
Ping!
(Arsi, apakah aku salah jika ingin pergi?) Sebuah pesan Masuk pada aplikasi hijau.
"Fatim …." Gumam Arsi terkejut membaca pesan dari Fatim. Baru saja tadi mereka bertemu dan saat Arsi meninggalkan rumah sakit semua terlihat baik-baik saja. Sekarang apa yang sebenarnya terjadi?
“Ada apa Si?” Tanya Yuni penasaran. Arsi menyorongkan ponselnya untuk bisa di baca oleh Yuni, Setelah membaca pesan dari Fatim, wajah Yuni pun nampak bingung.
“Arsi apa yang harus kita jawab?” Tanya Yuni bingung.
“Aku juga tidak tahu Yun, kita harus tahu dulu masalahnya apa. Kita tidak bisa memberikan saran apapun saat ini,” Sahut Arsi.
“Bagaimana caranya kita bertanya?” Tanya Yuni yang masih buntu pikirannya.
“Sebentar, lebih baik aku tanya ke Fatim.”
Tidak lama Ngarsinah sibuk berbalas pesan dengan Fatim. Wanita itu sudah diizinkan pulang oleh dokter, dia berniat untuk pulang ke rumahnya sendiri. Rumah yang dulu dia tempati bersama anaknya sebelum bertemu dan menikah dengan David. Setelah mengetahui kemana Fatim akan pergi, Arsi merasa lega, setelah keadaan tenang dia dan Yuni berniat untuk datang mengunjungi wanita itu sekalian mengantarkan Jay.
*****
Dirumah sakit, Fatim masih terisak dalam tangisannya yang terdengar pilu. Sebuah kenyataan yang membuat hatinya sangat terluka. Saat ini rasa cinta terhadap David, sudah menguasai hatinya. Tapi sebuah kenyataan harus dia dengar, dari mulut pria yang sudah mampu membuat dirinya jatuh cinta.
__ADS_1
Flashback on.
"Fatim … aku ingin bicara hal yang serius. Aku baru saja bertemu dengan sepupu ku, suaminya baru saja meninggal dan ada bayi yang masih berumur kalau tidak salah 1 bulan. Dia tidak punya siapapun disini, keluarga dari suaminya juga tidak mau menampungnya. Fatim … aku akan membawanya pulang ke rumah," ucap David dengan ekspresi yang tidak terbaca.
Fatim menatap ke arah David dengan tatapan yang tidak bisa diterjemahkan, ada rasa nyeri di hatinya saat ini. Hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja dan sekarang David memasukkan wanita lain dengan label saudara.
"Apakah mas sudah memikirkannya baik-baik? Aku tidak ada masalah dengan kehadirannya, tapi tidak baik memasukkan wanita ke dalam rumah dengan. Status yang bukan muhrimnya," ucap Fatim lirih. Fatim sadar kalau rumah itu milik David, dan sepertinya kini David sedang membuat rencana yang akan berpengaruh pada rumah tangganya. Seperti itulah prasangka buruk seorang Fatim, wanita itu masih berusaha untuk bernegosiasi dengan sang suami.
" Jika kamu keberatan karena dia bukan muhrimku, berarti pilihannya … aku lebih baik menikahinya."
Duuuuaaarr!
Bagai disambar petir rasanya Fatim mendengar ucapan David, wanita itu merasa ada luka namun tidak berdarah yang menggores hatinya.
David menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Pria itu sangat susah di tebak, persis seperti angin. Tidak ada yang tau kapan dan kemana dia akan berhembus. David menatap sepasang netra indah milik istrinya, hal itu pun dilakukan oleh Fatim dengan tatapan sendu penuh luka.
"Fatim, aku pun bingung dengan kenyataan ini. Kamu tau kan, aku sangat menginginkan pewaris. Dan keadaanmu ternyata di luar dugaanku," sahut David tanpa perasaan.
Nyeesss!
Bagai disiram garam luka yang sedang menganga di hati Fatim, sungguh ini diluar dugaan nya sama sekali. Apakah ini sifat asli David? Dia hanya peduli dengan tujuannya, apakah David belum berubah juga selama ini?
__ADS_1
Untuk beberapa saat mereka terlibat pembicaraan yang semakin kaku dan membuat Fatim canggung, tidak ada perdebatan diantara mereka berdua. Hanya Fatim yang merasa terluka, sementara David sibuk membuat rencana baru untuk masa depannya.
"Aku mohon kamu bisa mengerti Fatim, aku butuh penerus keluarga Van Houten. Aku tidak akan menceraikan kamu, tapi aku pun tidak ingin memaksa jika kamu tidak ingin berada disampingku. Percayalah aku tidak bermaksud menyakiti kamu Fat," ucap David dengan raut wajah datar.
Bagaimana bisa pria itu bicara seperti ini, Fatim benar-benar hancur namun tak bisa lagi berkata-kata. Hanya Ada air mata yang sudah memenuhi kantung matanya, sekuat tenaga dia menahan dan dengan cepat dia menghapus cairan bening yang berhasil lolos.
"Apapun keputusanmu, aku tetap menganggapmu istri yang istimewa Fat. Cepatlah sembuh, aku mau pulang dulu sebentar. Pekerjaanku harus segera aku selesaikan, kabari aku kalau kamu butuh sesuatu."
Flashback off.
Disinilah Fatim saat ini, di ruangan luas namun sepi. Ruangan serba putih itu seakan ikut menemani dirinya yang sedang hancur, pikiran ibu satu anak itu sungguh kacau.
"Apakah aku harus bertahan? Atau aku pergi? Apakah aku masih ada di hatinya? Ya Allah, kuatkan hamba menghadapi dan menjalani ujianMu. Berikan petunjuk untukku ya Allah," gumam Fatim seorang diri.
Dirinya sangat sadar, perceraian adalah hal yang paling dibenci oleh Allah. Tapi keadaan ini dirinya pun tidak yakin akan kuat, maju ataupun mundur, David tidak lagi menganggapnya penting.
"Sebaiknya aku pulang saja dulu kerumahku,"
❤️❤️❤️
Untuk episode ini, sungguh Author menulisnya sambil nangis kejeerrr pemirsaahh 😭😭😭
__ADS_1
Yuukk like, komen, vote, hadiah dan subscribe yaahh. Tengkyuuh pemirsaaahh ❤️❤️🌹