Janda Mandul

Janda Mandul
S2 Bab 8: Sendiri


__ADS_3

Raziq tidak bisa menolak permintaan putra semata wayangnya, meminta seorang wanita untuk tetap berada di sini adalah pilihan yang terbaik. Yash memang bocah ajaib, sudah sangat sering ucapannya menjadi kenyataan. Hal ini membuat Raziq dan Ayesha tidak kuasa menolak tiap bocah itu meminta. 


"Maaf tuan, sa-saya sebenarnya ingin pulang. Tapi …." Ucap Fatim tidak selesai. 


"Saya mengerti nona, tapi lihatlah Yash yang tidak mau melepaskan pelukannya kepada anda. Tinggalah disini untuk beberapa saat nona," pinta Raziq memelas. Sifat konyolnya mendadak hilang dan dengan cepat berubah serius dan memelas.


"Ehem … apa kalian menganggapku patung disini?" Tanya Ayesha dengan raut wajah kesal. Wanita paruh baya yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit itu, merasa sudah diabaikan karena kedatangan sang cucu yang membawa wanita asing berparas ayu.  


"Ma, maafkan Raz. Ehem, nona Fatim kenalkan ini mama saya. Boy ayolah lepaskan dulu mamamu, dia kesulitan berdiri!" Tegur Raziq dengan wajah kesal tapi tegas. Yash menghentikan tangisannya, mendadak sebuah ide berputar dalam pikirannya. 


"Mama, ini oma Yash. Ayo Oma, kenalan sama mamanya Yash," ucap bocah tampan itu dengan senyum walaupun jejak air mata masih membasahi pipi gembulnya. 


"Waaahh mama Yash cantik sekali, sini sayang duduk dekat oma. Siapa nama mamanya Yash?" Tanya Ayesha kepada sang cucu dengan sumringah. Wanita itu sesekali melempar pandang pada Fatim yang merasa sangat canggung, menghadapi ibu dari pria yang pernah nyasar masuk ke ruangannya.


"Siapa namamu nak?" Tanya Ayesha lembut. Fatim menatap kearah sepasang mata bulat dan indah itu sesaat, senyum manis pun, menggores bibir merah muda tanpa sentuhan lipstik itu.


"Fatim nyonya," ucap Fatim. Ayesha manggut-manggut. mendengar Fatim menjawab dengan suara yang lembut. 


"Apakah kamu sedang menjenguk orang sakit?" Tanya Ayesha lembut sambil mempersilahkan Fatim duduk di kursi yang ada di samping ranjangnya. 

__ADS_1


Dengan rasa gugup yang luar biasa, Fatim tidak bisa menolak atau menghindari percakapan selanjutnya. 


"Sa-saya yang sakit nyonya dan hari ini sudah bisa pulang. Maaf nyonya sakit apa?" Tanya Fatim berusaha untuk mengendalikan situasi. Wanita itu tidak ingin ada orang yang tahu, kalau dia keluar dari rumah sakit sendirian. 


"Ahh … biasalah penyakit tua, saya ini sebenarnya korban janji palsu dari putraku itu. Ehh … kamu pulang sendirian? Mana keluargamu? Kenapa tidak ada yang mendampingi mu?" Cecar Ayesha dengan tatapan penuh selidik. 


Fatim yang baru saja merasa aman, kini merasa nafasnya tercekat di tenggorokan. Inilah hal yang dia hindari, tapi malah terjadi. Alih-alih mengikuti alur yang diinginkannya, tapi wanita paruh baya yang masih cantik itu kembali memegang kendali situasi. 


Sungguh terlaaaaluuhh, seperti itulah yang Fatim rasakan. Wanita itu mengusap leher belakangnya seakan mencari jawaban yang tepat, karena terlalu lama menunggu jawaban Fatim kembali Ayesha bersuara dengan kesimpulan yang dibuatnya sendiri. 


"Astaga! Maafkan saya nak Fatim. Bukan maksud saya membuatmu sedih, baiklah sekarang tante faham. Pesan tante, jangan pernah merasa sendiri dan tidak punya siapa-siapa, karena Tuhan pasti akan memberikan orang yang akan menemanimu. Sudahlah jangan pikirkan pertanyaan tante tadi, sekarang bergabunglah dengan kami." 


Ucapan panjang Ayesha sungguh membuat Fatim lega, dia tidak menyangka kalau wanita yang ada di hadapannya ini, sangat berpikiran positif terhadap dirinya. Ayesha pun mengajak Fatim untuk memanggilnya tante, hal ini agar mereka bisa lebih akrab. 


*****


Ditempat lain, nampak David sibuk membantu Samira mengangkut barangnya ke dalam mobil. Hal inilah ternyata yang membuat David tidak bisa menjemput Fatim dirumah sakit, Samira sudah memutuskan untuk menerima bantuan dari David dengan tinggal di rumahnya. 


Samira tidak mengetahui jika Fatim hari ini keluar dari rumah sakit, wanita itu terlalu hanyut dengan masalah pribadinya. 

__ADS_1


"Kak David, aku ingin meminta ijin dulu kepada kak Fatim. Aku merasa tidak nyaman jika masuk ke rumah kalian, tanpa ijin dari nyonya rumahnya. Kita ke rumah sakit dulu ya kak, sekalian aku ingin besuk Kak Fatim," ucap Samira yang kini sudah duduk di sebelah David. Bayi mungil itu nampak terlelap dalam tidurnya, tidak ingin mengganggu kenyamanan sang bayi, David pun hanya menggeleng dan menempelkan jari telunjuknya di depan bibir. 


"Fatim sudah mengetahui kepindahan kamu, tenanglah."


Suara berbisik David hanya dijawab anggukan oleh Samira, dan kini mereka pun sudah berada di tengah keramaian kendaraan lain di jalan raya. 


Tidak butuh waktu lama, David sampai di kediaman mewahnya, entah kenapa sedari kemarin David merasa sangat bahagia. Tepat disaat mendapatkan jawaban bersedia dari Samira, tentang permintaannya untuk tinggal di rumah yang selama ini ditempatinya bersama Fatim.


Dengan cepat para pelayan membantu mengangkut barang-barang Samira, untuk di tempatkan di kamar tamu yang sudah disiapkan oleh David untuk Samira. Setelah semuanya selesai, Samira meminta ijin untuk beristirahat agar bayinya juga bisa tidur dengan nyaman. 


"Istirahatlah, aku akan ke kantor dan jangan sungkan untuk meminta pada bibi jika kamu butuh apa-apa. Anggaplah rumahmu sendiri Samira," ucap David. 


"Terimakasih Kak, kamu baik sekali. Bagaimana aku bisa membalas kebaikanmu Kak?" Tanya Samira dengan tatapan sendu penuh ketidak berdayaan. David tersenyum tipis, pria itu menatap dalam kedua netra saudara sepupu jauhnya itu. 


"Jadilah bagian dari keluargaku, itu saja sudah cukup."


Deg!


❤️❤️❤️

__ADS_1


Maksudnyaaaa apa ini si David yak? Hmmm curigaa nih othor dibuatnya. 


Haayuuk like, vote, komen, follow ya pemirsaaahh tercintaah. Tengkyuuuhh 🌹❤️


__ADS_2