
Familymoon akhirnya berakhir dengan sukses, hanya Rangga yang merasa kurang puas, tetapi sebagai pengantin berstatus punya anak maka pria itu harus pasrah dengan kenyataan yang dia hadapi.
Sesampai dirumah Ningsih, kehebohan kembali terjadi. Si kembar ingin menginap di rumah neneknya tetapi kedua orang tuanya juga harus ikut dengan alasan melanjutkan liburan tapi tetap aman dan bisa sekolah besok pagi.
"Sayang, kita pulang kerumah aja ya, biar besok pagi nggak ribet sekolahnya. Gimana?" Bujuk Ngarsinah lembut, Arista yang paling cerewet dibandingkan Arya, gadis kecil itu banyak sekali maunya.
"Nggak maauuu ma … hiks, dedek masih pengen liburan, kita bobok disini aja ya ma. Kakak juga mau kan?" Tanya gadis itu kepada saudara kembarnya dan kini Arista sudah terisak menangis, Arya yang melihat adik kembarannya menangis tentu saja tidak tega dan tanpa pikir panjang mengangguk.
"Bobok sini aja ma, pa. Kakak juga mau main sama kakek, kata kakek kemaren mau ngajakin kakak main badminton, iya kan kek?" Arya bertanya kepada sang kakek yang langsung kaget kenapa dia diikutkan dalam drama keluarga baru itu.
"Arya mau main? Kakek sih ok aja, sebentar kakek mau beresein barang-barang ini dulu, Arya siap-siap pake sepatu dan ambil raketnya ya. Dedek mau main apa?" Tanya si kakek yang melihat cucu perempuannya sudah berderai air mata di pangkuan sang mama. Arya berlalu menuju belakang rumah, bocah laki-laki tidak mau ikut dalam drama adiknya, baginya cukup meng-iya kan maunya itu sudah baik.
"Papa, besok pagi anak-anak sekolah loh …" protes Arsi melihat mertuanya yang dengan mudah menyetujui permintaan cucunya.
"Biar saja nak, rumah ini juga semakin sepi karena kalian jarang kesini. Sudah biarkan mereka bermain kamu istirahat sana," ucap Boby kepada menantu kesayangannya. Ngarsinah tidak bisa lagi membantah, Ningsih sudah sibuk di dapur menyiapkan makanan dan cemilan untuk anak dan cucunya.
"Sayang, kita lanjut bulan madunya disini aja ya, yuk!" Ajak Rangga bersemangat, dia tidak ingin melewatkan kesempatan berharga ini, disaat anak-anak sedang sibuk dengan mainan mereka. Ngarsinah mengerutkan dahinya, melihat wajah suaminya yang mulai mesum itu membuat tangannya jadi gatal ingin mencubit perut kotak-kotak sang suami.
"Mas ini! Aku mau bantu mama di dapur, nanti aja kalo mau tidur. Malu kan mas, masih terang loh ini …" ucap Ngarsinah sambil tangannya tidak tinggal diam. Rangga yang mendapatkan sengatan tak beracun itu pun nyengir.
"Aaawww … sakiiit sayang, kamu tu emang tega ya, dosa lo nolak suami. Bentar aku bilang ke mama dulu ya, biar kita gak di cariin," Rangga berdiri dari duduknya, pria itu akan pamit kepada sang mama karena mau melakukan pembibitan. Seperti itulah rencana pria yang isi kepalanya mulai mesum itu.
__ADS_1
"Eehh … jangan mas, adduuhh kamu mau bilang apa ke mama? Tanya Ngarsinah gugup dan sudah ikutan berdiri, beruntung gadis kecilnya sudah menyusul sang kakak ke taman belakang jadi pembicaraan itu hanya mereka saja yang mendengarnya.
"Pamit mau pembibitan," jawab pria itu enteng dan sepertinya sudah kehilangan urat malunya. Sontak Ngarsinah panik, wanita itu tidak habis pikir kenapa suaminya ini bisa berpikir seaneh itu.
"Jangan apanya nak?" Tanya Ningsih yang tau-tau ada di belakang Ngarsinah.
Glek!
Tiba-tiba Ngarsinah menelan salivanya dengan paksa, wanita itu tidak sanggup menanggung malu jika sang mama mertua mendengar pembicaraan mereka, yang begitulah.
"Eh mama, anu ma … itu mas Rangga. Emmm …” Ngarsinah sungguh bingung harus menjelaskan apa kepada sang mama, Rangga siap-siap akan menjawab. Ngarsinah sudah membulatkan mata kearah suami mesumnya itu, seakan memberikan kode jangan sampai Rangga membuat nama baiknya tercoreng, sungguh berlebihan sekali pikiran mantan janda itu hehehe.
