
Rangga mengakhiri pembicaraannya agar segera bisa membelikan pesanan dari pujaan hatinya. Tomy yang melihat sang bos besar muram, berusaha mensejajarkan langkahnya, mereka bersama-sama menuju lift.
“Kenapa bos, muka nya kayak dompet sepi penghuni gitu?” tanya Tomy kepo, hal ini sungguh mengganggu pikirannya, melihat sang bos yang tidak memasang wajah ceria. Padahal sehabis makan siang tadi dia masih melihat wajah Rangga yang berseri-seri.
“Hufft Tom, lo tau nggak, gimana rasanya jadi gue?” tanya Rangga mengambang, mereka sudah berada di dalam kotak besi yang membawa mereka ke lantai dimana kendaraan para petinggi perusahaan di parkir.
“Hmm pastinya nggak gampang lah bos, mikirin perusahaan untuk tetap eksis. Ada ribuan karyawan yang bernaung, dan gue yakin itu pasti bikin bos capek,” ucap Tomy serius dan berempati kepada bosnya, pria tampan yang selalu diandalkan oleh Kabir itu bisa merasakan apa yang Kabir rasakan saat ini, mungkin si bos sedang jenuh. Itulah yang ada dalam pikiran pria tampan yang selalu riang itu.
“Terus gimana perasaan lo, ketika ngeliat gue sedang belanja telor di pasar?” tanya Rangga lagi dan mendapatkan sahutan raut wajah kebingungan milik sang asisten.
"Waduh, siapa yang berani nyuruh bos beli telor? Emang para dayang-dayang di rumah pada liburan bos?" Tanya Tomy dengan rasa heran yang luar biasa. Melihat raut wajah sang bos yang suram, sebagai asisten pribadi Tomy ikut merasakan keresahan itu.
"Lo jangan cerita ke siapapun ya, walaupun itu ke bini lo, bisa hancur harga diri gue!" Ucap Rangga penuh penekanan. Tanpa terasa mereka sudah sampai di parkiran, Tomy masih setia mengikuti langkah bosnya.
"Siap, jangan kuatir bos," jawab Tomy singkat dan penuh keyakinan. Jiwa kepo nya meronta, rasa penasaran melanda.
"Arsi mau buka usaha kue, bread and cake gitu. Dia sudah belanja macem-macem, dan kelupaan lah si telor ini." Jelas Rangga dengan senyum nyengir, Tomy melongo takjub, untuk sesaat pria itu blank dan akhirnya tawanya pun pecah, hal itu membuat Rangga kesal.
“Puas lo! dan sekarang lo harus ikut gue belanja, bilang sama bini lo kalo hari ini lo ada lembur tugas luar!” Titah Rangga tak terbantahkan, Tomy yang tadinya tertawa karena nasib yang menimpa bosnya, sekarang diam mendadak. Pria tampan yang setia itu mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
“Bos, kenapa jadi gue ikutan kena dampak si telor? Dia kan calon bini bos, ya yang harus berjuang ente bos,” ucap Tomy berusaha menghindar dari ajakan si bos. Rangga merasa kesal atas penolakan sang asisten, dia pun menggunakan kuasanya demi sang asisten mau menemaninya belanja.
“Boleh aja lo nolak, ingat selama enam bulan lo hanya dapet gaji pokok, gue pengen denger bini lo nyap-nyap Tom, hahaha!” ucap Rangga yang langsung mengenai jantung Tomy, dalam sekejap pria tampan itu pun hanya mengangguk lesu mengikuti perintah bos besar. Bonus yang diberikan Rangga sering kali melebihi gaji pokoknya, dan hal itu salah satu hal yang membuat istrinya stabil soal emosi.
“Ayo berangkat sekarang, ntar keburu malem kita pulangnya, eehh berarti bos yang antar gue pulang yak?” tanya Tomy sebelum mereka benar-benar masuk mobil. Rangga mengerutkan keningnya, dan langsung saja masuk kedalam mobil diikuti oleh Tomy.
“Lo pulang pake taxi, nggak usah kayak anak perawan deh pake dianterin segala!” jawab Rangga cuek dan dengan pelan mulai meninggalkan gedung perkantorannya.
