Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 100: Fatim Di Serang


__ADS_3

“Hwaaaa … Mama …” Tangisan Arista membuat Ngarsinah tergopoh-gopoh mencari suara sang putri, sejak dinyatakan hamil, Arsi lebih banyak menghabiskan waktu dirumah. Kedai di handle oleh Yuni dan karyawan yang sudah bisa dipercaya, Perutnya yang sudah terlihat membuncit membuat Ngarsinah merasa mudah lelah.


“Dedek kenapa? Ya Allah ini kok bisa berantakan begini. Kak, dedek kenapa sayang?” tanya Ngarsinah yang berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan sang putri tercinta. Ngarsinah memeluk tubuh mungil milik Arista begitu juga dengan Arya. 


Arista baru saja pulang sekolah, bocah itu sudah tidak karuan lagi bentuknya. bajunya keluar dari rok, sementara roknya sudah miring. Kuncir dua yang tadi pagi cantik kini sudah hampir lepas sebelah. Ingus pun tidak ketinggalan menghiasi pipi montok milik Arista, hanya bisa diwakili dengan satu kata, BERANTAKAN. Arya, bocah laki-laki itu juga sepertinya tidak jauh berbeda dengan saudara kembarnya. Hanya saja Arya tidak menangis tapi ada luka di tangannya. 


“Suster! tolong anak-anak di bersihkan dulu ya,” teriak Arsi kepada suster yang langsung lari berhamburan ke arah depan.


“Kakak, Dedek ayo kita mandi dulu ya, mama mau denger ceritanya kenapa kok anak-anak mama sedih begini ….” ucap Ngarsinah dengan penuh kelembutan. Wanita yang kini terlihat gemuk itu tampak kesulitan berdiri, hamil kembar tiga membuatnya lebih terlihat cepat membesar. Author takut mau bilang gemuk, ntar di lempar sendal sama bumil xixixi. 


Setelah kedua anaknya bersih dan wangi, Ngarsinah mengambilkan mereka makan siang, dan setelah makan barulah dia membawa kedua bocah kembar itu ke ruang keluarga untuk membicarakan masalah apa yang sedang dihadapi putra dan putri kesayangannya itu. 


“Sekarang siapa yang mau cerita duluan?” tanya Ngarsinah yang sudah mendudukkan tubuhnya di sofa. Arista dan Arya saling memandang satu sama lain, Mereka saling memberikan kode dan hal itu tertangkap mata oleh Ngarsinah. 


“Kakak aja yang cerita, Ayo kak kasih tau mama … kalo tadi Cella anaknya tante Cindy ngolok-ngolok mama kita gendut. Mama tau kan tante Cindy yang make up nya tebeeeel bener-bener, anaknya itu bilang mama gendut, ya dedek nggak terima, kakak juga marah sama dia karena dia berani narik rambut dedek … hiks ….” tutur Arista yang berujung dengan tangisan. Ngarsinah tersenyum bahagia, dimana dirinya dibela habis-habisan dengan kedua anak sambungnya. 


‘Katanya tadi kakak yang disuruh cerita, kenapa si dedek yang duluan. Dasar bocah hehehe,’ gumam Ngarsinah dalam hati, wanita itu berusaha menenangkan tangisan putri kesayangannya.


“Iya ma, Cella itu anaknya berani berantem, ini tangan kakak aja di cakar sama dia. Akhirnya kami berantem tadi ma,” ucap Arya sambil menunduk karena takut kalau sang mama marah. 


Ngarsinah yang sedang tidak stabil moodnya jadi ikutan terisak nangis, niatnya tadi ingin mendamaikan tangisan sang putri kini bumil itu ikutan terisak dengan berpelukan dengan si kembar.


“Sakit ya kak, sini mama liat, Ya Allah kok sampe kayak gini sih … sabar ya kak, besok jangan berantem lagi ya sayang. Sini mama obati,” Ngarsinah mengoleskan obat luka ke tangan putranya dan ikut meneteskan air mata, Hati wanita yang sedang hamil itu merasa sangat sedih. Maklum ya bumil mah sensitif, hehehe. 


Ningsih yang baru datang kebingungan melihat pemandangan yang menurutnya aneh. Arsi dan si kembar sepertinya belum sadar dengan kehadiran Ningsih, Sampai akhirnya sang nenek pun mendekati kedua lalu mengusap punggung Ngarsianah. 


“Kalian kenapa kok pada nangis?” ucapnya yang membuat ketiga orang itu menoleh dan langsung salim kepada Ningsih yang masih keheranan. 


Arista menceritakan semua kejadian yang menimpanya tadi bersama saudara kembarnya, dan Ningsih pun tersenyum. Wanita paruh baya itu bisa melihat betapa sayangnya kembar kepada ibu sambungnya. 

