrinya akan ke dapur untuk memasak. Namun semua itu ternyata tidak terjadi, Wanita itu seakan sedang menikmati waktunya dengan cara yang aneh. 


“Astaghfirullah, sayang … kamu ngapain? Ayo turun! itu mangganya belum pada mateng,” teriak Rangga yang terkejut melihat istrinya sedang nangkring di pohon mangga dengan santai. Entah apa yang terjadi dengan Arsi, wanita anggun itu menunjukkan sisi lainnya. Memanjat pohon mangga untuk mengambil mangga muda, padahal dia beli pun bisa. 


“Bentar mas, satu lagi nih mau ambil yang besar. Bik tolong tangkap ya!” ucapnya berteriak, wanita itu tidak peduli dengan orang-orang yang kini khawatir dengan dirinya. 


Setelah puas memetik mangga di halaman belakang, wanita itu turun dengan sangat lincah. Rangga baru kali ini melihat keahlian sang istri, ada rasa kagum diantara rasa takutnya.


“Sayang, kamu hebat ya pinter manjat. Tapi kenapa masih pagi begini kamu sudah atraksi begitu? kan bisa minta tolong pak satpam,” ucap Rangga setelah bertanya kenapa istrinya aneh-aneh saja pagi ini. 


“Aku pengen manjat mas trus pengen makan mangga yang belum mateng, kasian pak satpam kalo harus manjat. Makasih ya bik, nanti biar saya yang bikin tolong di kupasin aja.” Jawab Ngarsinah sambil menggandeng tangan Rangga memasuki rumah, Rangga mengikut saja sambil berpikir keras apa yang membuat istrinya berubah. 


Pagi ini semua berjalan seperti biasa, suami istri ini sudah membagi tugas mereka masing-masing. Entah kenapa wanita cantik itu ingin sekali ke kantor suaminya, setelah membeli beberapa jajanan street food Ngarsinah melajukan mobilnya ke kantor Rangga.


Rangga yang kedatangan ibu ratu, semakin bingung. Pria tampan itu meminta Tomy mengatur ulang jadwalnya, Rangga sudah bersiap untuk menemani sang istri selama berada di kantor. 


“Assalamualaikum suamiku …” sapa Arsi saat memasuki ruangan Rangga, senyumnya sangat cerah dan itu menandakan kalau sang nyonya sedang bahagia. 


“Waalaikumsalam istriku … tumben kamu kesini sayang, nggak ke kedai?” tanya Rangga penuh dengan kehati-hatian. Berharap tidak terjadi perubahan cuaca secara mendadak. 


“Tadi aku beli ini mas, cilok, siomay dan beberapa kue jajanan pasar. Ada juga kelepon, yuk makan mas.” Ajak Ngarsinah dengan tangan yang sibuk membuka satu persatu makanan yang dia beli. 

__ADS_1


Glek!


Rangga menelan salivanya, pria itu masih kenyang karena belum ada satu jam yang lalu mereka semua sarapan. Ngarsinah seakan tidak peduli dengan tatapan tak terbaca dari suaminya, wanita itu meminta piring dari bagian pantry. 


Nyonya Rangga sepertinya sudah mulai kalap dengan apa yang dia hadapi, tawaran makan bersama suaminya hanya sekedar basa basi karena pada kenyataannya dia menikmati sendiri. 


“Sayang aku nyicip aja ya, takutnya kamu kurang. Suapin dong sayang,” ucap Rangga menyahuti tawaran dari sang istri. Dengan mulut yang berisi cilok, Ngarsinah hanya mengangguk dan menyuapi sang suami dengan makanan yang dia pilih. 


“Sayang, kamu keliatan chubby deh sekarang. Jadi makin cantik,” ucap Rangga tulus, memang terlihat Ngarsinah lebih cantik dari biasanya. Wanita itu berhenti mengunyah, tatapannya tiba-tiba berembun. Rangga mengira istrinya terharu karena pujiannya yang tulus, tapi sejurus kemudian–


“Mas, kamu kok gitu sih nyindirnya? aku gembrot ya mas? kamu udah nggak suka sama aku lagi? Hiks … hiks,” tangis Ngarsinah pecah seketika, dan bisa di bayangkan Rangga panik dibuatnya. Kenapa istrinya sangat mudah salah paham, dia hanya bicara jujur dan nggak bilang gembrot kan?


