
"Mama, nanti dedek akan jadi kakak dong kalo di perut mama tumbuh dedek bayi?" tanya Arista polos, tangan mungilnya mengusap perut sang mama lembut. Ngarsinah yang mendapatkan pertanyaan itu sontak melayangkan pandangan ke arah Rangga yang sedang memakai tuxedonya, Pria itu pun terdiam, bagaimana dia akan menjelaskan keadaan sang mama sambung yang tidak bisa memberikannya adik.
“Semoga Allah memberikannya ya sayang, Dedek ingatkan kita harus meminta dan memohon kepada Allah, apapun itu. Nanti Allah yang akan memutuskan semuanya dan kita harus ikhlas dengan keputusan Allah, apakah dedek paham yang mama bilang?” tanya Ngarsinah setelah menjelaskan apa yang harus dimengerti oleh gadis kecilnya yang beberapa bulan lagi akan genap berusia enam tahun.
“Hhhmmm … oke deh, dedek akan berdoa dan minta kepada Allah,” jawab gadis kecil itu dengan wajah sumringah, Arista gadis yang pintar, dia sangat mudah dalam memahami ketika dijelaskan dengan pelan dan terstruktur.
Obrolan di kamar pengantin itu tidak berhenti sampai disitu, kini kedua bocah kecil itu kembali bermain, mereka sudah rapi dan kini Ngarsinah pun sudah tampak cantik dengan gaun putih dengan hijab yang senada. Rangga memandangnya dengan tatapan yang enggan untuk beralih.
“Cantik,” ucap Rangga dengan pelan namun masih bisa didengar oleh Ngarsinah. Wanita itu tersenyum malu, pipinya kini semakin merona, para MUA yang bekerja merias pengantin wanita itu hanya senyum-senyum.
Semuanya sudah siap, kini sepasang pengantin dengan bocah kembar itu pun sudah menuju ballroom untuk menjalankan acara resepsi. Para tamu undangan sudah datang dan diiringi musik yang indah menyambut pengantin baru itu melewati karpet merah dan para tamu undangan.
Decak kagum dengan pasangan serasi itu tidak henti meluncur dari bibir para tamu, Reader jandul pun tidak henti-hentinya mengabadikan idola mereka yang tampak anggun dan tampan. Arya dan Arista berjalan lebih dulu, tersenyum ceria, mereka sudah tidak sabar untuk duduk di kursi pelaminan.
“Kakak, ayo cepetan jangan sampai mama dan papa yang sampai lebih dulu,” bisik Arista kepada sang kakak, entah apa ang ada dalam pikiran kedua bocah itu. Arya yang merasa cocok dengan saran sang adik, mengangguk kecil, dengan aba-aba yang mereka sepakati kini mereka berdua berlari seakan sedang terjadi lomba.
“Kakak, dedek! hati-hati, kalian mau kemana?” pekik Ngarsinah tertahan, wanita cantik itu merasa khawatir dengan ulah anaknya yang mendadak lari menuju pelaminan. Para tamu banyak yang tertawa melihat ulah kedua bocah kecil itu, tetapi mereka berdua tidak peduli. Sampailah mereka di kursi yang seharusnya menjadi tempat duduk pengantinnya, namun kini sudah dikuasai oleh si kembar.
WO yang bertugas merasa kecolongan, mereka kalang kabut bagaimana caranya meminta kedua bocah yang dengan santainya duduk di kursi pengantin itu, Sementara Rangga dan Ngarsinah sebentar lagi akan sampai ke tempat mereka seharusnya berada.
__ADS_1
“Dedek duduknya pindah ke kursi yang di sebelah sini ya sayang,” bujuk mbak yang mengurus acara pernikahan itu, Rangga menatap mbak itu tajam, tidak ramah sekali bocah lelaki itu.
“Nggak mau tante, kami mau duduk bareng maa dan papa disini,” jawab Arya dengan wajah datar dan mata yang menunjukkan dirinya tidak suka dengan permintaan mbaknya tadi. Sedikit negosiasi terjadi, namun tidak membuahkan hasil sampai pengantin tiba di pelaminan, dan akhirnya mereka memutuskan untuk duduk berempat.
