
Tap!
Sreeekk!
“Hiyaaaaat … kena kau!” Teriakan Ngarsinah memecah kesunyian.
“Jangan berharap kau bisa mendapatkanku wanita sialan!” Teriak Kaisar. Pria itu menghindar dan memberikan serangan balasan.
Sreett!
Kaisar yang merasa keteter mulai berlaku curang dengan melemparkan pasir ke arah Ngarsinah, namun wanita hamil itu dengan cekatan melindungi wajahnya dengan hijab yang menjuntai di dadanya. Melihat hal itu membuat Ngarsinah tersenyum.
“Kau yang mulai ya jelek! kamu jual, aku beli!”
Tap!
Sraaakkk!
“Aaaaakkkkhhh! sialan kau!” teriakan Kaisar pilu. Ngarsinah mengibaskan pashmina yang sudah ada bubuk cabe dan merica ke arah wajah Kaisar. Kaisar terus berteriak-teriak limbung dan menutupi wajahnya.
Sementara tangan nya pun sudah ada bubuk merica itu, dengan cepat Ngarsinah menggulung kepala kaisar dengan pashmina dan meminta Yuni untuk mengambil tali untuk mengikat kaki Kaisar agar tidak memberontak.
“Yun, cepat ikat kaki si jelek ini!” Teriak Ngarsinah dan dengan cepat dilakukan oleh Yuni. Nanun hal ini tidak semudah yang dipikirkan oleh Yuni, karena Kaisar melakukan perlawanann dengan menyerang sesuai isntingnya.
Dug!
Dug!
Kaisar menyerang ke arah tangan Yuni. Dengan cepat Yuni mengatasinya, pekerjaan Yuni sudah tidak terlalu berat karena Arsi sudah melumpuhkan separuh kekuatan pria bertubuh kekar itu.
Plak!
__ADS_1
Kraakk!
“Diam kau jelek!” Teriak Yuni dengan berusaha keras melumpuhkan gerakan asal dari kaki Kaisar. Sementara Ngarsinah masih dengan setia mengurung kepala Kaisar dengan pashmina. Bebereapa kali wanita itu ingin bersin karena efek bumbu yang menggelitik idra penciumannya.
“Hachiii!
Akirnya Ngarsinah dan Kaisar bersin bersamaan. Setelah selesai mengikat kaki Kaisar, Arsi berniat untuk mengikat tangan pria itu, namun karena lalai sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi si bumil.
Plak!
“Aaakkhh! Sialan kau jelek, aku tidak pernah memulai dan sekarang jangan salahkan kalau aku membalasmu!” Teriak Ngarsinah berang. Wanita hamil itupun mengeluarkan senjata andalannya. Sepatu sendal merk ternama itu dilepas dari kakinya yang mulai membengkak. Dan di mulai lah aksi pemukulan membabi buta dari Ngarsianah. Jurus sepatu sendal andalan emak-emak pun terjadi.
Plak!
Plak!
Plak!
Plak!
Dengan cepat dia mengupload dan langsung menghubungi Rangga. Karena jarak yang tidak begitu jauh, membuat Rangga dan beberapa anak buahnya segera merapat. Dengan tatapan keheranan Rangga melihat istrinya yang duduk diatas punggung korban dengan sandal yang masih ditangan dan minum sebotol air mineral.
Kerudung Ngarsinah sudah acak-acakan, dan kotor, wanita itu membuat Rangga takjub. Baru kali ini dia melihat sisi lain dari istrinya yang selama ini terkenal lembut dan hanya ahli di dapur.
Rangga menyuruh anak buahnya membawa Kaisar ke ruangan khusus interogasi yang ada di gedung kantornya. Sementara Arsi dan Yuni ikut ke mobil Rangga. Salah satu anak buah Rangga membawa mobil Arsi langsung kerumah.
Sebuah mobil melintas pelan disaat mereka sibuk mengamankan Kaisar. Wanita yang ada di dalamnya tampak geram dan tidak ingin berlama-lama berjalan dengan kecepatan pelan karena takut di curigai.
“Siaall! Aaahh!” Teriak Novi dengan memukul stir mobilnya. Wanita itu nampak frustasi karena usahanya kali ini kembali menemukan kegagalan.
