Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 71: Dipingit


__ADS_3

Yuni dan Bram semakin dekat, hampir tiap hari mereka bertemu. Bram menjadikan kedai roti milik Arsi sebagai tempat meeting dengan klien-kliennya, secara tidak langsung pria itu membantu mempromosikan Why A. 


Di kediaman Rangga, pria itu sungguh tidak tenang, selama 24 jam dia tidak diijinkan untuk menghubungi Ngarsinah, baik chat apa lagi video call. Si kembar juga sibuk sendiri menyiapkan kebutuhannya dan bermain dengan sepupu-sepupunya, Ningsih dan Boby jangan ditanya bagaimana sibuknya sepasang suami istri yang sedang bahagia itu.


"Ma, jangan sampe kecapean, acaranya besok loh. Mama istirahat aja, ngobrol sama bude dan tante. Aku mau ketemu anak-anak dulu di belakang," ucap Rangga yang kasihan melihat sang mama sibuk wara-wiri. 


Sebenarnya pria itu suntuk, biasa melakukan banyak hal tapi sekarang malah disuruh duduk tanpa melakukan apa-apa. Kata eyang nya, pamali calon pengantin kerja, jadi harus santai menyiapkan tubuh untuk acara besok. 


"Eehh calon penganten, mukanya kusut amat, kayak dompet akhir bulan. Kenapa bro?" Tanya Sam yang menyambut kehadiran Rangga di taman belakang. Si kembar sibuk bermain bola dengan saudara-saudaranya, cukup ramai juga keluarganya yang datang.


"Samy, kapan kamu datang?" Rangga memberikan salam ala pria, Samy sepupunya yang sekarang tinggal di Amerika, dan datang khusus untuk menghadiri pernikahannya. 


"Subuh tadi, waktu aku datang kamu masih tidur bro. Aku dengar calon iparku orang yang istimewa, aku mendengarnya dari Betty," jawab Samy, pria itu merasa penasaran dengan sosok Arsi yang membuat Betty kehabisan langkah. 


"Dia wanita yang mampu membuat anak-anakku jatuh cinta bro, cantik, pintar dan mandiri. Dia paket lengkaplah pokoknya, hahaha" jawab Rangga antusias, pria itu nampak sekali bangga dengan calon istrinya. 


Lama mereka berbincang, tanpa terasa hari mulai gelap, terdengar dari kejauhan Arista menangis dengan kencang. Rangga berlari menghampiri sang putri yang sedang dibujuk oleh Arya. 


"Mamaaaa! Sakit ma …!" Teriak Arista sambil memegangi lututnya yang berdarah. Rangga yang melihat itu langsung menggendung gadis kecilnya masuk kedalam dengan maksud untuk segera di obati. 


Arista yang sudang nangis kejer, susah untuk di bujuk. Pikiran gadis kecil itu adalah mamanya, beberapa saudara yang lain merasa kebingungan, siapa mama yang dimaksud oleh bocak cantik berumur 5 tahun itu. 


"Mamaaaa!" Tangisnya semakin menjadi, Ningsih mulai kewalahan mengatasi cucu kesayangannya. Kalau sudah begini mau tidak mau dia harus mengantarkan sang cucu ke rumah calon menantunya. 


"Biar Rangga yang antar ke rumah Arsi ma," ucap Rangga cepat, dalam hatinya ini adalah kesempatan dirinya untuk bertemu sang pujaan hati. 


Plak!

__ADS_1


"Adduuh mama, sakit tau," pekik Rangga setelah mendapatkan ceplesan panas tangan sang ibu tercinta.


"Masih ada yang lain untuk nganter dedek kerumah mamanya, kamu dirumah aja. Samy … ayo anter bude kerumah kakak ipar mu," titah Ningsih tak terbantahkan, Samy yang di panggil dan mendapatkan tugas ke rumah Arsi langsung melesat cepat. 


"Tahan ya bro, awas ntar calon kakak ipar bisa ganti status nih kalo dia ketemu aku, hahaha" ledek Samy, yang di sahuti dengan lemparan serbet oleh Rangga. 


Tawa pun berderai dari para penonton yang melihat ulah dua anak dewasa yang mendadak seperti ABG itu. Arista kini sudah di perjalanan menuju kediaman Ngarsinah, Arya juga tidak ingin ditinggal, akhirnya kedua anak itu pun berangkat untuk menginap di rumah mamanya. 


Sesampainya mereka di rumah Ngarsinah, semua orang yang ada di rumah itu bingung. Kenapa anak-anak datang, Ngarsinah yang mengetahui hal itu ikut berlari keluar. 