“Papa, itu ada Theo,” ucap Arista menunjuk kepada temannya yang sedang tersenyum kepada sang putri. Rangga melihat Arista melambaikan tangan ke arah pria kecil berwajah bule itu.
“Ohh, itu yang namanya Theo, biarkan dia makan dulu dek. Eh dia datang sama siapa dek?” Tanya Rangga yang sempat melihat David sedang berbicara dengan temannya, Tapi karena banyaknya orang yang lalu lalang membuat pandangan mata Rangga pun terhalang.
"Theo datang dengan uncle nya, pa," jawab Arista yang sudah pernah bertemu dengan David saat menjemput Theo sekolah.
"Ohh oke, bermainlah setelah teman dedek dan kakak selesai makan ya," ucap Rangga menanggapi putrinya. Kedua bocah lucu itupun mengangguk dengan senyuman yang tidak lepas dari bibir mereka.
Arista dan Arya meminta izin kepada papa dan mamanya untuk menemui Theo dan beberapa orang teman sekolah mereka yang orang tuanya juga kolega Rangga.
Rangga memang menyediakan arena bermain untuk anak-anak, dia tidak ingin membuat anak-anak yang ikut hadir menjadi bosan. Disitulah David sadar bahwa pria yang bertemu dengannya di restoran waktu itu saat bersama Novi adalah orang yang sedang punya hajat.
Bram dan Yuni menemui David dan Novi, mereka berbincang mengenai bisnis, dimana David berhasil menjadi supplier di beberapa hotel milik Bram. Novi yang memandang Yuni tidak senang, lebih banyak membuang muka seakan tidak mengenal gadis kampung yang kini sudah mulai berubah menjadi keren.
Dalam pikiran Novi, Yuni bisa berubah seperti ini karena dekat dengan pengusaha sukses sekelas Bram. Sampai pada satu moment dimana David lupa mengenalkan Novi kepada rekan bisnisnya itu.
__ADS_1
“Ya Tuhan, maaf pak Bram sampai lupa sangking asyiknya kita ngobrol, ini kenalkan istri saya,” David merangkul pinggang ramping Novi memberi kode untuk istrinya itu mau berkenalan dengan Bram.
Novi mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Bram, Setelah mereka menyebutkan namanya masing-masing, Bram juga melakukan hal yang sama mengenalkan Yuni kepada sepasang suami istri itu.
“Kenalkan ini Yuni, calon istri saya,” ucap Bram enteng, tanpa koordinasi atau rembukan dulu dengan gadis yang langsung membulatkan matanya menatap Bram horor.
Yuni tidak ingin mempermalukan Bram di hadapan David, gadis itu mengikuti permainan dimana seakan mereka tidak saling mengenal. perbincangan merekapun akhirnya berhenti, karena David teringat dengan Theo yang tadi pamit untuk pergi ke tempat bermain yang ada di ruangan itu juga
Theo, David dan Novi ingin berpamitan dengan pengantin yang sedari tadi tidak kunjung duduk karena bersalaman dengan para tamu, pelaminan yang megah itu membuat Novi berjalan pongah bak model.
"Sayang, kita kan belum mengadakan resepsi, gimana kalau kita juga mengadakan pesta mewah seperti ini?" Tanya Novi yang bergelayut manja di lengan suaminya, sementara Theo yang sedari tadi di cuekin oleh uncle dan auntynya di selamatkan oleh Arista. Kedua bocah menggemaskan itu berjalan bergandengan tangan di belakang David dan Novi.
"Jangan mikir macam-macam, pikiranku saat ini ingin punya anak, titik!" Jawab David lirih namun penuh penekanan.
"Arsi?"
❤️❤️❤️
Kaan ... kan ... kan ..., Novi di jagain Vid, bisa semaput nanti dia 😆😆
__ADS_1
Yuukk pemirsaaahh, jempolnya yaa, comen, vote dan hadiaahnya, tengkyuuuhh pemirsa ❤️❤️❤️🥰🌹🌹🌹