__ADS_1


“Kalian tau nggak kenapa mama Arsi sekarang gemukan?” tanya Ningsih.


“Nggak nek, emang mama kenapa? kan mama lagi suka makan aja nek, ya kan ma?” tanya Arista, bocah yang paling cerewet daripada saudara kembarnya. 


“Kalian suka nggak kalo punya adek?” tanya Ningsih hati-hati, sesaat pandangannya bertemu dengan kedua netra Ngarsinah. Arya dan Arista saling pandang dan kembali melempar pandangannya kepada sang nenek. 


“Suka nek, temen-temen kami di sekolah pada punya adek, katanya seru bisa main sama dedek bayi. Apa dedek bayi sudah tumbuh ma?” tanya Arista penasaran, gadis itu menatap nenek dan mamanya bergantian. 


“Kalian doakan dedek bayinya sehat ya, disini sudah ada adek kalian, mereka bertiga loh …” jawab Ngarsinah dengan mata yang sudah berembun. Akhir-akhir ini memang Ngarsinah lebih mudah nangis dan marah dan kadang mendadak merasa senang. 


“Yeeeeyyy kita mau punya adek …!” Teriak si kembar bersamaan dan melompat girang mendapatkan kabar dari sang nenek dan mama. Permasalahan yang tadi mereka bawa pulang, kini sudah hilang dari pikiran kedua bocah kembar itu. 


*****


Waktu sudah malam, warung soto milik Fatim sudah bersiap untuk tutup. Para pekerja sudah pulang dan seperti biasa, Fatim memeriksa semuanya. Mulai dari persediaan bumbu, bahan pokok dan yang terakhir wanita itu akan menghitung uang. Karena jarak warung dan rumah hanya beberapa langkah, biasanya Fatim menghitung uang di warung.


Fatim bergumam lirih, wanita itu menguatkan tekadnya. Sejak bertemu David wanita itu merasa memiliki kesempatan untuk membalas kebaikan orang tua Ngarsinah yang membebaskan kedua orang tuanya dari hutang kepada Rentenir. Jika mengingat hal itu, Fatim merasa sedih dan saat dia mengetahui apa yang dilakukan Novi kepada Ngarsinah. Wanita itu selalu gelisah namun Tuhan masih belum mempertemukan mereka berdua walau sudah berada di kota yang sama. 


Fatim sudah selesai dengan pekerjaannya, uang juga sudah dihitung dan dimasukkan kedalam tas. Fatim teringat dengan bumbu rempah yang belum sempat dia periksa, dengan cepat dia melangkah ke arah bumbu bubuk. 


Sreeekkk!


Klek!


“Siapa itu?!” Teriak Fatim yang merasakan ada seseorang yang sedang berada di dekatnya. Dengan cepat Wanita itu bersiap menyambut seseorang yang tidak menjawab pertanyaannya namun bayangannya sempat terlihat. 


“Hallo cantik,” Suara bariton dari seseorang yang kini sudah masuk kedalam warung membuat Fatim sedikit terkejut, namun dengan cepat wanita itu menguasai dirinya. 


“Apa maumu?” tanya Fatim.

__ADS_1


“Aku mau bersenang-senang dengan dirimu. Ayolah cantik jangan galak-galak seperti itu, aku tau kamu kesepian ….” Ucap John yang sudah mulai melangkah mendekat. 


 Tap!


John memegang tangan Fatim, dan sontak saja wanita itu mengambil tindakan yang tidak diduga oleh John.


Byuuurrr!


“Aaaakkhh …!” teriakan John yang merasakan sebagian wajahnya panas. Fatim yang berdiri di dekat kompor dengan cepat meraih panci berukuran sedang yang berisi sayur, Barusan Fatim selesai memanaskannya dan bisa kita bayangkan John yang disiram sayur panas. 


Prang!


Dong!


Dong!


“Aaaakkkhhh ampuun … ampuuun!” teriakan John semakin menjadi-jadi saat dia menyadari kalau saat ini ada wajan besar yang menutupi kepalanya dan dipukul dengan benda berat. Fatim terus melakukan gerakan membabi buta memukuli pantat wajan yang sudah mengurung kepala John.


“Kurang ajar kamu ya! rasain kamu baji*ngan!” amukan Fatim yang sudah kalap sampai dia tidak sadar seseorang sudah ada di tempatnya memukuli John. 


“Fatim, Hentikan!”


❤️❤️❤️


Naaahh kan wajan pun bisa jadi senjata ya pemirsaaahh 🤣🤣


Yuukk jempolnya yg ramee, vote, komen dan hadiah ya pemirsaaahh, tengkyuuuhh.


❤️❤️❤️🤣😱🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2