Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 47: Pulangnya Ngarsinah


__ADS_3

Ngarsinah sudah selesai berkemas, Yuni juga sudah memberikan kabar kalau dia sudah berada di rumah Ngarsinah, Bram memberikan kunci kepada Yuni atas permintaan dari Ngarsinah. Mendengar Ngarsinah akan pulang ke rumahnya, Bram merasa senang dan bertekad untuk kembali mengejar cinta gadis itu. Sekian lama pria itu menunggu Ngarsinah kembali ke rumahnya, dan saat yang ditunggu pun kini sudah tiba. 


Selama Ngarsinah berada di rumah Rangga, pria itu tidak leluasa mendekatinya. Kini si Kembar sibuk menangisi kepergian sang mama yang membuat mereka merasa tidak rela. Berkali-kali Ngarsinah membujuk anak-anak Rangga itu tapi tetap saja tidak membuat mereka berhenti menangis. 


Dengan segala rayuan sudah dikeluarkan Ngarsinah dan Ningsih tetap tidak mempan, mereka ingin ikut dan tinggal bersama Arsi. Kedua wanita beda generasinitupun akhirnya menyerah kepada keputusan si kembar, Ngarsinah memesan taxi online karena sopir keluarga sedang mengantar pak Boby kekota B. Ningsih berencana akan ikut mengantar Ngarsinah ke rumahnya dan diikuti oleh si kembar. Sebenarnya Ngarsinah merasa tidak enak, pergi tanpa pamit kepada Boby, tapi dia tidak bisa menahan dorongan hati untuk segera pindah.


Saat Taxi online tiba, tak lama mobil Rangga pun memasuki halaman rumah besar itu. Sopir yang tadinya sibuk memasukkan koper ke dalam Mobil berhenti karena bunyi klakson mobil Rangga. Semua orang menoleh ke arahnya. Rangga turun dengan wajah heran, dan disusul oleh Betty. Wajah Rangga menegang melihat beberapa koper yang masuk kedalam bagasi, dan melihat kedua anak-anaknya yang berada di kanan dan kiri wanita cantik itu. 


“Kalian mau kemana?” tanya pria itu bergegas mendekati Ngarsinah dan mamanya juga si kembar. Ningsih melihat ke Arah Ngarsinah meminta gadis itu memberikan penjelasan kepada putranya. 


“Mas Rangga, maaf saya mau pamit pulang kerumah, Alhamdulillah sudah enakan badan saya. Terimakasih ya mas sudah menolong Arsi sampai sembuh. Ucap Ngarsinah dengan kepala yang tertunduk, gadis itu hanya bertemu pandang sekilas dengan Rangga. Hati gadis itu menciut melihat Betty yang sudah berada di sebelah Rangga dan melingkarkan tangannya di lengan duda tampan itu. 


"Itu sudah kewajibanku Arsi, karena akulah orang yang harus bertanggung jawab atas apa yang kamu alami." Jawab Rangga sendu, duda tampan itu ingin mencegah Ngarsinah untuk meninggalkan rumahnya. 


‘Drama apa lagi yang dimainkan babu satu ini, tapi kalo dia mau pulang bagus deh, daripada kelamaan bisa-bisa Rangga kepelet lagi sama dia.” gumam Betty dalam hatinya, gadis itu tampak memandang sinis kepada Ngarsinah yang masih terus saja menunduk. 


“Tapi Arsi, kamu kok nggak bilang aku, dulu harusnya kamu bicarakan ini dulu, walaupun kamu sudah merasa baikan,” balas Rangga sedikit meninggikan suaranya. Seharian lelah bekerja dan lelah meladeni Betty yang terus saja membuat dirinya terperangkap dalam jerat wanita itu tanpa mampu membuat keputusan tegas untuk menjauh darinya. 

__ADS_1


“Maaf mas, ini mendadak, tapi mas jangan khawatir karena Yuni dan mas Bram sekarang ada dirumah nunggu saya, Yuni akan tinggal dirumah saya mas.’ Jawab Arsi lirih. Betty yang melihat sikap Rangga kepada Ngarsinah membuat hatinya kesal dan sudah bisa merasakan kalau hati Rangga sudah mulai tidak baik-baik saja. 


“Aku akan mengantarkanmu, jangan pulang sendirian, aku tidak mengijinkannya!” ucap Rangga memutuskan. “Pak maaf tolong keluarkan lagi barang-barang yang ada di bagasi tadi,” Rangga melanjutkan kalimatnya yang ditujukan kepada sopir taxi online. Pria paruh baya bertubuh tambun itu melihat ke arah Ngarsinah dan Rangga bergantian dan dalam kebingungan. 


“Terus saya bagaimana den?” tanya sopir itu akhirnya setelah dalam kebingungannya. Rangga melihat kearah Betty, sementara Betty yang sedari tadi santai melihat drama yang ada di hadapannya tidak merasakan kekesalan Rangga yang sedari tadi di gandeng oleh nya. 