Mobil Rangga masuk ke halaman parkir sebuah supermarket besar dengan brand terkenal. Rangga tidak mengikuti arahan dari Narsinah yang menyuruhnya untuk belanja di pasar besar, toko grosir telor dan sembako.
Sebelum turun, tidak lupa dia mengambil masker dan topi, jas mahal nya sudah dia lepas, dan sepatu mahal itu pun sudah diganti dengan sandal yang memang dia sediakan di dalam mobil untuk keperluan mendadak. Tangan baju kemejanya juga tidak lupa di gulung sebatas siku.
“Arsi nyuruh gue belanja di pasar, ke toko grosir sembako karena harganya pasti murah banget, mana bisa gue kesana!” jawab Rangga dengan masih sibuk menaikkan lengan bajunya.
“Ya Salaaam! jadi ntar gimana kalo calon nyonya nanya bos?” tanya Tomy untuk mempersiapkan diri jika Ngarsinah akan ikut menanyainya saat bertemu nanti.
“Udaah bilang aja di grosiran sesuai perintah tuan putri, beres kan?” jawab Rangga enteng. Pria tampan itu sangat percaya diri sekali dengan langkah yang dia ambil kali ini.
“Tenang Tom, yang penting kan pesanan dia kita beliin, toh sama-sama telor ayam kan, bukan telor angsa. Udah lah gue yakin calon nyonya gue itu orangnya nggak bakal ribet, lagian kebutuhan hidup dia mulai sekarang udah gue tanggung. Sebenarnya dia nggak perlu juga sih kerja kayak begini,” kembali Rangga jumawa dengan apa yang dia pikirkan. Tomy pasrah, hanya mengangguk-angguk saja, sesampai di dalam dengan capat Rangga meminta pekerja yang ada di supermarket itu untuk menyiapkan telur ayam sebanyak tiga puluh kilo.
__ADS_1
Setelah dirasa cukup dengan jumlah pesanan yang di pesan oleh Arsi, pria tampan itu segera membayar tanpa mempedulikan berapa harga yang harus dia bayar. setelah selesai belanja hanya satu jenis bahan itu saja mereka berdua pun segera berangkat menuju rumah Ngarsinah. waktu sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Ngarsinah dan Yuni masih sibuk menyiapkan ini dan itu.
Pesan dari Rangga mengatakan kalau dia sudah selesai membelikan telur pesanan sang kekasih, dengan segera Ngarsinah menggunakan kerudung bergonya.
“Assalamualaikum!” teriak kedua orang pria yang langsung dijawab oleh kedua wanita yang berada di dalam rumah. Dengan cepat kedua orang itu memasukkan telur yang tadi di beli. Yuni sudah menyiapkan minuman di ruang tamu, setelah meletakkan semuanya di dapur, kedua pemuda itu pun duduk di ruang tamu untuk melepas lelah.
“Makasih banyak ya mas, makasih juga buat mas Tomy, kamu emang luar biasa, mana nota nya mas?” tanya Ngarsinah dan tanpa prasangka apapun pria itu masih dengan raut wajah bangga menyerahkan ke Ngarsinah. tapi Respon dari wanita itu sungguh diluar prediksi Rangga dan Tomy.
"Maaass, kok mahal bangeet!" pekik Ngarsinah dengan mata yang membulat sempurna. Tomy dan Rangga saling melihat, berharap mendapatkan pujian, sekarang malah dapat teriakan Ngarsinah yang membuat perasaan mereka berdua tidak enak, khususnya Rangga.
“Sa-sayang, ya emang segitu harga di supermarket,” sadar akan kesalahannya bicara Rangga segera menutup mulutnya sendiri. Ngarsinah memicingkan matanya, Nota yang dia terima sudah di sobek bagian atasnya sehingga wanita itu tidak mengetahui toko mana yang di datangi oleh prianya itu.
“Mas karena kamu sudah membuat pesanan pertamaku rugi, aku akan ganti uang telurnya sesuai dengan harga di toko grosir,”
❤️❤️❤️
Bos besar di suruh beli telor buat usaha calon istri, sesuatu bangeet ya mereka itu🤣🤣🤣
hayuukk Like, komen, vote dan hadiahnya ya saayyy ❤️❤️😘🌹🌹
__ADS_1