Janda Mandul

Janda Mandul
Bab 160: Mommy


__ADS_3

“Dimana kamar Jack!” Teriak seseorang yang membuat langkah Bram dan Yuni terhenti. Pasangan suami istri itu memang yang paling belakangan masuk ke kamar mereka, para pengawal yang menjaga di sekitar lorong pun tersentak kaget. Satu lantai hotel itu sudah disewa oleh Jack untuk keluarga besarnya. Rangga dan Arsi serta yang lainnya kini sudah seperti keluarga bagi Jack, seperti itulah yang diucapkan pria itu.


Rian yang mendengar suara menggelegar itu pun menoleh, dahinya berkerut. Pria itu mendekati sumber suara, Bram dan Yuni yang merasa penasaran pun mengikuti Rian.


“Siapa Rian?” Tanya Bram.


“Saya belum tau pak, tapi suaranya tidak asing.” Jawab Rian, langkahnya penuh kewaspadaan. para pengawal yang bertugas pun merapatkan barisan, nampaknya mereka semua tidak ada yang mengenal siapa wanita yang berani mengusik malam pengantin tuannya.


‘Ohh Sh*it, kenapa dia tau tempat ini?’ Tanya Rian saat dia melihat siapa yang datang. Pria itu mempercepat langkahnya agar segera bisa mendekati wanita itu.


“Nyonya besar, maaf kami tidak tau anda akan datang ke tempat terpencil ini. Ja-jadi kami tidak membuat sambutan yang pantas untuk anda,” Ucap Rian tergugup.


Wanita yang di panggil Nyonya besar itu mendengus kesal, matanya menatap ke arah Rian dengan tatapan tajam. Penampilannya yang begitu elegan, dengan tongkat berkepala naga dengan cantik berada di pegangan tangannya.


Wanita paruh baya, dengan pengawalan ketat, sudah cukup menunjukkan siapa wanita itu. Sudah jelas bukan dari kalangan ibu-ibu biasa tentunya, dan Rian tau apa yang akan dilakukan oleh nyonya besar sang pengendali tuan nya.


“Tidak usah basa basi, dimana si bujang tua itu?!” Tanya Wanita itu geram. Tatapannya nyalang mengedar siapapun yang ada di hadapannya. Bram yang kini berada tidak jauh dari Rian pun memilih diam membeku bersama sang istri yang sudah ketakutan. Rian dibuat frustasi oleh wanita yang tidak mungkin dia bantah titahnya, sementara di kamar besar dan mewah itu …


‘Ya Tuhan kenapa nyonya Martha bisa datang disaat yang tidak tepat. Tuhan tolong lah kami, ini bisa pecah perang dunia ketiga jika nyonya besar tidak teratasi.’ Batin Rian kacau.


“Kenapa kau tidak menjawab ku Rian?!” Bentak sang nyonya mulai kalap. Kini tatapannya beralih pada Bram, seringai cantik namun mengerikan itu sontak membuat Bram dan Yuni menundukkan pandangan. Sang nyonya besar pun melankah maju mendekati Bram. Di rasa jarak yang dia butuhkan cukup, Martha pun berhenti.

__ADS_1


“Jangan melihat sepatu jelek mu itu, tatap mata ku wahai anak muda!” Titah Martha. Suara itu sungguh membuat jiwa dan jantung Bram dan Yuni mau lepas dari tempatnya.


“Ma-maaf nyonya, kami tidak tau.” Ucap Bram pelan. Pria itu terlalu gugup, sehingga dia tidak lagi menanggapi ucapan Martha barusan dan langsung pada jawaban yang sudah pasti bohong itu.


Ceklak!


“Katakan atau ini akan bolong dengan sempurna!” Geram Martha. Entah sejak kapan wanita tua itu mengeluarkan senjata api itu, kini kepala Bram sudah di jadikan sasaran tembaknya.


“Nyonya, itu kamarnya,” cicit Yuni. Wanita itu tentu saja tidak mau jadi janda mendadak, hanya karena ulah wanita yang entah dari mana asal usulnya itu. Memberi tahu dimana keberadaan Jack adalah keputusan yang sangat tepat dan bijaksana.


Martha mengikuti telunjuk Yuni yang mengarah pada satu pintu, dengan seringai cantiknya wanita itu menurunkan senjatanya dan melangkah maju menuju ke pintu dimana Jack dan Sarah sedang memadu kasih. Apakah kegiatan mereka sudah selesai atau belum, sungguh membuat Rian jadi serba salah.


“Minggir ….” Ucap Martha, wanita itu mempercepat langkahnya dan di luar dugaan semuanya –


Dor!


Dor!


Brak!


“JAAACK!” Teriakan Martha sungguh memekakkan telinga.

__ADS_1


“Allahu akbar!” pekik Yuni yang langsung berlindung ke paleukan suaminya, Bram juga memeluk istrinya. Mereka semua kaget dengan aksi wanita itu menembak pintu kamar Jack dan langsung berhamburan.


“Mom?” Tanya Jack yang kini sedang menggunakan bathrobe. Sementara Sarah beruntung sudah menggunakan gamis rumahan juga kerudung instan yang sempat dia sambar di kursi.


“Kenapa kau menikah diam-diam Jack? Apa kau anggap aku sudah mati, hah!” Bentakan Martha yang tanpa basa basi, tentu membuat Jack kalang kabut. Kenapa mommy nya bisa datang tiba-tiba? bukannya dia sekarang sedang berlibur ke antartika?


“Mom, bukan maksudku tidak memberi tahu mommy, tapi semuanya memang serba cepat mom. Ayo sini aku peluk cantik,” Ucap Jack berusaha santai menghadapi wanita yang ternyata adalah ibu mu.


“Jangan berani menyentuhku Jack, kau sudah membuat ku murka dan kini kau mau merayu ku? Cihh!” Sahutnya tajam. Wanita itu mengalihkan pandangannya, pada sosok wanita berhijab yang kini sudah membawa cangkir di tangannya.


“Selamat datang Mommy, ini minum dulu teh hangatnya.” Ucap Sarah lembut. Martha mengangkat kedua alisnya, wanita itu sesaat tertegun karena bingung. Kenapa menantunya itu tidak ada takut-takutnya sama sekali kepada dirinya, terbuat dari apa hati gadis itu? seperti itulah kira-kira yang Martha pikirkan. Belum menjawab tawaran Sarah, kini Marta malah mendekat pada sosok cantik yang berada di hadapannya.


“Apakah kau masih perawan saat menikah dengan putra ku yang sudah karatan ini?”


❤️ ❤️ ❤️


“Wadooohh nyonya ini, mulutnya pedes gitu kalo nanya. Huuffff sama banget sama anaknya 🤦


Yuuk like, komen, vote dan hadiah. jangan lupa subscribe ya pemirsaaah, tenkyuuuhh.


❤️ ❤️ ❤️ 🤦🤦🤦 ❤️  ❤️ ❤️

__ADS_1


__ADS_2