“Betty kamu pulanglah menggunakan taxi bapak ini, aku akan mengantarkan Arsi pulang,” ucap Rangga dingin dan perintahnya itu tentu saja membuat wajah Betty yang tadi santai berubah menjadi kesal. 


“Kenapa harus aku yang pake taxi sih sayang, harusnya dia aja yang pake taxi, kan dia yang order.” jawab Betty kesal dan tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Rangga terhadapnya. 


“Betty, ka–” belum lagi sempat selesai Rangga bicara, Arista sudah menyela. Gadis kecil yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan obrolan dingin orang dewasa itu, merasa bosan karena mereka tidak kunjung berangkat. 


“Rangga! apa kayak gini ajaran dari pengasuh kamu itu? liat si dedek berani banget dia mengatur kita orang yang jauh lebih tua darinya dan aku nggak terima ya anak kamu ngatain aku tante sihir!” ucap Betty berapi-api, menahan amarah di hatinya. 


“Maaf mbak, jangan asal bicara ya, saya tidak pernah mendidik hal yang tidak baik kepada anak-anak, dan apa yang dikatakan dedek tadi saya rasa ada benarnya. Jika anda tidak ingin pulang sendiri silahkan diantar oleh pak Rangga, dan mengenai ucapan dedek tadi, saya rasa ada benarnya. Bukankah itu juga mobil milik si kembar, jadi mereka juga punya hak untuk menggunakannya.” Jawab Ngarsinah berani, dia tidak senang wanita itu berlaku kasar dengan gadis kecil yang selalu memanggilnya mama. 


Ningsih yang melihat itu geleng-geleng kepala, nenek si kembar itu memijit pelipisnya dengan ibu jari dan jari telunjuk. Wanita itu dengan cepat maju ke arah Rangga dan mengambil kunci mobil yang ada di tangan putranya, entah kenapa dia merasa malas berdebat. 

__ADS_1


“Arsi, kamu saja yang membawa mobilnya seperti yang dikatakan Arsi tadi. Pak bisa minta tolong pindahkan barang-barang di bagasi ke mobil saya?” titah Ningsih dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Kedua bocah kecil yang berada di sisi kiri dan kanan wanita itu bersorak riang dan menyeret tangan Ngarsinah ke arah mobil Rangga. 


“Ayooo ma, buruan kita pulang,” sorak Arista dengan semangat, gadis kecil itu tidak mempedulikan tatapan tajam Rangga dan Betty. 


"Mama, nanti sampe rumah kakak mau makan nugget buatan mama ya," sambung Arya tak kalah senang dari sang adik. Rangga merasa wajahnya panas dan hatinya kesal melihat Betty yang hanya diam saja. 


“Betty, pulanglah menggunakan taxi bapak ini, aku tidak ingin semuanya semakin kacau karena ulahmu,” ucap Rangga dingin, wajah datarnya sungguh membuat Betty tidak ingin membuat kesalahan yang lebih fatal lagi. Gadis itu menurut dengan apa yang diperintahkan Rangga. 


“Oke … oke, aku akan pergi, sampai bertemu besok sayang. Tante aku pamit dulu ya,” Betty bersalaman dengan Ningsih dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu dengan takzim. Ningsih hanya tersenyum dan mengangguk tanpa mau mengucapkan sepatah katapun untuk keponakan jauhnya itu.


Ngarsinah mengambil beberapa lembar uang untuk membayar ganti rugi karena tidak jadi menggunakan jasa taxi online. Akhirnya Betty masuk juga kedalam mobil tanpa berpamitan atau sekedar menegur Ngarsinah dan si kembar. Ningsih sudah masuk kedalam mobil dan duduk di bangku belakang. Si kembar juga menyusul sang nenek dengan wajah ceria. Ngarsinah menuju ke sisi kemudi, sesuai perintah Ningsih tadi, dia yang akan mengendarai kendaraan mewah tersebut.


Rangga sempat tergugu melihat Ngarsinah yang hanya menganggukkan kepalanya, lalu berjalan melewati Rangga. “Maaf mas, saya permisi dulu, terimakasih untuk semuanya.” Pamit gadis itu dan dengan cepat melangkah masuk kedalam mobil.  


“Aku tidak menyangka ternyata kamu bisa nyetir mobil, Arsi.”


❤️❤️❤️

__ADS_1


Hohoho Rangga kalo tegas ganteng deehh 😁


Haayyuukk pemirsa likenya ya, yang belum sempat like ayoo scroll naik lagi untuk meninggalkan jejak kalian, vote dan komen doong biar semangaat nih author nya. Tengkyuuhh pemirsa tercinta 😘😘🌹❤️❤️


__ADS_2