"Mama, dedek kenapa?" Tanya Ngarsinah yang nampak panik dan langsung menggendong putri kecilnya agar berhenti menangis. 


"Tadi main sama saudaranya di halaman belakang, terus jatuh," jawab Ningsih yang punggung tangannya sedang di cium oleh sang calon mantu. 


Mereka Pun masuk kedalam Rumah, Samy yang baru saja melihat Ngarsinah langsung terpesona, pria tampan dengan perpaduan bule–indonesia itu tidak melepaskan sesikitpun pandangannya ke arah Arsi yang sedang mengobati luka sang putri. 


Ajaib, tangisan Arista berhenti, gadis kecil itu pun mulai tenang dalam pelukan sang mama. Ningsih keliling rumah dan masuk kedalam dapur produksi. Yuni yang melihat calon mertua sahabatnya itu langsung mendekat dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu. 


"Om, tolong tundukkan pandangan, jangan ngeliatin mamanya Arya kayak gitu. Arya tau om suka sama mama Arsi," tebak Arya setelah memergoki omnya yang sedang memandang kagum wanita yang diam-diam menjadi idola bocah kecil itu.


"Yaaahh ni bocah, iya kak … iya. Cuma ngeliat gitu doang udah marah,kak" jawab Samy kesal, pria itu memang sedang terpesona oleh aura kecantikan Ngarsinah.


'Bisa aja Rangga dapetin cewek begini di abad sekarang, sederhana tapi sedep banget diliatnya. Modelan begini bisa di tikung nggak ya?' gumam Samy di dalam hati, namun senyum jin ifritnya membayang pada bibir seksinya. 


"Om, lagi mikir apa? Kok senyum-senyum sendiri," tanya Arya yang membuat Samy sedikit terlonjak. 


"Ya Allah ni anaknya Rangga, duuuhh kamu kok curiga aja sih kak? Om lagi mikir kerjaan, emang kenapa?" Tanya Samy yang merasa semakin gemas dengan anak sepupunya itu. 

__ADS_1


Wajah imut Arya yang terus saja memandang Samy dengan tatapan menyelidik membuat Samy seperti sedang dikuliti oleh anak umur lima tahun. 


"Ok, aku percaya, janji laki-laki dulu, agar om tidak naksir mamaku. Begini caranya om," Samy menepuk jidatnya pelan, dia tidak habis pikir dengan anak kecil yang ada di hadapannya. 


Baru saja Samy ingin melipat di tikungan, laah sekarang malah bertemu jalan buntu. Anak nya Rangga, kecil-kecil udah jadi bodyguard calon emaknya. 


"Iya deh om janji, gimana caranya kak, janji laki-laki?" Tanya Samy pada akhirnya mengalah. Arya tersenyum lebar, dalam pemikirannya dia sudah berhasil membuat pria dewasa tunduk pada maunya. 


Dengan menggerakkan jari telunjuknya dan dimasukkan ke dalam hidung, Samy juga mengikutinya. Lalu mereka menyatukan jari mereka, hal ini membuat Samy tertawa terpingkal-pingkal. 


Ngarsinah yang sudah selesai mengobati anak gadisnya yang imut itu pun baru menyadari ada seorang pria yang bersama calon mertuanya tadi dan belum sempat dia sapa. 


Ningsih pun menyadari itu, lalu mereka ke ruang tamu bersama-sama, Ningsih mengenalkan Samy kepada Ngarsinah. 


"Nak Arsi, kenalin ini keponakan mama, dia baru datang dari Amerika untuk acara pernikahan kalian. Samy ini yang selalu main bareng Rangga saat kecil," ucap Ningsih. Ngarsinah menangkupkan tangannya di depan dada, Samy yang mengetahui hal itu mengikuti apa yang dilakukan oleh wanita calon iparnya itu.


"Arsi …" ucap Arsi. 


"Samy …" sahut Samy. Pria itu ingat akan janjinya kepada bocah kecil itu, dia pun menjatuhkan pandangannya. 


"Mari silahkan duduk, mas" ajak Arsi ramah. Arista yang masih dalam gendongannya terus saja nepel seperti koala, seperti itulah kedekatan bocah-bocah kecil itu kepada calon ibu sambungnya. 


"Iya Arsi, terimakasih, ehem … betewe masih ada temen yang masih jomblo gak nih, yang sama kayak Arsi?" 


❤️❤️❤️


Itulah pentingnya calon pengantin di pingit, karena ujiannya ada-ada aja 😆

__ADS_1


Yuuukk ramaikan like nya, komennya, votenya dan hadiahnya ya pemirsa, tengkyuuuhh ❤️❤️❤️🥰🌹🌹🌹



__ADS_2