“Aku tau mas kamu bohong, dasar laki-laki sama aja semuanya. Apa ada yang mas lirik diluar sana? aku nggak rela mas … aku mau pulang kerumah mama aja.” Balas Ngarsinah dengan tubuh meronta dari pelukan suaminya. Nafsu makannya pergi entah kemana, dan kini sang nyonya bersiap pergi meninggalkan suami untuk ke rumah mertuanya. 


Rangga menarik nafas panjang, pria itu merasa ada yang tidak benar dengan istrinya, wanita itu sangat labil beberapa waktu terakhir ini. Tapi Rangga tidak bisa menebaknya ada apa dengan sang istri. Dengan cepat dia menyusul sang istri, Tomy yang mendapat tugas dadakan untuk menghandle pekerjaan, bersungut-sungut kesal tapi tidak berdaya. 


Walau kesal tapi Ngarsinah tidak menolak saat Rangga mengantarkannya. Hati kecilnya tidak ingin berjauhan dari suami, tapi rasa sedih dan terluka karena dibilang chubby tetap menggores hatinya yang rapuh. Aduuh bu bos ini ada-ada saja ya dramanya, hehehe.


Begitu mobil mereka terparkir manis di halaman rumah Ningsih, Ngarsinah langsung keluar dengan air mata yang masih berderai. Ningsih yang sedang merawat bunga-bunga di taman depan, merasa senang sekaligus heran melihat kedatangan anak dan menantu. 


“Mama … Hiks, Arsi nggak mau pulang ma ….” tangis Ngarsinah pecah saat di peluk oleh Ningisih, wanita itu bertanya kepada Rangga melalui tatapan matanya. Rangga hanya bisa mengangkat kedua bahu dan mengusap leher bagian belakangnya yang mendadak dingin. 

__ADS_1


“Tenang dulu ya sayang, kalian bertengkar?” Tanya Ningsih dengan lembut, tangannya yang mulai keriput itu mengusap punggung Ngarsinah dengan kasih sayang. 


Kini mereka bertiga duduk di kursi teras, Rangga berusaha tenang. Ngarsinah meminum teh hangat milik sang mama hingga kandas tanpa sisa. Jelas saja hal ini membuat Ningsih tersenyum dan menahan agar tawanya tidak pecah. Rangga ternganga melihat tingkah istrinya, Tangisan Ngarsinah masih berlanjut. 


“Ma, mas Rangga sudah nggak sayang sama Arsi lagi. Dia bilang Arssi gembrot, coba mama dibilang gitu pasti sakit hati kan? luka hati Arsi ma … luka, Hwwwaaa ….” Adu Ngarsinah mendrama, Wanita itu mengerutkan keningnya, perilaku sang menantu sungguh tidak biasa. 


“Nggak gitu juga ma, aku cuma bilang dia keliatan Chubby sekarang. Itu doang,” sahut Rangga membela diri, dia tidak ingin bicara panjang takut kalau nanti urusannya semakin panjang. 


Beberapa saat mereka bertiga bicara dan berusaha menenangkan hati Ngarsinah yang sedang terluka, aaiiissh. Lelah menangis Ngarsinah pamit ingin tidur di kamarnya, tanpa peduli dengan tatapan kedua orang beda generasi itu dia pun berlalu untuk naik ke lantai dua. 


“Ga, bulan ini Arsi udah datang bulan belum?” Tanya Ningsih menyelidik, karena perubahan sikap menantunya yang cukup drastis. Rangga kembali memastikan ingatannya, pria tampan itu yakin kalau bulan ini Ngarsinah belum juga datang bulan. 


“Bulan ini belum ma,”


❤️❤️❤️


Naah kan, buruan deh di check Ga ... 🤭


Yuuukk jempolnya, komen, vote dan hadiahnya ya pemirsaaahhh ...


❤️❤️❤️🥰🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2