Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 44: Monic dan Ningsih


__ADS_3

Rangga terkejut melihat kedatangan Betty yang sudah lama tidak mengganggu kehidupannya, entah apa yang membuat gadis ini selalu membuat masalah dalam hidup duda beranak dua itu. Sejak kejadian Arsi tempo hari Betty pun ikut menghilang, kini saat Arsi sudah kembali pulih, wanita penggoda itu kembali lagi. 


“Rangga, kamu nggak kangen aku?” tanya wanita itu manja dan dengan gerakan cepat duduk di pangkuan Rangga dengan sedikit menggerakkan kursi kebesarannya kearah samping. Tangan rampingnya melingkar di leher kokoh Rangga. 


“Turun Betty, jaga sikapmu, aku tidak ingin orang lain salah sangka dengan apa yang kamu lakukan!” bentak Rangga dengan menggeser tubuh indah Betty dan pria tampan ataupun berdiri. Langkah panjangnya diikuti oleh Betty yang siap merapat ke tubuh kekar milik Rangga. 


“Rangga, jangan selalu ketus gitu dong, kita ini masih saudara, tapi kenapa kamu selalu mengabaikan aku?” rajuk Betty dengan suara yang sengaja dibuat manja. Rangga yang merasa jengah ingin sekali mengusir Betty keluar dari ruangan itu. 


“Betty aku menghargai persaudaraan kita, tapi aku tidak suka dengan sikapmu.” Ucap Rangga ketus, Rangga dengan wajah masamnya berniat untuk keluar dari ruangannya sendiri untuk menghindari Betty. 


"Mama mengundangmu makan malam dirumah, datanglah," ucap Betty sambil memeluk Rangga dari belakang. Sontak tubuh Rangga menegang, sebagai pria normal, bersentuhan dengan wanita dewasa dengan jarak yang terkikis habis membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. 


'Ini bukan hal yang baik, Betty tidak boleh melanggar batasan, tapi aaarrgghh kenapa aku sulit sekali menggerakkan tubuh ini!" Jerit hati Rangga yang tak mampu dia ucapkan. 


*****


Di tempat lain, Monic sudah memarkirkan mobil mewahnya di halaman rumah Ningsih, walau saudara sepupu mereka sangat jarang bertemu. Entah ada hajat apa yang membuat langkah wanita paruh baya yang masih tampak cantik dan menyukai kehidupan glamour itu bertandang ke rumah keluarga Boby. 

__ADS_1


Ningsih yang melihat ada tamu, bergegas keluar. Masih menggunakan apron karena saat ini Ningsih sedang masak untuk makan siang cucu kembarnya dan Ngarsinah, tanpa sungkan wanita anggun dengan kecantikan yang sederhana itu membukakan pintu. 


Senyum sumringahnya membuat kecantikan wanita seusia Monic itu semakin paripurna. Wajah ayu Ningsih tanpa sentuhan make up sama sekali, hal ini tidak menjadikannya beban walau rata-rata temannya bisa dibilang jarang sekali tampil tanpa make up.


"Jeng Ningsih, ya Tuhan hari gini kok masih aja pake apron to?" Sapa Monic ramah sambil cipika cipiki, memang menjadi kebiasaan Monic yang selalu ceplas ceplos. Ningsih yang sudah biasa menghadapi teman-teman sosialita seperti Monic, jadi tidak merasa asing dengan candaan yang menjurus hasutan itu. 


"Ini pakaian kebesaran jeng, nanti kalo aku berubah dandanan seperti jeng Monic bisa kabur mas Boby," balas Ningsih menanggapi perkataan Monic. Tawa kedua wanita seumuran itu pun berderai, pelukan hangat kedua saudara sekaligus sahabat itu menambah suasana pertemuan itu menjadi ramai. 


"Ayo jeng masuk, lama banget ya kita nggak ketemu,” ajak Ningsih sambil menggandeng tangan Monic. Monic mengikuti langkah Ningsih dengan senyum yang masih menghiasi bibirnya. 


“monggo jeng jangan sungkan, anggap rumah sendiri, bentar ya aku mau buatin minum dulu," lanjut Ningsih mempersilahkan Monic untuk duduk dan meninggalkannya sendirian. Sementara Ningsih sibuk membuatkan minuman untuk Monic, wanita itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tamu yang luas itu. 


Entah apa yang membuat wanita itu tertarik dengan potret duda keren itu, bibirnya komat kamit tanpa suara, matanya tajam menatap kedua netra Rangga yang pada saat pengambilan gambar sedang menatap ke lensa kamera. 