“Arsi! aku akan terus membuat hidupmu tidak tenang! Kenapa kamu selalu lebih unggul dari ku! Kenapa kamu nggak mati aja Arsiiii!” Teriakan-teriakan Novi membuat jantungnya berdebar kencang. Tadinya dia ingin hadir sebagai penyelamat Ngarsinah dan mencari muka demi bisa mendekati Rangga. Tapi kini usahanya sia-sia, Ngarsinah selamat dengan kecerdasannya melumpuhkan Kaisar.
__ADS_1
Novi melajukan kendaraannya ke sebuah rumah sederhana, dia masih memiliki John yang kemarin ditugaskan untuk melecehkan Fatim dan sampai hari ini John belum memberikannya kabar.
“Kemana ini orang, kenapa sepi?” Gumam Novi lirih, wanita itu mencoba memutari rumah, tetangga tidak ada satupun yang keluar. Merasa tidak ada hasil, Novi pergi meninggalkan kediaman John. Wanita itu berkali-kali menghubungi ponsel John tapi tidak juga ada jawaban. Mengirim pesan, centang dua tapi tidak di baca atau di balas.
“Awas saja kau kabur John, aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah!” teriak Novi dengan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Wanita itu terus melajukan kendaraannya menuju ke arah danau, pikirannya kacau dan dia akan kembali menyusun strategi dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. pernikahan Fatim hanya tinggal satu hari lagi, haruskan dia mengaku kalah dan menerima madunya itu satu atap dengannya?
Sesaat Novi merasa menyesal karena sudah membuat syarat Fatim tinggal satu atap dengannya, tapi semua sudah terjadi, sekarang dia harus mencari cara bagaimana Fatim akan di tendang David dari rumah mereka secara tidak hormat.
*****
Di tempat Lain, John sudah dibawa ke kebun belakang rumah Fatim, disitu ada sebuah gudang yang memang dikhususkan menyimpan perabotan dapur yang sesekali di pakai.
David dan Fatim kini sedang menginterogasi John yang wajahnya masih babak belur. Pria itu sudah mulai segar karena baru saja diberi makan dan teh hangat oleh Fatim, walaupun sandra tapi dirinya tetap diperlakukan manusiawi oleh Fatim dan David. Hal ini membuat sisi manusia John tersentuh, selama ini dia tidak pernah diperlakukan sebaik ini oleh Novi, hanya tekanan pekerjaan dan menganggapnya hanya manusia bayaran saja.
“John, aku minta kamu mau berkata jujur dan tidak terpaksa. Aku akan membayarmu untuk pengakuanmu itu,” ucap David tenang, pria berwajah bule itu ingin sekali mengetahui apa motif istrinya menyuruh orang untuk mencelakai calon istrinya.
“Novi ingin membuat calon istri anda terhina karena sudah tidur dengan saya, itu saja tidak lebih pak David.” Jawan John dengan mata yang tertutup satu karena bengkak.
“Berapa kamu dibayar sama istriku?” Tanya David lagi. Pria itu masih penasaran dengan apa yang direncanakan oleh Novi. Fatim menyimak apa yang sedang kedua pria itu bicarakan.
“Aku minta 50 juta dan sekarang aku masih menerima separuhnya,” jawab John dengan sesekali meringis menahan sakit. Fatim tersentak kaget, kenapa Novi senekat itu hanya untuk mencelakainya.
David dan John masih berbincang, John merasa ada sesuatu yang lain di hatinya, pria itu pelan-pelan merasa menyesal karena sudah berbuat jahat kepada orang yang baik. Fatim mengambilkan salep untuk mengobati luka-luka dan memar yang ada di wajah John, pria itu semakin kagum dengan kelapangan hati janda satu anak itu.
“Mbak Fatim, aku ingin memohon maaf kepadamu. Aku berjanji tidak akan mau berbuat hal yang salah lagi, terimakasih mbak Fatim tidak melaporkan kepada polisi. Pak David saya mohon, maafkan saya,”
❤️❤️❤️
Asliii kereen ini mah, hajaaarr terooss Arsi 🤣🤣🤣
Dear pemirsa, maaf ya author kemaren nggak bisa up, persiapan puasa di hari pertama bikin keriwehan di dapur bikin author gak bisa ngadepin laptop 🤭. hari ini hadirrr ya.
__ADS_1
Yuuukk jempoooll nya pemirsaaahh, komen, vote dan hadiah jangan lupa ya.
❤️❤️❤️🤣🤣🌹🌹🌹