“Mau minta ijin ke mama, jangan nyariin kami berdua, karena Rangga mau praktek pembibit …” jawaban Rangga yang sama sekali tidak disaring membuat Ngarsinah menjadi panik. Hancur harga dirinya jika sang mertua tau apa rencana mereka.
“Ahhh iya bener ma, jadi mama nanti jangan nyariin kami ya, ayo sayang ntar keburu malem. Mama masak sendiri nggak papa kan?” tanya Rangga basa basi, jelas saja tidak apa-apa, asisten rumah tangga mereka akan selalu siap sedia membantu sang mama dan kalau mamanya mau duduk manis pun itu tidak masalah. Rangga sebenarnya sangat bangga dengan sang istri yang selalu membuat sang mama bangga karena menjadi menantu idaman dan sayang keluarga, namun disaat seperti ini tidak bisa dia menahan diri.
“Ya, nggak papa santai aja, bibik aja nanti yang masak, tadi mama cuma bikin cemilan. Gih sana buruan mumpung masih sore,” jawab sang mama dan hal itu membuat Ngarsinah bernafas lega, dengan cepat Rangga menyambar tangan Arsi untuk naik ke kamarnya yang berada di lantai dua. Baru saja beberapa langkah mereka menaiki anak tangga, tiba-tiba suara Ningsih memanggil Rangga.
“Rangga …” panggil Ningsih.
“Ya ma,” jawab Rangga yang menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah sang mama.
__ADS_1
“Emang bibit apa yang mau ditanam? kenapa nggak besok pagi aja,” Tanya Ningsih dengan kening yang berkerut melihat kearah pengantin baru itu.
Deg!
Rangga tiba-tiba hang dan merasa gemas dengan sang mama yag tidak memiliki kepekaan terhadap dirinya yang sudah ingin meledak itu. Ngarsinah bisa merasakan aura horor dari wajah sang suami, hal ini bisa saja berakibat buruk terhadap nama baiknya.
“Mama, kenapa harus nanya gitu sih, ya besok pagi nanem bibit lagi juga bagus, tapi sekarang ini harus ma. Udah ya ma jangan kebanyakan mikir ntar keriputnya nambah loh, ingat ma skincare mahal!” jawab Rangga sekenanya, dirinya sudah tidak sabar ingin segera bercocok tanam sementara sang mama malah menjeda, hufff mantan duda itu ternyata lebih garang dari singa ya pemirsaaahh hahaha.
“Ohh gitu, ya sudah sana, mama mau ke kamar dulu deh mau ngecek kerutan. Jangan sampe ni kerutan nambah banyak, bisa berabe urusan,” sahut Ningsih memberikan izin bagi pasangan baru itu untuk melanjutkan rencana menanam bibit. Sementara Ningsih sudah beralih pikirannya ke wajah yang kini dia raba, ucapan Rangga tadi sungguh membuat hati dan pikirannya resah secara bersamaan. Kerutan bertambah itu akan membuatnya jadi repot untuk perawatan ke klinik kecantikan.
Ceklek!
Pintu kamar Rangga terbuka dan dengan tergesa pria dewasa dengan ketampanan tak terbantahkan itu segera menuntun istrinya untuk segera masuk dan dengan cepat Rangga menci pintu.
“Aaaww … Mas!” Teriak Ngarsinah yang tiba-tiba saja tubuhnya melayang karena digendong ala bridal style oleh suami mesumnya. Rangga tidak memperdulikan teriakan istrinya, di telinganya suara jeritan kaget Ngarsinah seperti alunan musik yang indah.
Pengantin baru itu tidak ingin membuang waktu, semuanya terjadi dengan begitu perlahan namun membuat keduanya terbang menuju nirwana. Rasa haus yang mencekik kini terbebas sudah, bagai seorang musafir yang menemukan oase di padang pasir, Rangga dan Ngarsinah sama-sama mereguk kebahagiaan dalam cinta. Author mau minggir dulu ya, biar gak ganggu wkwkwkwk.
❤️❤️❤️
Rangga bener-beneerr deehh ya, pengen tak jeweerr rasanya 🤣🤣🤣
__ADS_1
Haayuukk jempol nya pemirsaaahh, komen, vote dan hadiahnya ya, tengkyuuuhh pemirsaaahh
❤️❤️❤️🤣🤣🤣🌹🌹🌹