“Jeng, jangan lama-lama ngeliat foto putraku, dia memang tampan kok,” ucap Ningsih sedikit berkelakar. Ningsih yang mengejutkan Monic, membuat wanita yang sedang serius menatap foto itu terlonjak kecil. Tatapannya beralih kepada Ningsih, untuk sesaat tatapan itu di rasa aneh oleh Ningsih, bulu-bulu halus di tangannya mendadak berdiri, tapi dengan cepat Monic tersenyum untuk mencairkan suasana. 


“Ya ampun jeng Ningsih ini, sampe kaget aku, iya aku terpesona dengan putramu ini, lama banget lo aku nggak ketemu dia, ngeliat dari fotonya aja mampu membuat wanita tua ini tersihir dengan pesonanya, hahaha.” Sahut Monic ikut menimpali candaan Ningsih, mulut manisnya mampu membuat suasana aneh yang dirasakan Ningsih dengan cepat berubah ceria kembali. 

__ADS_1


‘Huuff Ningsih kamu sudah membuat urusanku tidak selesai, aku harus membuatnya sibuk kembali di dapur,’ gumam Monic dalam hatinya yang kini sedang merasa kesal. Ningsih sibuk menghidangkan bawaannya dari dapur tadi, ada minuman dingin, buah dan beberapa cemilan olahan dari tangan dinginnya yang selalu enak ketika membuat olahan makanan apapun. 


Ningsih dan Monic pun terlibat obrolan seru yang membuat kedua wanita dengan status sama-sama istri pengusaha sukses di bidang yang berbeda itu sesekali tertawa ramai. Obrolan ngalor ngidul mampu membuat rasa rindu diantara mereka terasa terbalaskan. 


“Jeng, apa Rangga sudah ada niat untuk menikah lagi?” tanya Monic dengan santai. Ningsih meneguk minumannya dan kembali meletakkan gelas yang ada di tangannya ke tempatnya semula, sekilas Ningsih melihat tatapan menyelidik pada sepasang netra Monic. 


“Rangga terlalu memilih untuk mencari istri jeng, maklumlah dia kan bukan duda single, tapi dua orang pengawalnya itu yang bikin orang mikir ribuan kali untuk deket sama dia, atau sebaliknya. Rangga akan mencari wanita yang bisa menerima anak-anaknya dan anak-anak juga mau menerimanya.” Jawab Ningsih dengan penjelasan yang selalu dia ucapkan, ketika ada yang menanyakan hal seperti itu kepadanya.  


Monic tersenyum lebar mendengar penjelasan Ningsih. Wanita itu sedang memikirkan kalian apa yang tepat untuk mengajukan putrinya untuk Rangga. Bukan tanpa alasan Monic ingin putrinya yang berstatus single itu menikah dengan Rangga, wanita itu ingin perusahaannya bisa semakin besar dengan menyatunya kedua anak itu.  


“Jeng Ningsih, gimana kalo kita jodohkan Rangga dengan Betty? selama ini Betty juga tidak bisa dekat dengan pria, dia terlalu serius bekerja, sebagai putri tunggal kami, dia tidak ingin ngecawain papa nya. Keinginan dia untuk bisa menggantikan sang papa suatu hari nanti membuat dia gila kerja.” usulan Monic barusan mampu membuat Ningsih mengerutkan dahinya, walau hal ini bukanlah hal pertama yang dia terima, entah berapa orang temannya, ataupun teman Boby mengusulkan untuk menjodohkan putri mereka dengan Rangga yang sudah berstatus dua beranak dua itu.  


“Betty itu penyayang anak-anak jeng, aku yakin si kembar akan bahagia bersama putriku.” 


❤️❤️❤️


Waspada bu Ningsih, ternyata mak dan anak sama2 titisan ulet bulu nih 😆😆

__ADS_1


Dear pemirsaku tarcinta, maafkan author ya up nya belum bisa pagi lagi, karena kerempongan yang melanda beberapa hari ini, bikin Jandul sedikit telat hadir menemani pemirsa sedunia.


Yuukk boom Like nya dooong, komen dan vote, vote, vote juga hadiah nya yaahh, dukungan kalian selalu bikin Author zemangaatt. ❤️ selautan untuk pemirsa semua. Tengkyuuuhh kesayangan akyuuh. ❤️❤️🌹🌹😘😘


__ADS_2